Mama mempunyai impian—eh, bukan, bukan hanya Mama, tapi juga Papa; bisa
menumbuhkan bunga di halaman rumah. Dan, ketika itu terwujud, maka
mereka tak henti-henti bersujud.
Dipamerkannya bunga itu kepada tetangga sekitaran rumah. Diceritakannya
berulang-ulang perihal bunga yang indah itu.
“Sekarang, rumah kami tidak hanya memiliki tiga ekor kumbang yang gagah, tapi juga mempunyai satu tanaman bunga yang indah.”
Dan ikut tertawalah tetangga yang mendengarnya.
*
Tujuh hari ini, tak terdengar tawa bahagia menyoal bunga. Pun pembicaraan serupa. Mama dan Papa lebih banyak diam dari biasanya. Bukan tanpa alasan; hujan yang turun telah menghanyutkan semua.
“Sekarang, rumah kami tidak hanya memiliki tiga ekor kumbang yang gagah, tapi juga mempunyai satu tanaman bunga yang indah.”
Dan ikut tertawalah tetangga yang mendengarnya.
*
Tujuh hari ini, tak terdengar tawa bahagia menyoal bunga. Pun pembicaraan serupa. Mama dan Papa lebih banyak diam dari biasanya. Bukan tanpa alasan; hujan yang turun telah menghanyutkan semua.
*gambar dari sini
Hari
yang tadinya panas tiba-tiba hujan. Aku berlari keluar lapangan, meninggalkan
teman-teman sepermaianku yang tetap melanjutkan bermain bola di belakang sana.
Aku berteduh di bawah emperan rumah mbah Karto, mengerutkan diri sejauh mungkin
dari percikan air hujan. Dengan melipatkan tangan di depan dada, aku terpana
menatap kegembiraan teman-temanku merayakan hujan sambil bermain bola di atas
lapangan tanah yang kemudian berlumpur. Masih ada sembilan orang yang
berteriak-teriak meminta bola di sana. Selain aku, ada dua orang lain yang
terbirit-birit menghindari hujan. Anto dan ali, mereka itu masuk ke rumah
masing-masing. Kembali pada ibu-ibu mereka.
Hujan
makin menjadi. Sementara keringat di dahiku belum sempat tumbuh, Cuma
mengilapkan kulit coklatku saja. Kemudian iri dengan cepat memuati diri, berat
seperti awan hitam yang mengandung air tapi belum menjadi hujan. Debu sisa
tanah di lututku tampak cengeng, seperti merengek minta dikembalikan ke
lapangan sana. Tapi bengek yang lembek mengekangku dari keinginan. Aku terbenak
pada kemarahan dan kesusahan yang akan ibu tanggung bila aku memaksakan diri.
Bola
plastik yang bocor meluncur kepayahan dihadang rintik hujan, jatuh di luar
lantai semen, tak jauh dariku. Teman-temanku berteriak membujukku mengembalikan
bola itu ke tengah lapangan. Kutatap bola itu dengan ragu. Bentuknya yang bulat
dengan mudah menyaru selayaknya wajah yang meledekku. Aku kalap. Kutendang bola
itu ke tengah lapangan, dan kukejar, masuk ke arena berlumpur; lupa akan
bayangan Ibu.
Air
hujan menggenang di bagian yang cekung, menciptakan keceriaan yang tumpah ruah
saat bola mampir ke sana. Air coklat di tendang. Adi mengusap-usap wajahnya,
mengerjapkan matanya cepat sebelum tertawa dan membalas siapa saja yang
berkubang di sana. Aku melonjak dan menghentakkan kedua kaki demi membuat riak
air besar yang akan mengenai semua temanku, lalu aku lari membawa bola sebelum
siapapun sempat membalasku. Lalu tiba-tiba petir muncul, tangannya yang kurus
dan bercahaya menyeruak dari kolong langit, seolah hendak meraih apapun atau
siapapun yang sanggup ia raih. Suaranya yang memekakkan telinga mengagetkan
aku, dan teman-temanku. Kami serentak tiarap, tanpa suara, dengan kedua tangan
menutupi daun telinga. Kemudian semua bubar, lari menghambur ke rumah
masing-masing.
Aku
bangun, sendirian, tiba-tiba rasa takut mencengkeram tengkukku. Dingin mulai
menyerang dadaku. Sekonyong-konyong aku teringat ibu. Aku berlari menuju rumah,
lekas, tak peduli pada hujan. Di belokan terakhir aku terjatuh, pikiranku penuh
duga dan alasan yang sengaja kusiapkan bila diperlukan. Lututku berdarah, bercampur
tanah, tapi tak kuhiraukan. Aku terus berlari.
Pintu
rumah masih tertutup. Ibu belum pulang. Aku pergi ke sumur cepat-cepat. Kurendam
baju-baju kotorku. Menimba air dari sumur, kusiram lantai dari noda bercak
tanah. Selesai mandi, kukerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah agar ibu senang;
mencuci piring, menyapu, memasak nasi, mengisi gentong dengan air sumur,
memasak air panas, serta mencuci baju kotorku tadi siang. Selesai semua itu,
ibu masih belum pulang.
Aku
hampir lega, saat mendadak nafasku mulai berat. Tentu saja aku tidak bisa
berbohong kalau sesak nafasku kambuh. Ibu pasti tahu aku habis bermain hujan. Aku
ke dapur, menyeduh teh. lalu menenggaknya panas-panas. Perlahan hangat mulai
menyusupi dadaku, sedikit meringankan tarikan nafasku.
Pintu
depan terbuka, Ibu muncul sambil membawa plastik besar ditangannya. Wajah Ibu
yang lelah memandangiku seksama. Bulir air hujan menetes dari ujung rambutnya
yang basah. Bajunya turut basah sebagian, pasti Ibu berlari juga untuk
menghindari air hujan. Tanpa berkata apapun Ibu pergi ke belakang setelah
meletakkan plastik hitam bawaannya di atas meja, tak jauh di depanku. Hendak sekali
memeriksanya, tapi urung.
Ibu
muncul
dengan handuk yang dililitkan di atas kepalanya dan segelas teh hangat.
Aku
berusaha keras menahan nafasku sebiasa mungkin saat Ibu mengambil duduk
di
sebelahku. Ibu memegang dahiku sesudah meletakkan gelas teh di depanku.
Kemudian,
masih tanpa kata-kata ibu mengeluarkan kumpulan majalah Bobo dan Donald
Bebek
serta Asterix dan obelix. Majalah-majalah itu compang-camping, majalah
bekas milik anak majikan Ibu, tetapi tetap saja tampak menggiurkan
buatku.
“nih
baca, biar gak bosan diam di rumah.” Yang aku dengar adalah ‘nih baca, dan
jangan main hujan lagi.’
: Untuk semua teman masa kecil yang senantiasa
menemaniku merobek waktu kala itu. Lebih dalam
untuk Noven dan Gery, apa kalian masih jadi
tetanggaku?
Sepertinya, sampai habis tahun ini pun aku tak bisa
Menjejak di tanah kelahiranku
Dimana kenangan masa kecil melimpah ruah meski kota itu sendiri tak lama kuakrabi
Tidak memahami dengan pasti apa yang menarik hatiku untuk kembali
Mungkin karna kisah kunangkunang yang selalu kita buru setelah petang,
Piring-piringan yang kita culik dari koloninya dan
kita sekap dalam kotak korek api yang lalu kita lupakan karna temukan semak buah markisa liar di pinggir
dam
: Hingga ia mati sendirian,
Atau hanya karna kita dulu pernah berjanji untuk
saling menemukan
Dalam suatu permainan ketika kita kecil dulu
Entah!
Masihkah?

Namun kau, kuyakin tetap berdenyut di nadiku.
--------
17:39
Gubahan dr yg pernah ada
menemaniku merobek waktu kala itu. Lebih dalam
untuk Noven dan Gery, apa kalian masih jadi
tetanggaku?
Sepertinya, sampai habis tahun ini pun aku tak bisa
Menjejak di tanah kelahiranku
Dimana kenangan masa kecil melimpah ruah meski kota itu sendiri tak lama kuakrabi
Tidak memahami dengan pasti apa yang menarik hatiku untuk kembali
Mungkin karna kisah kunangkunang yang selalu kita buru setelah petang,
Piring-piringan yang kita culik dari koloninya dan
kita sekap dalam kotak korek api yang lalu kita lupakan karna temukan semak buah markisa liar di pinggir
dam
: Hingga ia mati sendirian,
Atau hanya karna kita dulu pernah berjanji untuk
saling menemukan
Dalam suatu permainan ketika kita kecil dulu
Entah!
Masihkah?
Namun kau, kuyakin tetap berdenyut di nadiku.
--------
17:39
Gubahan dr yg pernah ada
Masa Kecil
Minggu 8
Nia Fajriyani Sofyan
Kamisan S1 #08 - Masa Kecil: Masa Kecil, Bullying, dan Anti-Bullying Campaign
02.47Unknown
Ada satu cerita di masa kecil saya, yang turut menjadi salah satu isu yang saya dalami hingga saat ini. Ada beberapa isu yang mendapat label issues that I concern the most, artinya saya pasti akan semangat sekali membahasnya. Bukan tidak mungkin hingga terbawa emosi jika saya kurang mampu menempatkan diri dengan seharusnya.
Saat saya masih TK, ada satu teman yang pasti saya perhatikan setiap hari. Tidak ada dia di kelas, berarti hari-hari saya kurang asik. Saya mendapatkan kesenangan tersendiri jika melihat dia. Ntahlah. Saya juga bingung alasannya, dan cukup sulit juga untuk mengingat setiap detail saat itu karena pernah terlupakan akibat kesibukan serta kesenangan lain di kehidupan saya selanjutnya.
Kita sebut saja teman saya ini dengan nama Erika.
Erika ini anak yang sangat cantik, pendiam sekali, dan nyaris tidak memiliki teman di kelas. Dia lebih banyak sendiri, berbeda dengan saya dan teman lainnya yang kerap bersama, terutama ketika waktunya bermain. Erika juga sangat mudah menangis. Hampir setiap hari dia menangis dan ini sering membuat kami menjadi tidak sabar menghadapi Erika. Mungkin di pandangan kami saat itu, kalau sudah menjadi anak sekolahan berarti sudah tidak boleh cengeng. Jadi, Erika kami anggap cengeng dan itu memalukan.
Sejak awal Erika diketahui sering menangis, Erika menjadi bulan-bulanan gangguan dari saya dan beberapa teman. Kami, atau lebih tepatnya saya, tidak suka dengan Erika yang sedikit-dikit menangis.
Tidak bisa mengerjakan apa yang diinstruksikan oleh guru, Erika menangis.
Tidak selesai mengerjakan apa yang diinstruksikan oleh guru, Erika menangis.
Diajak bercanda oleh teman, Erika menangis.
Padahal, guru saya saat itu (mari kita panggil dengan sebutan Bu Rhea) sangat baik. Bu Rhea sangat lembut dan sabar sekali menghadapi kami, bocah-bocah yang cukup berisik di kelas. Bu Rhea juga tidak pernah kasar. Pernah satu kali saya terlambat datang ke sekolah karena bangun kesiangan, saat itu Bu Rhea hanya tersenyum dan segera mengantarkan saya ke tempat saya duduk. Pernah juga saya kesulitan menulis huruf "b" latin - saya memang butuh waktu cukup lama untuk menguasai penulisan huruf tersebut bahkan ketika diajarkan Ibu di rumah - dan Bu Rhea selalu mendampingi saya belajar menulis huruf tersebut di kelas tanpa pernah kehilangan kesabaran. Pernah juga saya terlambat dijemput, dan Bu Rhea menemani saya di sekolah hingga saya dijemput orangtua. Jadi, bagi saya Erika sangat nakal karena membuat Bu Rhea harus menghadapi dirinya yang sering menangis. Kasihan Bu Rhea.
Dasar Erika cengeng!
Teman-teman juga mendukung saya dan sepakat bahwa Erika memang cengeng.
Semenjak sepakat bahwa Erika cengeng, saya mengajak teman-teman yang (anggaplah) se-genk dengan saya untuk ngerjain Erika, terutama kalau Erika mulai kumat cengeng-nya. Setiap kali melihat Erika, saya akan cubit dia. Akan semakin saya cubit kalau Erika mulai menangis dengan tujuan supaya Erika berhenti menangis. Begitu terus rutinitasnya. Itulah mengapa akan terasa ada yang kurang jika Erika tidak masuk sekolah karena saya jadi tidak bisa "memperhatikan" apakah Erika hari itu menjadi anak yang cengeng atau tidak.
Bu Rhea bukannya tidak tahu jika saya sering mencubit Erika. Toh saya juga sering mencubit Erika ketika kami sedang berada di kelas. Biasanya, Bu Rhea akan bertanya, "Nia, kamu kenapa mencubit Erika?" dan saya jawab karena Erika nakal atau karena Erika cengeng. Setelah itu, biasanya Bu Rhea akan menenangkan Erika dulu baru kemudian kembali ke saya dan meminta saya untuk tidak mencubit Erika. Bu Rhea bilang, "Dicubit itu sakit, Nia. Itu tidak baik. Jadi, kamu jangan mencubit orang lain ya. Kasihan orang yang kamu cubit". Tapi, saya tetap kekeuh, "Erika itu cengeng Bu. Dia harus dicubit biar berhenti nangis!".
Bu Rhea hanya tersenyum.
Bu Rhea tidak pernah marah kepada saya.
Hanya saja, Bu Rhea menjadi semakin sering menghampiri saya saat di kelas.
Belakangan baru saya berpikir. Mungkin dengan menghampiri atau mendampingi saya di kelas, tepat di sebelah saya, itulah cara Bu Rhea untuk mencegah saya mencubit Erika. Memang benar, selama Bu Rhea ada di sebelah saya, maka saya pasti akan memperlihatkan kepada Bu Rhea bahwa saya anak baik.
Sepertinya saat itu saya cemburu.
Iya. Saya cemburu.
Saya tidak suka jika perhatian Bu Rhea teralihkan ke anak-anak lain, terutama ke Erika yang cengeng itu.
***
Cerita saya dan Erika berhenti ketika saya masuk SD yang berbeda dengannya. Sejak itu saya tidak pernah mendengar kabar tentang Erika. Saya juga tidak tahu apakah Erika masih cengeng atau tidak. Semoga Erika mau mema'afkan saya.
Kenapa saya harus meminta ma'af?
Saat saya mulai belajar tentang Psikologi, spesifik di tema bullying, saya baru teringat kembali dengan Erika dan menyadari bahwa apa yang saya lakukan terhadap Erika bertahun-tahun yang lalu merupakan salah satu bentuk bullying.
Bullying is a kind of aggressive behavior. It's unwanted and involves real or perceived power imbalance. That aggressive behavior will be called as bullying depending on what happened and how often it happened. IF the aggressive behavior is repeated or has potential to be repeated overtime, it may be bullying. Bullying includes actions that potentially make the victims suffer, physically and psychologically.
Kalau melihat pendefinisian itu, jelas sekali bahwa tindakan mencubit yang sering saya lakukan ke Erika termasuk bullying. Saya merasa lebih "super" dibanding Erika, lebih kuat dibanding dia yang saya anggap cengeng, sehingga saya merasa pantas "mendidik" Erika supaya tidak cengeng. Bukannya sembuh, Erika justru semakin sering menangis akibat ulah saya. Saya jadi terpikir, Erika termasuk sering tidak masuk kelas dengan alasan sakit, bisa jadi itu karena dia tidak mau bertemu saya atau teman lain yang dianggapnya nakal dan sering menyakiti dirinya. Erika mungkin terlalu baik, naif, dan polos sehingga memendamnya sendiri.
Saya tidak tahu apakah tindakan saya yang sering mencubit Erika berdampak signifikan bagi kehidupannya. Saya juga tidak tahu apakah Erika terus menjadi korban dari pelaku-pelaku lainnya setelah saya. Tentu saya berharap tidak. Tentu saya berharap Erika baik-baik saja, secara fisik maupun psikologis. Ngeri membayangkan kemungkinan apa saja yang berdampak buruk bagi Erika akibat ulah saya itu.
Pengalaman saya dengan Erika ditambah dengan pengalaman saya berhadapan dengan korban maupun pelaku bullying lainnya yang membuat saya peduli dengan isu ini. Jadi, saya mengajak pembaca kisah ini untuk juga peduli dengan kasus bullying, peka dengan isu bullying, serta mau berusaha mengajak orang-orang untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap isu bullying. Paling tidak untuk menghindarkan orang-orang terdekat kita dari menjadi korban atau pelaku bullying.
Dan yang paling penting, saya tidak ingin orang lain melakukan apa yang pernah saya lakukan terhadap Erika. Bukan contoh yang baik. Bukan pula kenangan yang membanggakan. Apa enaknya memiliki kenangan sebagai pelaku bullying? Tidak ada. Justru saya merasakan penyesalan seumur hidup dan selalu berharap semoga Erika baik-baik saja. Saya berpikir, jka Erika sehat dan baik-baik saja maka akan mengurangi beban rasa bersalah saya terhadap dia, terutama bila (mungkin) suatu saat kami bertemu kembali. Bahkan, saya berharap Erika lupa dengan saya (dan perilaku bullying saya terhadap dia). Dengan demikian, artinya Erika tidak mengalami masalah apapun terkait cubitan-cubitan yang saya berikan kepadanya dulu. Semoga.
Bullying dapat terjadi di mana saja, kapan saja. Siapapun, dari segala usia, dapat menjadi korban maupun pelaku. Dampak bullying tidak main-main, bukan hanya fisik yang mungkin terlalu tetapi juga psikis. Menyembuhkan sakit secara psikis itu jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bahkan mungkin seumur hidup. Inilah yang membuat saya cukup takut memikirkan dampak tindakan saya ke Erika.
***
Berikut ada beberapa video yang terkait dengan #AntiBullyingCampaign.
Cyber-bully.
Mengangkat tema tentang online bullying dan dampaknya.
Strain.
Silent movie yang mengangkat tema tentang anti-bullying.
It Matters: Stand Up, Speak Up!
Video bagus yang menjelaskan tentang dampak bullying yang tidak mengenal usia.
Please do support #AntiBullyingCampaign.
- Nia Fajriyani Sofyan -


