
“Terlalu bagus atau terlalu jelek?” tanya pria yang duduk di
sebelahku. Senyumannya menunjukan deretan gigi putih bersih dan terawat
dengan baik. Aku mengalihkan pandanganku dari senyumannya dan
mengembalikan fokusku ke pertanyaannya.
“Maaf?” aku bertanya balik.
Aku memperhatikan sekelilingku. Sepertinya hanya aku dan pria ini
yang tidak sibuk dengan telepon genggam kami. Orang-orang lain lebih
memilih menatap telepon genggam mereka. Sedangkan aku sibuk menatap
tembok di hadapanku dan pria itu…entahlah, mungkin sibuk menatapku yang
sedang menatap tembok itu. Berharap saja kau Kinan.
“Jelang,” pria itu mengulurkan tangannya sambil memperlihatkan
senyumannya lagi. Aku membalas mengulurkan tanganku dan menjabat mantap
tangannya. Kata orang, tingkat kepercayaan dirimu terpancar saat kau
berjabat tangan dengan erat. Tangannya hangat.
“Kinan,” jawabku.
“Dari tadi saya perhatikan kamu melihat tembok itu terus-menerus.
Dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri. Seperti sedang memikirkan
bagaimana benda-benda itu bisa ada di sana. Jadi, saya penasaran apakah
menurut kamu tembok itu terlalu bagus atau terlalu jelek? Atau terlalu
aneh?” ia tersenyum diujung kalimatnya. Aku membalas senyumannya dengan
helaan nafas panjang.
“Aneh.” Jawabku singkat.
“Oh ya? Aneh kenapa?” Ia bertanya kembali dan diiringi senyuman yang
sama. Sebenarnya ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam dengan
gambar botol Jack Daniels di bagian depan dan celana denim
kumal yang dipadukan dengan sepatu kanvas berwarna senada dengan
denimnya. Tapi sungguh, dengan senyuman seperti itu dia tidak perlu
mengenakan apa-apa lagi untuk terlihat keren. Cukup senyumannya.
“Mm…kenapa yaa? Ya buatku aneh saja, bagaimana benda-benda itu bisa
sampai di sana? Apa menurutmu tidak aneh?” aku mencoba mempertahankan
percakapan ini dengan bertanya balik.
Ia berdiri dari kursi kami. Maju beberapa langkah ke arah railing
dan bersandar di salah satu tiang lampu dengan bohlam putih benderang.
“Jika kamu bisa menggambarkan tembok ini dalam dua kata, apa yang akan
kamu katakan?” tanyanya dengan agak serius.
“Rongsokan dan melelahkan. Karena pastinya untuk menaruh rongsokan
itu ke atas sana, memerlukan usaha yang lumayan melelahkan. Kalau kamu?”
Aku berdiri dan menghampiri pria itu. Sekarang kami berdiri
bersebelahan, berseberangan dengan tembok yang menjadi pokok bahasan
kami saat ini.
“Seni dan daur ulang.”
“Hei, daur ulang itu sudah dua kata” protesku. Dia tersenyum.
“Iya sih. Kamu benar. Tapi buat saya ini bukan rongsokan. Ini karya seni.”
“Apanya yang seni?” tanyaku penasaran.
“Buat saya saat kamu memperhatikan tembok itu tanpa jeda dan kemudian
kamu bertanya-tanya bagaimana benda-benda itu bisa sampai di atas sana,
itu sudah termasuk seni.”
“Masa segampang itu? Hanya karena aku penasaran, menjadikan tembok
itu karya seni?” dia mengangguk pelan. “Kalau begitu, ketika kamu
penasaran mengenai apa yang aku pikirkan mengenai tembok itu, apakah
menjadikan aku sebuah karya seni juga?” pria itu tertawa mendengar
pertanyaanku. Ya ampun, Kinan, tak bisakah kau terdengar pintar
barang sekejap demi lelaki ini. Sekarang dia pasti hanya menganggapmu
sebagai lelucon.
“Ha ha ha… menurut saya pribadi, iya, kamu karya seni. Ciptaan Tuhan,
sang Master seni.” Aku mengernyitkan dahiku mendengar jawabannya.
Seolah tahu aku tidak mengerti omongannya, ia kembali menyunggingkan
senyumannya. “Kamu pernah berfikir tidak, Tuhan menciptakan miliaran
manusia dan tidak ada satupun yang serupa, pasti Dia memiliki selera
seni yang tinggi kan?” Aku menganggukan kepalaku.
“Lantas, menurutmu apa yang digambarkan tembok ini tentang
penciptanya? Kalau menurutku, dilihat dari pilihan barang-barang itu,
pembuat tembok ini pasti seniman tua yang gila, iyakan?” Tanyaku
bermaksud melucu. Tapi ia hanya tertawa singkat.
“Mungkin saja. Jika menurut kamu ide tembok ini tua dan gila,” jawabnya.
“Kira-kira menurutmu pesan apa yang ingin disampaikan si pembuat tembok ini?” tanyaku penasaran.
“Mungkin siapapun yang membuat tembok ini ingin mendaur ulang
rongsokan menjadi seni. Bahwa sesuatu yang lawas, seperti benda-benda
itu, walaupun sudah tidak memiliki nilai fungsional masih mempunyai
nilai estetika. Atau mungkin juga tembok itu bercerita tentang masa
lalu. Benda-benda itu semua barang kuno, barang lama, bagian dari masa
lalu. Tapi gedung ini adalah gedung yang baru dibangun, dindingnya baru,
bagian masa kini. Barang kuno menghiasi dinding masa kini. Masa lalu
akan membentuk kita sekarang dan nanti. Jadi tergantung kamu melihat
masa lalu sebagai rongsokan atau seni?” Ia menjelaskannya dengan sangat
serius seolah-olah dia bagian dari tembok itu. Aku mulai berfikir,
jangan-jangan pria ini kurator seni atau memang seniman.
“Wow! Sekarang aku akan melihat tembok ini lebih dari sekedar tembok.
Tapi karya seni.” Ujarku. Ia kembali tersenyum. Kami menatap dinding
itu kembali dan tidak bicara apa-apa.
“Pintu teater tiga telah dibuka, kepada penonton yang telah memiliki
tiket, dipersilahkan masuk,” suara perempuan pada pengeras suara
membuyarkan lamunan kami.
“Itu teater kamu kan? Tiketmu. Teater tiga, pintunya sudah di buka.” Ia mengulang pengumuman pada pengeras suara tadi.
“Oh iya. Kamu juga nonton di teater tiga?” tanyaku. Semoga ia menjawab ya. Semoga iya.
“Tidak. Saya tidak kesini untuk nonton. Saya jalan dulu ya.” Ia
kembali mengulurkan tangannya bersamaan dengan senyuman. “Senang
berbincang dengan kamu, Kinan. Selamat menikmati filmnya.”
“Sama-sama, Jelang.” Kami melepaskan jabat tangan kami. Ia melangkah
menuju eskalator yang menjadi pemisah antara railing tempat kami berdiri
dengan tembok itu lalu eskalator yang sama mengantarkannya satu lantai
lebih rendah dari tempat kami tadi berdiri. Aku masih melihatnya hingga
ia hilang di antara kerumunan pengunjung lain.
Aku melangkahkan kakiku melewati sisi samping tembok aneh itu. Ada semacam kotak bening kecil menempel disana dengan tulisan:
Past of the Future
By: Jelang Anggadito Adi
By: Jelang Anggadito Adi
Dan satu kalimat terus-menerus berulang di benakku, “pembuat tembok ini pasti seniman tua yang gila”
Astaga, Kinan!!!
Note:
Picture courtesy of Olih.
***
0 comments