Tak ada yang
menarik dari kotaku. Kotaku sama seperti kota-kota lainnya. Kota yang
dipenuhi mall, gedung bertingkat dan tempat-tempat hiburan yang
membosankan. Sehingga, tak heran jika aku merasa muak tinggal di kota
ini. Semuanya serba riuh. Gaduh. Akibatnya, aku seringkali merasa
kesepian meskipun kotaku begitu ramai. Untuk membunuh perasaan
kesepianku itu, aku kadang kala mencoba mengobatinya dengan mengunjungi
tempat-tempat tua yang sudah jarang dikunjungi oleh warga kota. Aku
mencari informasi sebanyak mungkin tentang tempat-tempat itu. Hingga
sampailah aku pada sebuah gedung tua yang sudah terlihat sangat rapuh.
Kata orang-orang, dulunya gedung ini merupakan sebuah museum. Namun,
ketika mall-mall dan tempat hiburan jumlah cepat berkembang seperti
halnya jamur di musim penghujan, museum ini dilupakan dan ditutup oleh
pemiliknya.
Dari penuturan para warga, katanya, pemilik museum ini adalah seorang pria blasteran dengan kisah cinta yang tragis. Tujuannya membangun museum ini ialah guna mengobati hatinya yang luka. Dan benar, cara itu mujarab. Pria itu benar-benar dapat menikmati hidupnya kala para warga kota mendatangi museumnya dengan hati yang riang. Pria itu senang ketika warga kota terpaku dengan lukisan-lukisan bergaya surealis yang terpajang di dinding museum. Pria itu senang ketika patung-patung pahatan yang terhias dalam kaca itu dipandangi oleh mata-mata yang takjub.
Tetapi semua itu tak berlangsung lama. Setelah mall dan tempat hiburan itu berdiri di kota ini, museu ini ditinggalkan lalu dilupakan.
Warga kota berubah, mereka tidak menghargai seni lagi, mereka lebih asyik-masyuk menikmati hiburan yang sifatnya serba instans. Mereka hanyut dalam kebahagian yang semu.
***
Aku telah sampai di depan museum. Museum tua ini benar-benar sudah ditinggalkan. Sejauh mata memandang, di halaman museum yang kulihat adalah hampar ilalang yang menyeruak tak terawat. Dan rasanya, pintu musuem juga sungguh terlihat sangat memprihatinkan. Catnya yang membalur pintu besar itu sebagian sudah mengelupas. Dan pada beberapa bagian, sudah sangat rapuh karena dimakan rayap. Aku berusaha untuk masuk melihat-lihat. Namun, tiba-tiba terdengar suara-suara yang sangat pilu. Aku melihat dari lubang pintu. Berusaha mencari sumber suara, namun takada siapa-siapa. Yang kulihat hanya dinding dengan hiasan-hiasan kota persegi yang menempel. Apakah suara ini adalah gema dari dinding itu?
Aku mundur beberapa langkah. Aku mengurungkan niatku dan pulang.
Kurasa, suara pilu itu memang berasal dari kesedihan museum yang dilupakan ini. Aku tidak mau tertular karena kesedihannya, jadi baiknya kuurungkan saja niatku.

0 comments