Adji Nugroho Minggu 8

Kamisan S3 #8: Membangkitkan Kematian

16.49Unknown


IMG-20150428-WA0000

“Kamu masih ingat cita-cita waktu kamu kecil, Go?”
“Beberapa.” Aku menoleh ke Riani. “Kenapa?”
“Kamu ingin menjadi apa?”
“Seperti anak-anak kecil lainnya. Aku pernah ingin menjadi seorang presiden atau astronot. Atau kalau kamu ingin jawaban yang lebih umum, aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi nusa dan bangsa,” aku terkekeh. “Oh bahkan aku pernah ingin menjadi seorang ahli matematika. Kalau tidak salah itu terlintas saat aku masuk SMP.” Aku tertawa menertawaiku kekonyolanku.

Riani terdiam. Aku jadi merasa bodoh. Beruntung aku datang ke cafe ini karena ada deadline. Jadilah aku kembali menekuni pekerjaanku.

“Kemudian apa yang terjadi dengan seorang Hugo yang ingin menjadi ahli matematika itu?” Tiba-tiba Riani bertanya.
“Entahlah. Menyadari kenyataan kalau menjadi seorang ahli matematika itu tidak semudah menjadi seorang programmer mungkin.” Aku kembali menoleh ke Riani, dan menyadari bahwa perhatiannya sedang tersedot ke tembok yang menjadi dekorasi di dalam cafe ini. Sebuah tembok tidak rata dengan berbagai barang yang seakan dibenamkan ke dalamnya.

“Ketika menyadari kenyataan itu, kamu berhenti berusaha dan merubah arah hidupmu untuk menjadi seorang programmer?”
“Bisa dibilang seperti itu.” Aku melihat ada perasaan sedih yang hadir di matanya.
“Melihat tembok di depan kita, aku seperti melihat diriku sendiri. Barang-barang itu dulunya pasti berfungsi normal dan bisa digunakan bukan?”
“Mungkin.”
“Aku melihat barang-barang itu sebagai sebuah hal-hal yang pernah aku impikan. Hal-hal nyata yang seharusnya bisa aku raih. Tapi entah karena satu atau dua hal, impian itu harus dipadamkan. Dikuburkan dalam-dalam. Dibiarkan teronggok begitu saja. Menunggu mati.”
“Kenapa tidak dibangkitkan saja itu? Aku yakin beberapa mimpi tidak lantas mati ketika dikubur. Mereka mungkin masih hidup.”
“Dari pada aku harus membangkitkan impian yang telah aku kubur, aku merasa jauh lebih mudah mencari impian baru. Tujuan baru.” Riani menghela napas.
“Membangkitkan hal-hal yang sudah kita kubur itu berat. Dalam beberapa hal bahkan menjadi mustahil. Jauh lebih mudah mencari barang baru dari pada harus membongkar tembok dan mereparasi barang-barang itu kan?”

Aku berpikir sejenak.

“Memang benar. Tapi butuh keikhlasan yang luar biasa untuk menguburkan sebuah impian. Kalau tidak, mimpi yang kamu kubur itu akan menjadi virus yang menggerogoti pikiranmu. Dia bisa melahirkan penyesalan dan pengandaian tak berujung.”
“Yang lebih parah, karena kamu pernah mengubur mimpi, kamu akan merasa harus menurunkan derajat impianmu selanjutnya. Tanpa sadar kamu sudah dipaksa untuk menjadi seseorang yang pesimis.”
“Dan kamu akan mulai memandang dunia dengan sinis.”

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak