“Kamu masih ingat cita-cita waktu kamu kecil, Go?”
“Beberapa.” Aku menoleh ke Riani. “Kenapa?”
“Kamu ingin menjadi apa?”
“Seperti anak-anak kecil lainnya. Aku
pernah ingin menjadi seorang presiden atau astronot. Atau kalau kamu
ingin jawaban yang lebih umum, aku ingin menjadi seseorang yang berguna
bagi nusa dan bangsa,” aku terkekeh. “Oh bahkan aku pernah ingin menjadi
seorang ahli matematika. Kalau tidak salah itu terlintas saat aku masuk
SMP.” Aku tertawa menertawaiku kekonyolanku.
Riani terdiam.
Aku jadi merasa bodoh. Beruntung aku datang ke cafe ini karena ada
deadline. Jadilah aku kembali menekuni pekerjaanku.
“Kemudian apa yang terjadi dengan seorang Hugo yang ingin menjadi ahli matematika itu?” Tiba-tiba Riani bertanya.
“Entahlah. Menyadari kenyataan kalau
menjadi seorang ahli matematika itu tidak semudah menjadi seorang
programmer mungkin.” Aku kembali menoleh ke Riani, dan menyadari bahwa
perhatiannya sedang tersedot ke tembok yang menjadi dekorasi di dalam
cafe ini. Sebuah tembok tidak rata dengan berbagai barang yang seakan
dibenamkan ke dalamnya.
“Ketika menyadari kenyataan itu, kamu berhenti berusaha dan merubah arah hidupmu untuk menjadi seorang programmer?”
“Bisa dibilang seperti itu.” Aku melihat ada perasaan sedih yang hadir di matanya.
“Melihat tembok di depan kita, aku
seperti melihat diriku sendiri. Barang-barang itu dulunya pasti
berfungsi normal dan bisa digunakan bukan?”
“Mungkin.”
“Aku melihat barang-barang itu sebagai
sebuah hal-hal yang pernah aku impikan. Hal-hal nyata yang seharusnya
bisa aku raih. Tapi entah karena satu atau dua hal, impian itu harus
dipadamkan. Dikuburkan dalam-dalam. Dibiarkan teronggok begitu saja.
Menunggu mati.”
“Kenapa tidak dibangkitkan saja itu? Aku yakin beberapa mimpi tidak lantas mati ketika dikubur. Mereka mungkin masih hidup.”
“Dari pada aku harus membangkitkan impian
yang telah aku kubur, aku merasa jauh lebih mudah mencari impian baru.
Tujuan baru.” Riani menghela napas.
“Membangkitkan hal-hal yang sudah kita
kubur itu berat. Dalam beberapa hal bahkan menjadi mustahil. Jauh lebih
mudah mencari barang baru dari pada harus membongkar tembok dan
mereparasi barang-barang itu kan?”
Aku berpikir sejenak.
“Memang benar. Tapi butuh keikhlasan yang
luar biasa untuk menguburkan sebuah impian. Kalau tidak, mimpi yang
kamu kubur itu akan menjadi virus yang menggerogoti pikiranmu. Dia bisa
melahirkan penyesalan dan pengandaian tak berujung.”
“Yang lebih parah, karena kamu pernah
mengubur mimpi, kamu akan merasa harus menurunkan derajat impianmu
selanjutnya. Tanpa sadar kamu sudah dipaksa untuk menjadi seseorang yang
pesimis.”
“Dan kamu akan mulai memandang dunia dengan sinis.”

0 comments