Cikiewahab Minggu 7

Kamisan S3 #7: Perempuan Poster

16.44Unknown





Aku tidak tahu kenapa belakangan ini mimpi aneh selalu datang dan membuatku terus saja memikirkannya. Aku suka melamun dan dimarahi ibu jika tidak sigap melayani tamu kami di penginapan. Kulakukan apa yang ibu perintahkan, bahkan aku sengaja tidak mengambil hari libur yang biasanya kupakai untuk bersenang-senang dengan teman-temanku.
Nana sudah beberapa kali mengejutkan aku dari lamunan dan mengatakan aku pasti tengah memikirkan Han. Aku tidak membantah ucapannya itu, namun  juga tidak membenarkannya. Apa yang muncul dalam kepalaku adalah gabungan dari keresahan dan kerinduanku pada hal-hal di luar rutinitas sehari-hari.
Entah kenapa aku ingin sekali menulis sebuah surat, surat yang akan kukirimkan juga entah pada siapa. Hatiku saat itu kacau dan aku duduk di bangku taman, kolam kecil di depan mataku tampak berkabut dan aku membuka halaman dari buku yang kupegang.
***
“Tulislah sebuah surat untukku.”
Aku mendengar suara itu. Dalam pikiranku aku melihatnya seperti perempuan dengan rambut panjang dan gaun putih yang melilit tubuh rampingnya.  Aku melihatnya, benar-benar melihatnya dan ia tengah melayang di hadapanku.
“Bagaimana kau tahu kalau aku ingin menulis surat. Lalu buat apa aku menulis kalau aku bisa mengatakannya langsung kepadamu,” jawabku.
“Agar ia kekal dan siapapun bisa membacanya.”
“Tapi aku tidak mau,” kilahku agar ia menjauh. “Aku tidak kenal denganmu.”
“Terserah.”
“Kau siapa?”
“Aku adalah apa yang kau pikirkan,” jawabnya.
Perempuan itu menghilang dan aku terperanjat. Aku tidak tahu kalau Nana sudah berteriak di sampingku hingga aku menjatuhkan buku. Nana tertawa dan menarik tanganku agar mengikutinya. Aku tidak menolak dan ia membawaku ke sebuah poster yang ditempel Ibu beberapa menit lalu.
“Jangan bilang kau tidak kenal siapa yang ada di poster itu. Dia akan muncul di sini beberapa hari lagi. Dia artis ibukota itu. Ah, aku harus menyiapkan banyak makanan untuknya.”
“Hei, dia bukan sapi yang bisa kau suapi terus menerus. Lihat tubuh rampingnya itu.” Ibuku menimpali kami, kemudian ia pergi lagi.
 
            Aku melongo mendengar dan melihat itu semua. Perempuan itu ternyata sosok yang datang dalam mimpiku berkali-kali. Entah apa maksudnya. Aku baru mengenalinya karena poster ini. Benar-benar mirip dengan apa yang ia kenakan pada tubuhnya. Mungkin benar, aku akan menyiapkan sesuatu yang berharga, sebuah tulisan yang akan ia kenang dan dibaca semua orang termasuk kamu yang sedang menertawakan aku karena membacanya.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak