"Sudah habiskah minuman hangat di hadapanmu itu, Anakku?"
"Sudah.
Sangat hangat sekali di tubuh. Aku rasa sudah siap bagiku untuk
menjalankan tradisi keluarga besar kita, Bu. Almarhum Ayah pasti tidak
sabar melihat anaknya memasuki hutan kebanggaannya dan pulang dengan
kebanggaan yang tak kalah hebatnya."
Ibu yang sedang diliputi berbagai perasaan itu menatap lelaki semata wayangnya dengan mata rentanya yang lembut.
"Iya.
Ibu percaya pasti kamulah Penjaga Hutan yang dipilih oleh Peri
Metheri." balas Sang Ibu dengan membelai perlahan kepala anaknya.
"Baiklah
Bu, sesuai tradisi, jika setelah 45 hari aku tidak kembali ke rumah
ini, ke desa kita, maka Ibu boleh mengadakan sajian makanan untuk desa
sebagai bukti bahwa akulah yang terpilih menjadi penerus keturunan
putih."
"Iya, Anakku. Iya. Berhati-hatilah."
***
Randro
sudah memasuki malam ke 23, saat tiba-tiba gubuk kecilnya terasa
sedikit goyah diterpa angin. Angin yang tak terlalu besar, namun cukup
ampuh untuk mengusik tidur penghuni di sekitar terpaan. Perlahan dan
sigap, Randro keluar dari gubuk dengan menggenggap pisau anqwor, senjata paling hebat yang diberikan oleh Ayahnya, senjata yang khusus diciptakan untuk para penjaga hutan.
Ketika
Randro menyusuri bagian kanan gubuk kecilnya menuju aliran sungai
kecil, mata Randro terkunci hening, sekujur tubuhnya tak mampu
digerakkan bahkan tangannya paling cepat pun turut terasa lumpuh. Ia
terpagut membeku menyaksikan pemandangan indah di hadapannya. Seorang
perempuan dengan pakaian yang begitu putih, bersih dan bersinar. Aaahh
tak hanya pakaiannya yang nampak sangat indah dan berbeda dari pakaian
pada umumnya, tapi juga paras. YA PARAS PEREMPUAN INI BEGITU
MENAKJUBKAN. Perempuan ini seperti bukan dari bumi, entahlah..
lalu
tiba-tiba Randro tersadar. Mungkin inilah yang disebut dengan Peri
Metheri, satu-satunya Peri Putih yang dititipkan Dewa Kehidupan pada
Penjaga Hutan. Satu-satunya peri yang memiliki sinar putih dengan
balutan selendang indah buatan surga yang juga berwarna putih. Terlebih
dari semua itu, Peri Metheri adalah peri yang sengaja diturunkan sebagai
satu-satunya sang penyebar kebaikan dan ketulusan hati yang abadi.
Siapapun yang dipilih Sang Peri Metheri sebagai pendamping, akan diberi
satu keturunan dari rahim Sang Peri, seorang keturunan perempuan cantik
dengan hati tulus yang abadi.
Randro
mulai pulih benar dari keterkejutannya setelah ia melihat kaki Sang
Peri Metheri mulai menginjak bumi, kaki yang begitu sempurna dan indah.
Sang Peri menyapa dengan suara yang amat lembut dan menenangkan.
"Selamat malam, Pria."
"Ah
iya, selamat malam. Saya Randro, penjaga hutan nomor 4." Randro
menjawab sembari memperkenalkan diri dengan menyodorkan tangan kanannya,
tepat setelah ia memindahkan anqwor ke tangan kiri.
"Randro,
nama yang sangat indah. Saya menyukainya. Saya Peri Metheri. Ya, saya
tahu kamu penjaga hutan nomor 4. Saya sudah mengelilingi Hutan
Femoridcent ini lebih dari sepuluh kali untuk melihat bagaimana sosok
keenam penjaga hutan ini. Saya memilihmu, Randro, untuk menjadi
pendamping. Saya sudah mengatakan pilihan saya pada Dewa Kehidupan,
karenanya malam ini saya datang padamu."
Randro
masih menelaah dengan perlahan kata perkata yang diucapkan Peri
Metheri, lalu diakhiri dengan anggukan kecil, nampak sangat tenang dan
dingin. Namun hati Randro sungguh sesak dipenuhi kebahagiaan karena
akhirnya ia lah yang dipilih sebagai pendamping. Mimpi terbesar tiap
penjaga hutan di dunia ini, menjadi pendamping Peri Metheri.
***
Randro
duduk dengan matanya yang sembab dan wajah yang sangat pasi. Mungkin
ini yang dulu pernah Ibunya katakan tentang betapa tak mudahnya
mengemban tugas sebagai Pendamping Peri Metheri. Akan tiba saat di mana
Sang Pendamping harus belajar mengikhlaskan jalan sang takdir. Sudah 16
tahun Randro hidup bersama penuh cinta dan kebahagiaan dengan Peri
Metheri. Hidup seperti layaknya lelaki paling beruntung di dunia.
Menghabiskan siang dan malam dengan seorang pendamping berhati baik dan
suci, lalu ditambah dengan seorang anak perempuan, puteri cantik dengan
hati yang serupa milik ibunya, Sang Peri Metheri. Benar-benar sebuah
keluarga kecil yang sempurna dan bahagia.
Namun
malam ini, pakaian Peri Metheri memudar dengan sendirinya, perlahan
berubah menjadi semakin putih dan makin bersinar. Pertanda 'malam
terakhir kebersamaan' telah datang. Ketika Peri Metheri memiliki
pendamping, pakaian Perinya akan berubah menjadi warna cokelat, serupa
pakaian manusia. Begitu 'malam terakhir kebersamaan' tiba, pakaiannya akan kembali menjadi seperti semula, putih dan bersinar.
Randro
menghampiri ranjang, di mana Peri Metheri terbaring, pasrah menanti
datangnya Dewi Pencabut Kesadaran. Di akhir waktu yang tersisa, Randro
terus berusaha menikmati waktu dengan memaksa Peri Metheri berbicara.
"Bolehkah aku mengajukan pertanyaan, Peri Metheri tercintaku?"
"Ya, Kekasihku?"
"Kenapa Dewa harus menitipkanmu ke hutan? lalu ketika 'malam terakhir kebersamaan'
tiba, engkau harus pergi entah menuju hutan mana lagi untuk memilih
pendamping yang lain, tidak kah ini terlalu kejam jika dianggap sebagai
tugas mulia dari Sang Dewa Kehidupan?"
Sembari tersenyum dan menggenggam erat tangan kanan Randro, Peri Metheri memberikan penjelasan.
"Tidak
ada yang kejam dengan tugas mulia ini, Kekasihku. Di zaman dahulu,
langit dipenuhi dengan berbagai warna peri, peri-peri ini diutus Sang
Dewa Kehidupan untuk mengisi dan menghiasi bumi. Dari sekian banyak
warna peri, hanya Peri Anhoesa, Peri Hijau yang berhasil menciptakan
keindahan di bumi tanpa banyak menimbulkan masalah. Peri Anhoesa
berhasil menciptakan hutan. Ia menyebarkan berbagai jenis hutan indah di
muka bumi ini, ia menyusunnya dengan jajaran tanaman, air, bebatuan,
dan hewan-hewan. Sangat indah. Lalu dengan perasaan iri yang berlarut,
peri lain merasa Dewa Kehidupan mulai tidak adil. Dewa Kehidupan hanya
membangga-banggakan Peri Anhoesa dan muncullah perang antar peri. Segala
kekejaman merajai dunia. Menyebar hingga ke seluruh titik dunia. Dewi
Surga merasa sedih dengan keadaan ini. Maka dengan rahasia, ia dan Dewa
Kehidupan menciptakanku, Peri Metheri sebagai sang pembawa kebaikan. Aku
diciptakan dengan setiap unsur kebaikan dari surga, dengan hati yang
seputih warna surga. Agar apa yang aku lakukan tidak tertangkap oleh
peri lain, Dewa Kehidupan menitipkanku pada para Penjaga Hutan. Peri
Anhoesa menciptakan orang-orang sebagai Penjaga Hutan yang mampu
memiliki keturunan dan agar keturunanannya terus teguh mengemban tugas
di hutan, salah satunya menanti kedatanganku. Tiap penjaga hutan akan
mendapat petunjuk atau mimpi ketika aku akan tiba di Hutan yang mereka
jaga. Di setiap hutan ada beberapa penjaga, dan di Hutan Femoridcent
ini, aku menemukan enam penjaga hutan dengan keahlian dan kelebihan yang
luar biasa, namun hatiku memilihmu. Takdir mengharuskanku untuk
meneruskan keturunan Peri Putih, agar kebaikan hati yang tulus dan suci
tetap tumbuh dan terjaga di bumi ini. Ketika anakku berusia 15 tahun,
itulah saat di mana aku harus pergi, mempersiapkan diri untuk kehilangan
ingatan tentang pendampingku sebelumnya. Aku akan memuai menjadi
butiran-butiran kristal lalu terbawa angin dan terbang menuju hutan
lainnya. Aku pun harus diubah menjadi butiran kristal demi menjaga
rahasia keberadaanku dari peri lain di bumi. Ketika Dewa Kehidupan
memilihkanku hutan yang baru, wujudku perlahan akan berubah menjadi
seperi perempuan, seperti manusia. seperti wujud saat pertama kali kita
bertemu, Kekasihku."
"Setelah ini, jadi aku harus membesarkan puteri kita seorang diri?"
"Iya,
namun engkau tak perlu khawatir. Sebagian dari diriku telah tumbuh
dengan indah di dalam tubuh puteri kita. Ia akan menjadi penerus
kebaikan di dunia dan tak akan merepotkanmu, Kekasihku. Ia adalah puteri
pilihan, sama seperti puteri putih lainnya di bumi ini."
"Bagaimana jika aku ingin menemuimu lagi? masih adakah kesempatan?"
"Kamu akan selalu menemuiku, di mimpi dan hatimu, Kekasihku."
Peri
Metheri meletakkan genggaman tangan mereka di dada Randro, sebelum
akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sebagai wujud manusia,
perempuan. Beberapa waktu kemudian, tubuh Peri Metheri perlahan berubah
menjadi butiran demi butiran lembut lalu terbang terbawa angin.
Menyisakan kekosongan di telapak tangan Randro. Meninggalkan kesedihan
mencekam di hati Randro.
Betapa demi setitik kebaikan di dunia, begitu banyak perngorbanan dan kesakitan yang harus Randro rasakan.
***
#NulisKamisan
S3 #7, foto oleh @niafajriyani

0 comments