Menatap riak air di gelas minuman selalu membuatnya bahagia. Diam-diam,
ia sengaja berlama-lama menatapi isi gelas. Karenanya, ia begitu
menggemari minuman panas. Selalu ada alasan baginya untuk berlama-lama
menandaskan isinya dengan alasan menunggu dingin. Kali ini ia terkikik
kecil. Gadis kecil samar-samar itu sangat menawan. Tak banyak bicara,
namun juga tak menyimpan durja. Senyumnya cukup, semanis teh dengan
sedikit gula.
***
Kali ini yang muncul seorang bocah nakal. Matanya nyalang, seringkali
tak bersahabat. Beberapa waktu kemudian bocah itu sudah komat-kamit,
bibirnya bergerak semakin cepat. Tanpa perlu menduga-duga, ia tahu bahwa
itu bentuk amarah. Rasanya ia begitu mengenali bocah itu. Tak asing dan
akrab saja.
***
Ia berpikir bahwa selamanya tak mungkin untuk selalu menatap ke dalam
cangkir, berharap akan selalu ada sosok dan cerita. Ia ingin sesuatu
yang lebih besar, lebih leluasa. Langkahnya pertama kali menjejak
setapak yang baru, yang belum ia jajaki sebelumnya. Ia menguak keraguan
dan ketakutan. Demi untuk satu hal : permukaan air yang besar.
***
Gadis itu tak pernah benar-benar mengerti tentang bagian dirinya yang
selalu ia saksikan sendiri. Melalui permukaan-permukaan air minum di
dalam gelas, bahkan danau yang besar. Ketika gambaran dirinya seutuhnya
terbuka, ia tak pernah merasa gembira dan percaya.
Justru bertanya, "Bolehkah aku mengulang usia?"

0 comments