Minggu 8

Kamisan S3 #8: Televisi Pak Kardi

16.58Unknown

“Dijual saja, Pak.”
“Tidak!”
Hampir setiap hari, Bapak dan anak ini berbeda pendapat tentang sebuah televisi tua di sudut ruangan. Sebuah benda kotak, berwarna hitam, berlayar cembung, berukuran 14 inci.

“Itu benda antik, Pak. Harganya lumayan. Kalau itu dijual, keperluan hidup kita sampai akhir tahun terjamin.”
“Jangan sekali-kali kau bicara tentang menjual televisi itu lagi. Televisi itu tidak akan pernah dijual. Setidaknya, selama Bapak masih hidup!” Pak Kardi meninggalkan anak tertuanya dengan kegusaran yang tidak ia tutupi. Pak Kardi seorang tukang tambal ban dengan penghasilan kasar  antara Rp. 350.000,00 hingga Rp. 400.000,00 per minggu. Angka yang cukup fantastis bagi mereka yang hanya makan satu kali satu hari. Angka yang cukup kecil bagi kaum konsumtif. Bagi Pak Kardi dan keluarganya, asal tidak menggali lubang utang, merupakan kelegaan tersendiri.

Membiayai hidupnya serta ketiga anaknya yang masih duduk dibangku sekolah, kerap kali membuatnya harus bekerja ekstra. Tidak jarang ia membuka tempat tambal bannya 24 jam, guna memperoleh penghasilan tambahan.

Sore itu, dengan sedikit terhuyung, Pak Kardi memasuki rumah kontrakannya. Tiga hari berturut ia membuka usaha tambal bannya selama 24 jam. Ia sendiri yang menjaga. Anak-anaknya silih berganti menemani saat makan pagi atau makan malam. Pak Kardi tidak pernah membiarkan anak-anaknya ikut memikul tanggung jawab ekonomi. Baginya, selama ia masih diberi napas hidup oleh Sang Pemberi, ia akan mencukupkan kebutuhan keluarganya. Itu juga merupakan janjinya pada istri yang dikasihinya, yang pergi menghadap Ilahi saat melahirkan anak ketiga mereka.

Ia terduduk lemas di kursi meja makan. Dengan gemetar ia menuang air ke gelas. Perlahan didekatkannya bibir gelas ke bibirnya sendiri. Secara tiba-tiba tangannya terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sudut ruangan. Televisi tua itu telah raib. Ia tidak melihatnya lagi di sudut itu. Tergesa ia berdiri. Ia tidak tahu apakah ia meletakkan gelas di meja dengan benar atau tidak. Air membasahi meja. Ia berjalan ke sudut ruangan, memastikan penglihatannya. Tangannya menggapai. Mencoba merasakan televisi yang biasanya ada di sudut itu. Tapi, tangan itu tidak menyentuh apa pun. Tidak ada benda yang dapat ia sentuh. Ia hanya menepis udara di sekitarnya. Ia meraung. Badannya berputar. Lemas ia duduk bersandar pada bilah dinding. Kedua lengannya memeluk kakinya. Punggungnya turun naik dengan cepat. Isakan yang berbaur dengan raungan lahir darinya. Perlahan badannya terkulai. Matanya membuka. Hanya membuka. Tidak ada gerakan bola mata yang mencari-cari. Hanya ada sisa air mata. Dan turun naik tubuhnya melemah, hingga terhenti. Waktu pun terhenti. Hanya untuk beberapa waktu. Perlahan dan semakin cepat, waktu berputar mundur, mengaburkan semua kenyataan.

***

Tiga puluh tujuh tahun silam. Pak Kardi muda, pulang dengan menatang kardus. Kaki-kaki kuatnya melangkah cepat dan ringan. Wajahnya memancarkan rasa senang yang tak terucap.

“Ibu … Ibu!” serunya begitu ia memasuki rumah. Ibunya yang tengah mencuci sayuran tergopoh menghampirinya. Wajah perempuan yang melahirkannya itu menyiratkan pertanyaan. Dengan tidak menipiskan rasa senang yang menguasai hatinya, ia membuka kardus yang sejak tadi dibawanya. Sebuah televisi 14 inci.

“Ini hasil keringatku di galangan kapal selama enam bulan ini, Bu,” tuturnya dengan nada bangga yang kentara. “Kita punya televisi, sekarang!” Sang Ibu memeluknya. Cukup erat untuk seorang perempuan sederhana dengan bobot ringan seperti dirinya. Air mata haru membasahi pipinya. Dicium kedua pipi anaknya.

“Terima kasih,” tuturnya sambil membelai lembut wajah anak laki-laki satu-satunya itu. Hanya dua kata itu yang sanggup terucap. Bagi Pak Kardi muda, rasa syukur itu lebih menjadi miliknya. “Kamu kerja keras selama enam bulan ini, Nak. Ini hadiah dari Tuhan,” tuturnya lagi dengan senyum.

Momen itu tidak menjadi momental bagi Pak Kardi. Rasa syukur itu terus menuntunnya. Mengingatkannya arti kerja keras. Dan televisi itu, televisi yang menjadi penghibur dirinya dan keluarganya melalui gambar-gambar yang bergerak, terus menemaninya hingga tak ada lagi gambar yang dapat bergerak melaluinya. Televisi itu menjadi simbol kerja kerasnya. Kerja keras yang terus ia lakukan hingga tiga puluh tujuh tahun kemudian.

***
Yola M. Caecenary

Kamisan #8 Session 3 : Televisi Pak Kardi -  Deadline : 7 Mei 2015
Foto tema tulisan
Sumber : foto shared by Olih
 
 

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak