“Dijual saja,
Pak.”
“Tidak!”
Hampir setiap
hari, Bapak dan anak ini berbeda pendapat tentang sebuah televisi tua di sudut
ruangan. Sebuah benda kotak, berwarna hitam, berlayar cembung, berukuran 14
inci.
“Itu benda antik,
Pak. Harganya lumayan. Kalau itu dijual, keperluan hidup kita sampai akhir
tahun terjamin.”
“Jangan
sekali-kali kau bicara tentang menjual televisi itu lagi. Televisi itu tidak
akan pernah dijual. Setidaknya, selama Bapak masih hidup!” Pak Kardi meninggalkan
anak tertuanya dengan kegusaran yang tidak ia tutupi. Pak Kardi seorang tukang
tambal ban dengan penghasilan kasar antara Rp. 350.000,00 hingga Rp. 400.000,00 per
minggu. Angka yang cukup fantastis bagi mereka yang hanya makan satu kali satu
hari. Angka yang cukup kecil bagi kaum konsumtif. Bagi Pak Kardi dan
keluarganya, asal tidak menggali lubang utang, merupakan kelegaan tersendiri.
Membiayai
hidupnya serta ketiga anaknya yang masih duduk dibangku sekolah, kerap kali
membuatnya harus bekerja ekstra. Tidak jarang ia membuka tempat tambal bannya
24 jam, guna memperoleh penghasilan tambahan.
Sore itu, dengan
sedikit terhuyung, Pak Kardi memasuki rumah kontrakannya. Tiga hari berturut ia
membuka usaha tambal bannya selama 24 jam. Ia sendiri yang menjaga. Anak-anaknya silih berganti menemani saat
makan pagi atau makan malam. Pak Kardi tidak pernah membiarkan
anak-anaknya ikut memikul tanggung jawab ekonomi. Baginya, selama ia masih
diberi napas hidup oleh Sang Pemberi, ia akan mencukupkan kebutuhan keluarganya.
Itu juga merupakan janjinya pada istri yang dikasihinya, yang pergi menghadap
Ilahi saat melahirkan anak ketiga mereka.
Ia terduduk
lemas di kursi meja makan. Dengan gemetar ia menuang air ke gelas. Perlahan
didekatkannya bibir gelas ke bibirnya sendiri. Secara tiba-tiba tangannya
terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sudut ruangan. Televisi tua itu
telah raib. Ia tidak melihatnya lagi di sudut itu. Tergesa ia berdiri. Ia tidak
tahu apakah ia meletakkan gelas di meja dengan benar atau tidak. Air membasahi
meja. Ia berjalan ke sudut ruangan, memastikan penglihatannya. Tangannya
menggapai. Mencoba merasakan televisi yang biasanya ada di sudut itu. Tapi,
tangan itu tidak menyentuh apa pun. Tidak ada benda yang dapat ia sentuh. Ia
hanya menepis udara di sekitarnya. Ia meraung. Badannya berputar. Lemas ia
duduk bersandar pada bilah dinding. Kedua lengannya memeluk kakinya.
Punggungnya turun naik dengan cepat. Isakan yang berbaur dengan raungan lahir
darinya. Perlahan badannya terkulai. Matanya membuka. Hanya membuka. Tidak ada
gerakan bola mata yang mencari-cari. Hanya ada sisa air mata. Dan turun naik
tubuhnya melemah, hingga terhenti. Waktu pun terhenti. Hanya untuk beberapa
waktu. Perlahan dan semakin cepat, waktu berputar mundur, mengaburkan semua
kenyataan.
***
Tiga puluh tujuh
tahun silam. Pak Kardi muda, pulang dengan menatang kardus. Kaki-kaki kuatnya
melangkah cepat dan ringan. Wajahnya memancarkan rasa senang yang tak terucap.
“Ibu … Ibu!”
serunya begitu ia memasuki rumah. Ibunya yang tengah mencuci sayuran tergopoh
menghampirinya. Wajah perempuan yang melahirkannya itu menyiratkan pertanyaan.
Dengan tidak menipiskan rasa senang yang menguasai hatinya, ia membuka kardus
yang sejak tadi dibawanya. Sebuah televisi 14 inci.
“Ini hasil
keringatku di galangan kapal selama enam bulan ini, Bu,” tuturnya dengan nada
bangga yang kentara. “Kita punya televisi, sekarang!” Sang Ibu memeluknya.
Cukup erat untuk seorang perempuan sederhana dengan bobot ringan seperti
dirinya. Air mata haru membasahi pipinya. Dicium kedua pipi anaknya.
“Terima kasih,”
tuturnya sambil membelai lembut wajah anak laki-laki satu-satunya itu. Hanya
dua kata itu yang sanggup terucap. Bagi Pak Kardi muda, rasa syukur itu lebih
menjadi miliknya. “Kamu kerja keras selama enam bulan ini, Nak. Ini hadiah dari
Tuhan,” tuturnya lagi dengan senyum.
Momen itu tidak
menjadi momental bagi Pak Kardi. Rasa syukur itu terus menuntunnya.
Mengingatkannya arti kerja keras. Dan televisi itu, televisi yang menjadi
penghibur dirinya dan keluarganya melalui gambar-gambar yang bergerak, terus
menemaninya hingga tak ada lagi gambar yang dapat bergerak melaluinya. Televisi
itu menjadi simbol kerja kerasnya. Kerja keras yang terus ia lakukan hingga
tiga puluh tujuh tahun kemudian.
Yola M. Caecenary
Kamisan #8 Session 3 : Televisi Pak Kardi - Deadline : 7 Mei 2015
Foto tema tulisan
0 comments