Musim kemarau ditandai dengan gugurnya
daun-daun, sebuah siklus bagi pepohonan. Karenanya sudah seminggu ini,
dalam sehari aku bisa menyapu lebih dari tiga kali. Pagi pukul sembilan,
tengah hari dan sore hari ketika toko antik ini hendak kututup. Aku
sedang memasukkan setumpuk daun kering ke dalam karung (yang nantinya
akan kubuatkan kompos) ketika kudengar suara Arun bicara tetapi tak
cukup jelas untuk mendengar apa yang dia katakan. Aku menghentikan
kegiatanku mengumpulkan sampah daun, menepuk-nepuk kedua tanganku dengan
harapan mengusir debu dari sana lalu mengelap telapak tangan pada
celana, barulah aku menghampiri Arun.
Anak itu berpenampilan kumal seperti
biasanya. Bahkan kali ini terlihat lebih kumal. Rambutnya terlihat kusut
seperti ada sesuatu yang menggumpal di atas sana, terlihat kering
tetapi juga agak basah.
“Apa katamu tadi, Run?” kataku
menyapanya. Bocah lelaki itu diam saja. Dari sampingnya aku melihat dia
tersenyum, entah karena apa. Ini membuat penampakannya makin aneh saja.
Arun tidak biasanya tersenyum. Arun adalah anak penuh kedengkian. Ia
marah pada semua hal. Pada ayah yang menelantarkannya. Pada ibu yang
menitipkannya ke panti asuhan karna ia menikah dengan pria lain yang tak
menginginkan Arun menjadi anaknya. Pada lampu merah tempat ia biasa
mangkal. Pada kota, pada jalan, pada pengedara. Pada presiden, bahkan
pada Tuhan. Dia marah sebab Tuhan tak menyisakan apa pun padanya untuk
dia miliki selain nafas yang tersengal dan perut yang harus selalu dia
isi.
“Itu kau sewaktu kecil,” aku mendengar
suara Arun lagi. Tadinya kupikir aku hanya berkhayal tetapi tidak,
suaranya jelas menyeruak gendang telingaku dan masuk ke koklea. Aku
melihat tangan Arun terangkat. Menunjuk televisi lemari model 20T-27A
dengan merk dagang Sharp, yang terpajang di dinding bawah sebelah kiri.
Old’s Gift adalah toko barang antik yang aku warisi dari kakekku.
Barang-barang antik yang dijual tentu masih memiliki fungsi atau paling
tidak bisa difungsikan, entah untuk apa pun. Tetapi tidak untuk
televisi-televisi tua yang memang sengaja dipajang kakekku memenuhi
dinding. Televisi-televisi itu, seluruhnya, sudah tidak berfungsi. Tentu
saja, televisi-televisi itu pernah hidup di tahun sembilan puluhan yang
cara menyalakannya pun kau harus menarik tombol di sisi kanan televisi.
Mecari chanelnya juga harus memutar-mutar pengatur chanel yang
tertempel di badan televisi. Kesimpulannya, apa yang dikatakan Arun
sangatlah tidak mungkin. Televisi yang sudah tidak bisa menyala mana
mungkin bisa menampilkan gambar terlebih gambar itu ketika aku masih
kecil.
“Aruun,” kataku hendak memrotes.
“Saat itu kau masih di kandungan. Lihat! Itu kakek dan kakak perempuanmu, juga ibumu dan kau di dalam perutnya.”
Mendengar ini, mau tidak mau aku
mengalihkan pandangan dari Arun ke arah di mana tangannya menunjuk. Aku
terkejut bukan main, televisi itu menampilkan gambar bergerak. Arun
benar. Perempuan berambut panjang sebahu di gambar itu adalah ibuku. Ibu
yang tak sempat aku lihat sebab meninggal ketika ia melahirkanku. Itu
delapan belas tahun yang lalu.
Aku tersedak haru.
Aku hendak menjauh tetapi Arun menahan
tanganku. “Itu kakek dan kakak perempuanmu,” katanya lagi. Kali ini Dia
menunjuk televisi Vintage Lincoln, yang berbentuk kotak, berwarna hitam
dan putih susu. Pupil mataku memasatkan penglihatan. Di gambar, Runa,
kakak perempuanku ketika berumur sepuluh tahun. Kakak terlihat
menggemaskan dengan rambut dikepang dua meski sepertinya habis menangis.
“Memangnya, sejak kapan kakek bisa bicara dengan benda-benda?”
Suara kakak dari dalam televisi. Kakek
tersenyum lalu mengajak Runa duduk di sofa beledru hijau yang ada di
sana, sofa yang sama yang aku gunakan sebagai meja untuk tamu yang
datang melihat-lihat toko antik ini.
Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening.
Aku melepaskan pengangan tangan Arun tetapi anak itu rupanya tak
mengizinkanku memahami semua ini barang sejenak.
“Itu adalah kau di masa depan,” kali ini
Arun menujuk TV Kayu B/W Johnsons. Televisi itu masih terlihat mulus
berkat bahan bakelit yang melekat pada tubuhnya. Membuat harganya cukup
fantastis ketika ditawar seorang anak muda yang ingin membuka café, yang
tentu saja, akan ia gunakan sebagai dekorasi.
Apa yang terlihat pada gambar televisi
itu adalah apa yang tadi sedang kukerjakan sebelum Arun datang dan
merusak soreku dengan celoteh-celotehnya yang tak karuan ini. Tetapi
sialnya mulai memengaruhiku.
Anehnya lagi, gambar di televisi tidak
menampilkan Arun dan aku yang sedang memandangi televisi-televisi mati
dari etalase toko melainkan memunculkan gambar di perempatan jalan.
Lampu merah yang selalu ramai sebab berada tepat di sudut di mana sebuah
mall kelas atas berdiri megah nan pongah. Tempat Arun mencari nafkah
sehari-hari dengan menjual Koran pagi-sore dan mengamen pada sela-sela
waktu selain itu.
Hari masih pagi. Klakson bersahut-sahutan
di jalan yang padat. Semua orang telihat terburu. Arun tak mau kalah ia
ramai menjajakan korannya. Berdiri di antara mobil dan motor.
Menyelinap di sela-sela kendaraan. Siapa pun akan terharu dengan
usahanya itu. Pecayalah, kau akan membeli koran meski pun kau tak pernah
membacanya, saat kau sadar soal itu koran di tangan Arun telah
berpindah ke tanganmu.
Kulihat anak itu ingin menjauh, menepi ke trotoar ketika lampu lalu lintas menyala hijau. Semua kendaraan menderu maju.
Harusnya.
Tetapi ada satu yang melintangi jalan.
Mungkin rodanya tergelincir atau patah As karena beban muatan berlebih,
atau tersuruk pada lubang dan membuatnya oleng. Truk enam roda itu
oleng, pantat truk menghantam tiang lampu merah hingga terbanting patah.
Jalanan kian ramai.
Hilang! Ada yang hilang di sana.
Di mana Arun? Bukankah tadi dia menepi di samping lampu merah itu?
Susah payah aku melepaskan pandangan dari
televisi untuk menatap kekosongan di sampingku. Tak ada Arun. Tak ada
anak lelaki yang sejak tadi mengangguku dengan menunjuk
televisi-televisi mati.
*
Ini musim kemarau sebab itu pepohonan
menggugurkan daun-daunnya. Pohon-pohon randu yang semula rindang di
pinggir jalan sekarang tinggal tulang-tulang batang. Jika pun ada daun
yang tersisa biasanya berwarna kuning kering. Pohon-pohon itu tidak
mati. Tetapi Arun, bocah itu mati. Ketika daun-daun jatuh berguguran dan
angin semilir menerbangkan duka.
*
Catatan:
Dibuat setelah menghabiskan buku kumcer
Tentang Pertemuan milik Andi Wirambara. Semacam terpengaruh tulisannya
dengan twis-twis yang luar biasa menyoal pertemuan.
Tentang tipe-tipe teve lama diambil dari http://www.indonetwork.co.id/result.html?search_for=&search_cat=all&subcat=Cemi&owner=555652
Aria
10:26
070515
0 comments