Minggu 8 Nona Capung

Kamisan S3 #8: Arun

17.05Unknown

Musim kemarau ditandai dengan gugurnya daun-daun, sebuah siklus bagi pepohonan. Karenanya sudah seminggu ini, dalam sehari aku bisa menyapu lebih dari tiga kali. Pagi pukul sembilan, tengah hari dan sore hari ketika toko antik ini hendak kututup. Aku sedang memasukkan setumpuk daun kering ke dalam karung (yang nantinya akan kubuatkan kompos) ketika kudengar suara Arun bicara tetapi tak cukup jelas untuk mendengar apa yang dia katakan. Aku menghentikan kegiatanku mengumpulkan sampah daun, menepuk-nepuk kedua tanganku dengan harapan mengusir debu dari sana lalu mengelap telapak tangan pada celana, barulah aku menghampiri Arun.

Anak itu berpenampilan kumal seperti biasanya. Bahkan kali ini terlihat lebih kumal. Rambutnya terlihat kusut seperti ada sesuatu yang menggumpal di atas sana, terlihat kering tetapi juga agak basah.

“Apa katamu tadi, Run?” kataku menyapanya. Bocah lelaki itu diam saja. Dari sampingnya aku melihat dia tersenyum, entah karena apa. Ini membuat penampakannya makin aneh saja. Arun tidak biasanya tersenyum. Arun adalah anak penuh kedengkian. Ia marah pada semua hal. Pada ayah yang menelantarkannya. Pada ibu yang menitipkannya ke panti asuhan karna ia menikah dengan pria lain yang tak menginginkan Arun menjadi anaknya. Pada lampu merah tempat ia biasa mangkal. Pada kota, pada jalan, pada pengedara. Pada presiden, bahkan pada Tuhan. Dia marah sebab Tuhan tak menyisakan apa pun padanya untuk dia miliki selain nafas yang tersengal dan perut yang harus selalu dia isi.

“Itu kau sewaktu kecil,” aku mendengar suara Arun lagi. Tadinya kupikir aku hanya berkhayal tetapi tidak, suaranya jelas menyeruak gendang telingaku dan masuk ke koklea. Aku melihat tangan Arun terangkat. Menunjuk televisi lemari model 20T-27A dengan merk dagang Sharp, yang terpajang di dinding bawah sebelah kiri. Old’s Gift adalah toko barang antik yang aku warisi dari kakekku. Barang-barang antik yang dijual tentu masih memiliki fungsi atau paling tidak bisa difungsikan, entah untuk apa pun. Tetapi tidak untuk televisi-televisi tua yang memang sengaja dipajang kakekku memenuhi dinding. Televisi-televisi itu, seluruhnya, sudah tidak berfungsi. Tentu saja, televisi-televisi itu pernah hidup di tahun sembilan puluhan yang cara menyalakannya pun kau harus menarik tombol di sisi kanan televisi. Mecari chanelnya juga harus memutar-mutar pengatur chanel yang tertempel di badan televisi. Kesimpulannya, apa yang dikatakan Arun sangatlah tidak mungkin. Televisi yang sudah tidak bisa menyala mana mungkin bisa menampilkan gambar terlebih gambar itu ketika aku masih kecil.

“Aruun,” kataku hendak memrotes.
“Saat itu kau masih di kandungan. Lihat! Itu kakek dan kakak perempuanmu, juga ibumu dan kau di dalam perutnya.”

Mendengar ini, mau tidak mau aku mengalihkan pandangan dari Arun ke arah di mana tangannya menunjuk. Aku terkejut bukan main, televisi itu menampilkan gambar bergerak. Arun benar. Perempuan berambut panjang sebahu di gambar itu adalah ibuku. Ibu yang tak sempat aku lihat sebab meninggal ketika ia melahirkanku. Itu delapan belas tahun yang lalu.

Aku tersedak haru.

Aku hendak menjauh tetapi Arun menahan tanganku. “Itu kakek dan kakak perempuanmu,” katanya lagi. Kali ini Dia menunjuk televisi Vintage Lincoln, yang berbentuk kotak, berwarna hitam dan putih susu. Pupil mataku memasatkan penglihatan. Di gambar, Runa, kakak perempuanku ketika berumur sepuluh tahun. Kakak terlihat menggemaskan dengan rambut dikepang dua meski sepertinya habis menangis.

“Memangnya, sejak kapan kakek bisa bicara dengan benda-benda?”

Suara kakak dari dalam televisi. Kakek tersenyum lalu mengajak Runa duduk di sofa beledru hijau yang ada di sana, sofa yang sama yang aku gunakan sebagai meja untuk tamu yang datang melihat-lihat toko antik ini.
Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening. Aku melepaskan pengangan tangan Arun tetapi anak itu rupanya tak mengizinkanku memahami semua ini barang sejenak.

“Itu adalah kau di masa depan,” kali ini Arun menujuk TV Kayu B/W Johnsons. Televisi itu masih terlihat mulus berkat bahan bakelit yang melekat pada tubuhnya. Membuat harganya cukup fantastis ketika ditawar seorang anak muda yang ingin membuka café, yang tentu saja, akan ia gunakan sebagai dekorasi.

Apa yang terlihat pada gambar televisi itu adalah apa yang tadi sedang kukerjakan sebelum Arun datang dan merusak soreku dengan celoteh-celotehnya yang tak karuan ini. Tetapi sialnya mulai memengaruhiku.

Anehnya lagi, gambar di televisi tidak menampilkan Arun dan aku yang sedang memandangi televisi-televisi mati dari etalase toko melainkan memunculkan gambar di perempatan jalan. Lampu merah yang selalu ramai sebab berada tepat di sudut di mana sebuah mall kelas atas berdiri megah nan pongah. Tempat Arun mencari nafkah sehari-hari dengan menjual Koran pagi-sore dan mengamen pada sela-sela waktu selain itu.

Hari masih pagi. Klakson bersahut-sahutan di jalan yang padat. Semua orang telihat terburu. Arun tak mau kalah ia ramai menjajakan korannya. Berdiri di antara mobil dan motor. Menyelinap di sela-sela kendaraan. Siapa pun akan terharu dengan usahanya itu. Pecayalah, kau akan membeli koran meski pun kau tak pernah membacanya, saat kau sadar soal itu koran di tangan Arun telah berpindah ke tanganmu.

Kulihat anak itu ingin menjauh, menepi ke trotoar ketika lampu lalu lintas menyala hijau. Semua kendaraan menderu maju.

Harusnya.

Tetapi ada satu yang melintangi jalan. Mungkin rodanya tergelincir atau patah As karena beban muatan berlebih, atau tersuruk pada lubang dan membuatnya oleng. Truk enam roda itu oleng, pantat truk menghantam tiang lampu merah hingga terbanting patah. Jalanan kian ramai.

Hilang! Ada yang hilang di sana.

Di mana Arun? Bukankah tadi dia menepi di samping lampu merah itu?

Susah payah aku melepaskan pandangan dari televisi untuk menatap kekosongan di sampingku. Tak ada Arun. Tak ada anak lelaki yang sejak tadi mengangguku dengan menunjuk televisi-televisi mati.

*

Ini musim kemarau sebab itu pepohonan menggugurkan daun-daunnya. Pohon-pohon randu yang semula rindang di pinggir jalan sekarang tinggal tulang-tulang batang. Jika pun ada daun yang tersisa biasanya berwarna kuning kering. Pohon-pohon itu tidak mati. Tetapi Arun, bocah itu mati. Ketika daun-daun jatuh berguguran dan angin semilir menerbangkan duka.

*

Catatan:
Dibuat setelah menghabiskan buku kumcer Tentang Pertemuan milik Andi Wirambara. Semacam terpengaruh tulisannya dengan twis-twis yang luar biasa menyoal pertemuan.

Aria
10:26
070515

image

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak