Minggu 9

Kamisan S3 #9: Menggambarku

13.34Unknown


Hari kepergianku dari rumah semakin dekat. Waktu seakan begitu terburu mengajak hari-hari berlari. Meninggalkan masa lalu dan menggandeng masa depan. Aku pun siap menyejajarkan diriku dengan sang waktu. Melepas masa kecilku dan berani belajar menjadi dewasa.

Barang-barang yang akan berguna selama aku tinggal di negeri empat musim yang akan mengadopsiku selama empat tahun ke depan, telah mengombang-ambing di atas laut. Aku akan memulai kehidupanku yang baru di awal musim gugur tahun ini, jauh dari tempat aku berpijak saat ini. Jauh dari halaman rumput tempatku bermain. Jauh dari dapur Mama yang selalu wangi dengan  kue-kue mentega. Jauh dari ruang keluarga yang selalu riuh dengan canda Papa dan Mas Adit yang gemar menggodaku. Jauh dari kamar tidurku yang menyimpan butir-butir rahasia hidupku selama delapan belas tahun ini.

Kamarku terasa lengang. Hampir kosong. Hanya tempat tidur dan lemari pakaian yang menghuni. Walau, masih saja beberapa tumpuk kertas serta barang-barang lain terlihat di beberapa sudut kamar. Dan, hari ini, aku memegang salah satu kertas dari tumpukan itu. Mataku menatap lurus ke sebuah gambar yang tercetak di atasnya, delapan tahun lalu.

***

           “Kakak sedang apa?”
           “Menggambarmu.” Ia yang dua tahun lebih tua dariku memberiku isyarat agar diam dan terus menatap lurus ke depan. Ia duduk lima langkah di belakangku. Matahari sore masih mampu menghangatkan tubuh meskipun angin sesekali bertiup. Ia kemudian duduk di samping kiriku, menyodorkan kertas dengan gambar diriku. Tampak punggungku dengan rambut hitam lurus sebahu. Wajahku tak terlihat. Yang terlihat adalah latar depan wajahku. Langit yang masih biru, hanya saja hangat. Aku tersenyum. Kusenderkan kepalaku di bahunya. Berdua kami duduk dengan diam, menyaksikan matahari yang mulai masuk dalam kantung bumi.

***

           Aku tersenyum mengingat sore itu. Dan, memutuskan untuk membawa serta kertas itu dalam perjalananku ke negeri Britania Raya. Untuk mengenangnya. Ia—dua tahun setelah menggambarku—pergi dari kota ini. Tanpa perpisahan, tanpa tanda mata, tanpa kata. Bagai tak pernah terlahir di bumi, ia pergi.

***

Yola M. Caecenary
Kamisan #9 Session 3 : Menggambarku - Deadline : 21 Mei 2015
Foto tema tulisan
Sumber : sketsa by Cikie

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak