Hari kepergianku dari rumah semakin dekat. Waktu
seakan begitu terburu mengajak hari-hari berlari. Meninggalkan masa lalu dan
menggandeng masa depan. Aku pun siap menyejajarkan diriku dengan sang waktu.
Melepas masa kecilku dan berani belajar menjadi dewasa.
Barang-barang yang akan berguna selama aku tinggal
di negeri empat musim yang akan mengadopsiku selama empat tahun ke depan, telah
mengombang-ambing di atas laut. Aku akan memulai kehidupanku yang baru di awal
musim gugur tahun ini, jauh dari tempat aku berpijak saat ini. Jauh dari
halaman rumput tempatku bermain. Jauh dari dapur Mama yang selalu wangi
dengan kue-kue mentega. Jauh dari ruang
keluarga yang selalu riuh dengan canda Papa dan Mas Adit yang gemar menggodaku.
Jauh dari kamar tidurku yang menyimpan butir-butir rahasia hidupku selama
delapan belas tahun ini.
Kamarku terasa lengang. Hampir kosong. Hanya
tempat tidur dan lemari pakaian yang menghuni. Walau, masih saja beberapa
tumpuk kertas serta barang-barang lain terlihat di beberapa sudut kamar. Dan,
hari ini, aku memegang salah satu kertas dari tumpukan itu. Mataku menatap
lurus ke sebuah gambar yang tercetak di atasnya, delapan tahun lalu.
***
“Kakak sedang apa?”
“Menggambarmu.” Ia yang
dua tahun lebih tua dariku memberiku isyarat agar diam dan terus menatap lurus
ke depan. Ia duduk lima langkah di belakangku. Matahari sore masih mampu
menghangatkan tubuh meskipun angin sesekali bertiup. Ia kemudian duduk di
samping kiriku, menyodorkan
kertas dengan gambar diriku. Tampak punggungku dengan rambut hitam lurus
sebahu. Wajahku tak terlihat. Yang terlihat adalah latar depan wajahku. Langit
yang masih biru, hanya saja hangat. Aku tersenyum. Kusenderkan kepalaku di
bahunya. Berdua kami duduk dengan diam, menyaksikan matahari yang mulai masuk
dalam kantung bumi.
***
Aku tersenyum mengingat
sore itu. Dan, memutuskan untuk membawa serta kertas itu dalam perjalananku ke
negeri Britania Raya. Untuk mengenangnya. Ia—dua tahun setelah
menggambarku—pergi dari kota ini. Tanpa perpisahan, tanpa tanda mata, tanpa
kata. Bagai tak pernah terlahir di bumi, ia pergi.
***
Kamisan #9 Session 3 : Menggambarku - Deadline : 21 Mei 2015
Foto tema tulisan
0 comments