Kemurungan bisa menjerat siapa saja. Tak terkecuali seorang gadis lugu yang usianya belum genap 10 tahun. Gadis kecil yang terlalu polos untuk sebuah dunia yang penuh omong kosong. Widi, namanya. Gadis itu selalu tampak terlihat murung. Wajahnya sebenarnya cukup cantik dan manis, namun kemurungan telah menyamarkannya. Tentu kemurungan itu bukan tanpa sebab. Widi murung karena memang ia tak pernah dilatih ceria oleh kasih sayang kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya sibuk bekerja. Sibuk berburu omong kosong. Meskipun wajahnya selalu tampak murung, hal itu tak pernah menerbitkan perasaan iba pada orang-orang yang melihatnya. Sebab, orang-orang tahu, bahwa Widi adalah anak orang kaya.
Ayahnya adalah seorang direktur di sebuah perusahaan manufaktur. Setiap pulang seusai bekerja, ayahnya hanya mandi kemudian menonton tv yang menyiarkan berita politik. Mengambil sebatang rokok, dan menghisap beberapa helaan. Mematikan rokok, lalu tidur. Tak pernah sekalipun menanyakan perihal kabarnya anaknya, Widi. Ibunya tak jauh berbeda. Ibunya adalah sekretaris di sebuah perusahaan jasa iklan. Setelah pulang bekerja, ibunya mandi, mematut-matut diri di depan cermin, memakai masker wajah, dan tidur. Tak ada pertanyaan tentang kabar anaknya, Widi. Satu-satunya anak perempuannya. Sehari-hari Widi hanya diurus oleh sang pembantu. Dan pada waktu menjelang tidur, boneka teddy bear miliknya adalah satu-satunya kawan karibnya. Boneka teddy bear itu memiliki bulu-bulu lembut bewarna coklat dan biji mata berwarna kuning menyala. Terkadang, boneka itu bisa bicara.
Pada sebuah malam yang sunyi, boneka teddy bear milik Widi menawarkan obrolan yang tak biasa.

“Kupikir, hidupmu terlalu menyedihkan.”
“Hmm. Aku pun berpikir seperti itu.”
“Kalau begitu, marilah ikut denganku, masuk ke dalam duniaku. Duniaku terletak di bawah ranjang ini.”
“Apakah aku bisa bahagia?”
“Tentu saja.”
Widi mengangguk, kemudian mengikuti bonekanya memasuki kolong di bawah ranjangnya. Widi memasuki dunia yang asing, dunia yang gelap, sunyi, yang barangkali menawarkan kebahagiaan. Lagi pula, di dunia ini tak ada yang bakal memperhatikanku, pikir Widi. Widi pergi, bersama sang teddy bear.

***

“Non Widi, bangun. Sudah siang, nanti telat berangkat ke sekolah.” Seloroh sang pembantu dari depan pintu Widi.
“Widi belum bangun, Bi? Tolong bangunkan ya. Saya pergi ke kantor dulu.” Sang ayah berangkat.
“Saya juga ya bi.” Sang ibu menambahi.
“Baik, nyonya-tuan.”

Tanpa di sadari oleh kedua orang tuanya, Widi tak ada di dalam kamarnya. Widi pergi bersama Teddy Bearnya, untuk mencari kebahagiaannya.

 Photo published for Kamisan #9 Session 3 : Menggambarku