***
Aku telah akrab dengan aroma itu sejak kecil. Aroma alkohol menyengat
yang selalu hadir ketika bapak menjejakkan kaki di rumah dengan berjalan
limbung. Biasanya ia begitu saja berbaring di tikar anyaman plastik
warna-warni, satu-satunya tanda bahwa ruang kecil setelah pintu masuk
adalah ruang tamu. Itu hal terbaik yang bisa kudapatkan. Namun bapak
yang 'sekadar berbaring' hanya terjadi beberapa kali. Ia lebih sering
mengamuk, membanting piring, panci, gelas belimbing berisi kopi, atau
bingkai foto kenangan ibu satu-satunya tentang kakek. Bagus, kami tak
perlu tukang loak, sindir ibu. Memangnya ada barang kita yang bisa
diloak? dalam hati, aku penasaran. Sehari-hari, aku menjaga rumah ketika
ibu bekerja menjadi pembantu rumah tangga di kota. Jangan tanyakan
tentang bapak, ia selalu berangkat dan pulang selayaknya pekerja
kantoran, meski tak pernah membawa uang sepeser pun untuk kami.
Menghitung jumlah ubin, bermain Cublak Cublak Suweng seorang diri, atau
membayangkan berbagai bentuk dari goresan di tembok, menjadi kegiatan
sehari-hariku. Saat ini aku heran bahwa aku tak jadi gila dengan masa
kecil yang sedemikian. Kami benar-benar tak punya apa-apa. Apalagi
mainan dan buku anak. Jangan harapkan untuk ada. Dan memang aku tak
boleh mengharapkannya.
***
Lalu, saat ini, ketika aku sudah dewasa, pria itu datang ingin menebus
semuanya. Katanya, masa lalu kami tak semestinya begitu. Sudah kukatakan
bahwa ia tak perlu berkata demikian. Teras dengan bunyi gemericik air,
kicau burung, juga kursi goyang yang nyaman untuk punggung dan lehernya
sering pegal karena usia. Lebih sering, ia memegang dadanya yang sesak.
Meski tak pernah mengeluhkannya, aku tahu dari kebiasaannya memijat
sendiri dengan tangan yang entah sejak kapan telah menggelambir dan
mengendur kulitnya. Rasanya mungkin sejak aku terakhir kali mencium
tangannya lima, sepuluh tahun lalu? Entah. Apa untungnya menyembunyikan
keluhan? Aku bahkan mampu membawanya ke dokter spesialis paling mahal.
Jika bukan karena keinginannya yang menolak dengan keras, tentu aku
sudah akan membawanya paksa untuk memeriksakan tubuhnya. Bolehkah
kukatakan bahwa sejujurnya aku berterimakasih padanya?
***
Aku seorang berhati mulia. Semua kulakukan untuknya sebagai balas jasa.
Yang mengubahku sedemikian rupa. Sejak usia belasan, ia benar-benar
berubah, Ted. Ia membawakanmu, mainan pertama semenjak kelahiranku. Aku
melihat bayangan samar diriku sendiri di cembung mata hitammu. Aku jatuh
cinta dengan senyummu yang lebar dan tak pernah berkurang seinci pun.
Bulu lembut kecokelatan yang selalu berhasil membuatku memeluk dan
menggendongmu sesering mungkin. Teman pertama yang menyenangkan. Masing
ingat ketika kemudian bapak membawa kita pindah ke rumah besar? Katanya
di sana akan ada banyak Teddy selucu dirimu. Siapa yang tak ingin,
bukan? Semenjak itu aku tinggal bersama bapak lain. Ia memberiku banyak
kawan-kawanmu sebanyak yang kumau. Sebagai gantinya, aku menghadirkan
banyak manusia-manusia kecil dari rahimku. Bapak tidak sejahat yang
kubayangkan. Ia yang menemukanku dengan bapak lain, dan Teddy-Teddy lain
sepertimu. Karenanya, aku ingin membalas segala kebaikannya.
***
Mengapa pria tua penuh penyesalan itu kerap mengataiku bodoh, Teddy?
***

Kisah ini ditulis untuk proyek menulis Kamisan
0 comments