Penulis : Farida Susanty
Penerbit : Grasindo, 2010
Jumlah halaman : 199 halaman
Penulis bisa merupa siapa saja; seorang remaja yang gila Friendster, seorang musisi stuck
, seorang perempuan yang bosan dengan hidupnya, seorang yang membenci
kehadiran orang yang tak dikenal, seorang yang asing terhadap dirinya
sendiri, seorang yang lebih memilih untuk selalu-menjadi-orang asing …
apa pun. Dan, Farida, lewat kumcer yang berisi 16 cerita ini, bagi saya,
telah sukses memerankan semua lakon tersebut.
Seperti pada cerita pertama, “Bagaimana Menarik Orang Asing”. Berkisah tentang seorang remaja cewek yang melakukan apa pun demi mendapatkan banyak teman di Friendster. Mulai dari menuliskan hal yang “aneh-aneh”, tidak lupa dengan menggunakan rumus gabungan antara huruf dan angka yang hanya bisa dipahami manusia setingkat dewa pada kolom profil, hobi, dan lain-lain; mengubah poto profilnya dengan gaya yang sedang tren kala itu—poto dengan mengambil angle dari atas, tangan disilet, dan lain-lain, dan lain-lain. Saya benar-benar terhanyut dengan cara Farida menulis, dan untuk beberapa waktu, saya sampai lupa bahwa yang menulis cerita ini adalah seorang yang berusia lebih daripada saya (serius! #eh). Dialognya, narasinya, semuanya benar-benar remaja. Lengkap dengan ke-alay-annya.
Masih tentang seorang remaja. Bedanya, remaja yang ini tidak alay. Dia hanya selalu memilih menjadi orang asing bagi sekitarnya. Pada cerpen berikutnya, “Joker”, diceritakan seorang murid perempuan yang sering berpindah-pindah sekolah. Hal inilah yang kemudian membuatnya selalu memilih menjadi orang asing bagi teman-teman sekelasnya. Sampai kejadian buruk menimpanya. Itu seperti gong yang menandakan dia harus segera berhenti menjadi orang asing.
Dan bicara tentang orang asing ... berapa dari kalian yang merasa nyaman saat menceritakan sebuah rahasia kepada orang asing, alih-alih kepada keluarga atau orang terdekat? Atau bisa tertawa seharian bersama orang asing, yang bahkan tidak saling memberi kontak saat berpisah? Itulah yang kemudian dituliskan Farida lewat dua cerpennya.
Yang pertama, dalam cerpen berjudul “Rahasia”. Tentang sebuah rahasia besar yang ditutup-tutupi dari keluarga, namun, ironisnya, malah dibeberkan begitu saja pada seseorang yang baru dikenalnya. Dan, yang kedua, dalam cerpen berjudul “Pada Suatu Hari, di Sebuah Jalan”. Ya, dari judul itu, saya rasa kalian sudah bisa menebak. Bercerita tentang seorang lelaki yang sedang bosan, kemudian melihat seorang perempuan yang sedang duduk di trotoar, di bawah guyuran hujan. Karena tidak tega, si lelaki pun mengajak si perempuan untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan tanpa seorang pun dari mereka yang menduga sebelumnya, hari itu akan menjadi hari yang tak akan pernah mereka lupakan.
Mungkin tindakan kedua tokoh itu terdengar aneh, tapi saya bisa memaklumi. Karena tentu akan sangat menyenangkan, seandainya kita bisa berbicara bebas tanpa perlu merasa khawatir tentang pendapat orang yang kita ajak bicara. Dan hal itu hanya bisa dilakukan dengan orang asing, yang belum tahu kapan dan di mana akan bertemu lagi. Atau bahkan tidak bertemu lagi.
Kalian tahu, memikirkan tentang pendapat orang lain terhadap tindakan kita kadang bisa sangat mengganggu.
Penilaian baik atau buruk, pemaksaan kehendak kepada orang lain, tentunya itu tidak baik. Namun, bisakah kita menerima yang tidak baik itu bila berasal dari kedua orang tua kita sendiri? Itulah yang harus dialami oleh Rina dalam cerpen berjudul “Siapa”. Takdir hidupnya sudah digariskan dengan teramat jelas oleh kedua orang tuanya; harus menjadi dokter! Dan ketika ia gagal masuk jurusan tersebut, ia mulai melakukan perlawanan terhadap dirinya sendiri hingga akhirnya memunculkan satu pertanyaan besar; sebenarnya, MAU-kah aku menjadi dokter?
Perlawanan terhadap diri sendiri juga dialami oleh seorang musisi pada cerpen “Musik”. Kesuksesannya pada album pertama, nyatanya malah membuatnya tertekan sampai harus menjadi pecandu. Sementara di belahan Bumi yang lain, orang-orang yang terkena masalah, tersenyum saat lagu milik si musisi diperdengarkan lewat radio.
Masalah. Ibaratkanlah kata itu adalah kutub negatif; dan tanpa masalah adalah kutub positif. Agar hidup berjalan stabil, kita harus bisa menyeimbangkan keduanya. Karena hidup tanpa masalah pun terkadang menjadi masalah. Hidup yang biasa saja, yang datar … boleh jadi itu akan-sangat-membosankan. Dan kebosanan itulah yang akhirnya mendorong tokoh perempuan bernama Alice untuk mengikuti sebuah program yang diharapakan bisa mengubah sudut pandangnya dalam melihat dunia, dalam cerpen berjudul “Alice in Wonderless Land”.
Tujuh cerita dari total enam belas. Saya rasa itu cukup. Dan bila kalian bertanya cerita mana yang paling saya suka, saya akan menjawab dengan tegas: semuanya! (Baik. Itu curang. Tapi saya bisa apa? Hohohoho ….)
Ada satu cerpen yang menyebalkan, menurut saya, karena cerpen ini menggunakan twist-ending—hal yang tidak saya lihat pada cerpen-cerpen lainnya—yaitu cerpen yang berjudul “Rahasia”. Juga ada dua cerpen yang saya rasa bisa dikatakan surealis, “Yang Diuntit” dan "Alice in Wonderless Land".
Sekarang bicara tentang kekurangan. Satu-satunya hal yang mengganjal buat saya adalah soal waktu kejadian pada cerpen “Alice in Wonderless Land”. Cerita dimulai pada tanggal 5 November 20xx, kemudian cerita bergulir mundur ke beberapa hari sebelumnya, yang entah bagaimana malah tertulis 12 November 200xx. Itu satu minggu dari waktu yang pertama. Itu saja. Dan, capslock … itu masih ada, tapi tidak seramai novelnya yang pertama.
Ah, ya. Saya melupakan sesuatu. Ada lembar khusus yang berisikan sinopsis singkat keenam belas cerpen dalam buku. Diberi nama “Lembar Panduan”. Jadi, itu bisa memudahkan kita untuk memilih cerita mana yang akan dibaca terlebih dahulu. Dan itu menjadi nilai lebih bagi saya.
Sebagai penutup, saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini.
Sekian
Lihn
*Tambahan: Saya dengar Gelombang-nya Dee sebentar lagi akan terbit. Adakah di antara kalian yang bermurah hati membelikan untuk saya :P
*Tambahan lagi. Berikut adalah penampakan "Lembar Panduan".
Seperti pada cerita pertama, “Bagaimana Menarik Orang Asing”. Berkisah tentang seorang remaja cewek yang melakukan apa pun demi mendapatkan banyak teman di Friendster. Mulai dari menuliskan hal yang “aneh-aneh”, tidak lupa dengan menggunakan rumus gabungan antara huruf dan angka yang hanya bisa dipahami manusia setingkat dewa pada kolom profil, hobi, dan lain-lain; mengubah poto profilnya dengan gaya yang sedang tren kala itu—poto dengan mengambil angle dari atas, tangan disilet, dan lain-lain, dan lain-lain. Saya benar-benar terhanyut dengan cara Farida menulis, dan untuk beberapa waktu, saya sampai lupa bahwa yang menulis cerita ini adalah seorang yang berusia lebih daripada saya (serius! #eh). Dialognya, narasinya, semuanya benar-benar remaja. Lengkap dengan ke-alay-annya.
Masih tentang seorang remaja. Bedanya, remaja yang ini tidak alay. Dia hanya selalu memilih menjadi orang asing bagi sekitarnya. Pada cerpen berikutnya, “Joker”, diceritakan seorang murid perempuan yang sering berpindah-pindah sekolah. Hal inilah yang kemudian membuatnya selalu memilih menjadi orang asing bagi teman-teman sekelasnya. Sampai kejadian buruk menimpanya. Itu seperti gong yang menandakan dia harus segera berhenti menjadi orang asing.
Dan bicara tentang orang asing ... berapa dari kalian yang merasa nyaman saat menceritakan sebuah rahasia kepada orang asing, alih-alih kepada keluarga atau orang terdekat? Atau bisa tertawa seharian bersama orang asing, yang bahkan tidak saling memberi kontak saat berpisah? Itulah yang kemudian dituliskan Farida lewat dua cerpennya.
Yang pertama, dalam cerpen berjudul “Rahasia”. Tentang sebuah rahasia besar yang ditutup-tutupi dari keluarga, namun, ironisnya, malah dibeberkan begitu saja pada seseorang yang baru dikenalnya. Dan, yang kedua, dalam cerpen berjudul “Pada Suatu Hari, di Sebuah Jalan”. Ya, dari judul itu, saya rasa kalian sudah bisa menebak. Bercerita tentang seorang lelaki yang sedang bosan, kemudian melihat seorang perempuan yang sedang duduk di trotoar, di bawah guyuran hujan. Karena tidak tega, si lelaki pun mengajak si perempuan untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan tanpa seorang pun dari mereka yang menduga sebelumnya, hari itu akan menjadi hari yang tak akan pernah mereka lupakan.
Mungkin tindakan kedua tokoh itu terdengar aneh, tapi saya bisa memaklumi. Karena tentu akan sangat menyenangkan, seandainya kita bisa berbicara bebas tanpa perlu merasa khawatir tentang pendapat orang yang kita ajak bicara. Dan hal itu hanya bisa dilakukan dengan orang asing, yang belum tahu kapan dan di mana akan bertemu lagi. Atau bahkan tidak bertemu lagi.
Kalian tahu, memikirkan tentang pendapat orang lain terhadap tindakan kita kadang bisa sangat mengganggu.
Penilaian baik atau buruk, pemaksaan kehendak kepada orang lain, tentunya itu tidak baik. Namun, bisakah kita menerima yang tidak baik itu bila berasal dari kedua orang tua kita sendiri? Itulah yang harus dialami oleh Rina dalam cerpen berjudul “Siapa”. Takdir hidupnya sudah digariskan dengan teramat jelas oleh kedua orang tuanya; harus menjadi dokter! Dan ketika ia gagal masuk jurusan tersebut, ia mulai melakukan perlawanan terhadap dirinya sendiri hingga akhirnya memunculkan satu pertanyaan besar; sebenarnya, MAU-kah aku menjadi dokter?
Perlawanan terhadap diri sendiri juga dialami oleh seorang musisi pada cerpen “Musik”. Kesuksesannya pada album pertama, nyatanya malah membuatnya tertekan sampai harus menjadi pecandu. Sementara di belahan Bumi yang lain, orang-orang yang terkena masalah, tersenyum saat lagu milik si musisi diperdengarkan lewat radio.
Masalah. Ibaratkanlah kata itu adalah kutub negatif; dan tanpa masalah adalah kutub positif. Agar hidup berjalan stabil, kita harus bisa menyeimbangkan keduanya. Karena hidup tanpa masalah pun terkadang menjadi masalah. Hidup yang biasa saja, yang datar … boleh jadi itu akan-sangat-membosankan. Dan kebosanan itulah yang akhirnya mendorong tokoh perempuan bernama Alice untuk mengikuti sebuah program yang diharapakan bisa mengubah sudut pandangnya dalam melihat dunia, dalam cerpen berjudul “Alice in Wonderless Land”.
Tujuh cerita dari total enam belas. Saya rasa itu cukup. Dan bila kalian bertanya cerita mana yang paling saya suka, saya akan menjawab dengan tegas: semuanya! (Baik. Itu curang. Tapi saya bisa apa? Hohohoho ….)
Ada satu cerpen yang menyebalkan, menurut saya, karena cerpen ini menggunakan twist-ending—hal yang tidak saya lihat pada cerpen-cerpen lainnya—yaitu cerpen yang berjudul “Rahasia”. Juga ada dua cerpen yang saya rasa bisa dikatakan surealis, “Yang Diuntit” dan "Alice in Wonderless Land".
Sekarang bicara tentang kekurangan. Satu-satunya hal yang mengganjal buat saya adalah soal waktu kejadian pada cerpen “Alice in Wonderless Land”. Cerita dimulai pada tanggal 5 November 20xx, kemudian cerita bergulir mundur ke beberapa hari sebelumnya, yang entah bagaimana malah tertulis 12 November 200xx. Itu satu minggu dari waktu yang pertama. Itu saja. Dan, capslock … itu masih ada, tapi tidak seramai novelnya yang pertama.
Ah, ya. Saya melupakan sesuatu. Ada lembar khusus yang berisikan sinopsis singkat keenam belas cerpen dalam buku. Diberi nama “Lembar Panduan”. Jadi, itu bisa memudahkan kita untuk memilih cerita mana yang akan dibaca terlebih dahulu. Dan itu menjadi nilai lebih bagi saya.
Sebagai penutup, saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini.
Sekian
Lihn
*Tambahan: Saya dengar Gelombang-nya Dee sebentar lagi akan terbit. Adakah di antara kalian yang bermurah hati membelikan untuk saya :P
*Tambahan lagi. Berikut adalah penampakan "Lembar Panduan".


0 comments