#12 Hiruk Minggu 12

Kamisan S2 #12 - Hiruk: Jamuan Makan Malam

17.35Unknown

Nyonya Elbert, perempuan gemuk dengan rambut pirang digulung yang duduk berhadapan dengan Kakakku, tak henti-hentinya bicara. Mulutnya bergerak-gerak dengan sangat cepat, bergantian antara mengunyah dan berkata-kata. Aku sampai heran dia tidak tersedak.

“Katerine, kau sudah dengar berita terbaru, bahwa suamiku baru saja mendapat promosi? Lagi? Sekarang dia sudah jadi direktur.”

“Oh, benarkah? Selamat,” kata Kakakku, singkat, dan hanya sekejap saja saat memandang wajah Nyonya Elbert untuk sekadar menunjukkan senyumnya yang khas, lalu kembali mengiris steak daging kambing di hadapannya, memakannya.

Nyonya Elbert terlihat begitu puas dengan reaksi yang ditunjukkan Katerine. “Terima kasih.”

“Oh, jadi Paul mendapat promosi lagi?” Nyonya Susan, istri si Tuan Rumah, tiba-tiba berseru dan bergabung dalam obrolan.

Nyonya Elbert menoleh dan tersenyum. “Begitulah. Saya pun sebenarnya tidak menyangka akan secepat ini. Saya tahu Paul bekerja keras, dan selalu menunjukkan hasil positif pada tiap pekerjaannya, dan memang sudah sepantasnya dia mendapat promosi, tapi tetap saja … saya tidak menyangka akan secepat ini.”

Nyonya Susan menggangguk-angguk. Sementara Kakakku tetap tenang saat menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya.

Tiba-tiba kulihat tangan kiri Nyonya Elbert bergerak ke dadanya, memain-mainkan kalung yang dihiasi bandul sebuah batu berwarna biru yang cukup besar. Batu itu tidak tampak asing. “Wah, kalung yang cantik. Kenapa aku baru melihatnya?” Nyonya Susan berseru dan Nyonya Elbert tersenyum dengan sangat lebar. “Apa itu sapphire?”

“Terima kasih. Ya, ini sapphire,” katanya, sambil mengangkat bandul kalungnya itu agar Nyonya Susan—dan Kakakku, tentunya—bisa melihatnya dengan lebih jelas. “Paul yang membelikannya tiga hari yang lalu, sebelum berangkat ke Jerman untuk urusan bisnis. Dia menjadi sangat sibuk sekarang.”

“Tentulah seperti itu,” Nyonya Susan membenarkan, “semakin tinggi jabatan, semakin banyak tanggung jawab yang harus dipikul,” Ia menghela napas dengan berat, “Erik pun demikian.”

Erik, si Tuan Rumah yang mengundang kami. Aku hanya baru bertemu dengannya sekali. Saat pemakaman ibu. Pria tua sekitar 60 tahunan yang kurus, dengan kepala yang sudah dipenuhi uban, namun masih menampakkan gairah anak muda dalam sorot matanya.

“Thomas?” Si Tua itu berkata dengan nada ramah yang mau tak mau membuatku harus mendongakkan kepala, memandangnya. “Pasti berat untukmu. Aku turut berduka cita,” katanya, melanjutkan, kemudian menyentuh pundakku. “Jika kau perlu apa-apa, kau bisa menghubungiku. Aku berutang banyak pada ibumu. Beliaulah yang meminjamkan modal serta membantu membesarkan perusahanku, sehingga aku bisa seperti sekarang.”

Aku tersenyum, dan kulihat dari matanya perasaan kehilangan yang teramat tulus. “Terima kasih.”

Ia tersenyum. “Ibumu benar-benar orang yang baik.”

Aku hanya mengangguk-anggukan kepala.

“Aku permisi.”

Dua hari kemudian, kami menerima undangan makan malam dari Erik. Sayangnya, beberapa jam sebelum makan malam berlangsung, sebuah kejadian buruk menimpa perusahaannya. Terjadi kecelakaan kerja. Dan sebagaimana pemimpin perusahaan yang baik, ia tetap berada di lingkungan perusahaan untuk mengurusnya.

Dan mengenai Nyonya Elbert … saat kami datang, dia dan Nyonya Susan sedang berbincang sambil menikmati teh sorenya. Jadi, begitulah. Demi kesopanan, Nyonya Susan pun memintanya untuk tetap tinggal dan mengajaknya bergabung bersama kami.

“Ayolah, El. Erik mendadak ada urusan yang tak bisa ia tinggalkan. Tinggalah dan bergabunglah bersama kami.”

Beberapa saat berselang setelah itu, duduklah kami berempat di depan hidangan yang menerbitkan liur.
 
“Jadi, Thom,” aku menoleh, memandang dan berusaha terlihat sopan dengan menunjukkan senyuman—seperti yang sering dilakukan Kakakku—kepada Nyonya Susan, “apa kau sudah putuskan akan belajar di mana?”

Itu jenis pertanyaan yang kuhindari. Tapi, agar tidak membuat malu Kakakku, aku pun tersenyum. Mengulur-ulur waktu.

“Aku rasa itu terlalu cepat,” Kakakku mengelap mulutnya dengan serbet makan, lalu menoleh dan memandangku, kemudian berganti kepada Nyonya Susan. “Semua hal ini masih terlalu baru untuk Thomas. Kami pun belum membicarakan masalah ini. Tapi aku berencana untuk memanggilkannya guru privat suatu hari nanti, tentunya bila adikku tidak berkeberatan.”

“Ah, ya. Guru privat. Aku pun berpikir itu yang paling baik.”

“Cobalah hubungi Nyonya Clever,” tiba-tiba Nyonya Elbert berbicara, “ Dia sesuai namanya—clever.” Kemudian Nyonya Elbert tertawa. “Kalian tahu,” katanya, melanjutkan, “putriku, Beatrice, pernah diajar privat olehnya selama beberapa bulan, dan lihat dia sekarang … dia menjadi lulusan Oxford terbaik, termuda, tercepat. Enam bulan lebih cepat daripada yang seharusnya.” Dia sekali lagi tertawa.

Aku menoleh kepada Kakakku dan kulihat dia tampak begitu tenang. Ia bernapas dengan sangat teratur. Dan wajahnya tetap mempertahankan senyuman khasnya itu. Senyum itu mengingatkanku pada ibu. Mereka memiliki senyum yang sama. Sebentuk senyum dengan beragam emosi. Kau bahkan tak bisa menebak senyum itu dimaksudkan untuk apa. Dan karena itulah, senyum itu sangat menarik.

“Ya, ya. Beatrice yang pintar, yang manis. Di mana dia sekarang?”

Tawa Nyonya Elbert tiba-tiba berhenti, namun itu tidak lama. “Dia—“ katanya, ragu-ragu, “dia sedang ikut Paul ke Jerman, ya, ke Jerman, membantu Paul. Kalian tahu, bahasa Jerman Paul sangat buruk. Itulah gunanya Beatrice di sana.” Dia kembali tertawa. Meski tidak selepas yang sebelumnya. Kemudian, ia kembali memain-mainkan kalungnya. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku penasaran dengan kalung itu.

Di tempatku yang dulu, ada toko yang menjual barang-barang imitasi dengan kualitas terbaik. Sangat mirip dengan aslinya. Dan bila dengan pengamatan sekilas, akan sangat sulit membedakannya. Aku tidak tahu apakah ada toko seperti itu di kota ini. Dan aku pun tidak tahu apakah kalung itu asli atau tidak. Dan menyangkut Beatrice, sepertinya aku kenal dia. Kemarin malam, saat aku dan Kakakku berjalan-jalan di pusat kota, seorang perempuan yang beberapa saat kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Beatrice, datang menghampiri kami. Apakah ia Beatrice yang sama? Atau ada Beatrice yang lain di kota ini? Tapi, sejujurnya, aku tidak peduli. Aku hanya penasaran. Semua perkataannya itu bohong ataupun benar, aku sama sekali tidak mau ambil pusing. Nyonya Elbert boleh berbohong semaunya, atau berkata jujur sekehendak hatinya. Selama itu tidak merugikanku, atau merugikan Kakakku, aku akan membiarkannya saja. Dan kulihat Kakakku tetap tenang-tenang saja. Maka aku hanya tersenyum sebagaimana ia.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak