Kita berdiskusi dalam ruang yang berbeda. Kita berdiskusi menebas
jarak yang membentang. Kita memang belum bisa bersisian perihal raga.
Namun yakinlah, kita tengah memandang senja yang sama dan kau tahu bahwa
ada hati yang diam-diam saling mendekap, berdiskusi perihal masa depan.
Di sini aku menikmati diskusi senja tanpamu perihal raga, pun
sebaliknya. Menanti saat di mana kita akan bersisian, menikmati, dan
berdiskusi perihal rindu-rindu yang beranak pinak. Akan ada saat-saat di
mana kita melalui diskusi senja pada titik koordinat yang tepat sama.
***
Aku masih di sini. Terduduk di sebuah bangku kayu yang terletak di sudut
lapangan sepak bola. Tempat ini belum berubah, Sayang. Letaknya masih
di tengah kota. Tiap sudutnya tetap rindang oleh pepohonan. Di sisi
barat tetap berjejer para pedagang jajanan. Dan lapangannya, masih tetap
riuh oleh teriakan para bocah. Berpasang-pasang kaki berlari-lari
kecil. Sebuah bola menggelinding melarikan diri dari kejaran. Semuanya
masih sama, Sayang. Hanya satu yang berbeda. Kamu.
Sudah sampai di mana, kamu? Tiba di kota keberapakah, kamu? Lelahkah
sudah kakimu melangkah? Keriuhan apa yang kau dapat? Hiruk pikuk kota
seperti apa yang kau cari?
Sayang, pulanglah. Aku masih di sini. Terduduk di bawah senja. Meratap
pada jingga yang perlahan berubah kelam. Memahat rindu-rindu yang
menjalar tak karuan. Dan menyulam harap-harap yang tak tahu malu.
Tempat ini masih sama, Sayang. Senja ini pun masih sama. Hiruk pikuk
nyinyiran robot berpolusi pun masih memekakkan telinga. Riuh riang para
bocah yang menenangkan jiwa masih sama. Hanya satu yang berbeda. Kamu.
Kamu yang tak lagi mengomentari nyinyiran robot berpolusi. Kamu yang tak
lagi memotret tawa riuh bocah-bocah di tengah lapangan. Kamu yang tak
lagi khidmat memandang senja yang perlahan berubah pekat. Kamu yang
tidak lagi duduk di sini. Di sampingku. Kamu telah pergi. Berkelana
entah ke mana.
Apa yang sebenarnya tengah kau cari? Senja yang lebih indah di ujung
dunia sana? Nyinyiran robot tanpa polusi yang lebih merdu? Hiruk yang
lebih menenangkan jiwa? Dekapan atas setiap langkah yang menjejak? Atau
justru, kesunyian yang memabukkan?
Pulanglah. Pulanglah, Sayang. Kita kembalikan sesuatu yang seperti dulu
lagi. Kita akan berdiskusi senja dengan khidmat ditengah hiruk suasana
kota. Kita akan menatap kembali senja pada titik koordinat yang tepat
sama. Dan semuanya sempurna akan kembali sama seperti dulu. Dulu, ketika
kau belum pergi dan tak kembali hingga detik ini.
Pulanglah. Pulanglah, sayang. Aku masih di sini. Dan tetap akan ada di
sini meski hiruk tempat ini perlahan memudar. Aku masih akan tetap ada
di sini. Menunggumu mengembalikan hiruk yang telah hilang itu. Sampai
kamu kembali. Kembali ke tempat yang kau yakini sebagai rumahmu. Aku.
@fetihabsari

0 comments