#11 Kematian Adji Nugroho

Kamisan S2 #11 - Kematian: Reinkarnasi

17.29Unknown

“Kamu percaya tentang kehidupan setelah mati?”

Aku menoleh sesaat ke arah Riana yang sedang menyeduh secangkir kopi. “Entahlah,” jawabku setengah malas sebelum menekuni layar laptopku lagi. Kesabaranku nyaris habis siang ini. Ini hari Minggu, dan tiba-tiba editor majalah fashion tempatku berkerja mengirimkan sebuah email. Memintaku menyelesaikan draft artikel yang menjadi tanggung jawabku.

Seharusnya artikel ini masuk ke rapat redaksi minggu depan untuk artikel majalah dua minggu lagi. Tapi ketika keluar kata-kata ‘besok pagi mau dibawa ke rapat redaksi’ dari mulut editorku, aku tahu aku tidak bisa menolak. Dengan amat sangat terpaksa aku mengenyahkan pikiran untuk bersenang-senang sepanjang hari Minggu ini bersama Riana. Sembari berjanji akan resign secepatnya dari kantor ini.

“Andai kehidupan setelah mati itu ada, kamu lebih percaya mana? Surga atau reinkarnasi?”

Aku kembali memandang Riana yang sedang menuangkan kopi dari teko mesin pembuat kopinya. 5 tahun bersahabat membuat kami hapal kebiasaan masing-masing. Ketika aku sampai di apartemennya dan membuka laptop, dia tahu aku butuh beberapa gelas kopi. Tanpa gula tentu saja.

“Kalau memang ada, aku lebih memilih reinkarnasi,” kataku setelah berpikir beberapa saat.
“Kenapa?”

Dia kembali bertanya sebelum aku sempat melanjutkan pekerjaanku. Terkadang dia memang seperti ini, bertanya tentang sesuatu yang tidak biasa. Tapi sepengetahuanku dia berani bertanya hal seperti ini hanya kepadaku. Sebenarnya dia seorang introvert. Ketika kumpul bareng teman-teman kuliah dulu juga dia jarang berbicara. Makanya banyak teman-teman lelakiku yang menyerah ketika mencoba mendekati dia.

Aku bersender ke sofa. Kalau Riana sudah mulai seperti ini, aku tahu aku tidak akan bisa berkonsentrasi ke pekerjaanku. “Aku tidak tahu. Tapi katakanlah seperti ini.” Aku mengambil napas sejenak. “Ketika aku memikirkan sebuah kehidupan yang abadi di surga, aku punya pikiran kayak gini. Apa nanti ga membosankan? Jadi aku lebih memilih reinkarnasi,” kataku sambil menyeruput kopi yang baru saja disodorkan olehnya. Entah kenapa aku merasa kopi ini lebih pahit dari biasanya.

“Akupun begitu. Seandainya hidup setelah mati itu benar-benar ada, aku juga berharap itu adalah sebuah reinkarnasi.”
“Kenapa?” aku berbalik bertanya. Tiba-tiba napasku terasa sesak. Dan ‘kenapa’ adalah satu-satunya pertanyaan yang bisa aku pikirkan pada saat ini.
“Aku berharap kita bisa dilahirkan dengan kondisi yang bebeda, Nad. Dengan jenis kelamin yang berbeda.”

Napasku semakin sesak. Di sela-sela pandangan yang semakin mengabur dan usahaku untuk bernapas, aku melihat dia mulai menyeruput kopi sambil tersenyum sedih.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak