“Kamu percaya tentang kehidupan setelah mati?”
Aku menoleh sesaat ke arah Riana yang
sedang menyeduh secangkir kopi. “Entahlah,” jawabku setengah malas
sebelum menekuni layar laptopku lagi. Kesabaranku nyaris habis siang
ini. Ini hari Minggu, dan tiba-tiba editor majalah fashion tempatku
berkerja mengirimkan sebuah email. Memintaku menyelesaikan draft artikel
yang menjadi tanggung jawabku.
Seharusnya artikel ini masuk ke rapat
redaksi minggu depan untuk artikel majalah dua minggu lagi. Tapi ketika
keluar kata-kata ‘besok pagi mau dibawa ke rapat redaksi’ dari mulut
editorku, aku tahu aku tidak bisa menolak. Dengan amat sangat terpaksa
aku mengenyahkan pikiran untuk bersenang-senang sepanjang hari Minggu
ini bersama Riana. Sembari berjanji akan resign secepatnya dari kantor
ini.
“Andai kehidupan setelah mati itu ada, kamu lebih percaya mana? Surga atau reinkarnasi?”
Aku kembali memandang Riana yang sedang
menuangkan kopi dari teko mesin pembuat kopinya. 5 tahun bersahabat
membuat kami hapal kebiasaan masing-masing. Ketika aku sampai di
apartemennya dan membuka laptop, dia tahu aku butuh beberapa gelas kopi.
Tanpa gula tentu saja.
“Kalau memang ada, aku lebih memilih reinkarnasi,” kataku setelah berpikir beberapa saat.
“Kenapa?”
Dia kembali bertanya sebelum aku sempat
melanjutkan pekerjaanku. Terkadang dia memang seperti ini, bertanya
tentang sesuatu yang tidak biasa. Tapi sepengetahuanku dia berani
bertanya hal seperti ini hanya kepadaku. Sebenarnya dia seorang
introvert. Ketika kumpul bareng teman-teman kuliah dulu juga dia jarang
berbicara. Makanya banyak teman-teman lelakiku yang menyerah ketika
mencoba mendekati dia.
Aku bersender ke sofa. Kalau Riana sudah
mulai seperti ini, aku tahu aku tidak akan bisa berkonsentrasi ke
pekerjaanku. “Aku tidak tahu. Tapi katakanlah seperti ini.” Aku
mengambil napas sejenak. “Ketika aku memikirkan sebuah kehidupan yang
abadi di surga, aku punya pikiran kayak gini. Apa nanti ga membosankan?
Jadi aku lebih memilih reinkarnasi,” kataku sambil menyeruput kopi yang
baru saja disodorkan olehnya. Entah kenapa aku merasa kopi ini lebih
pahit dari biasanya.
“Akupun begitu. Seandainya hidup setelah mati itu benar-benar ada, aku juga berharap itu adalah sebuah reinkarnasi.”
“Kenapa?” aku berbalik bertanya.
Tiba-tiba napasku terasa sesak. Dan ‘kenapa’ adalah satu-satunya
pertanyaan yang bisa aku pikirkan pada saat ini.
“Aku berharap kita bisa dilahirkan dengan kondisi yang bebeda, Nad. Dengan jenis kelamin yang berbeda.”
Napasku semakin sesak. Di sela-sela
pandangan yang semakin mengabur dan usahaku untuk bernapas, aku melihat
dia mulai menyeruput kopi sambil tersenyum sedih.
0 comments