Tadi pagi, aku terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Pulasku
diganggu oleh mimpi. Hadirnya kamu dalam bunga tidurku itu, meninggalkan
resah di sadarku.
Aku menemuimu duduk di pembatas pinggir jalan dengan kepala tertunduk
dan bahu membungkuk. Entah kapan kita melakukannya, tapi di sana, aku
sangat yakin, saat itu kita memang sudah janjian. Aku tahu, saat itu
kamu menungguku. Karena ketika kamu menyadari aku di hadapanmu, akhirnya
kamu mendongakkan kepala.
Kamu tak bicara apapun. Hanya menatap lurus ke mataku dengan ekspresi
kesedihan yang selalu kamu simpan sendiri. Kamu ambil tangan kananku
dan menggenggam telapaknya erat dengan kedua telapakmu. Kamu dekatkan
pada wajah dan kurasakan kehangatan pipimu di punggung tanganku.
Aku ingin bertanya: apa kamu baik-baik saja? Tapi tak kulakukan
karena para Zombie itu sudah berjalan mendekat. Entah dari mana mereka
berasal, aku sendiri tak tahu.
Kamu melingkarkan kedua tangan ke pinggangku. Menahanku. Menempelkan
kepalamu pada perutku. Aku meronta. Berusaha melepaskan diri dari
pelukanmu. Ketika akhirnya terbebas, aku mulai berlari.
Aku berharap kamu berlari di sisiku. Namun ketika menyadari
kealfaanmu dari sampingku, spontan aku menoleh ke belakang, melihatmu
masih duduk di sana, memandangi aku. Aku berteriak, memintamu
menyusulku, kamu menggelengkan kepala, lalu menunduk lagi, punggung
kembali membungkuk. Zombie semakin mendekat. Aku terus meneriaki namamu.
Dalam kefrustasian, aku terus meneriaki namamu. Memohon agar kamu
mengikuti aku.
Lalu aku terbangun. Sadar dikuasai deru napas yang terbawa sampai ke
alam nyata. Lalu aku ingat, dulu, ketika kamu dan aku masih bagian dari
kita, aku selalu memiliki ‘itu’. Sesuatu yang tak pernah bisa
kujelaskan, tapi kamu tahu. Dan kini, hal ‘itu’ datang lagi. Sesuatu
mungkin telah terjadi padamu. Karena, di tengah hiruknya dunia, di dalam
heningnya alam tak nyata, aku masih bisa mendengar sedihmu, aku masih
bisa merasakan pedih dan perihmu, aku masih memahami jerit sunyi
permintaan tolongmu. Dan aku di sini ingin menolongmu. Dalam hiruk
dunia, kita tak pernah tenggelam, walau aku dan kamu tak lagi kita.
Karena aku masih di sini ingin menolongmu.
Kusibak selimut dan bangkit dari kasur. Berjalan ke luar kamar dan
turun ke lantai dasar rumah. Berharap cemas kalau para Zombie itu tak
pernah mengikutiku sampai ke alam nyata.
◆sekian◆
0 comments