#12 Hiruk Cikiewahab

Kamisan S2 #12 - HIRUK: Pindah

15.56Unknown

Mulai pekan ini, perempuan cantik itu pindah ke kontrakan lain di kawasan Kemuning. Ia baru saja menaruh kardus berisi pakaian, kipas angin kecil dan buku-buku tulisan. Perempuan itu terbatuk-batuk saat seseorang mengetuk pintu rumahnya.
“Mas Roji. Aku pikir siapa.” Perempuan itu membuka pintu. Lelaki itu masuk dan mengamati seisi rumah kontrakan.
“Kau yakin mau tinggal di sini? Apa sebaiknya kau tidak cari kontrakan lain?”
“Kenapa mas? Aku merasa tempat ini baik-baik saja.”
“Tapi daerah ini sepi.”
“Aku lebih suka sepi. Di kontrakan lama terlalu hiruk suasananya, Mas. Aku tidak suka.”
“Apa ini untuk menghindariku juga?” lelaki itu duduk di atas tikar kecil. Memandangi wajah perempuan yang kerap hadir dalam ingatannya.
“Mas Roji. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku juga tidak mau Nadia marah. Semuanya akan gaduh dan aku menjadi penyebab ketidaknyamanan di kantor kita.”
“Jadi kau merasa sebagai penyebab keributan? Hentikan pikiran konyolmu. Nadia juga sudah dewasa, bukan? Kau tidak perlu berkorban perasaan demi dirinya terus-terusan, Malika.”
Perempuan itu diam saja. Memandangi wajah lelaki di hadapannya. Ia berdebar tapi kemudian di alihkannya pandangan ke halaman luar. Lelaki itu barangkali mengatakan hal yang benar. Bukankah lelaki itu menyukai dirinya, bukan Nadia sahabatnya. Namun ia tidak bisa mengabaikan begitu saja perasaan kecewa dari sahabatnya.
“Mungkin kita bisa bersikap biasa saja di depan Nadia. Mas mengerti maksudku?”
“Terserah saja. Aku tetap tidak mengerti. Sekarang ayo kita pergi.”
“Kemana, Mas?”
“Ke pasar.”
“Tumben mas mau ke pasar. Mas tidak ada kencan minggu ya?” perempuan itu meledeknya. Lelaki itu tertawa.
“Kau tahu apa yang sudah kau lakukan padaku?”
“Apa itu mas?”
“Setiap hari. Saat aku bangun pagi, kau sudah muncul dalam pikiranku. Saat tiba di kantor dan melihat kegaduhan kecil yang kau lakukan bersama Nadia dan Koli, aku semakin tidak bisa menepisnya. Apa kau merasa kau sudah membuat hatiku hiruk pikuk selama ini?”
“Mas…”
“Jangan seperti itu. Wajahmu membuat aku tak pernah marah.”
“Baiklah. Aku tidak akan membuat kegaduhan lagi.”
Lelaki itu mendesah. Tangannya merangkul kepala perempuan itu. Setelah mengunci pintu, keduanya pergi dan nyanyian terdengar pelan sekali.***

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak