#12 Hiruk Davidhukom

Kamisan S2 #12 - Hiruk: Pria Pemanggul Sepi

16.11Unknown

source : bluesinlondon.com
                               source : bluesinlondon.com

“Jadi kau mengenalnya? Jawab!” Kata pria berseragam itu sambil menggebrak meja di depanku.
“Bukan begitu maksud saya, saya hanya ter…”
“Sudah jangan mencla-mencle, kalau kenal jawab saja kenal, kalau tidak ya tidak. Kamu mau menyangkal seperti apa kalau bukti sudah ada, ya kamu juga bisa saya kurung” potong pria yang ada di depanku, kumisnya tebal, badannya yang tambun menyiratkan kebusukannya di balik seragam yang dipakainya.
“Ya sudah, kalau memang begitu biar saya ceritakan semuanya dari awal hingga akhir, tapi saya tidak pandai bercerita secara lisan, lebih baik saya pinjam mesin ketik bapak dan mulai menulisnya” Jawabku dengan ragu menatap mereka berdua.
Mereka berpandangan sejenak, “Ya sudah kau pakai ini, sini duduk di sini. Kalau ada yang mencariku bilang saja sedang di belakang.” Katanya lalu pergi begitu saja.
Ceritanya bermula dari suatu malam…

***

Jalanan terlihat sepi, kafe itu juga terasa lengang setelah beberapa jam lalu penuh berisi manusia-manusia remaja yang merayakan hari kelahirannya. Sekarang, lebih mirip kafe blues di New Orleans yang lampunya temaram, penuh asap rokok dan hanya berisi beberapa manusia yang melayangkan doanya lewat sayatan gitar gibson tua, tiupan saksofon, secangkir kopi, segelas bir, dan percakapan-percakapan mesum berujung pada penginapan murah di losmen kecil ujung jalan.

Pintu berderak, lonceng berbunyi pelan, pria itu masuk perlahan lalu duduk di meja bar dekat pelayan, pria itu terlihat muda meski usianya berkata lain, matanya bersinar, bibirnya mengatup erat, punggungnya membungkuk seolah membawa beban dunia yang beratnya mengalahkan tugas Atlas memanggul bumi. Pakaian lengan panjangnya menutupi sampai pergelangan tangan, hampir menutupi tato yang mengintip di punggung tangan.

Ia menolehkan kepala ke samping kanan kirinya. Ada dua orang di samping kanannya lelaki dan wanita asik saling bercumbu memainkan lidah satu sama lain, di samping kirinya ada satu pria paruh baya, berpakaian jas lengkap dan terlihat lusuh, dari wajahnya ia terlihat seperti orang-orang berusia menjelang empat puluh. Matanya sayu seperti menahan kepenatan hidup, tangannya kirinya memainkan gelas kosong, sementara dua jari tangan kanannya menggapit rokok yang masih menyala, asapnya membumbung bercampur asap-asap yang lain. Ia menengok ke belakang, dilihatnya setidaknya tersisa tujuh orang pengunjung malam itu, empat lainnya menghuni meja yang terpisah satu sama lain, sama-sama menampakkan wajah muram, hanya saja satu orang wanita muda yang ada di pojok ruangan sibuk memainkan ponselnya, yang lain tenggelam dalam alunan musik blues yang dimainkan kelompok musik sewaan yang harganya tak seberapa.

Tak lama pelayan datang menghampirinya, “Minum apa, Pak?” ujarnya sambil tersenyum lelah menunggu teman pengganti shiftnya datang, di kafe ini seolah ada aturan tak tertulis, tamu adalah raja, dan pelayan selelah apapun, semuram apapun, sesedih apapun dan dalam kejadian yang bagaimanapun yang sedang menimpanya ia harus tetap tersenyum. Ia dilarang mengumpat, marah, atau menampakkan wajah tak ramah tanpa senyum pada pengunjungnya. Pernah suatu kali, seorang pelayan tak tersenyum pada pengunjung dan meletakkan minuman begitu saja lalu pergi, besoknya ia dipanggil si empunya kafe dan dipecat. “Biarpun kecil, kafe kita ini tidak boleh mengecewakan pengunjung!” pesan si pemilik suatu kali, mengingatkan pegawainya yang lain.

“Hmm apa yang kau punya? Cocktail? Ah tidak-tidak, beri aku secangkir kopi saja” kata lelaki itu lalu kembali mengamati sekitarnya.

Tak lama pesanannya datang, bau wangi kopi dan asap yang mengepul segera saja memenuhi udara di depannya, diminumnya sedikit lalu dikeluarkannya bungkusan berisi campuran tembakau, cengkeh, dan bahan lainnya di kantong jaketnya. Diambilnya sejumput lalu dimasukkannya dalam pipa. Tangannya kembali merogoh kantong, dicarinya pemantik yang biasanya dibawanya kemana-mana tak terpisah dari sekantong tembakau yang tadi dibukanya. Tak percaya ia mulai berdiri mencari-cari di saku celana, saku depan jaket, tak juga ditemukannya benda kesayangannya itu, “Ah sial pasti ketinggalan di rumah” gumamnya. Sejurus kemudian ditepuknya pundak lelaki di sampingnya yang sedang sendirian, “Ada korek?” katanya dengan tetap menggigit ujung pipa. Tanpa bicara, lelaki tadi menyodorkan pemantik murah seharga duaribu perak, yang biasanya gampang hilang. Dinyalakannya korek itu dan sebentar saja tembakau tadi memerah terbakar, asapnya keluar sedikit demi sedikit, ikut meramaikan asap-asap yang lain dalam ruangan.

“Terima kasih” Dikembalikannya pemantik yang tadi dipinjamnya. Ia kembali duduk dan menikmati kopi juga rokoknya. “Aku benci keramaian” ujarnya kemudian, tanpa memandang lelaki yang dari tadi di sampingnya, “Mereka seperti tak peduli apa yang ada di kepala kita, terus-terusan membuat gaduh suasana dengan berbagai macam suara berisik, teriakan-teriakan seperti hewan, berlarian dengan waktu, tak pernah peduli dengan sekitarnya” lanjutnya pelan, tanpa terburu-buru, tiap kata-katanya seperti mengikuti irama musik “Blues in Green” milik Mile Davis yang dibawakan band pengiring di panggung.

Lelaki yang dari tadi memainkan gelas wishky itu terlihat menyimak, ia yakin pria yang tadi meminjam korek itu mencoba berbicara dengannya. Selang beberapa saat setelah pria tadi selesai berbicara, ia membalikkan badan tak lagi menatap meja, tapi menatap para pengunjung lain yang sedang hanyut dalam entah pemikiran, alunan musik yang sedang dimainkan, atau kenangan di dalam kepala mereka. Tak lama ia kembali menyalakan sebatang rokoknya, “Aku juga benci keramaian, itu sebabnya aku datang ke sini di jam-jam seperti ini, mencari kesunyian yang kurindukan setelah seharian berjibaku dengan angka-angka statistik, deru mesin dan klakson monster berasap, juga sedikit keramaian di rumah.”

“Hmmm, kita cari tempat duduk yang nyaman saja, di sana?” Pria tadi berkata seraya menunjuk meja di dekat pintu yang telah kosong. Beberapa jam duduk bersama, untaian cerita sudah bertebaran dari mulut mereka berdua, ada kisah sepi, kosong, yang membuat mereka merenung sejenak, ada kisah senang, bahagia, kegembiraan, yang mau tak mau membuat mereka tertawa, kadang sampai terpingkal-pingkal, ada kisah sedih, romantis, mengharukan yang memaksa mereka untuk saling menepuk bahu satu sama lain seolah sudah saling mengenal begitu lama dan berusaha saling menguatkan.

Tanpa mereka sadari ternyata seisi kafe telah mengamati mereka yang seakan memiliki dunianya sendiri, kadang ikut tersenyum, kadang ikut termenung, kadang ikut terharu. Wanita muda yang ada di pojok ruangan yang sedari tadi memainkan ponselnya terlihat begitu antusias menatap dua orang yang baru saling mengenal satu sama lain itu. Ia beranjak dari kursinya dan mendekat pada mereka.

“Kalian benar-benar terlihat begitu menikmati sesuatu, apakah berkenan jika aku ikut bergabung?” wanita itu tak segera duduk sebelum dua orang lelaki itu mengiyakan.

Kedua lelaki itu saling berpandangan, lalu kembali menatap wanita di depan mereka itu, “Tentu saja, duduklah, kau mau memesan minuman?” Ujar pria yang masih menikmati tembakau dari pipa yang dari tadi menempel di mulutnya dan diambilnya sesekali ketika tertawa.

“Wah, terima kasih, aku hanya penasaran apa yang sedang kalian perbincangkan sampai-sampai sepertinya tanpa kalian sadari penghuni kafe ini sudah menatap kalian dari tadi?”
“Kami hanya memiliki kesenangan yang sama, kebencian yang sama, dan saling bertukar cerita tentang itu semua”
“Oh ya? Kesamaan apa itu?”
“Kami sama-sama membenci keramaian, dan begitu menyukai kesunyian”
“Astaga, aku begitu tertarik bolehkah aku bergabung, aku juga seorang pembenci keramaian” ucap wanita itu, matanya berbinar-binar.

Beberapa jam kemudian bangku dan kursi sudah berubah susunannya menjadi satu seolah rapat besar, pria yang menghisap pipa rokok itu duduk di antara mereka menyimak cerita dari masing-masing orang tentang kebencian mereka terhadap keramaian, kesumpekan hidup, keruwetan rumah tangga, dan macam-macam hal lainnya. Mereka saling bertukar cerita, saling mendengarkan satu sama lain, lelaki yang katanya membenci keramaian itu wajahnya berubah sumringah sekarang. Ia mendapat banyak kenalan baru.

Menjelang pagi si wanita muda itu berdiri, tangannya memegang gelas wishky disodorkannya ke arah tengah-tengah meja, “Bagaimana kalau kita bersulang malam ini, untuk sebuah perkumpulan baru, perkumpulan pembenci keramaian!” ucapnya lalu tertawa. Beberapa orang lainnya saling berpandangan, heran, aneh, bercampur aduk dengan perasaan lainnya sampai akhirnya mereka mengangkat tangan, saling bersulang satu sama lain, merayakan entah apa, dan perkumpulan pembenci keramaian, apa pula itu?

Beberapa bulan berlalu, perkumpulan itu semakin hari semakin bertambah anggotanya. Mereka berkumpul setiap tengah malam di akhir pekan dan saling bertukar cerita satu sama lain tentang kisahnya selama sepekan terakhir, tentang keresahan mereka terhadap keramaian, tentang kebencian mereka terhadap meriahnya pesta, perayaan, atau konser. Pria berpipa rokok itu hanya mendengarkan sesekali ia ikut berkomentar, bila tak ada bahan ia juga seringkali melempar pertanyaan-pertanyaan absurd, “Apakah kalian pernah merasa kosong?” katanya suatu kali. “Kapan terakhir kali kalian bersedih?” ujarnya diwaktu yang lain. Atau pertanyaan semacam, “Di antara kalian pasti ada yang pernah merasa begitu melankolis, ini sangat jarang, hanya sesekali perasaan ini datang, kalian begitu merasa rapuh karena memandang kucing yang tertabrak mobil, atau burung yang tertembak, ketika merasa begitu mellow apa yang biasanya kalian lakukan?” Dan berbagai pertanyaan absurd lainnya.

Dari waktu ke waktu perkumpulan itu makin besar, kafe semakin ramai setiap tengah malam, namun justru pria yang membawa pipa rokok di mulutnya itu makin jarang muncul. Intensitas kedatangannya berkurang drastis. Pria itu rupanya berkeliling dari kota ke kota dari satu kafe ke kedai yang lain, ia bertukar cerita tentang memuakkannya keramaian, tentang damainya kesunyian. Mendengarkan cerita mereka satu persatu, membawa kesepian-kesepian mereka bersamanya keliling negeri. Teman-temannya makin banyak dari tiap kota, mereka membuat perkumpulan yang sama. Ketika ada yang bertanya padanya, “Mengapa kau melakukan ini semua?” ia menjawab dengan gayanya sambil membuang asap rokok di dadanya, “Aku hanya mendengar mereka bercerita tentang memuakkannya keramaian, mendengar mereka berkeluh kesah tentang rindunya pada sunyi, sepi. Aku hanyalah mendengarkan tak kurang, tak lebih. Sebab terkadang, ketika seseorang menjadi sedih, yang ia inginkan hanyalah didengar.”*

Sampai setahun berlalu perkumpulan-perkumpulan di tiap kota itu berubah menjadi komunitas besar, mereka mulai mengkampanyekan tentang indahnya kesunyian, lewat puisi-puisi, tulisan-tulisan berupa cerpen, novel, artikel, atau tentang peringatan tentang buruknya keramaian. Namanya “Perkumpulan Pembenci Keramaian”. Setelah hampir dua tahun kegiatan mereka, massanya makin bertambah, mereka diperbincangkan di mana-mana, tentang keunikan perkumpulan ini, makin hari makin banyak yang bergabung termasuk di berbagai jejaring media sosial. Sampai-sampai mereka membuat event bulanan, “Silent Day” di mana di hari itu tak boleh ada keramaian apapun, seperti konser, perayaan, pesta atau apapun, seperti hari-hari biasanya hanya saja tak boleh ada keramaian di satu tempat. Pemerintah setempat menyetujuinya.

Dari hari ke hari, tindakan mereka semakin anarkis, mereka mulai menghancurkan tempat-tempat yang dianggap pusat keramaian, sumber berisik, mereka ke diskotik menghancurkan semuanya, melarang mereka buka, perayaan ulang tahun ditiadakan, tidak ada konser musik, tidak ada pagelaran teater, setiap rumah diberi sensor keramaian yang hanya boleh berisik sampai dengan beberapa desibel saja.

Kegiatan-kegiatan ini semakin meresahkan masyarakat sekitar, sementara pria penghisap pipa tembakau telah menghilang entah kemana, ia dianggap sebagai biang dari semua ini. Kelompok pembenci keramaian ini makin banyak cabangnya di kota-kota lain, membuat pemerintah merasa khawatir dengan pergerakan kelompok ini.

Chaos makin parah karena makin banyak tindakan-tindakan anarkis dari kelompok ini di berbagai kota. Sampai akhirnya pemerintah menangkapi semua anggota karena dianggap meresahkan masyarakat dan negara, perkumpulan mereka dilarang, dan semua ketua di tiap wilayah dianggap melakukan tindakan subversif lalu diburu dan dipenjarakan begitu saja.

Selang beberapa tahun, pemerintah berhasil mengidentifikasi bahwa biang dari kelompok radikal ini adalah seorang pria tua yang hidupnya sendiri dan selalu merasa kesepian pada awalnya, kemudian ia mengakrabi sepi itu menjadi seorang temannya setiap malam, mereka membenci keramaian, benci suara motor bising, klakson mobil, polusi, keributan manusia, dan lainnya. Mereka bersama-sama mencari orang-orang yang juga membenci keramaian, berkumpul dan saling bertukar cerita, sesederhana itu pada awalnya. Hingga teman-temannya itu berubah menjadi buas dan menjadikan perkumpulan sederhana itu menjadi radikal dan tak terkendali.

***

“Segitu saja ceritanya? Bahkan kopiku belum habis” ucap aparat keamanan itu mengejek.

Aku hanya diam, tak berniat menjawab pertanyaan mereka.

“Ya sudah, sambil menunggu kabar dan kubaca ceritamu, kau akan kutahan sementara, karena kau itu saksi kunci, satu-satunya orang yang pernah melihat pria tua yang sok radikal itu”

Kupikir kalau keberanianku memuncak sekarang mungkin sudah kukuliti kepala mereka dan memberikan isi tempurung kepala mereka pada anjing yang berjaga di luar. Menuduh orang seenaknya seperti itu seperti sudah keahlian mereka.

Tak lama dua orang pria berseragam lainnya datang lalu membawaku ke satu ruangan di belakang dekat pintu gerbang penjara. Sayup-sayup kudengar mereka berbicara satu sama lain,

“Kudengar di kampung tetangga ada konser musik, kau mau datang? Banyak minuman dan gadis belia di sana”
“Serius? Baik aku akan pulang mandi dulu, pamit lembur pada istriku!”

Aku memasuki ruangan sambil tersenyum geli membayangkan mereka. Sembari menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu, aku memutuskan untuk duduk di kursi. Di ruangan itu ada juga kasur lipat, sepertinya kamar dadakan. Ada kursi, meja, lemari kecil lengkap dengan dispenser, gelas, kopi, gula, teh, sendok, dan beberapa peralatan dapur. Kubuka jendela, pemandangannya langsung ke arah pematang sawah dan lapangan yang biasa dipakai anak-anak di sekitar situ untuk main bola.

Di luar senja hampir datang, aku membuat secangkir kopi hitam, dan mulai menikmati kesendirian itu, kuambil sebungkus tembakau yang sudah bercampur cengkeh dan bahan lainnya dari saku, setelah kumasukkan ke ujung pipa rokok, kunyalakan pemantikku yang untuk kali ini tak lupa aku membawanya. Kuhisap asapnya dalam-dalam hingga memenuhi paru-paru dan kuhembuskan perlahan, asapnya bersatu dengan uap kopi, memburamkan pandangan. “Ah sepi itu memang menenangkan dan aku masih juga benci keramaian” ujarku pelan, sementara musik Strange Fruit milik Billie Holiday mengalun dari radio butut yang berada di ruangan depan.

Here is fruit for the crows to pluck,
For the rain to gather, for the wind to suck,
For the sun to rot, for the trees to drop,

Catatan:
*kata-kata yang dikutip dari cerpen teman
Inspirasi:
Lagu ‘Hard to Concentrate’  dan ‘Road Trippin’ milik Red Hot Chili Peppers
Lagu ‘Knights of Cydonia’ milik Muse
Lagu ‘Keliru’ milik Ruth Sahanaya

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak