“Jadi kau mengenalnya? Jawab!” Kata pria berseragam itu sambil menggebrak meja di depanku.
“Bukan begitu maksud saya, saya hanya ter…”
“Sudah jangan mencla-mencle, kalau kenal
jawab saja kenal, kalau tidak ya tidak. Kamu mau menyangkal seperti apa
kalau bukti sudah ada, ya kamu juga bisa saya kurung” potong pria yang
ada di depanku, kumisnya tebal, badannya yang tambun menyiratkan
kebusukannya di balik seragam yang dipakainya.
“Ya sudah, kalau memang begitu biar saya
ceritakan semuanya dari awal hingga akhir, tapi saya tidak pandai
bercerita secara lisan, lebih baik saya pinjam mesin ketik bapak dan
mulai menulisnya” Jawabku dengan ragu menatap mereka berdua.
Mereka berpandangan sejenak, “Ya sudah
kau pakai ini, sini duduk di sini. Kalau ada yang mencariku bilang saja
sedang di belakang.” Katanya lalu pergi begitu saja.
Ceritanya bermula dari suatu malam…
***
Jalanan terlihat sepi, kafe itu juga
terasa lengang setelah beberapa jam lalu penuh berisi manusia-manusia
remaja yang merayakan hari kelahirannya. Sekarang, lebih mirip kafe
blues di New Orleans yang lampunya temaram, penuh asap rokok dan hanya
berisi beberapa manusia yang melayangkan doanya lewat sayatan gitar
gibson tua, tiupan saksofon, secangkir kopi, segelas bir, dan
percakapan-percakapan mesum berujung pada penginapan murah di losmen
kecil ujung jalan.
Pintu berderak, lonceng berbunyi pelan,
pria itu masuk perlahan lalu duduk di meja bar dekat pelayan, pria itu
terlihat muda meski usianya berkata lain, matanya bersinar, bibirnya
mengatup erat, punggungnya membungkuk seolah membawa beban dunia yang
beratnya mengalahkan tugas Atlas memanggul bumi. Pakaian lengan
panjangnya menutupi sampai pergelangan tangan, hampir menutupi tato yang
mengintip di punggung tangan.
Ia menolehkan kepala ke samping kanan
kirinya. Ada dua orang di samping kanannya lelaki dan wanita asik saling
bercumbu memainkan lidah satu sama lain, di samping kirinya ada satu
pria paruh baya, berpakaian jas lengkap dan terlihat lusuh, dari
wajahnya ia terlihat seperti orang-orang berusia menjelang empat puluh.
Matanya sayu seperti menahan kepenatan hidup, tangannya kirinya
memainkan gelas kosong, sementara dua jari tangan kanannya menggapit
rokok yang masih menyala, asapnya membumbung bercampur asap-asap yang
lain. Ia menengok ke belakang, dilihatnya setidaknya tersisa tujuh orang
pengunjung malam itu, empat lainnya menghuni meja yang terpisah satu
sama lain, sama-sama menampakkan wajah muram, hanya saja satu orang
wanita muda yang ada di pojok ruangan sibuk memainkan ponselnya, yang
lain tenggelam dalam alunan musik blues yang dimainkan kelompok musik
sewaan yang harganya tak seberapa.
Tak lama pelayan datang menghampirinya,
“Minum apa, Pak?” ujarnya sambil tersenyum lelah menunggu teman
pengganti shiftnya datang, di kafe ini seolah ada aturan tak tertulis,
tamu adalah raja, dan pelayan selelah apapun, semuram apapun, sesedih
apapun dan dalam kejadian yang bagaimanapun yang sedang menimpanya ia
harus tetap tersenyum. Ia dilarang mengumpat, marah, atau menampakkan
wajah tak ramah tanpa senyum pada pengunjungnya. Pernah suatu kali,
seorang pelayan tak tersenyum pada pengunjung dan meletakkan minuman
begitu saja lalu pergi, besoknya ia dipanggil si empunya kafe dan
dipecat. “Biarpun kecil, kafe kita ini tidak boleh mengecewakan pengunjung!” pesan si pemilik suatu kali, mengingatkan pegawainya yang lain.
“Hmm apa yang kau punya? Cocktail? Ah
tidak-tidak, beri aku secangkir kopi saja” kata lelaki itu lalu kembali
mengamati sekitarnya.
Tak lama pesanannya datang, bau wangi
kopi dan asap yang mengepul segera saja memenuhi udara di depannya,
diminumnya sedikit lalu dikeluarkannya bungkusan berisi campuran
tembakau, cengkeh, dan bahan lainnya di kantong jaketnya. Diambilnya
sejumput lalu dimasukkannya dalam pipa. Tangannya kembali merogoh
kantong, dicarinya pemantik yang biasanya dibawanya kemana-mana tak
terpisah dari sekantong tembakau yang tadi dibukanya. Tak percaya ia
mulai berdiri mencari-cari di saku celana, saku depan jaket, tak juga
ditemukannya benda kesayangannya itu, “Ah sial pasti ketinggalan di
rumah” gumamnya. Sejurus kemudian ditepuknya pundak lelaki di sampingnya
yang sedang sendirian, “Ada korek?” katanya dengan tetap menggigit
ujung pipa. Tanpa bicara, lelaki tadi menyodorkan pemantik murah seharga
duaribu perak, yang biasanya gampang hilang. Dinyalakannya korek itu
dan sebentar saja tembakau tadi memerah terbakar, asapnya keluar sedikit
demi sedikit, ikut meramaikan asap-asap yang lain dalam ruangan.
“Terima kasih” Dikembalikannya pemantik
yang tadi dipinjamnya. Ia kembali duduk dan menikmati kopi juga
rokoknya. “Aku benci keramaian” ujarnya kemudian, tanpa memandang lelaki
yang dari tadi di sampingnya, “Mereka seperti tak peduli apa yang ada
di kepala kita, terus-terusan membuat gaduh suasana dengan berbagai
macam suara berisik, teriakan-teriakan seperti hewan, berlarian dengan
waktu, tak pernah peduli dengan sekitarnya” lanjutnya pelan, tanpa
terburu-buru, tiap kata-katanya seperti mengikuti irama musik “Blues in
Green” milik Mile Davis yang dibawakan band pengiring di panggung.
Lelaki yang dari tadi memainkan gelas
wishky itu terlihat menyimak, ia yakin pria yang tadi meminjam korek itu
mencoba berbicara dengannya. Selang beberapa saat setelah pria tadi
selesai berbicara, ia membalikkan badan tak lagi menatap meja, tapi
menatap para pengunjung lain yang sedang hanyut dalam entah pemikiran,
alunan musik yang sedang dimainkan, atau kenangan di dalam kepala
mereka. Tak lama ia kembali menyalakan sebatang rokoknya, “Aku juga
benci keramaian, itu sebabnya aku datang ke sini di jam-jam seperti ini,
mencari kesunyian yang kurindukan setelah seharian berjibaku dengan
angka-angka statistik, deru mesin dan klakson monster berasap, juga
sedikit keramaian di rumah.”
“Hmmm, kita cari tempat duduk yang nyaman
saja, di sana?” Pria tadi berkata seraya menunjuk meja di dekat pintu
yang telah kosong. Beberapa jam duduk bersama, untaian cerita sudah
bertebaran dari mulut mereka berdua, ada kisah sepi, kosong, yang
membuat mereka merenung sejenak, ada kisah senang, bahagia, kegembiraan,
yang mau tak mau membuat mereka tertawa, kadang sampai
terpingkal-pingkal, ada kisah sedih, romantis, mengharukan yang memaksa
mereka untuk saling menepuk bahu satu sama lain seolah sudah saling
mengenal begitu lama dan berusaha saling menguatkan.
Tanpa mereka sadari ternyata seisi kafe
telah mengamati mereka yang seakan memiliki dunianya sendiri, kadang
ikut tersenyum, kadang ikut termenung, kadang ikut terharu. Wanita muda
yang ada di pojok ruangan yang sedari tadi memainkan ponselnya terlihat
begitu antusias menatap dua orang yang baru saling mengenal satu sama
lain itu. Ia beranjak dari kursinya dan mendekat pada mereka.
“Kalian benar-benar terlihat begitu
menikmati sesuatu, apakah berkenan jika aku ikut bergabung?” wanita itu
tak segera duduk sebelum dua orang lelaki itu mengiyakan.
Kedua lelaki itu saling berpandangan,
lalu kembali menatap wanita di depan mereka itu, “Tentu saja, duduklah,
kau mau memesan minuman?” Ujar pria yang masih menikmati tembakau dari
pipa yang dari tadi menempel di mulutnya dan diambilnya sesekali ketika
tertawa.
“Wah, terima kasih, aku hanya penasaran
apa yang sedang kalian perbincangkan sampai-sampai sepertinya tanpa
kalian sadari penghuni kafe ini sudah menatap kalian dari tadi?”
“Kami hanya memiliki kesenangan yang sama, kebencian yang sama, dan saling bertukar cerita tentang itu semua”
“Oh ya? Kesamaan apa itu?”
“Kami sama-sama membenci keramaian, dan begitu menyukai kesunyian”
“Astaga, aku begitu tertarik bolehkah aku
bergabung, aku juga seorang pembenci keramaian” ucap wanita itu,
matanya berbinar-binar.
Beberapa jam kemudian bangku dan kursi
sudah berubah susunannya menjadi satu seolah rapat besar, pria yang
menghisap pipa rokok itu duduk di antara mereka menyimak cerita dari
masing-masing orang tentang kebencian mereka terhadap keramaian,
kesumpekan hidup, keruwetan rumah tangga, dan macam-macam hal lainnya.
Mereka saling bertukar cerita, saling mendengarkan satu sama lain,
lelaki yang katanya membenci keramaian itu wajahnya berubah sumringah
sekarang. Ia mendapat banyak kenalan baru.
Menjelang pagi si wanita muda itu
berdiri, tangannya memegang gelas wishky disodorkannya ke arah
tengah-tengah meja, “Bagaimana kalau kita bersulang malam ini, untuk
sebuah perkumpulan baru, perkumpulan pembenci keramaian!” ucapnya lalu
tertawa. Beberapa orang lainnya saling berpandangan, heran, aneh,
bercampur aduk dengan perasaan lainnya sampai akhirnya mereka mengangkat
tangan, saling bersulang satu sama lain, merayakan entah apa, dan
perkumpulan pembenci keramaian, apa pula itu?
Beberapa bulan berlalu, perkumpulan itu
semakin hari semakin bertambah anggotanya. Mereka berkumpul setiap
tengah malam di akhir pekan dan saling bertukar cerita satu sama lain
tentang kisahnya selama sepekan terakhir, tentang keresahan mereka
terhadap keramaian, tentang kebencian mereka terhadap meriahnya pesta,
perayaan, atau konser. Pria berpipa rokok itu hanya mendengarkan
sesekali ia ikut berkomentar, bila tak ada bahan ia juga seringkali
melempar pertanyaan-pertanyaan absurd, “Apakah kalian pernah merasa
kosong?” katanya suatu kali. “Kapan terakhir kali kalian bersedih?”
ujarnya diwaktu yang lain. Atau pertanyaan semacam, “Di antara kalian
pasti ada yang pernah merasa begitu melankolis, ini sangat jarang, hanya
sesekali perasaan ini datang, kalian begitu merasa rapuh karena
memandang kucing yang tertabrak mobil, atau burung yang tertembak,
ketika merasa begitu mellow apa yang biasanya kalian lakukan?” Dan
berbagai pertanyaan absurd lainnya.
Dari waktu ke waktu perkumpulan itu makin
besar, kafe semakin ramai setiap tengah malam, namun justru pria yang
membawa pipa rokok di mulutnya itu makin jarang muncul. Intensitas
kedatangannya berkurang drastis. Pria itu rupanya berkeliling dari kota
ke kota dari satu kafe ke kedai yang lain, ia bertukar cerita tentang
memuakkannya keramaian, tentang damainya kesunyian. Mendengarkan cerita
mereka satu persatu, membawa kesepian-kesepian mereka bersamanya
keliling negeri. Teman-temannya makin banyak dari tiap kota, mereka
membuat perkumpulan yang sama. Ketika ada yang bertanya padanya,
“Mengapa kau melakukan ini semua?” ia menjawab dengan gayanya sambil
membuang asap rokok di dadanya, “Aku hanya mendengar mereka bercerita
tentang memuakkannya keramaian, mendengar mereka berkeluh kesah tentang
rindunya pada sunyi, sepi. Aku hanyalah mendengarkan tak kurang, tak
lebih. Sebab terkadang, ketika seseorang menjadi sedih, yang ia inginkan
hanyalah didengar.”*
Sampai setahun berlalu
perkumpulan-perkumpulan di tiap kota itu berubah menjadi komunitas
besar, mereka mulai mengkampanyekan tentang indahnya kesunyian, lewat
puisi-puisi, tulisan-tulisan berupa cerpen, novel, artikel, atau tentang
peringatan tentang buruknya keramaian. Namanya “Perkumpulan Pembenci
Keramaian”. Setelah hampir dua tahun kegiatan mereka, massanya makin
bertambah, mereka diperbincangkan di mana-mana, tentang keunikan
perkumpulan ini, makin hari makin banyak yang bergabung termasuk di
berbagai jejaring media sosial. Sampai-sampai mereka membuat event
bulanan, “Silent Day” di mana di hari itu tak boleh ada keramaian
apapun, seperti konser, perayaan, pesta atau apapun, seperti hari-hari
biasanya hanya saja tak boleh ada keramaian di satu tempat. Pemerintah
setempat menyetujuinya.
Dari hari ke hari, tindakan mereka
semakin anarkis, mereka mulai menghancurkan tempat-tempat yang dianggap
pusat keramaian, sumber berisik, mereka ke diskotik menghancurkan
semuanya, melarang mereka buka, perayaan ulang tahun ditiadakan, tidak
ada konser musik, tidak ada pagelaran teater, setiap rumah diberi sensor
keramaian yang hanya boleh berisik sampai dengan beberapa desibel saja.
Kegiatan-kegiatan ini semakin meresahkan
masyarakat sekitar, sementara pria penghisap pipa tembakau telah
menghilang entah kemana, ia dianggap sebagai biang dari semua ini.
Kelompok pembenci keramaian ini makin banyak cabangnya di kota-kota
lain, membuat pemerintah merasa khawatir dengan pergerakan kelompok ini.
Chaos makin parah karena makin banyak
tindakan-tindakan anarkis dari kelompok ini di berbagai kota. Sampai
akhirnya pemerintah menangkapi semua anggota karena dianggap meresahkan
masyarakat dan negara, perkumpulan mereka dilarang, dan semua ketua di
tiap wilayah dianggap melakukan tindakan subversif lalu diburu dan
dipenjarakan begitu saja.
Selang beberapa tahun, pemerintah
berhasil mengidentifikasi bahwa biang dari kelompok radikal ini adalah
seorang pria tua yang hidupnya sendiri dan selalu merasa kesepian pada
awalnya, kemudian ia mengakrabi sepi itu menjadi seorang temannya setiap
malam, mereka membenci keramaian, benci suara motor bising, klakson
mobil, polusi, keributan manusia, dan lainnya. Mereka bersama-sama
mencari orang-orang yang juga membenci keramaian, berkumpul dan saling
bertukar cerita, sesederhana itu pada awalnya. Hingga teman-temannya itu
berubah menjadi buas dan menjadikan perkumpulan sederhana itu menjadi
radikal dan tak terkendali.
***
“Segitu saja ceritanya? Bahkan kopiku belum habis” ucap aparat keamanan itu mengejek.
Aku hanya diam, tak berniat menjawab pertanyaan mereka.
“Ya sudah, sambil menunggu kabar dan
kubaca ceritamu, kau akan kutahan sementara, karena kau itu saksi kunci,
satu-satunya orang yang pernah melihat pria tua yang sok radikal itu”
Kupikir kalau keberanianku memuncak
sekarang mungkin sudah kukuliti kepala mereka dan memberikan isi
tempurung kepala mereka pada anjing yang berjaga di luar. Menuduh orang
seenaknya seperti itu seperti sudah keahlian mereka.
Tak lama dua orang pria berseragam
lainnya datang lalu membawaku ke satu ruangan di belakang dekat pintu
gerbang penjara. Sayup-sayup kudengar mereka berbicara satu sama lain,
“Kudengar di kampung tetangga ada konser musik, kau mau datang? Banyak minuman dan gadis belia di sana”
“Serius? Baik aku akan pulang mandi dulu, pamit lembur pada istriku!”
Aku memasuki ruangan sambil tersenyum
geli membayangkan mereka. Sembari menunggu sesuatu yang aku sendiri
tidak tahu apa itu, aku memutuskan untuk duduk di kursi. Di ruangan itu
ada juga kasur lipat, sepertinya kamar dadakan. Ada kursi, meja, lemari
kecil lengkap dengan dispenser, gelas, kopi, gula, teh, sendok, dan
beberapa peralatan dapur. Kubuka jendela, pemandangannya langsung ke
arah pematang sawah dan lapangan yang biasa dipakai anak-anak di sekitar
situ untuk main bola.
Di luar senja hampir datang, aku membuat
secangkir kopi hitam, dan mulai menikmati kesendirian itu, kuambil
sebungkus tembakau yang sudah bercampur cengkeh dan bahan lainnya dari
saku, setelah kumasukkan ke ujung pipa rokok, kunyalakan pemantikku yang
untuk kali ini tak lupa aku membawanya. Kuhisap asapnya dalam-dalam
hingga memenuhi paru-paru dan kuhembuskan perlahan, asapnya bersatu
dengan uap kopi, memburamkan pandangan. “Ah sepi itu memang menenangkan dan aku masih juga benci keramaian” ujarku pelan, sementara musik Strange Fruit milik Billie Holiday mengalun dari radio butut yang berada di ruangan depan.
Here is fruit for the crows to pluck,
For the rain to gather, for the wind to suck,
For the sun to rot, for the trees to drop,
Catatan:
*kata-kata yang dikutip dari cerpen teman
Inspirasi:
Lagu ‘Hard to Concentrate’ dan ‘Road Trippin’ milik Red Hot Chili Peppers
Lagu ‘Knights of Cydonia’ milik Muse
Lagu ‘Keliru’ milik Ruth Sahanaya

0 comments