#12 Hiruk Minggu 12

Kamisan S2 #12 - Hiruk: Suara-Suara dalam Kepala

16.40Unknown

Masih tengah malam. Araya terbangun lagi. Ini bukan kali pertama ia terjaga pukul satu pagi. Untuk beberapa lama waktu yang lalu, ketika ia baru saja ditinggal Sang Kekasih, Araya selalu terjaga dari tidurnya. Tergeragap memeriksa ponsel, berharap ada kabar yang dibawa dari kekasihnya. Ralat. Mantan kekasihnya. Namun tak ada.Tak kan pernah ada lagi.

Gilang adalah lelaki yang menyita jam tidurnya. Lelaki bermata sendu namun dengan binar mata cahaya kunang-kunang. Lelaki pemberani yang menghasutnya untuk merambah jalan penuh duri. Sebaliknya, Araya adalah perempuan sepi. Si pendiam yang menutupi dirinya dengan celoteh. Baik, bahkan memperlakukan beberapa orang secara khusus. Ketika jalan hidup mereka bersilangan, Araya merasakan dirinya dilahirkan untuk kedua kalinya. Ia merasa hidup. Bernafas. Tertawa. Lalu lebih banyak air mata.

Pria itu meninggalkannya  setelah sukses memenangkan taruhan. Taruhan busuk yang memangkas masa depan Araya. Masa depan yang pernah dijanjikannya di atas tempat tidur. Betapa sial. Namun alasannya terbangun bukan karna pria itu. Sudah sejak lama tidurnya tak pernah lelap sebab suara-suara yang berdengung di kepalanya makin nyaring dan nyalang. Meminta perhatiannya untuk didengarkan.

Araya bangkit dari kasur langsung menuju beranda kamar kosnya. Langit sama lengangnya dengan jalanan. Ia berdiri di tepi beranda, matanya menerawang kegelapan. 

Sudah dua bulan ia pindah dari naungan rumahnya yang hangat (tentu kalau pertengkarannya dengan Sang Ibu tidak pernah terjadi). Hari itu, ketika ibunya bertanya untuk kesekian kalinya soal kuliahnya yang putus di tengah jalan, Araya jengah. Ia berteriak kalap. Sesumbar bahwa ia akan angkat kaki dari rumah dan menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa perlu ada seorang pun yang mengusik mencampuri urusannya.

Araya memeluk dirinya, Lututnya terasa gemetar. Selalu setiap mengingat kejadian itu. Lalu suara-suara akan gaduh, memenuhi setiap sudut kepalanya.

Jangan salah paham, Araya, ibu ngomong seperti itu karna ibu sayang sama kamu. Ibu nggak mau kamu salah langkah. Salah sedikit saja, bisa merusak segalanya. Kamu paham kan?

Araya tahu. Dia mengerti. Ia marah buka karna Sang Ibu tetapi ia marah pada dirinya sendiri. Ia sudah salah langkah jauh sebelum ibunya memperingati. Ia pergi semata tak ingin menyeret ibunya dalam penderitaannya.
Dalam satu pohon, pasti ada satu buah yang busuk. Dan Araya adalah buah busuk dalam keluarganya. Seolah kesialan selalu menaungi kepalanya. Seolah kesedihan hanya berjarak beberapa inci dari kakinya.

Araya ingat, suatu hari beberapa temannya pernah berkata.

“Lihat, Araya memiliki tahi lalat tepat di bawah mata.”

Enam pasang mata di sekitarnya langsung menatap wajahnya. Araya tak paham apa-apa mengenai tahi lalat tetapi mengerti kengerian yang dipancarkan wajah ketiga temannya.

“Araya,kamu tahu apa artinya tahi lalat di bawah mata?”
Araya menggeleng. Ia memang tidak paham.
“Astaga Araya….” Seorang temannya yang lain memandangnya iba.
“Tahi lalat tepat di bawah mata, Araya, artiya….” Semua dari kami menoleh pada si Empunya suara. Seketika kecemasan melandaku. Meremas jantungku. “Artinya kesedihan abandi. Hidupmu akan dipenuhi air mata.” si Empunya suara memeluknya yang langsung diikuti beberapa temannya yang lain.

Waktu itu Araya masih duduk di sekolah menengah pertama. Entah temannya mendapat kabar dari mana mengenai posisi tahi lalat dan pengaruhnya terhadap hidup seseorang. Araya merasakan jatungnya mencelos waktu itu meski tak sepenuhnya mengerti.

Setelah sepuluh  tahun berlalu, Araya kini membuktikan sendiri perkataan temannya itu.

_____________________________________

Angin dingin berembus lebih kencang di  lantai tiga. Dingin menyentuh kulit wajahnya yang coklat. Araya masih berdiri mematung di beranda. Gelap tak mewartakan apa-apa padanya. Dini hari. Waktu paling sunyi. Suara-suara menderas dalam kepalanya.  Suara-suara yang menuntunkannya kepada pekat yang lebih gelap dari malam. Suara-suara yang mengajaknya untuk pergi lebih jauh. Suara-suara yang dikiranya mampu mematahkan kutukan kesedihan abadi dari matanya. Suara-suara yang menginginkannya mati. Suara-suara dari dalam kepalanya.

Araya menghitung  angka-angka secara acak, Lima. Ia membuka kedua daun pintu beranda, Sembilan. Araya membawa keluar kursi kayu miliknya, meletakannya di pinggir beranda. Tiga. Ia menyalakan lampu kamarnya. Satu. Ia mulai merapikan tempat tidurnya. Meletakkan bantal-bantal di posisi yang seharusnya. Delapan. Ia mengambil wadah coklat m&m-nya, menaburkan isinya ke meja. Menyusun coklat-coklat itu membentuk senyum. Terlalu manis untuk seorang yang mau pergi mati kan? Araya tersenyum. Wajahnya pias.  Dua. Araya bangkit dan berjalan menuju beranda. Empat. Kakinya gugup menaiki bangku. Tujuh. Araya membaui udara. Aroma khas yang tak kan diingatnya lagi setelah ini. Nol.
-
-
-
gambar diambil secara acak di google
gambar diambil secara acak di google
_______________________________________________________
2:58
Aria

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak