Masih tengah malam. Araya terbangun lagi.
Ini bukan kali pertama ia terjaga pukul satu pagi. Untuk beberapa lama
waktu yang lalu, ketika ia baru saja ditinggal Sang Kekasih, Araya
selalu terjaga dari tidurnya. Tergeragap memeriksa ponsel, berharap ada
kabar yang dibawa dari kekasihnya. Ralat. Mantan kekasihnya. Namun tak
ada.Tak kan pernah ada lagi.
Gilang adalah lelaki yang menyita jam
tidurnya. Lelaki bermata sendu namun dengan binar mata cahaya
kunang-kunang. Lelaki pemberani yang menghasutnya untuk merambah jalan
penuh duri. Sebaliknya, Araya adalah perempuan sepi. Si pendiam yang
menutupi dirinya dengan celoteh. Baik, bahkan memperlakukan beberapa
orang secara khusus. Ketika jalan hidup mereka bersilangan, Araya
merasakan dirinya dilahirkan untuk kedua kalinya. Ia merasa hidup.
Bernafas. Tertawa. Lalu lebih banyak air mata.
Pria itu meninggalkannya setelah sukses
memenangkan taruhan. Taruhan busuk yang memangkas masa depan Araya. Masa
depan yang pernah dijanjikannya di atas tempat tidur. Betapa sial.
Namun alasannya terbangun bukan karna pria itu. Sudah sejak lama
tidurnya tak pernah lelap sebab suara-suara yang berdengung di kepalanya
makin nyaring dan nyalang. Meminta perhatiannya untuk didengarkan.
Araya bangkit dari kasur langsung menuju
beranda kamar kosnya. Langit sama lengangnya dengan jalanan. Ia berdiri
di tepi beranda, matanya menerawang kegelapan.
Sudah dua bulan ia pindah dari naungan
rumahnya yang hangat (tentu kalau pertengkarannya dengan Sang Ibu tidak
pernah terjadi). Hari itu, ketika ibunya bertanya untuk kesekian kalinya
soal kuliahnya yang putus di tengah jalan, Araya jengah. Ia berteriak
kalap. Sesumbar bahwa ia akan angkat kaki dari rumah dan menentukan
jalan hidupnya sendiri tanpa perlu ada seorang pun yang mengusik
mencampuri urusannya.
Araya memeluk dirinya, Lututnya terasa
gemetar. Selalu setiap mengingat kejadian itu. Lalu suara-suara akan
gaduh, memenuhi setiap sudut kepalanya.
Jangan salah paham, Araya, ibu ngomong seperti itu karna ibu sayang sama kamu. Ibu nggak mau kamu salah langkah. Salah sedikit saja, bisa merusak segalanya. Kamu paham kan?
Araya tahu. Dia mengerti. Ia marah buka
karna Sang Ibu tetapi ia marah pada dirinya sendiri. Ia sudah salah
langkah jauh sebelum ibunya memperingati. Ia pergi semata tak ingin
menyeret ibunya dalam penderitaannya.
Dalam satu pohon, pasti ada satu buah yang busuk. Dan
Araya adalah buah busuk dalam keluarganya. Seolah kesialan selalu
menaungi kepalanya. Seolah kesedihan hanya berjarak beberapa inci dari
kakinya.
Araya ingat, suatu hari beberapa temannya pernah berkata.
“Lihat, Araya memiliki tahi lalat tepat di bawah mata.”
Enam pasang mata di sekitarnya langsung
menatap wajahnya. Araya tak paham apa-apa mengenai tahi lalat tetapi
mengerti kengerian yang dipancarkan wajah ketiga temannya.
“Araya,kamu tahu apa artinya tahi lalat di bawah mata?”
Araya menggeleng. Ia memang tidak paham.
“Astaga Araya….” Seorang temannya yang lain memandangnya iba.
“Tahi lalat tepat di bawah mata, Araya,
artiya….” Semua dari kami menoleh pada si Empunya suara. Seketika
kecemasan melandaku. Meremas jantungku. “Artinya kesedihan abandi.
Hidupmu akan dipenuhi air mata.” si Empunya suara memeluknya yang
langsung diikuti beberapa temannya yang lain.
Waktu itu Araya masih duduk di sekolah
menengah pertama. Entah temannya mendapat kabar dari mana mengenai
posisi tahi lalat dan pengaruhnya terhadap hidup seseorang. Araya
merasakan jatungnya mencelos waktu itu meski tak sepenuhnya mengerti.
Setelah sepuluh tahun berlalu, Araya kini membuktikan sendiri perkataan temannya itu.
_____________________________________
Angin dingin berembus lebih kencang di
lantai tiga. Dingin menyentuh kulit wajahnya yang coklat. Araya masih
berdiri mematung di beranda. Gelap tak mewartakan apa-apa padanya. Dini
hari. Waktu paling sunyi. Suara-suara menderas dalam kepalanya.
Suara-suara yang menuntunkannya kepada pekat yang lebih gelap dari
malam. Suara-suara yang mengajaknya untuk pergi lebih jauh. Suara-suara
yang dikiranya mampu mematahkan kutukan kesedihan abadi dari matanya.
Suara-suara yang menginginkannya mati. Suara-suara dari dalam kepalanya.
Araya menghitung angka-angka secara
acak, Lima. Ia membuka kedua daun pintu beranda, Sembilan. Araya membawa
keluar kursi kayu miliknya, meletakannya di pinggir beranda. Tiga. Ia
menyalakan lampu kamarnya. Satu. Ia mulai merapikan tempat tidurnya.
Meletakkan bantal-bantal di posisi yang seharusnya. Delapan. Ia
mengambil wadah coklat m&m-nya, menaburkan isinya ke meja. Menyusun
coklat-coklat itu membentuk senyum. Terlalu manis untuk seorang yang mau
pergi mati kan? Araya tersenyum. Wajahnya pias. Dua. Araya bangkit dan
berjalan menuju beranda. Empat. Kakinya gugup menaiki bangku. Tujuh.
Araya membaui udara. Aroma khas yang tak kan diingatnya lagi setelah
ini. Nol.
-
-
-
_______________________________________________________2:58
Aria
0 comments