“Mbel, menurut lu apa yang sebenarnya kita lakukan di dalam hidup? Menjalani takdir atau menuliskan takdir?”
Aku tertegun sejenak mencermati kata-kata
yang baru saja aku katakan. Entah kenapa tiba-tiba kata-kata itu keluar
dari mulutku ketika aku dan gembel sedang asik ngobrol -yang tentu saja
diselingi curhat-curhat tersembunyi- sembari menyeruput beberapa
cangkir kopi. Iya, beberapa. Karena kopi yang sedang aku seruput
sekarang ini adalah kopi hitam gelas ketiga dalam rentang waktu satu jam
ini.
“Lu sehat kan, dji? Ga gara-gara kebanyakan minum kopi?”, katanya heran.
“Sehat kok. Gue lagi penasaran aja. Jadi gimana menurut lu?”
“Kalo gue bilang sih kita menjalani takdir. Takdir kan udah tertulis.”
“Kalau memang takdir itu udah tertulis
dan kita hanya menjalaninya, apa artinya pilihan-pilihan hidup yang kita
miliki? Apa itu hanya sebuah halusinasi agar kita merasa bahwa kita
memiliki kendali di dalam hidup?”
“Maksudnya? Memiliki kendali gimana?”
“Hm.. contoh gampangnya kayak gini. Lu tahu kenapa kita mengenal sesuatu yang bernama jam?”
“Biar kita tahu waktu.”
“Setengah bener kalau gue bilang. Waktu
itu emang nyata. Tapi jam itu sebenarnya ga ada. Jam itu cuma sebuah
manifesto ego manusia yang berusaha memiliki kendali atas segala hal.”
“Bener juga sih. Manusia emang punya ego
buat ngendaliin segala sesuatu. Terus masalah menjalankan dan menuliskan
takdir tadi, kenapa lu bisa mikir kayak gitu, dji?”
“Ya karena apa yang gue bilang tadi.
Kalau takdir kita sudah dituliskan, lantas buat apa pilihan-pilihan yang
kita miliki? Ketika kita memilih, bukannya itu berarti kita sedang
menuliskan takdir? Bahkan Allah juga berkata tidak akan merubah suatu
kaum kalau mereka sendiri tidak merubahnya. Itu berarti usaha kita bisa
merubah takdir kan? Padahal kalau benar takdir itu sudah tertulis ya
bukannya dia harusnya ga bisa berubah?”
Gembel, salah seorang sahabat tempat aku bisa leluasa berbagi pikiran, tiba-tiba diam ketika aku selesai berkata seperti itu.
—————————————————————-
“Terus abis itu gimana lagi, kak?”, Citra bertanya.
“Ga gimana-gimana lagi. Stop aja sampe di
situ. Aku pas itu juga ga tau sih kenapa aku bisa punya pikiran kayak
gitu. Mendadak muncul aja di kepalaku pas lagi ngopi-ngopi sama dia.
Kayaknya bener deh kata dia. Aku kebanyakan minum kopi pas itu.”
“Hahaha atuhlah kamu, Kak. Makanya jangan kebanyakan minum kopi. Hahaha.”
“Pas itu emang lagi banyak pikiran sih. Hehehe. Eh tapi kalo menurutmu sendiri gimana?”
“Menurutku gimana maksudnya, Kak?”
“Soal yang tadi. Menjalani atau menuliskan takdir?”
“Kalo aku bilang sih menjalani takdir.”
“Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu?”
“Hm gimana ya.. kalau aku bilang sih
kayak gini. Tentang Allah tidak akan merubah suatu kaum kalau kaum itu
tidak berusaha, aku bilang itu merupakan suatu kondisi if..else di
sebuah perulangan. Jadi kalau kaum itu tidak berubah sendiri, dia akan
berhenti di tempatnya dia berada. Dan sebaliknya. Kalau dia berusaha
merubah nasibnya, dia akan masuk ke dalam kondisi else. Tapi di dalam
kondisi else itu akan selalu ada if..else yang lain yang akan berujung
ke akhir yang berbeda. Dan begitulah seterusnya.”
Dan sekarang, giliran aku yang terdiam ketika aku mendengar kata-kata dari Citra.
0 comments