Mungkin kau belum pernah melihat aku sekacau ini, tapi yakinlah ini
bukan kali pertama, kedua atau ketiga, ini adalah sesuatu yang
berkali-kali aku alami, dulu dia yang sebelummu sudah mengetahui betul
perangaiku. Aku lebih suka menikmati daging itu segar-segar, dari pada
martabak telur petak kecil yang tidak pernah bisa aku sukai, bodohnya
kau, kau selalu memberi aku makanan yang kau sukai tanpa peduli aku
menikmatinya atau tidak.
Pagi ini, sialnya kau membiarkan aku sangat kacau, aku bermalas-malasan seharian sebagai simpanan yang selalu kau banggakan di depan teman-temanmu yang bermata sama cabul denganmu setiap memandangku, aku tahu kalian lelaki berbirahi binatang yang tidak akan puas walau kepuasan di bumi ini habis. Aku bermondar mandir berharap kau menuruti mau ku. Aku memandang-mandang ke arahmu, tapi kau sedang sibuk berbincang dengan rekan-rekan bisnismu itu. Memuakkan!. Harusnya kau tahu aku sudah lapar dan jenuh menunggumu, botak gemuk.
***
"Dia cantik bukan?", lelaki berperut buncit dengan kepala yang hampir botak, ya kau. Berbicara pada temanmu yang lagi-lagi memandangi aku dengan nafsu binatangnya.
"Sangat cantik, apa aku bisa menyentuhnya?"
"Tidak, dia hanya milikku..hahaha", kau tergelak puas. Aku jijik. Kau tau aku selalu mandi setiap kau selesai menyentuhku, setiap aku selesai memenuhi semua kepuasanmu. Bahkan jika bisa aku mandi setiap satu sentuhanmu mendarat di tubuhku, akan aku lakukan.
"Kau yakin tidak apa-apa menyimpannya di sini? Bagaimana jika istri dan anakmu tiba-tiba kembali dari luar negeri dan mendapatinya di sini"
"Biarlah, aku mencintainya, aku sangat senang melihatnya di rumahku. Menemani aku, walau terkadang perangainya tak menentu. Aku rasa dia bosan jadi simpanan"
"Hahahaha, bahkan macan betina pun tak rela dimadu, apalagi wanita-wanita kita"
"Hahahahaha, kau benar"
***
Tawa kalian mengelegar, dan aku semakin bosan. Ah menjijikan. Lelaki-lelaki tua cabul, jika aku punya kesempatan menumbuhkan taring dan cakarku lain waktu, akan kucabik-cabik daging segarmu lalu kusisakan sedikit daging untuk istrimu, agar dia bisa membuat martabak telur dan mengunyahmu juga karena telah menduakannya.
Pagi ini, sialnya kau membiarkan aku sangat kacau, aku bermalas-malasan seharian sebagai simpanan yang selalu kau banggakan di depan teman-temanmu yang bermata sama cabul denganmu setiap memandangku, aku tahu kalian lelaki berbirahi binatang yang tidak akan puas walau kepuasan di bumi ini habis. Aku bermondar mandir berharap kau menuruti mau ku. Aku memandang-mandang ke arahmu, tapi kau sedang sibuk berbincang dengan rekan-rekan bisnismu itu. Memuakkan!. Harusnya kau tahu aku sudah lapar dan jenuh menunggumu, botak gemuk.
***
"Dia cantik bukan?", lelaki berperut buncit dengan kepala yang hampir botak, ya kau. Berbicara pada temanmu yang lagi-lagi memandangi aku dengan nafsu binatangnya.
"Sangat cantik, apa aku bisa menyentuhnya?"
"Tidak, dia hanya milikku..hahaha", kau tergelak puas. Aku jijik. Kau tau aku selalu mandi setiap kau selesai menyentuhku, setiap aku selesai memenuhi semua kepuasanmu. Bahkan jika bisa aku mandi setiap satu sentuhanmu mendarat di tubuhku, akan aku lakukan.
"Kau yakin tidak apa-apa menyimpannya di sini? Bagaimana jika istri dan anakmu tiba-tiba kembali dari luar negeri dan mendapatinya di sini"
"Biarlah, aku mencintainya, aku sangat senang melihatnya di rumahku. Menemani aku, walau terkadang perangainya tak menentu. Aku rasa dia bosan jadi simpanan"
"Hahahaha, bahkan macan betina pun tak rela dimadu, apalagi wanita-wanita kita"
"Hahahahaha, kau benar"
***
Tawa kalian mengelegar, dan aku semakin bosan. Ah menjijikan. Lelaki-lelaki tua cabul, jika aku punya kesempatan menumbuhkan taring dan cakarku lain waktu, akan kucabik-cabik daging segarmu lalu kusisakan sedikit daging untuk istrimu, agar dia bisa membuat martabak telur dan mengunyahmu juga karena telah menduakannya.
Ps: wahai lelaki-lelaki di seluruh penjuru bumi, jangan coba-coba memadu
wanita-wanitamu kalau ndak pengen jadi martabak telor. ( ˘˘̯)
0 comments