#06 Martabak Telur Cikiewahab

Kamisan S2 #6 - Martabak Telur: Apa Rasanya?

14.17Unknown

Setelah satu menit ia terpaku menatap bungkusan plastik dalam laci mejanya, Nadia mengangkat wajah dan mendengarkan Kembang Koli bicara.
“Kau membawa makanan? Aku bisa menciumnya dari mejaku.”
“Oh kau ini. Apa hanya makanan saja yang bisa kau cium? Aku memang bawa makanan tapi bukan untukmu.”
“Hahaha. Aku tahu itu untuk Mas Roji, bukan?”
“Hush.” Nadia geram. Ia pikir perkataan Kembang Koli agak lancang. Tak seorangpun bisa memastikan perasaannya dan ikut campur dalam beberapa hal pribadi. Ia mengalihkan tatapannya pada Malika dan Mas Roji yang kembali masuk ruangan.
“Sudah. Jangan minta maaf padaku.” Malika mengomentari tatapan memelas sahabatnya itu. Meskipun ia tahu Nadia tengah linglung dengan perasaannya sendiri sehingga tidak bisa memenuhi undangan kantor. Nadia sekali lagi membuka bungkusan dan berbisik pada Malika yang ada di sebelah mejanya.
“Kau mau martabak telur?”
Malika menoleh dan mendekat. Mulanya Malika mencoba meneliti isi bungkusan, kemudian ia ambil satu iris martabak itu. “Sudah dingin. Kapan kau memasak ini, Nad?”
“Tentu saja sebelum aku berangkat bekerja.” Dengan hati-hati Nadia menaruh martabak telur ke atas piring. Dan menawari Kembang Koli.
“Kau sungguh memberiku? Kau tidak menaruh racun di dalamnya bukan?”
“Aisshh. Simpan pertanyaan bodohmu itu. Dan berhati-hatilah dengan berat badanmu”
Kembang Koli terkekeh dan melantunkan lagu dan ia langsung menyapa Mas Roji. “Apa kau suka martabak telur, Mas? Perempuan itu memberikannya untuk kita.”
Mas Roji menghentikan pekerjaan di depan layar komputernya. Ia juga mendekati meja Nadia dan dengan rasa penasaran mencicipi makanan itu. Mas Roji lelaki yang tampan. Tapi tak seorangpun bisa mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.
“Bertahun-tahun aku makan martabak telor dan ini lumayan enak, Nad,” ucapnya sambil kembali ke kursinya.
“Holllaaa!!” teriak Kembang Koli membuat Nadia tersipu malu. Malika ikut tertawa sambil menulis di sebuah kertas dengan spidol, dan ia pampang kertas itu di kepala agar Nadia membacanya.
“Oh Tuhan. Benarkah yang kau katakan itu, Malika? Pantas saja si Koli hanya makan sedikit. Oh tidak. Mas Roji, maafkan aku. Itu….”
“Tidak apa-apa, Nadia. Kau sudah berusaha membuatnya. Aku pikir kau membuatnya sambil mengantuk,” jawab Mas Roji.
Malika dan Kembang Koli sekali lagi tertawa lebar.
Nadia percaya pada satu hal selain perkataan Malika, bahwa ia tidak berbakat memasak. Apalagi memasak martabak telur kesukaan Mas Roji, sehingga rasa asin menyelimuti lidah mereka semua. Mas Roji meminta Malika membuatkan kopi untuk menghilangkan garam di lidahnya. Sekali lagi, Nadia kecewa karena gagal membuat lelaki idamannya terpesona. Ia mencoba mengingat kejadian tadi pagi sebelum membuat martabak. Ya, barangkali karena mengantuk atau terlalu bersemangat ia putuskan menambah garam sehingga keasinan dan sialnya ia tidak mencoba mencicipi makanan itu terlebih dahulu.
“Lain kali aku akan buat martabak telur yang lebih enak. Aku janji,” katanya dengan mata berkaca-kaca.***

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak