"Ikut gue yuk!" Brian tiba-tiba menggamit lengan Arya yang sedang
memainkan ponselnya. Mereka menuju halaman depan dan Brian menaiki
motornya.
"Mau ke mana, Bri?" tanya Arya heran. Sudah pukul sepuluh malam, mau ke mana si Brian ini, pikirnya.
"Udah ikut aja. Helm dong!" perintah Brian pada Arya. Arya menurut dan motor pun keluar dari halaman rumah Arya, melaju melewati deretan rumah lalu keluar dari kompleks perumahan itu.
"Mau ke mana, Bri?" tanya Arya heran. Sudah pukul sepuluh malam, mau ke mana si Brian ini, pikirnya.
"Udah ikut aja. Helm dong!" perintah Brian pada Arya. Arya menurut dan motor pun keluar dari halaman rumah Arya, melaju melewati deretan rumah lalu keluar dari kompleks perumahan itu.
***
"Pak, martabak telornya satu ya, sama martabak
kejunya satu." pesan seorang perempuan kepada penjual martabak telor di
depan sebuah ruko.
Di sana ada beberapa pembeli yang tengah antri menunggu martabaknya matang.
Ada dua orang perempuan, yang sepertinya adalah ibu dan anak, dan ada seorang bapak-bapak paruh baya.
Di tembok ruko, ada seorang pemuda menyandarkan punggung, menunggu pesanan juga sepertinya.
"Kamu pesan apa aja, Kik?" Rana bertanya sambil menggeser sebuah kursi
plastik berwarna biru ke arah Kika untuk dipakainya duduk.
"Dua aja, telor sama keju." Kika duduk menghadap Rana. Ia mengeluarkan
ponsel dan melihat ada pesan di sana. Kika membuka pesan yang masuk di inbox-nya itu.
Dari : Brian Aditya
+6289565787xxx
Aku lagi main PS di tempat Arya. Kamu lagi di mana, Kik?
Ah, Brian rupanya. Kika pun memencet layarnya untuk membalas pesan dari Brian.
To: Brian Aditya
+6289565787xxx
Lagi beli martabak di martabak 99.
Sent.
setelah membalas pesan dari Brian, Kika memasukkan ponselnya di saku jaket. Lalu kembali menunggu pesanan martabaknya.
***
"Kita mau ke mana sih, Bri?" tanya Arya yang duduk di jok belakang motor Brian. Dengan terpaksa dan bloon, Arya menurut untuk menemani Brian, entah ke mana.
"Ke Jalan Ahmad Dahlan"
"Hah? Ngapain?"
"Udah gak usah bawel."
"Lo nggak salah? Jauh men! Ngapain sih, udah malem juga. Mending PS-an."
"Udah diem deh."
Brian mempercepat laju motornya, takut apa yang ia kejar tak sampai.
***
Motor Brian sampai di depan sebuah gerobak berwarna biru usang.
Cat-catnya sudah mulai mengelupas. Tapi para pembeli masih ramai. Dan di
sanalah ia, perempuan cantik itu, duduk bersama seorang perempuan lain.
"Pak, martabak telornya satu ya. Dibungkus. Nggak pake lama, hehe."
Brian turun dari motor setelah menyuruh Arya untuk memesan satu martabak telor.
"Kika?"
"Loh Brian, kok kamu di sini?" perempuan yang dipanggil itu pun menoleh dan menjawab heran.
"Aku beli martabak, kamu ngapain di sini?" Brian tersenyum. Bahagia bisa
melihat perempuan di depannya itu. Arya hanya menggeleng di kursinya.
"Aku juga, kan aku udah bilang di sms tadi."
"Oh, aku belum baca smsmu, hehe. Kelaperan tadi, akhirnya ke sini deh."
"Oooohhh...." Kika hanya mengangguk. Ia menoleh ke Arya, lalu tersenyum.
"Rumahmu deket sini, Ar?"
Arya yang tidak sadar situasi tergagap. Dia salah tingkah.
"Ah, ehm...itu...lumayan sih. Nggak jauh-jauh amat kok." jawab Arya masih dengan salah tingkahnya.
Kika hanya mengangguk-angguk. Brian tak lepas menatap Kika. Malam ini,
dia bahagia, karena bisa bertemu dengan perempuannya. Dan Brian
bersyukur Kika sudah tidak semarah beberapa hari yang lalu.
Mungkin ini tak berarti apa-apa bagimu, namun bagiku, pertemuan ini
seperti martabak telor di penggorengan itu. Jika tak segera diangkat,
akan hangus. ucap Brian dalam hati.
0 comments