#06 Martabak Telur
Minggu 6
Kamisan S2 #6 - Martabak Telur: Martabak Telor yang Dibawanya Pulang Pada Sabtu Malam
14.21Unknown
Seperti yang sudah-sudah, ketika saya tidak membawa mantel, hujan
turun. Meski tidak selalu seperti itu, tapi sore ini memang begitu.
Beruntung, ini baru setengah jam dari jam masuk saya, berarti masih ada
tujuh setengah jam lagi saya mesti berada di tempat ini. Dan seperti
hari-hari yang lalu, hari ini pun tidak ada pekerjaan berarti--selain
pekerjaan remeh-temeh demi menghabiskan waktu.
Setelah jam istirahat berakhir, seorang senior, yang juga memiliki
posisi cukup penting dalam organisasi buruh di tempat saya bekerja,
mengumpulkan kami, mengatakan bahwa besok akan ada bentuk solidaritas
sesama buruh terkait tutupnya sebuah pabrik, yang letaknya tidak jauh
dari tempat kami bekerja, secara mendadak. Singkatnya, besok kami
diharapkan "menengok" saudara kami yang sedang kepayahan itu. Tidak
masalah. Itu hanya berarti saya harus menyusun ulang rencana. Awalnya,
saya berniat menulis #kamisan hari besok. Dan, karena sepertinya hal itu
sulit dilakukan, maka saya putuskan untuk menuliskanya malam ini.
***
Apa yang sebaiknya saya tuliskan?
Itu adalah hal yang pertama kali terlintas sesaat setelah Oom Pipo
melempar tema; Martabak Telor. Saya sebenarnya berharap bahwa tema
#kamisan kali ini adalah reinkarnasi--seperti yang pertama kali
disebutkannya, tapi kemudian ... kenyataan berkata lain.
Martabak telor. Membaca dua kata itu, saya teringat tema #kamisan
musim pertama; telor dadar. Dan karena ingatan itulah, mendadak saya
ingin kembali membaca tulisan saya yang satu itu. Dan saya betulan
terkejut; tulisan saya benar-benar buruk! Jika Hemingway mengatakan
bahwa draf pertama adalah sampah, maka tulisan yang sudah saya sebar itu
lebih buruk daripada sampah, dan lebih buruk lagi, saya berani
membaginya pada dunia.
Tapi sudahlah. Itu tak ada sangkut pautnya dengan apa yang seharusnya saya tulis.
Kembali soal martabak telor. Selain memancing ingatan saya kepada
telor dadar, nyatanya martabak telor juga memancing ingatan saya kepada
hal yang lain.
Itu terjadi beberapa tahun silam, ketika saya masih terlalu muda untuk tahu betapa horrornya malam Minggu.
"Mas, itu apa?" Saya bertanya kepada Abang saya yang nomor dua,
sambil jari telunjuk kanan saya menunjuk bungkusan kresek hitam yang
dibawanya.
Alih-alih menjawab, Abang saya itu hanya tersenyum lesu dan meletakan
bungkusan yang dibawanya itu ke depan saya, lantas membukanya.
"Martabak telor. Belum pernah makan, kan? Nih, makan!"
Tentu saja belum. Saya sering mendengar makanan itu, tapi baru kali itu saya melihat bentuknya.
(Kalian tentu sudah tahu bentuknya, dan malah sudah orang yang lain,
pada blog lain, yang memperlihatkan bagaimana rupanya, juga memberi tahu
resep untuk membuatnya. Dan karena itulah, rasanya saya tidak perlu
menggambarkannya kepada kalian lewat kata-kata).
Setelah berkata demikian, Abang saya itu berdiri dan masuk ke dalam kamar.
"Loh, Mas enggak mau makan?"
"Buat kamu aja. Jangan dihabisin. Sisain buat Bapak sama Ibu,"
katanya, tanpa melihat ke arah saya. Pintu kamarnya ditutup dari dalam.
Untuk beberapa saat, saya hanya memandang pintu kamar bercat hijau
itu, dan sebelum sempat saya memikirkan apa pun, aroma martabak telor
itu telah membuat cacing dalam perut saya merengek-rengek.
**
"Assalamu'alaikum."
Salam dan ketukan pada pintu, membuat saya beranjak dengan malas dari
depan televisi. Saya membalas salamnya, lantas membuka pintu.
Mbak Nina--begitu saya memanggil pacar Abang saya ketika itu--berdiri dengan kedua tangan tertaut di depan perut, tersenyum.
"Jati, Abang kamu ada?"
"Abang lagi main. Enggak tahu ke mana."
"Oh." Itu saja, dan raut wajahnya seketika berubah lesu.
"Mbak masuk saja dulu. Biar saya cari sebentar. Palingan lagi main di rumah Mas Mami."
"Eh, udah enggak usah. Nanti tolong bilangin sama Abang kamu aja, kalau Mbak ke sini.
"Ya udah, ya. Mbak permisi dulu. Assalamu'alaikum."
**
"Mas, tadi Mbak Nina ke sini."
Abang saya, yang baru saja pulang, menoleh dan hanya menjawab pendek.
"Oh." Dan selanjutnya, ia masuk ke dalam kamar. Tidak lama kemudian, ia
keluar lagi, dan kemudian pergi.
**
Sebulan kemudian, Mbak Nina menikah dengan seseorang yang sama sekali
tidak saya kenal. Abang sedang berada di kota lain ketika itu terjadi.
0 comments