Baru jam 7 ternyata, batinku sambil
melirik jam tangan yang ada di pergelangan tanganku. Di depanku, Citra
lagi asik bercerita tentang kantor barunya sambil melirik menu. Sudah
setengah jam dia berceloteh dengan semangat tentang kantor baru tempat
di mana dia bekerja sekarang. Dan sudah setengah jam pula pelayan yang
ada di belakangnya menunggu pesanan kami berdua.
“Cit, aku mau bertanya tentang sesuatu.”
“Hah? Apa, Kak?”
“Kamu suka menunggu?”
“Dalam artian apa dulu nih?”
“Hm.. Gimana kalau soal jodoh?”
“Aku jujur sih lebih suka buat menunggu.
Mengejar itu melelahkan. Lebih baik aku menunggu sambil membenahi diri
sendiri dan membiarkan mereka yang tertarik untuk mendekat.”
“Oh gitu.. Pantes aja..”
“Pantes gimana maksudnya, Kak?”
“Pantes aja pelayan yang ada di belakang kamu itu disuruh nunggu pesenan kita sampe lama banget.”, aku nyengir.
“Loh? Oh iya. Aduh, maaf Mas. Saya keasikan cerita tadi. Hahaha.”
“Iya, Mbak. Ga masalah kok.”, kata si pelayan sambil mesem-mesem.
“Yaudah saya mesen chesstard pancake sama choco latte aja. Kamu mau mesen apa kak?”
“Aku hot supreme choco aja.”
“Loh kamu ga makan? Kamu belum makan dari tadi siang kan Kak?”
“Ga usah. Aku ga laper juga kok.”
“Eh ga boleh gitu. Laper ga laper kamu
harus makan. Yaudah Mas. Kami mesen chesstard pancake sama choco latte,
terus hot supreme choco, nasi goreng, sama aqua ga dingin.”
“Oke, Mbak. Saya ulangi pesanannya ya.
…..” Aku tidak lagi memperhatikan ucapan si pelayan karena asik
memperhatikan Citra yang sedang memesan makanan.
“Ih, ngapain sih kamu Kak? Ngeliatinnya gitu banget?”
“Gapapa. Asik aja ngeliatin kamu gitu.” aku kembali nyengir.
“Aku ga suka loh diliatin kayak gitu.” kata dia sambil cemberut.
“Iya iya, aku tau kok. Hehehe. Tapi tetep, enak aja ngeliatin mukamu itu.” kataku sambil tersenyum.
“Kan, mulai kan isengnya. Getok nih!”
Aku tertawa. Selalu menyenangkan melihat
dia tersipu malu seperti ini. Beruntung baginya penerangan di cafe
tempat kami makan saat ini cenderung temaram. Jadi rona merah yang ada
di wajahnya yang putih itu tidak terlalu kelihatan.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku
merogoh saku celana milikku, dan mencari uang seribuan yang memang
sengaja telah aku persiapkan.
“Cit, aku mau nanya lagi.” Aku bertanya sambil tanganku sibuk melipat uang seribuan yang aku miliki.
“Apa lagi, Kak?”
Aku terdiam sejenak sambil terus melipat
uang seribuan itu. Ketika kertas yang sedang aku lipat sudah hampir
menunjukkan bentuk aslinya, aku kembali melanjutkan perkataanku.
“Aku mau serius sama kamu. Gimana menurut kamu?”
Aku memandang matanya sambil mengangkat
uang seribuan yang saat ini sudah berubah bentuk menjadi sebuah cincin
kertas. Dia tertegun sejenak. Kesejenakan yang ternyata sanggup
membuatku merasa bahwa pada saat itu, waktu pasti berhenti berputar.
Waktu memang sesuatu hal yang ajaib. Dia
memiliki banyak dimensi. Dimensi-dimensi yang hanya diketahui oleh
mereka yang sedang mengalami sebuah kejadian. Bagi orang lain yang tidak
sedang berada di dalam dimensi itu, waktu berputar seperti biasa. Tapi
bagi mereka yang sedang di dalam dimensi itu, waktu bisa berputar sangat
lambat atau sangat cepat. Tergantung kejadian yang sedang mereka alami.
“Kamu yakin, Kak?” katanya setelah beberapa saat terdiam.
Aku tersenyum dan menjawab, “Aku yakin.”
“Boleh aku bertanya alasannya?”
“Karena kamu orang yang tepat.”
“Hanya itu?”
“Aku tidak ingin memberikan alasan lebih
dari itu. Aku takut kalau aku memberikan alasan lain, alasan-alasan itu
akan memudar seiringnya berjalannya waktu.”
Citra kembali terdiam. Tak lama kemudian
dia mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum
ketika melihat senyuman itu. Tidak lama kemudian, cincin yang ada di
tanganku telah menghiasi jari tengah miliknya.
“Jadi, kita putuskan tanggal ini sebagai hari jadi kita?”
“Eh, ga mau. Aku ga mau ada tanggal jadi tanggal jadian. Kayak ABG ga jelas aja kamu ah Kak.”
“Loh emang kamu belum tahu?”
“Belum tahu apa?”
“Akan selalu ada kenorakan-kenorakan yang
bakal bikin orang lain ngomong ‘apaan sih?’ ketika kita jatuh cinta.”
Aku mengerling sambil memasang muka tengil.
“Siram nih!”
“Eh iya iya ga lagi lagi deh. Hahaha.” Kataku sambil tertawa.
Tidak lama kemudian, makanan yang kami
pesan datang. Tidak seperti biasanya, sesi makan malam kali ini kami
lebih banyak diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya aku
kurang nyaman dengan hal seperti ini. Tapi aku berusaha memberikan Citra
waktu untuk mencermati apa yang telah terjadi malam ini.
“Nanti cari tukang martabak dulu ya? Aku
mau beliin papah sama mamah martabak telur.”, kataku ketika kami sedang
berjalan menuju parkiran motor yang memang letaknya agak jauh dari cafe
tempat kami makan tadi.
“Hah? Ga usah. Apa-apaan sih kamu, Kak? Kayak apa aja mau beliin oleh-oleh buat orang rumah.”, katanya sambil tertawa.
“Loh aku serius ini. Agak old school sih
emang. Tapi cara lama emang yang paling bagus sih menurutku. Banyak
tersimpan kearifan lokal di cara-cara lama itu.”
“Ng kata-katamu barusan mau aku halah-in aja apa aku apaan sih-in?”
“Kalau diliat dari definisi halah sama
apaan sih punya kamu, mending di halah-in aja deh. Seenggaknya aku tahu
kalau halah punya kamu itu tanda kalau kamu bukan ilfil.”
“Ish..” katanya tersenyum sambil mencubit lenganku.
Aku tertawa sambil mengacak-acak rambutnya.
0 comments