#06 Martabak Telur Minggu 6

Kamisan S2 #6 - Martabak Telur: Martabak Telur untuk Semesta

14.02Unknown

“Kamu yakin?” tanyaku memastikan.

Enga menganggukan kepalanya, berlagak seolah dia sudah mantap dengan apa yang akan dilakukan, padahal aku bisa tahu adanya keraguan dari kernyitan di wajah itu. 

“Kamu tahu kan, kamu enggak harus lakuin itu?” 
“Iya, saya tahu.” Enga sama sekali tidak mengalihkan matanya yang mulai berkaca-kaca. Fokusnya terus pada kedua tangan yang sibuk mengiris bawang bombay.
“Kamu mau aku bantuin?” Kuambil sebatang daun bawang dan mengibaskannya seolah kipas. Enga mengeleng pelan, menjatuhkan airmata yang terbendung ke pipi kanannya. Spontan saja aku mengusap airmata itu. Enga terperanjat karena sentuhanku.
“Semesta! Jangan jahil, saya lagi pegang pisau,” jeritnya memiringkan kepala menghindari sentuhanku. Wajah Enga langsung merona. 

Aku jadi teringat kejadian dua hari lalu. Enga tiba-tiba tanya apa yang sedang ingin aku makan saat itu. Asal saja kujawab, “Aku kangen makan martabak telur buatan Almarhum Ibu.” Aku sama sekali tidak menyangka kalau Enga ingin membuatnya. Aku bahkan tak pernah berharap dia bisa membuat atau memasak martabak telur. 

Pagi tadi Enga datang dengan sekantung belanjaan dan langsung meminta izin untuk meminjam dapur. Aku yang baru bangun tergagap saat dia tidak berhenti tanya di mana letak mangkuk, piring, ini dan itu. Hampir saja dirinya ingin mengambil tevlon dari rumah hanya karena aku terlalu lama menjawab pertanyaannya.

Enga meminta daun bawang yang masih kumainkan. Dicucinya sekali lagi, lalu mulai diiris kecil-kecil, setelah itu semua bahan yang dari tadi diirisnya dicampurkan dalam telur, baru kemudian ia mengocoknya agar tercampur rata. Aku kagum melihat betapa cekatan Enga dalam mengolah bahan-bahan ini. 

Terlintas pikiran di kepala: kalau nanti kami punya anak, aku bisa bernapas lega karena pasti Enga bisa memasakan makanan yang sehat untuk mereka. Aku langsung menggelengkan kepala, mengembalikan khayal pada realita. Hubungan kami baru berjalan dua minggu, belum waktunya aku memikirkan hal-hal tentang memperistri Enga. Atau sudah?

Enga tiba-tiba terdiam. Matanya tajam menatapku. “Kenapa?” tanyaku heran. Enga langsung menundukkan kepala. 

“Sa—saya tidak bisa buat adonan kulit martabaknya,” Enga terbata. Tangan kanannya menjulur masuk ke dalam kantung belanjaan yang masih berada di atas meja tak jauh darinya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. “jadi saya beli kulit lumpia. Kata mbak penjaga toko, kulit lumpia memang biasa dipakai untuk martabak telur rumahan. Kamu tidak keberatan ‘kan kalau saya pakai kulit lumpia?”

Aku menggeleng. Enga menatapku lagi.

“Maksud gelengan kepalamu itu apa? Keberatan atau tidak? Kamu tahu saya tidak suka berasumsi.”
Sambil menyunggingkan cengiran, aku mencubit pipinya. “Enggak kok, Sayang, aku enggak keberatan sama kulit lumpia,” godaku. Wajah Enga kembali merona.
“Jangan jahil Esta, saya masih pegang pisau,” celetuknya beralasan padahal yang ada di tangannya itu sekantung kulit lumpia dan garpu bekas mengocok bahan isian martabak telur.
“Itu garpu loh, bukan pisau,” balasku lalu tertawa.
“Sudah jangan ganggu! Kalau kamu mau bantu, kamu siapkan minyak dan tevlonnya saja,” pintanya.

Aku menurut. Kutuangkan minyak goreng dalam telvon dan mengaduk-aduknya hanya agar aku punya sesuatu yang bisa dilakukan. Dengan cekatan dan penuh ketelitian, seolah dia memastikan setiap isian yang dimasukan untuk dibungkus kulit lumpia itu berukuran sama. Ketika minyak mulai dia rasa sudah cukup panas, satu per satu martabak mentah itu mulai digoreng. Aku tetap mengaduk-aduk sampai dia protes, katanya kalau terus diaduk nanti martabaknya akan hancur. Jadi kuberikan spatula padanya dan membiarkan dia mengambil alih. 

Rasanya cukup menyenangkan melihat dia memasak. Benar-benar menyenangkan.

Enga mengangkat martabak dan mulai menyajikannya. Aromanya benar-benar memancing air liurku banjir. Aku ingin langsung mencicipi tapi Enga minta aku bersabar sampai minyak-minyaknya tiris. Jadi aku menunggu. Enga menyiapkan acar. Memotong dadu timun dan mengiri cabai rawit lalu dicampurkan cuka. 

Ketika semuanya siap, aku langsung menyomot martabak dan menggigitnya tanpa ampun. Seketika itu juga aku langsung menyesal dan berhenti. Lidahku kebas. Bukan karena panas martabak telur buatan Enga, tapi karena rasanya yang ingatkan aku pada air laut. Terlalu asin. Entah berapa banyak garam yang dimasukan Enga pada saat mengolahnya tadi. Terlalu asin. 

“Enak?” tanyanya padaku. Ragu-ragu, aku menggelengkan kepala. Percuma berbohong karena nanti juga dia pasti makan dan tahu rasanya. 


~selesai~

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak