INDONESIA JUNGKIR BALIK
Duka-tawa; haru-malu; puji-ironi. Beragam ekspresi cinta untuk bangsa.
Inilah Indonesia dari berbagai kacamata. Antologi sepuluh tulisan
tentang Indonesia dari berbagai sisi. Pendidikan, moral budaya, sampai
hal-hal kecil dalam keseharian yang dibahas dengan gaya yang
berbeda-beda: lucu, kritis, reflektif, ironis. Indonesia dengan beragam
permasalahannya, tetapi masih menyisakan harapan untuk bangkit.
Ya, seperti yang disebutkan di atas; antologi sepuluh tulisan. Buku terbitan Noura Books pada Desember 2012 lalu ini, yang memiliki jumlah halaman sebanyak 204 halaman, merupakan kumpulan buah pikir dari para penulis yang mungkin tidak asing lagi bagi kalian. Sebut saja: Fahd Djibran, Bre Redana, Boim Lebon, Adithya Mulya, Beby Haryanti Dewi, Prie GS, Edhie Prayitno Ige, Iwoq Abqary, Muhammad Yusran Darmawan, dan Ainun Chomsun.
Membaca buku ini, saya bisa tertawa, lalu tercenung setelahnya. Bagaimana tidak? Kata-kata yang ditulis dalam buku ini, bagi saya pribadi, terasa begitu dekat dengan kehidupan. Saya ambilkan contoh:
“Di negeri ini, mencari kegembiraan mudah sekali. Hanya dengan menunda sejenak kenaikan BBM, demo besar-besaran mereda, balapan liar pecah lagi di mana-mana, geng motor merajalela, pasti menggunakan BBM bersubsidi. Jadi, apa saja keadaannya, masyarakat negeri ini tidak kehilangan modal untuk bergembira.” (Prie GS-Melihat Indonesia dari Rumah Saya)
Berapa banyak di antara kita yang setuju dengan hal itu?
“... uztad-uztad muda itu mengajari kita agar hidup seserhana dan bersabar menghadapi berbagai ujian Tuhan, tetapi kehidupan mereka kelewat megah dengan gaya hidup bagai orang kaya baru yang kesurupan.” (Fahd Djibran - Bangsa Skizofrenia dalam Layar Kaca)
Juga itu?
Pun demikian dengan tulisan-tulisan lain. Beby Haryanti Dewi, dalam tulisannya yang berjudul: Hidup Kok Serba Salah?, menuliskan hal-hal yang tidak benar. Mulai dari keamanan dan kenyamanan di angkutan umum, makanan “sampah” dari Eropa yang di Indonesia jadi produk unggulan, sampai sistem pendidikan yang membuat anak didiknya menjadi mesin penjawab soal.
Adhitya Mulya, dalam Akar Masalah Negara Ini, mengawali tulisannya dengan mengajak kita, para pembaca, untuk menjawab pertanyaan; Manusia Indonesia, Manusia yang Beragama? Yang kemudian, sebelum menjawab, kita diajak untuk membandingkan terlebih dahulu antara Indonesia dengan Swedia soal korupsi. Swedia adalah negara ketiga paling bersih dari korupsi, sementara Indonesia berada di peringkat ke-100. Betapa aneh, Swedia, yang 23% penduduknya atheis, mampu menduduki peringkat ketiga, sementara kita?
Berbeda dengan Adithya Mulya, yang mengajak kita membandingkan Indonesia dengan negara lain, Fahd Djibran mengajak kita untuk melihat Indonesia melalui program-program televisinya. Dimulai dengan program televisi yang dibuka dengan lagu Indonesia Raya, yang ia yakini tidak lebih dari 5% di antara kita yang menyaksikannya, program “siraman ruhani” yang diisi para ustaz genit dan disaksikan ibu-ibu majelis ta'lim yang lebih mirip cheerleaders, program berita yang melulu soal pembunuhan, tawuran, korupsi, aborsi, dan lain-lain sebagainya, tayangan FTV dengan pemeran yang sama setiap hari, komedi-komedi slaptick pada malam hari, yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan dan kecerdasan, dan beragam program yang membuat kita tidur lebih dalam, lebih dalam lagi, dan semakin dalam.
Lain lagi dari mereka, yang mengajak kita melihat Indonesia, Ainun Chomsun dalam #Oh, Negeriku, bahkan membuat Undang-Undang Dasar yang dipatuhi di negara yang ia sebut #Oh, Negeriku. Beberapa pasalnya:
Pasal 17. Hak setiap warga negara untuk.mendapatkan keamanan sesuai setoran.
Pasal 21. Kekuasaan kepala negara dibatasi oleh donatur dan investornya.
Pasal 28. Orang miskin dan terlantar dipelihara tetangganya atau urus diri sendiri.
Tidak hanya soal pemerintahan, soal sumbangan pun disinggung dalam buku ini. Iwok Abqory, dalam Sumbangan, Oh, Sumbangan, bercerita tentang seorang peminta sumbangan yang rajin datang ke kantornya untuk meminta bantuan. Hari ini, si peminta datang untuk meminta bantuan karena di desanya akan didirikan sebuah masjid. Di hari lain, si peminta datang dengan alasan desa temannya akan dibangun sebuah masjid.
Dan itulah, sedikit ulasan yang saya kira cukup untuk memberi gambaran tentang buku ini—cerita-cerita lain yang tidak saya sebutkan, masih berisi tentang carut-marut negeri ini. Saya memberikan rating 3,5 dari 5 untuk buku ini. Karena selain cara penulisan yang enak dibaca, isi yang membuat kita sedikit merenung, tata letak yang tidak terlihat penuh, juga adanya ilustrasi di setiap tulisan.
Sebagai penutup, saya kutip kata-kata Fahd Djibran; Untuk Indonesia sembuh: mari bergerak, mari bertindak! Selamat malam.
Ya, seperti yang disebutkan di atas; antologi sepuluh tulisan. Buku terbitan Noura Books pada Desember 2012 lalu ini, yang memiliki jumlah halaman sebanyak 204 halaman, merupakan kumpulan buah pikir dari para penulis yang mungkin tidak asing lagi bagi kalian. Sebut saja: Fahd Djibran, Bre Redana, Boim Lebon, Adithya Mulya, Beby Haryanti Dewi, Prie GS, Edhie Prayitno Ige, Iwoq Abqary, Muhammad Yusran Darmawan, dan Ainun Chomsun.
Membaca buku ini, saya bisa tertawa, lalu tercenung setelahnya. Bagaimana tidak? Kata-kata yang ditulis dalam buku ini, bagi saya pribadi, terasa begitu dekat dengan kehidupan. Saya ambilkan contoh:
“Di negeri ini, mencari kegembiraan mudah sekali. Hanya dengan menunda sejenak kenaikan BBM, demo besar-besaran mereda, balapan liar pecah lagi di mana-mana, geng motor merajalela, pasti menggunakan BBM bersubsidi. Jadi, apa saja keadaannya, masyarakat negeri ini tidak kehilangan modal untuk bergembira.” (Prie GS-Melihat Indonesia dari Rumah Saya)
Berapa banyak di antara kita yang setuju dengan hal itu?
“... uztad-uztad muda itu mengajari kita agar hidup seserhana dan bersabar menghadapi berbagai ujian Tuhan, tetapi kehidupan mereka kelewat megah dengan gaya hidup bagai orang kaya baru yang kesurupan.” (Fahd Djibran - Bangsa Skizofrenia dalam Layar Kaca)
Juga itu?
Pun demikian dengan tulisan-tulisan lain. Beby Haryanti Dewi, dalam tulisannya yang berjudul: Hidup Kok Serba Salah?, menuliskan hal-hal yang tidak benar. Mulai dari keamanan dan kenyamanan di angkutan umum, makanan “sampah” dari Eropa yang di Indonesia jadi produk unggulan, sampai sistem pendidikan yang membuat anak didiknya menjadi mesin penjawab soal.
Adhitya Mulya, dalam Akar Masalah Negara Ini, mengawali tulisannya dengan mengajak kita, para pembaca, untuk menjawab pertanyaan; Manusia Indonesia, Manusia yang Beragama? Yang kemudian, sebelum menjawab, kita diajak untuk membandingkan terlebih dahulu antara Indonesia dengan Swedia soal korupsi. Swedia adalah negara ketiga paling bersih dari korupsi, sementara Indonesia berada di peringkat ke-100. Betapa aneh, Swedia, yang 23% penduduknya atheis, mampu menduduki peringkat ketiga, sementara kita?
Berbeda dengan Adithya Mulya, yang mengajak kita membandingkan Indonesia dengan negara lain, Fahd Djibran mengajak kita untuk melihat Indonesia melalui program-program televisinya. Dimulai dengan program televisi yang dibuka dengan lagu Indonesia Raya, yang ia yakini tidak lebih dari 5% di antara kita yang menyaksikannya, program “siraman ruhani” yang diisi para ustaz genit dan disaksikan ibu-ibu majelis ta'lim yang lebih mirip cheerleaders, program berita yang melulu soal pembunuhan, tawuran, korupsi, aborsi, dan lain-lain sebagainya, tayangan FTV dengan pemeran yang sama setiap hari, komedi-komedi slaptick pada malam hari, yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan dan kecerdasan, dan beragam program yang membuat kita tidur lebih dalam, lebih dalam lagi, dan semakin dalam.
Lain lagi dari mereka, yang mengajak kita melihat Indonesia, Ainun Chomsun dalam #Oh, Negeriku, bahkan membuat Undang-Undang Dasar yang dipatuhi di negara yang ia sebut #Oh, Negeriku. Beberapa pasalnya:
Pasal 17. Hak setiap warga negara untuk.mendapatkan keamanan sesuai setoran.
Pasal 21. Kekuasaan kepala negara dibatasi oleh donatur dan investornya.
Pasal 28. Orang miskin dan terlantar dipelihara tetangganya atau urus diri sendiri.
Tidak hanya soal pemerintahan, soal sumbangan pun disinggung dalam buku ini. Iwok Abqory, dalam Sumbangan, Oh, Sumbangan, bercerita tentang seorang peminta sumbangan yang rajin datang ke kantornya untuk meminta bantuan. Hari ini, si peminta datang untuk meminta bantuan karena di desanya akan didirikan sebuah masjid. Di hari lain, si peminta datang dengan alasan desa temannya akan dibangun sebuah masjid.
Dan itulah, sedikit ulasan yang saya kira cukup untuk memberi gambaran tentang buku ini—cerita-cerita lain yang tidak saya sebutkan, masih berisi tentang carut-marut negeri ini. Saya memberikan rating 3,5 dari 5 untuk buku ini. Karena selain cara penulisan yang enak dibaca, isi yang membuat kita sedikit merenung, tata letak yang tidak terlihat penuh, juga adanya ilustrasi di setiap tulisan.
Sebagai penutup, saya kutip kata-kata Fahd Djibran; Untuk Indonesia sembuh: mari bergerak, mari bertindak! Selamat malam.

0 comments