“Dan akhirnya, mereka berdua hidup bahagia untuk selama-lamanya.”
Ia terdiam sejenak sesaat setelah selesai membacakan putri kecilnya buku
dongeng yang, karena hampir satu minggu terakhir ini ia baca, ia hampir
hapal di luar kepala semua isinya.
Kini, putri kecilnya itu telah terlelap di hadapannya, di atas ranjang, bergelung dalam selimut yang nyaman. Putri kecilnya itu miring ke kiri, memperlihatkan wajahnya yang polos dan manis. Hidungnya mengembang dan mengempis, pun dengan dadanya—naik-turun.
Ia sibak rambut ikal putri kecilnya di bagian wajah, menciumnya, tersenyum. “Selamat malam, Sayang.” Dan ia pun keluar. Memandangnya sekali lagi sebelum menutup pintu. Seperti kawan lama, keheningan segera menyambut begitu pintu kamar tidur putrinya tertutup sempurna. Satu-satunya suara yang bisa ia dengar berikutnya adalah suara desah napasnya sendiri.
Ruangan begitu lengang. Ia berjalan melewati sofa, televisi, vas bunga, hampir tanpa suara. Pun saat ia melangkah menaiki anak tangga, berjalan menuju kamar tidurnya, membukanya. Istrinya tengah tertidur membelakangi pintu. Dengkuran halus yang dikeluarkan sang istri menggelitik gendang telinganya. Ia tersenyum. Pelan-pelan, ia menutup pintu itu kembali. Berjalan hati-hati saat menuruni anak tangga. Masuk ke dalam dapur. Mencari-cari gelas dan kopi.
Ia mengerti, istrinya terlalu lelah untuk diajak bercengkrama setelah pulang dari bekerja. Ia pun mengerti, istrinya memiliki banyak klien yang harus ditemani makan malam demi urusan bisnis. Ia mengerti semua itu. Ia paham. Hampir satu minggu belakangan ini, istrinya tidak pernah makan malam di rumah. Selalu di luar. Selalu bersama klien. Dan ketika pulang, selalu dalam keadaan lelah. Tidak masalah jika ia hanya makan malam berdua dengan putri kecilnya. Tidak masalah jika ia harus menuruti permintaan putri kecilnya untuk membacakannya dongeng sebelum tidur. Tidak masalah. Tidak satu pun. Juga aroma parfum yang baru seminggu belakangan ini tercium dari pakaian istrinya, itu juga bukan masalah.
Suara nyaring terdengar bersama munculnya asap putih dari teko. Ia mematikan kompor. Mengambil teko, menuangkan isinya ke dalam gelas. Kopi, gula, dan air berputar mengikuti putaran sendok. Ia berjalan meninggalkan dapur.
Ia duduk di beranda lantai dua, memandangi langit, atap-atap rumah, jalan-jalan yang sepi. Ia mendesah, lalu menyesap kopinya pelan-pelan. Suara saat gelas beradu dengan cawan terdengar cukup jelas. Tidak ada masalah.
Kini, putri kecilnya itu telah terlelap di hadapannya, di atas ranjang, bergelung dalam selimut yang nyaman. Putri kecilnya itu miring ke kiri, memperlihatkan wajahnya yang polos dan manis. Hidungnya mengembang dan mengempis, pun dengan dadanya—naik-turun.
Ia sibak rambut ikal putri kecilnya di bagian wajah, menciumnya, tersenyum. “Selamat malam, Sayang.” Dan ia pun keluar. Memandangnya sekali lagi sebelum menutup pintu. Seperti kawan lama, keheningan segera menyambut begitu pintu kamar tidur putrinya tertutup sempurna. Satu-satunya suara yang bisa ia dengar berikutnya adalah suara desah napasnya sendiri.
Ruangan begitu lengang. Ia berjalan melewati sofa, televisi, vas bunga, hampir tanpa suara. Pun saat ia melangkah menaiki anak tangga, berjalan menuju kamar tidurnya, membukanya. Istrinya tengah tertidur membelakangi pintu. Dengkuran halus yang dikeluarkan sang istri menggelitik gendang telinganya. Ia tersenyum. Pelan-pelan, ia menutup pintu itu kembali. Berjalan hati-hati saat menuruni anak tangga. Masuk ke dalam dapur. Mencari-cari gelas dan kopi.
Ia mengerti, istrinya terlalu lelah untuk diajak bercengkrama setelah pulang dari bekerja. Ia pun mengerti, istrinya memiliki banyak klien yang harus ditemani makan malam demi urusan bisnis. Ia mengerti semua itu. Ia paham. Hampir satu minggu belakangan ini, istrinya tidak pernah makan malam di rumah. Selalu di luar. Selalu bersama klien. Dan ketika pulang, selalu dalam keadaan lelah. Tidak masalah jika ia hanya makan malam berdua dengan putri kecilnya. Tidak masalah jika ia harus menuruti permintaan putri kecilnya untuk membacakannya dongeng sebelum tidur. Tidak masalah. Tidak satu pun. Juga aroma parfum yang baru seminggu belakangan ini tercium dari pakaian istrinya, itu juga bukan masalah.
Suara nyaring terdengar bersama munculnya asap putih dari teko. Ia mematikan kompor. Mengambil teko, menuangkan isinya ke dalam gelas. Kopi, gula, dan air berputar mengikuti putaran sendok. Ia berjalan meninggalkan dapur.
Ia duduk di beranda lantai dua, memandangi langit, atap-atap rumah, jalan-jalan yang sepi. Ia mendesah, lalu menyesap kopinya pelan-pelan. Suara saat gelas beradu dengan cawan terdengar cukup jelas. Tidak ada masalah.
0 comments