Lupa Minggu 5

Kamisan S1 #5 - Lupa: Di mana?

14.45Unknown

Oh, sial! Di mana benda itu? Bukankah semalam aku meletakkannya di sini? Lalu, sekarang ada di mana? Aku yakin sekali, benda itu ... oh, Tuhan! Di mana aku meletakkan benda itu?
Selalu begini. Saat dibutuhkan, benda itu entah ada di mana. Saat tidak diperlukan, tahu-tahu ada di depan mata. Dasar benda sialan! Benda terkutuk! Apa di sini? Oh, bukan ini.
Tunggu, tunggu. Baiklah. Baik. Aku harus tenang. Aku harus tenang terlebih dahulu. Mencari dengan cara seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Baik. Oke.
Oke.
Coba aku ingat-ingat lagi. Aku runut kembali dari saat kali terakhir benda itu aku pegang.
Kali terakhir benda itu aku pegang adalah semalam, sesaat setelah aku masuk ke dalam kamar. Benda itu, aku ... eh, semalam aku letakan apa aku lemparkan, ya? Oh, sial! Apa aku melemparkannya? Jangan-jangan aku melemparkannya?
Oh, Tuhan, berantakan sekali kamar ini.
Tidak ada juga. Seandainya benda itu aku lempar, tentu benda itu jatuh tidak jauh dari tempat ini. Tapi, nyatanya, benda itu tetap tidak ada. Jadi, ada di mana? Apa di sini? Oh, tidak ada juga.
Seseorang mengetuk pintu kamar dari luar, tiga kali.
"Sayang, kenapa lama sekali. Ayo cepat! Kita bisa terlambat."
Oh, dasar wanita tua sialan. Bisa-bisanya dia berteriak sekeras itu kepadaku.
"Sebentar, Sayang, sebentar. Kau boleh berangkat lebih dulu kalau kau mau!"
"Berangkat lebih dulu? Apa kau bercanda, Sayang? Kautahu, aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak mungkin melakukan itu. Jadi, cepatlah! Betty sudah berkali-kali menelepon!"
Ah, Si Betty tua yang tidak sabaran.
"Katakan kepada Betty kalau kita akan berangkat sebentar lagi!"
"Tapi, aku sudah mengatakan kalau kita sedang di jalan. Aku mengatakan kalau kita sudah berangkat!"
"Kau berbohong kepada Betty?"
"Iya, oke, aku tahu ini salah, tapi dia terus-menerus menelepon dan terus-menerus bertanya hal yang sama. Berulang-ulang. Kaudengar: berulang-ulang! Dan, itu hal yang paling menyebalkan. Jadi, aku terpaksa berbohong agar dia berhenti bertanya. Dan, itu berhasil.
"Hei, Sayang, kenapa pintu ini kaukunci? Bukalah!"
Pria itu melenguh, berjalan dengan langkah kasar menuju pintu, membukanya.
"Oh, Sayang, kenapa ... hei, apa yang terjadi? Kau berantakan sekali. Dan, kau bahkan belum bersiap-siap. Ayo, cepatlah!"
"Sudah kukatakan, kalau mau berangkat, berangkatlah lebih dulu. Nanti aku menyusul."
"Hei, kenapa kau? Ada apa denganmu?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Sudahlah, jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa. Kau tunggulah di mobil. Sebentar lagi aku selesai. Oke?"
Si Pria mendorong Si Wanita agak sedikit kasar, menutup pintu kamarnya dengan cukup keras.
Oh, sial! Di mana benda itu.
Si wanita mendesah pelan, menatap lurus ke pintu yang baru saja tertutup. Tidak lama kemudian, ia pun membalikkan badan dan berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Ia masuk dan duduk.
Hei, kenapa ini ada di sini? Apa dia lupa menaruhnya lagi?

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak