(gambar dokumentasi pribadi)
Pagi ini aku kembali minta izin pada adikku untuk melihat-lihat
setumpuk kartu pos yang dikirimkan untuknya. Ini sudah kali sekian aku
menggeledah kartu-kartu pos-nya itu. Dan untunglah adikku—yang kadang
agak pelit itu hehe—mengizinkan. Aku membutuhkannya sebagai bahan
mencari inspirasi Kamisan. Niatnya sih mau bikin cerpen, tapi masih
belum dapet ide juga.
Aku mengernyitkan dahiku saat membaca beberapa kartu pos tersebut.
Dua di antara kartu pos itu rupanya tak bernama. Haaa? Mereka lupa
mencantumkan identitas mereka? Ya ampun! Lucu juga ya. Kau menerima
kartu pos dari orang-orang yang letaknya di ujung dunia sana, tanpa kau
tahu siapa yang mengirimimu kartu pos itu. Kau hanya tahu mereka dari
negara ini itu, dan mereka suka ini itu. Dan dua kartu pos yang kudapati
tak bernama ini asalnya dari Jerman. Haduh, lantas apa dong tujuan
kalian berkirim kartu pos kalau tidak menjalin suatu pertemanan? Saat
kutanya adikku, sebenarnya dia juga tak terlalu berniat untuk
benar-benar berteman dengan mereka. Aku agak menyayangkan hal itu.
Padahal kegiatan berkirim kartu pos dengan orang-orang yang tinggalnya
di luar negeri itu cukup membuatku terkesima. Keren aja gitu enggak sih,
menerima kartu pos dan punya kenalan dari luar negeri? Tapi ya, entah
apalah tujuan dari adikku berkirim kartu pos.
Aku sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang pandai menjalin
komunikasi dengan orang lain. Jangankan dengan orang asing (yang
menjelaskan kenapa berkirim kartu pos adalah hal yang asing buatku),
dengan teman-temanku sendiri saja, aku bisa dibilang tergolong jarang
bercakap-cakap jika bukan karena sedang berada di satu tempat. Atau
karena aku sedang iseng, atau lagi galau ingin curhat. Ya, bisa dibilang
berbasa-basi bukan hal yang lumrah kukerjakan. Hmmm … ya tidak heran
sih, kalau kadang hubunganku dengan orang-orang di sekelilingku bisa
jadi sangat jauh sekali. Padahal di zaman sekarang ini, berkat
kecanggihan teknologi, orang-orang jadi punya banyak sekali pilihan
untuk bisa keep in touch dengan orang-orang di sekitar mereka.
Kalau beberapa tahun yang lalu, mungkin masih sebatas berkirim pesan
melalui telepon genggam, atau langsung menelepon. Tapi sekarang, waaah
ada banyaaak sekali cara yang bisa kau pakai untuk menghubungi teman dan
keluargamu. Mulai dari sms, telepon, dan aplikasi macam Whatsapp, LINE,
Kakao Talk, dan banyak lagi. Belum lagi ada jejaring sosial yang juga
jamak dipakai untuk menjalin silaturahim. Dan sekarang kau pun tidak
perlu repot-repot menyalakan komputer atau laptopmu, karena jejaring
sosial itu pun sudah menjangkau telepon genggam-mu. Betapa mudahnya
bukan untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain saat ini? Tapi tetap
saja, untukku pribadi, fasilitas-fasilitas tersebut belum kupergunakan
dengan maksimal. Kalau sekedar twitter sih masih aktif kupakai, tapi itu
pun biasanya untuk tahu apa yang terjadi di sekelilingku melalui update
status mereka. Atau aku sibuk meracau sendiri. Entah kenapa,
berkomunikasi dengan Whatsapp, atau perangkat bersosialisasi di gadget
yang lainnya pun, bagiku tetap belum bisa menyamai berkomunikasi
langsung tatap muka. Makanya aku jarang menggunakannya. Rasanya apa yang
ingin kusampaikan lebih banyak nyangkut di otakku tinimbang yang bisa
kuketikkan ke layar handphone.
Nah, lantas, kalau aku tahu kekuranganku yang satu itu, kenapa aku nekad mencoba daftar post crossing seperti
adikku ya? Well, ketika kulihat kartu pos dari penjuru dunia,
berhiaskan tulisan tangan dengan beragam bentuk itu, aku jadi tergoda
sedikit. Seperti ada yang artistik dari kartu pos-kartu pos tersebut.
Bentuknya yang persegi panjang, macam-macam jenis tulisan yang juga
berwarna-warni, kertasnya yang putih, ada juga yang kecoklatan. Dan
ketika kartu pos itu sudah agak lama usianya, kertasnya jadi agak buram
dan warna tintanya pun jadi memudar, membuatnya terlihat antik. Aaah,
artistik dan keren! Seperti ada yang melankolis aja rasanya! Aku suka
yang melankolis-manis kayak gitu hahaha!
Setelah kupikir-pikir lagi, dan setelah baca-baca blog orang lain,
berkirim kartu pos mungkin bisa jadi pilihan alternatif bagiku untuk
bisa kembali menjalin komunikasi dengan teman-teman yang mungkin sudah
lama tidak kusapa. Ya siapa tahu kartu pos mampu mencairkan hubungan
yang telah lama membeku. Atau kartu pos mungkin akan membantuku untuk
bisa lebih menjangkau dunia di luarku. Meski hobi berkirim kartu pos
tentunya membutuhkan usaha ekstra tersendiri, tidak semudah bertukar
sapa via Whatsapp. Kau harus melangkahkan kakimu ke toko buku atau toko
manapun yang menjual kartu pos, memilih desain yang tepat. Lalu kau
harus merogoh kocek untuk membeli kartunya, perangkonya, dan
mengirimkannya pun ada tarifnya tersendiri. Hanya demi bisa menyapa
teman-temanmu. Dan juga perlu diingat, berkomunikasi via kartu pos tidak
bisa seluwes dengan surat atau email, karena keterbatasan tempat. Kau
tidak bisa berpanjang lebar curhat. Tapi justru di situ nilai seni-nya
kan? Semacam bagaimana membuat fiksi mini yang nendang dan menarik hanya
dengan berapa ratus kata. Yah, dan kalau kau mau menjadikan berkirim
kartus pos sebagai hobi, memaksamu jadi orang yang lebih rajin, dan bisa
melatih integritas dan konsistensi nampaknya hahaha.
0 comments