#02 Kartu Pos Minggu 2

Kamisan S2 #02 - Kartu Pos: Sedikit Bercerita Soal Kartu Pos

14.02Unknown


Image
(gambar dokumentasi pribadi)

Pagi ini aku kembali minta izin pada adikku untuk melihat-lihat setumpuk kartu pos yang dikirimkan untuknya. Ini sudah kali sekian aku menggeledah kartu-kartu pos-nya itu. Dan untunglah adikku—yang kadang agak pelit itu hehe—mengizinkan. Aku membutuhkannya sebagai bahan mencari inspirasi Kamisan. Niatnya sih mau bikin cerpen, tapi masih belum dapet ide juga.

Aku mengernyitkan dahiku saat membaca beberapa kartu pos tersebut. Dua di antara kartu pos itu rupanya tak bernama. Haaa? Mereka lupa mencantumkan identitas mereka? Ya ampun! Lucu juga ya. Kau menerima kartu pos dari orang-orang yang letaknya di ujung dunia sana, tanpa kau tahu siapa yang mengirimimu kartu pos itu. Kau hanya tahu mereka dari negara ini itu, dan mereka suka ini itu. Dan dua kartu pos yang kudapati tak bernama ini asalnya dari Jerman. Haduh, lantas apa dong tujuan kalian berkirim kartu pos kalau tidak menjalin suatu pertemanan? Saat kutanya adikku, sebenarnya dia juga tak terlalu berniat untuk benar-benar berteman dengan mereka. Aku agak menyayangkan hal itu. Padahal kegiatan berkirim kartu pos dengan orang-orang yang tinggalnya di luar negeri itu cukup membuatku terkesima. Keren aja gitu enggak sih, menerima kartu pos dan punya kenalan dari luar negeri? Tapi ya, entah apalah tujuan dari adikku berkirim kartu pos.

Aku sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang pandai menjalin komunikasi dengan orang lain. Jangankan dengan orang asing (yang menjelaskan kenapa berkirim kartu pos adalah hal yang asing buatku), dengan teman-temanku sendiri saja, aku bisa dibilang tergolong jarang bercakap-cakap jika bukan karena sedang berada di satu tempat. Atau karena aku sedang iseng, atau lagi galau ingin curhat. Ya, bisa dibilang berbasa-basi bukan hal yang lumrah kukerjakan. Hmmm … ya tidak heran sih, kalau kadang hubunganku dengan orang-orang di sekelilingku bisa jadi sangat jauh sekali. Padahal di zaman sekarang ini, berkat kecanggihan teknologi, orang-orang jadi punya banyak sekali pilihan untuk bisa keep in touch dengan orang-orang di sekitar mereka.

Kalau beberapa tahun yang lalu, mungkin masih sebatas berkirim pesan melalui telepon genggam, atau langsung menelepon. Tapi sekarang, waaah ada banyaaak sekali cara yang bisa kau pakai untuk menghubungi teman dan keluargamu. Mulai dari sms, telepon, dan aplikasi macam Whatsapp, LINE, Kakao Talk, dan banyak lagi. Belum lagi ada jejaring sosial yang juga jamak dipakai untuk menjalin silaturahim. Dan sekarang kau pun tidak perlu repot-repot menyalakan komputer atau laptopmu, karena jejaring sosial itu pun sudah menjangkau telepon genggam-mu. Betapa mudahnya bukan untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain saat ini? Tapi tetap saja, untukku pribadi, fasilitas-fasilitas tersebut belum kupergunakan dengan maksimal. Kalau sekedar twitter sih masih aktif kupakai, tapi itu pun biasanya untuk tahu apa yang terjadi di sekelilingku melalui update status mereka. Atau aku sibuk meracau sendiri. Entah kenapa, berkomunikasi dengan Whatsapp, atau perangkat bersosialisasi di gadget yang lainnya pun, bagiku tetap belum bisa menyamai berkomunikasi langsung tatap muka. Makanya aku jarang menggunakannya. Rasanya apa yang ingin kusampaikan lebih banyak nyangkut di otakku tinimbang yang bisa kuketikkan ke layar handphone.

Nah, lantas, kalau aku tahu kekuranganku yang satu itu, kenapa aku nekad mencoba daftar post crossing seperti adikku ya? Well, ketika kulihat kartu pos dari penjuru dunia, berhiaskan tulisan tangan dengan beragam bentuk itu, aku jadi tergoda sedikit. Seperti ada yang artistik dari kartu pos-kartu pos tersebut. Bentuknya yang persegi panjang, macam-macam jenis tulisan yang juga berwarna-warni, kertasnya yang putih, ada juga yang kecoklatan. Dan ketika kartu pos itu sudah agak lama usianya, kertasnya jadi agak buram dan warna tintanya pun jadi memudar, membuatnya terlihat antik. Aaah, artistik dan keren! Seperti ada yang melankolis aja rasanya! Aku suka yang melankolis-manis kayak gitu hahaha!

Setelah kupikir-pikir lagi, dan setelah baca-baca blog orang lain, berkirim kartu pos mungkin bisa jadi pilihan alternatif bagiku untuk bisa kembali menjalin komunikasi dengan teman-teman yang mungkin sudah lama tidak kusapa. Ya siapa tahu kartu pos mampu mencairkan hubungan yang telah lama membeku. Atau kartu pos mungkin akan membantuku untuk bisa lebih menjangkau dunia di luarku. Meski hobi berkirim kartu pos tentunya membutuhkan usaha ekstra tersendiri, tidak semudah bertukar sapa via Whatsapp. Kau harus melangkahkan kakimu ke toko buku atau toko manapun yang menjual kartu pos, memilih desain yang tepat. Lalu kau harus merogoh kocek untuk membeli kartunya, perangkonya, dan mengirimkannya pun ada tarifnya tersendiri. Hanya demi bisa menyapa teman-temanmu. Dan juga perlu diingat, berkomunikasi via kartu pos tidak bisa seluwes dengan surat atau email, karena keterbatasan tempat. Kau tidak bisa berpanjang lebar curhat. Tapi justru di situ nilai seni-nya kan? Semacam bagaimana membuat fiksi mini yang nendang dan menarik hanya dengan berapa ratus kata. Yah, dan kalau kau mau menjadikan berkirim kartus pos sebagai hobi, memaksamu jadi orang yang lebih rajin, dan bisa melatih integritas dan konsistensi nampaknya hahaha.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak