#02 Kartu Pos Minggu 2

Kamisan S2 #02 - Kartu Pos: Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate di San Fransisco*

14.01Unknown

"Jati, kalau kau sudah ada di Amerika sana, jangan lupa kirimi aku kartu pos yang gambarnya jembatan Golden Gate, ya?"

"Harus yang gambarnya jembatan Golden Gate?"

"Iya. Biar sesuai dengan judul puisinya Sapardi ... hei, kenapa tertawa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya tak habis pikir, ada orang yang menggilai puisi sampai seperti itu."

"Soalnya kan itu puisi yang pertama kali kaubacakan untukku. Meski kaubilang kau hanya asal mengambil puisi untuk dibacakan,  tetap saja, bagiku itu berarti."

"Kilan ...."

"Hehehe ... pokoknya kau harus mengirimiku kartu pos bergambar jembatan Golden Gate di San Fransisco begitu kau tiba di sana!"

Duduk di bangku taman sambil memegang kartu pos bergambar jembatan Golden Gate seperti ini, membuat ingatanku tentang Kilan semakin menjadi-jadi. Ini adalah bangku panjang yang biasa kami duduki. Dan di bangku ini, untuk terakhir kali, aku berbicara dengan gadis bertubuh mungil itu, sehari sebelum aku berangkat ke San Fransisco untuk melanjutkan study.

"Hai!" Aku menoleh dengan malas. Mencoba bersikap tak acuh terhadap sikap riangnya. Ia tersenyum seperti biasa: teramat manis. Dan tanpa berkata apa-apa, aku mengalihkan tatapan darinya. Kembali membaca novel yang memang sedari tadi sedang kubaca.

Dia berpindah ke hadapanku.

"Kau marah, ya? Aku tahu, aku salah. Aku terlambat. Maaf, ya?"

Aku mendengus, lalu menutup novel itu, dan menaruhnya di pangkuan. "Kau bukan hanya terlambat," keluhku, dan dia tetap tersenyum. "Kenapa teleponku tak diangkat?"

"Hehehe.... "

"Kenapa pesan-pesanku tak kaubalas?"

"Hehehe ...."

Aku mendengus sebal. Lalu mengambil lagi buku yang baru saja kuletakkan, lantas membukanya. Dia mengulurkan sesuatu ke arahku. Aku menatap benda itu; sebuah kado dengan kertas pembungkus berwarna biru polos.

Aku mengernyit. "Apa ini?"

"Kado."

"Aku tahu itu kado, tapi untuk apa?"

"Untuk kamu."

"Kilan ...."

"Sebuah hadiah dari seorang teman agar teman yang dihadiahi tidak melupakan si pemberi. Terimalah!"

Aku menyambut kado seukuran buku tulis berkover tebal itu. Dan dari dimensinya--juga setelah jari-jariku merasakan permukannya--aku menebak isinya adalah buku. Dan, ketika aku hendak membukanya ...

"Dibukanya nanti saja, di rumah!"

Aku menatapnya untuk beberapa saat. "Baiklah." Lalu memasukkan kado itu ke dalam tas punggung. Juga novel yang tadi kubaca. Dia lantas duduk di sebelahku. Tidak menatapku, melainkan menatap kolam berbentuk lingkaran yang terletak tidak jauh di hadapan kami.

Pada tengah kolam itu terdapat patung malaikat kecil-gemuk-berambut-ikal yang sedang meniup terompet. Kaki kanan patung itu menapak pilar, dan kaki lainnya terayun ke belakang. Kedua sayapnya yang kecil, yang seperti sayap burung pipit, membuka, juga tangan kirinya, yang tidak memegang terompet. Dan pada waktu-waktu tertentu, di sekeliling malaikat lucu nan menggemaskan itu, air akan memancur ke atas cukup tinggi, tinggi dan lebih tinggi, lalu setelah beberapa hitungan, arah pancuran yang sebelumnya ke atas itu akan berganti mengarah ke kanan-kiri, berganti-ganti, melingkari sang malaikat bagai penari latar dengan sang malaikat kecil sebagai bintang utama. Akan tetapi, sore itu bukanlah waktu yang tepat untuk melihat pertunjukan air itu. Sang bintang utama tampil seorang diri tanpa para penari latar. Pun demikian dengan saat ini.

Aku menghela napas panjang. Lalu, sekali lagi, melihat ke sebuah kartu pos yang sejak tadi kupegang. Aku mengelus permukannya beberapa kali dengan jempol kanan, sebelum akhirnya.tersenyum. Kembali, aku memandang patung malaikat yang warna catnya kini telah pudar--putih kusam. Sejauh yang bisa kuingat, warna patung itu adalah putih bersih. Dan air memancur mengelilinginya, naik dan turun, ke kanan dan ke kiri.

"Jati, patungnya lucu!" Dan Kilan tertawa. Lalu, setelah beberapa saat, dia pun menghela napas, tersenyum. Lantas, kepalanya menoleh pelan, bergerak ke kanan dan ke kiri. "Setiap hari, taman ini selalu ramai seperti sekarang ya? Betapa memalukannya aku, sejak kecil tinggal di kota ini, dan baru sekarang aku tahu ada taman seperti ini."

Aku ikut memerhatikan sekeliling. "Tidak setiap hari, hanya pada akhir pekan, saat orang-orang bisa lepas sejenak dari rutinitas pekerjaan."

"Oh. Dan kau sudah sering ke sini?"

"Baru beberapa kali?"

"Dan baru sekarang kau mengajakku?"

Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Ketika aku menoleh ke arahnya, matanya yang hitam dan selalu terlihat ceria itu sedang menatap lurus ke arahku. Tiba-tiba aku merasa kehilangan kata-kata.

"Aku hanya bercanda." Dan dia terbahak. "Kau jangan tegang seperti itu. Nanti aku merasa bersalah." Dia masih tetap tertawa. Dan ketika tawanya sudah mereda, "Ah, iya, acara yang kemarin malam kau bilang, di mana? Di taman ini kan?"

"Iya, di taman ini. Sepertinya sedikit mundur dari jadwal."

"Oh, begitu. Eh, iya, pokoknya, nanti kau harus tampil membacakan puisi untukku!"

Seorang pengasong laki-laki berhenti dan menawarkan kopi kepadaku. Aku mengiakan. Tangannya yang kurus dan hitam bergerak cepat menyiapkan minuman yang kupesan. Urat-urat terlihat menonjol pada lengannya yang terbuka. Selepas aku membayar, ia pergi dan menawarkan dagangannya ke orang-orang lain lagi. Kopi dalam gelas plastik itu kuletakan di atas kursi. Asapnya mengepul-mengepul sebentar, sebelum akhirnya hilang.

Kilan menyukai kopi. Pada hampir setiap pertemuan kami, yang lebih sering berlangsung di kafe atau sesekali di perpustakaan umum, dia selalu memesan kopi begitu melihatnya ada di deretan menu.
"Apa kau tidak takut lambungmu sakit? Kau suka sekali minum kopi."

"Hahaha .... Jika tidak minum kopi, aku malah suka pusing. Susah sih, dari kecil sudah biasa minum kopi," katanya, lalu menyesap kopi hitam pesanannya beberapa kali. Meletakannya. "Dan lagi," katanya, sambil kedua tangannya bergerak-gerak ke depan, "kopi membuatku bisa berkonsentrasi, dan membuatku tidak mengantuk. Dua hal itu sangat penting demi kelancaranku menulis."

Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu mengaduk gelas berisi kopi.

"Oh, iya, Jati." Aku menoleh. "Sudah kuputuskan," dia berhenti sejenak, melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke arahku, "kau akan menjadi orang pertama yang membaca novelku," tersenyum. "Dan sebagai gantinya, kau harus membuatkanku puisi!"

"Hei, aku tidak bisa membuat puisi."

"Kalau begitu membacakan puisi. Kau harus mau membacakan puisi untukku!"

Aku tersenyum pahit mengingat saat itu. Kilan telah membuktikan janjinya; akulah orang yang pertama--dan mungkin malah satu-satunya--yang membaca novelnya. Dia menulis tangan di buku berkaver tebal yang ia berikan kepadaku sehari sebelum aku berangkat. Dan aku tidak tahu, apakah dia sudah menyalinnya ke komputer dan mengirimkannya penerbit atau belum. Aku tidak tahu. Terlalu banyak yang tidak kutahu tentang Kilan.

Sebuah nyanyian yang kudengar, tiba-tiba, membuatku tersentak. Punggungku seketika lurus, dan kepalaku bergerak liar. Sekelompok pemuda pecinta musik, yang berada tidak jauh dari tempatku duduk, tengah melakukan musikalisasi puisi ....

Kabut yang likang
dan kabut yang pupuh…
Lekat dan gerimis pada tiang-tiang
jembatan…
Matahari menggeliat dan kembali
gugur
tak lagi di langit berpusing
di perih lautan**

Aku tersenyum. Dan entah bagaimana, aku merasa segala warna dan bentuk di hadapnku menjadi buram.
*adalah judul puisi Sapardi Djoko Damono
*lirik puisi tersebut

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak