Akhir minggu kemarin, saya berkesempatan untuk liburan ke pantai.
Sudah cukup lama saya tidak ke pantai, jadi rasanya sangat menyenangkan
bisa menikmati udara laut yang payau. Pantai mana yang saya kunjungi?
Jelas bukan Kuta, Sanur, Anyer, atau Pangandaran yang sangat mainstream itu. Bukan pula Phuket atau Bondi karena jelas isi kantong saya tidak mungkin sanggup membiayai perjalanan ke sana.
Saya beserta teman-teman meninggalkan pulau Jawa dan menyambangi
Lampung. Di sana, kami menuju ke Pantai Laguna di daerah Kalianda,
Lampung Selatan. Itulah kali pertama saya menjejakkan kaki ke pulau
Sumatra. Waktu kecil saya memang pernah tinggal di Kepulauan Riau tapi
baru kemarin saya berkesempatan untuk merasakan tanah pulau terbesar
keenam di dunia tersebut.
Sebagai gantinya, Pantai Laguna memberi kami apa yang tidak kami
miliki di Bogor: bentangan pantai berpasir putih yang seksi, hamparan
laut biru yang menawan, dan tanah yang bebas macet sepanjang mata
memandang. Memang sih, hujan sempat menyapa tak lama setelah kami
datang—membuat tenda kami kebasahan—seolah tahu kami berasal dari Kota
Hujan, dan sudah merupakan takdir kami untuk berjumpa dengan hujan.
Untung, setelahnya cuaca kembali sempurna. Benar-benar surga kecil di
kaki pulau Sumatra.
Terlebih, berbeda dengan pantai di Jawa yang ramai dan sesak, Pantai
Laguna tempat kami berlibur sepi sekali. Tidak ada penjual makanan,
tidak ada penjaja pop mie atau es kelapa muda, bahkan nyaris
tidak ada pengunjung lainnya sama sekali. Di sana hanya ada kami dan
beberapa orang manajemen cottage rumah-rumah panggung. Kami
merasa seperti memiliki pulau dan pantai pribadi. Jadi, tidak ada yang
melarang kami untuk langsung berteriak-teriak girang dan berlari-lari
norak ke arah laut untuk menceburkan diri ke sana.
Intinya, kami bebas melakukan apa saja. Dipermainkan gelombang,
berguling-guling di pasir pantai, atau mengubur salah satu teman kami di
pasir—menambahkan dua gundukan bulat di bagian dada dan satu gundukan
lonjong-mungil di bagian bawah perut. Saat sudah lelah berbuat tolol,
kami memilih duduk diam di pasir, memandang diam keindahan alam di
hadapan kami. Atau, berjalan menyusuri bibir pantai, membiarkan telapak
kaki setengah tenggelam di pasir basah yang dijilat-jilat debur ombak.
Bayangkan betapa romantisnya adegan senja itu kalau yang menemani adalah
seorang wanita, bukan pria sebaya dengan lingkar pinggang yang
menyaingi lingkar pinggang saya.
Soal kenyamanan memang tidak usah dibicarakan. Untuk membersihkan
diri dari air laut yang asin dan lengket saja rasanya penuh perjuangan.
MCK yang kurang memadai serta air tanah yang payau membuat mandi di
rumah laksana spa mewah. Makan pun kami perlu sabar menunggu karena kami
cuma bawa kompor satu. Lauknya sederhana, mirip menu mahasiswa di akhir
bulan. Soal rasa tidak pernah kami permasalahkan. Segigih apa pun nasi
yang tersedia, selembek apa pun mi yang dihidangkan, segosong apa pun
telor ceplok yang ada, kami melahapnya dengan suka cita. Sambil
mengobrol dan bercanda, bahagia adalah milik kami malam itu.
Habis makan malam, saya memilih untuk tidur di luar tenda menggunakan sleeping bag. Ini adalah pengalaman pertama saya tidur di udara terbuka… and it was spectacular. Strangely, it feels so liberating.
Juga membuat bersyukur karena bisa menikmati secuil keindahan serta
kebahagiaan ini. Masuk angin adalah harga yang murah untuk menikmati
seluruh pengalaman yang menggugah seperti itu.
Kami melupakan sejenak seluruh beban pikiran atau kesemrawutan
pekerjaan di kota. Di sana, bahagia itu begitu sederhana. Bisa tidur di
geladak ferry, bisa tertawa setelah digulung-gulung ombak,
tercucuk karang, dicapit kepiting, berkumpul mengelilingi api unggun,
atau membersihkan butir-butir pasir genit dari lipatan sempak… sering
kali kita lupa kalau hal-hal kecil seperti itu pun bisa memberi
kebahagiaan.
Begitu waktunya pulang, saya jadi merindukan itu semua. Makanya, saya
berusaha untuk menikmati detik-detik perjalanan pulang semaksimal
mungkin. Saat berangkat, saya tidak sempat menikmati apa-apa karena kami
bertolak dari Bogor pada pukul dua belas malam. Saya memang sempat
menikmati suasana pelabuhan Merak di dini hari. Apalagi, itu adalah
pengalaman pertama saya menaiki ferry besar. Juga pengalaman
pertama saya menaiki kapal laut setelah bertahun-tahun lamanya. Akan
tetapi, selain itu, saya lebih banyak tertidur. Bangun-bangun, kami
sudah berada di Lampung.
Saya baru bisa menikmati jalanan-jalanan Lampung Selatan yang
lengang, bersisian dengan lahan-lahan hijau nan luas, ketika bus melaju
ke pelabuhan Bakauheni. Di geladak, saya sempat menikmati momen-momen
tatkala ferry kami bertolak dari pelabuhan. Perlahan-lahan,
Lampung mengecil di mata kami hingga akhirnya tak terlihat lagi. Ah,
entah kapan lagi saya bisa menjejakkan kaki di Pulau Sumatra.
Ferry kami membelah Selat Sunda laksana pisau. Saya dibuat
teringat kembali oleh kegembiraan di atas kapal laut, seperti waktu saya
masih kecil. Dulu, kami sekeluarga menuju ke Kepulauan Riau menggunakan
kapal laut. Kegiatan paling menyenangkan selama tiga hari di kapal
tentu saja menjelajahi tiap-tiap bagiannya bersama Ayah. Kenangan itu
merekah kembali beberapa hari yang lalu. Saya hampir melupakan asyiknya
berlayar, berlari-lari di dek, menaiki tangga-tangga besi, atau sekadar
menikmati angin laut yang berembus mengacak-acak rambut.
Saya jadi kepikiran, barangkali inilah yang dirasakan oleh para
penjelajah zaman dulu. Menyeberangi samudra biru dengan hasrat untuk
menemukan tempat-tempat baru yang belum terpetakan. Menunggangi
gelombang seperti itu memang menyenangkan.
Alhamdulillah, kami akhirnya berlabuh kembali ke Pulau Jawa
dengan selamat. Meski badan ini lelah di perjalanan, hati kami dipenuhi
kegembiraan. Sungguh perjalanan yang mengasyikkan serta membuat
ketagihan. Tak hanya itu, beberapa hari di alam bebas membuat kami sadar
kalau banyak hal di dalam hidup yang patut kami syukuri. Bisa mandi air
hangat, bisa mengenakan pakaian yang bersih, bisa tidur di kasur yang
empuk, di balik selimut yang nyaman, membuat kami bersyukur karena hidup
berkecukupan.
So, bagi teman-teman yang ingin sesekali menjajal total
escapism, atau sekadar berlibur ke pantai, atau ingin merasakan jatuh
sakit akibat sunburn gara-gara kelamaan tanning seperti teman saya, cobalah sesekali bermain ke Lampung, atau ke pantai-pantai yang jarang dijelajahi sebelumnya. There are a lot of surprises waiting for you. Guarantee!
Akhir kata, terima kasih Lampung untuk keindahan alamnya. Semoga
tetap lestari dan semoga kita bisa berjumpa lagi suatu hari nanti. :)
@AdhamTFusama
Tentang #Kamisan










0 comments