#03 Endorphin Minggu 3

Kamisan S2 #03 - Endorphin: Pada Sabtu Pagi Yang Cerah

07.08Unknown

Aku bangun dengan kepala yang terasa berat, dan mulut yang terasa tak betapa enak. Aku perlu menggoyang-goyangkannya beberapa kali, memijiti kening, sebelum akhirnya bisa menatap sekeliling setelah sebelumnya segala benda dalam kamar ini terlihat samar. Aku kembali merebahkan diriku di atas ranjang, diam, terpejam, dan membuka kedua tanganku selebar mungkin. Kembali, tanganku kiriku memijiti pangkal hidung.

Ketika aku membuka mata, warna cat atap kamar yang dulunya putih, namun kini terlihat kusam, sudah tampak jelas. Lampu hias menggantung sendirian, tepat di atas ranjang. Aku menengok ke sebelah kiri. Tak ada seorang pun. Bila aku tak salah ingat, Janet kemarin memintaku agar menemaninya ke dokter pagi ini. Beberapa hari belakangan, ia memang sering merasa mual. Dan menurutku, itu tidak berarti ia hamil, bisa jadi ia hanya masuk angin sebagaimana biasanya. Meski begitu, tidak seharusnya aku membiarkannya pergi sendirian ke dokter. Namun, itulah yang kemudian terjadi.

Semalam, aku pulang terlalu larut, dan dalam kondisi mabuk. Permasalahan-permasalahan yang timbul dan tak kunjung tuntas di kantor, membuatku duduk berjam-jam sambil meminum bir di bar yang terletak tidak jauh dari tempatku bekerja. Dan dalam kondisi seperti itu, aku lupa dengan Janet yang ketika pagi sebelum berangkat mengatakan bahwa ia ingin aku menemaninya ke dokter hari ini. Janet sepertinya bisa mengerti. Itulah kenapa dia tidak memaksaku untuk bangun, pagi tadi. Ini Sabtu, dan ia membiarkanku memanjakan diri di Sabtu yang sepi ini.

Aku bangkit, dan untuk beberapa saat lamanya, aku hanya duduk di tepi ranjang sambil menekuri lantai kamar. Kemudian aku berdiri dan berjalan malas ke kamar mandi. Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku merasa kondisiku lebih segar. Mengelap muka yang masih basah dengan handuk, mengacak-acak rambut, menggeleng-gelengkan kepala, lalu menjemur handuk itu di gantungan. Berjalan ke dapur. Di atas meja telah tersedia kopi hitam dalam teko bening berbentuk bola dan beberapa helai roti bakar. Roti sudah dingin. Pun demikian dengan kopi. Aku menjejalkan satu potongan roti ke dalam mulut, menggigitnya dalam potongan besar sambil berjalan ke ruang tengah, menyesap kopi yang sudah dingin. Aku cukup kepayahan ketika menelan roti bakar itu meski telah aku bantu dengan kopi. Meletakan gelas kopi di atas meja. Menggigit lagi roti bakar yang kubawa. Dan kemudian menggigitnya sekali lagi. Merebahkan diri di atas sofa. Kembali, aku menatap langit-langit.

Aku mendesah, lalu mengambil buku yang sejak seminggu ini belum tuntas aku baca dari atas meja kecil di sebelah sofa, di dekat telepon rumah berwarna hitam. Lalu aku pun mulai membaca.

“Sayang!”

Janet berseru dan berlari masuk ke dalam apartemen yang menjadi tempat tinggal kami. Langkah kakinya yang menghentak dan rapat itu terdengar sampai ke tempatku duduk. Aku menyembulkan wajahku dari balik novel dan menengok ke arah pintu yang terletak di sebelah kanan. Pintu itu membuka dengan teramat gegas, dan Janet, dengan wajah mengilap dan dada yang mengembang-mengempis secara cepat, berdiri di dekat pintu sambil tangannya memegang gagang yang berbentuk bola dan tersenyum lebar ke arahku.

“Ada apa?”

Alih-alih langsung menjawab, ia malah semakin melebarkan senyumannya, dan bisa kulihat matanya yang menyipit mulai berkaca-kaca. Lalu ia menghambur ke arahku—membiarkan pintu itu berayun sebentar sampai akhirnya pintu itu tertutup dengan debum yang cukup keras.

“Ada apa, Sayang?”

Kembali, aku mengulang pertanyaan begitu ia memelukku. Novel yang sebelumnya kupegang kuletakan di atas meja, di sebelah gelas kopi. Ia diam, dan entah kenapa, aku bisa merasakan saat itu ia tengah tersenyum sebagaimana tadi. Pelan, tangan kananku mulai membelai rambut pirangnya.

“Sayang?” Aku mengulanginya lagi untuk yang ketiga kali. Dan kini aku mendengar ia menghela napas, dan kemudian pelukannya pun mulai mengendur. Ia menarik dirinya dan duduk dengan punggung tegak di hadapanku. Matanya benar-benar basah dan ia tersenyum sambil menggigit bibir bawah. “Sayang?” Aku sedikit menelengkan kepala, dan perlahan mendekatkannya ke arahnya. Tangan kananku bergerak menuju pipinya yang penuh. Jari-jariku bisa merasakan selapis tipis air mata di bawah kantung matanya. Dan ia tetap tersenyum. Ia semakin keras menggigit bibir bawahnya. Dan kemudian aku melihatnya tertawa sambil diselingi isakan. Melihat hal itu, tiba-tiba aku merasa semuanya menjadi jelas. “Benarkah?” Dan ia hanya mengangguk-angguk cepat. Mulutku seketika terasa kaku—membuka-buka tanpa mengeluarkan suara. Dadaku pun serasa mengembang. Aku menoleh tanpa arti ke kanan dan ke kiri secara cepat, sampai kemudian berhenti lagi di tempat semula, menantang kedua matanya. Dan ketika mulutku tidak lagi terasa kaku, serentetan pertanyaan yang intinya hanya satu keluar dari mulutku. “Benarkah itu, Sayang? Benarkah? Benarkah?” “Iya, Sayang. Iya. Aku hamil.” Aku langsung memeluknya. Erat. Begitu erat. Seolah aku ingin membenakan tubuh mungilnya ke dalam dadaku. Kedua tangannya pun melingkari leherku dengan kencang. “Alhamdulillah!” seruku, sambil menggoyang-goyangkan pelan tubuhnya. Lalu aku melepaskan pelukanku, menatapnya. “Sayang, kita harus merayakannya!” Ia hanya mengangguk. “Kita harus mengundang anak-anak panti dan mengadakan pesta!” Ia kembali mengangguk. “Kita harus memberikan beberapa uang kepada pengemis-pengemis kelaparan di luar sana!” “Iya. Iya. Iya!” Dan kami kembali berpelukan. Tertawa-tawa. Aku dan Janet telah menikah selama tujuh tahun, dan selama itu pula, kami menunggu saat seperti ini. Kami menikah di usia yang masih terbilang muda—Janet berusia 20 tahun dan aku 2 tahun di atasnya. Dalam pikiran kami, ketika itu, menikah muda artinya akan memiliki anak yang rentang usianya tidak terlampau jauh. Itu artinya, kami memiliki banyak waktu dan banyak kesenangan yang akan kami lakukan bersama dengan anak kami nanti. Banyak hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah atau ibu kepada anak mereka bila mereka sudah menjadi tua. Dan kami tidak mau itu. Tapi, sebagaimana yang telah diketahui bersama, keinginan dan kenyataan tidak selalu sejalan. Kami harus menunggu hingga 7 tahun demi bisa mendengar kabar bahagia ini. “Sudah telepon Ayah-Ibu?” Janet menggeleng, lalu tersenyum. “Belum.” Aku sekali lagi membelai rambut pirangnya yang dibiarkan panjang sampai sebatas bahu. Tersenyum. “Baiklah, kita kabari nanti saja. Untuk saat ini, biarkan ini hanya milik kita berdua.” Dan kami kembali berpelukan. Sambil memeluk dan menggoyang-goyangkannya pelan, aku menatap jauh ke langit-langit apartemen. Mendengus sebelum akhirnya tersenyum. Dan aku mencium rambutnya.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak