#03 Endorphin
Minggu 3
Kamisan S2 #03 - Endorphin: Surat yang Datangnya Dari Masa Terkelam Sepanjang Sejarah Manusia
07.20Unknown| credit pic. popsych.org |
Yth. Manusia yang mungkin masih bertahan hidup di suatu masa yang akan datang
Sepuluh tahun sudah berjalan semenjak wabah itu menyerang umat manusia di muka bumi. Aku tidak tahu, apakah surat ini akan sampai pada kalian? Atau jangan-jangan, umat manusia sudah punah? Aku mengirimkan surat ini dari zaman yang entah berapa lama jauhnya dari masa kalian. Aku bahkan tidak tahu siapa kalian. Semoga kalian bukan manusia yang hadirnya hanya satu, dua tahun dari saat ini. Kapankah yang kumaksud dengan saat ini? Aku sendiri tidak tahu. Sudah lama aku tidak menghitung waktu.
Di kamar gelap tempatku berada saat ini hanya ada sebuah meja kayu tua. Di hadapannya ada sebuah jendela tanpa tirai. Sinar matahari pagi ini cukup menyengat, membuatku tak bisa duduk lama-lama di meja kayu tua itu. Aku juga sangat jarang bepergian ke luar, kalau bukan karena masih ada sisa endorfin dalam diriku yang membuatku bertahan untuk setidaknya menguatkanku mencari makan di luar. Aku lebih memilih di dalam kamar gelap apartemenku. Sudah lima tahun tepatnya keadaannya berjalan seperti ini. Aku tidak berani melihat cermin. Aku tak ingin melihat betapa cekingnya diriku saat ini. Buruk rupa. Jelek. Hina. Mungkin aku bisa melompat dari lantai tiga gedung ini. Hal yang sudah setahun belakangan kupikirkan, tapi selalu ada yang bisa menahanku.
Tidak kawan. Aku tidak ikut mengonsumsi obat-obatan. Aku tak punya cukup uang untuk membeli morfin dan yang lainnya agar aku bisa cukup bahagia. Lagipula, dari yang sudah kulihat, banyak di antara mereka justru lebih dulu meninggalkan dunia ini karena morfin itu. Pemerintah sial itu. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tidak peduli kami, rakyat yang sudah sekarat bertahun-tahun lamanya. Bukannya manusia tidak pernah menderita. Aku yakin, sejak pertama bumi diciptakan dan manusia menghuninya, penderitaan pastilah ada. Tapi kuyakin tak semenyeramkan seperti di zaman ketika aku hidup. Bumi begitu gelap meski matahari belum padam. Bulan pun masih menyinari malam-malam yang kelam dan sepi. Sesekali mungkin bisa kalian dengar isak tangis kesakitan, kehilangan. Jerit. Sudah biasa kudengar. Untung telingaku sudah kutulikan perlahan-lahan. Aku tak sanggup lagi mendengar orang-orang itu berteriak. Cukup sudah aku menanggung kesakitanku sendiri.
Zaman ini, tak ada orang yang ingin tahu kesakitan orang lain. Kami semua sakit. Kecuali mereka yang sudah kaya dari zaman dulu. Punya simpanan uang begitu banyak sehingga mereka masih bisa membuat diri mereka waras. Tapi kurasa sebentar lagi juga mereka akan sama seperti kami. Kami yang terjangkit wabah ini lebih dulu karena kami tidak lebih makmur dari mereka. Dan wabah ini bukan ulah kami. Hal yang membuatku bertambah benci.
Mereka. Orang-orang dulu. Kami semua menyebutnya begitu. Mereka yang hidupnya puluhan atau ratusan tahun lalu dari kami saat ini, yang bertanggung jawab atas semua sakit yang membuat kami sekarat setiap detiknya. Dulu mereka mungkin berpikir itu lucu. Membagikan keluh kesah, sakit, resah, di jejaring sosial yang mereka punya. Aku hanya bisa tertawa getir mengingat cerita almarhum kakekku. Ia pernah baca jurnal seorang peneliti bahwa zaman dulu orang-orang begitu senang menyiksa diri mereka. Mereka mendengar lagu-lagu yang membangkitkan kenangan sedih, meski itu artinya mereka sedang melukai hati mereka sendiri. Mereka begitu senang menangisi kesedihan meski itu hanyalah sesepele cinta yang tak terbalas. Ya, aku tahu itu memang menyakitkan sesepele apapun terlihatnya. Tapi yang kupertanyakan, kenapa harus mereka senang menyiksa diri mereka sendiri? Kalau saja mereka tahu apa akibat yang begitu mengerikan yang mungkin terjadi. Dan telah terjadi saat ini.
Wabah itu entah munculnya dari mana. Yang kudengar dari kakekku, jejaring sosial itu sangat berperan membantu penyebaran depresi anak-anak muda penggunanya dulu. Ya, anak-anak muda yang memang mayoritas menggunakan jejaring sosial dengan sembrono. Mereka menyebarkan virus kesedihan itu melalui mana saja. Aku lupa apa saja jejaring sosial itu karena di masa kami, pemerintah telah menghapusnya karena ternyata sepuluh tahun yang lalu virus mematikan itu terbukti telah menjadi rahim bagi lahirnya sebuah virus yang mampu mematikan kebahagiaan dalam diri manusia. Jejaring sosial itu telah menjadi bumerang bagi orang-orang dulu. Karena manusia lebih sering menggunakannya untuk berbagi kesedihan, maka virus kesedihan itu mewabah. Menjangkiti dari satu manusia ke manusia lainnya. Kudengar juga revolusi teknologi membuat orang-orang dulu bertambah malas. Itu salah satu sebab kenapa mereka merusak kebahagiaan mereka sendiri.
Kalian pernah dengar endorfin? Sesungguhnya, semua tidak akan terjadi kalau saja cadangan endorfin manusia masih mencukupi. Tapi sayangnya, karena virus kesedihan itu, cadangan endorfin manusia perlahan mulai terkikis. Dan itu terjadi selama bertahun-tahun lamanya, hingga kini. Entah sudah berapa lama virus, penyakit, atau apalah namanya itu, menggerogoti endorfin yang ada dalam tubuh manusia. Dan kau tahu, endorfin yang seharusnya membantu manusia merasai kebahagiaan, menangkal stress, dan mengobati sakit, itu kini sudah langka. Termasuk aku. Virus itu telah menggerogoti cadangan endorfinku selama sepuluh tahun. Kalau tahu begitu, mungkin aku akan memilih untuk dilahirkan di tengah hutan belantara dan tak mengenal peradaban. Sayangnya, komputer dan segala kecanggihan teknologi komunikasi itu telah menyebar bahkan hingga ke pelosok gunung. Entah tempat mana yang belum terjamah. Semua memang berkat orang-orang dulu.
Tanganku mulai kebas menulis sepanjang ini. Aku tak menggunakan komputer. Sudah kubunuh sejak aku mulai memikirkan membunuh diriku sendiri. Kulanjutkan sedikit lagi ceritaku. Agar kalian paham, seperti apa mengerikannya wabah virus kesedihan yang tak bernama. Ilmuwan zaman kami tak ingin memberinya nama. Mereka terlalu membencinya.
Virus tak bernama yang menggerogoti endorfin kami memaksa kami untuk membayar kebahagiaan dengan harga yang sangat mahal karena sekarang kebahagiaan itu telah menjadi barang yang sangat langka. Kalau manusia dulu kudengar bisa mendapatkannya semudah memakan makanan pedas, atau berjogging, kini tidak lagi. Hal-hal seperti itu sudah terlalu tak memadai untuk memasok terus endorfin dalam tubuh manusia zaman sekarang. Beberapa orang terlalu tidak sabar dan memilih menyuntikkan morfin pada tubuh mereka (orang-orang dulu itu juga banyak yang melakukannya). Tapi hanya bertahan sebentar, dan lebih banyak efek negatifnya. Mereka sekarat dengan lebih cepat. Mengerikan. Saat penggunaan morfin meluas karena keampuhannya memberikan kebahagiaan dalam waktu cepat, orang-orang di sekelilingku jamak menggunakannya. Tapi sebulan, dua bulan, beberapa bulan kemudian, mereka semua bergelimpangan di jalan-jalan. Aku tak bisa keluar tanpa menginjak mayat-mayat.
Tak hanya karena overdosis morfin, beberapa memilih untuk mengakhiri hidup mereka setelah menahan sakit yang menyayat diri dan jiwa selama bertahun-tahun. Pertengakaran, perpecahan, saling bunuh, adalah efek lainnya yang sudah biasa kami alami sehari-hari, yang kami derita karena serangan virus yang menyebabkan terkikisnya hormon endorfin dalam diri kami. Jiwa kami lama-lama menghitam. Kudengar, di suatu tempat yang jauh, entah dimana, masih ada beberapa kaum yang ternyata tidak mengalami virus pengikisan endorfin ini. Kalaupun mereka terjangkiti, efeknya tak separah yang lainnya. Aku tak tahu apa yang menyebabkan mereka bisa bertahan. Kudengar, nenek moyang mereka dari manusia zaman dulu adalah orang-orang yang rajin bermeditasi, beribadah dan berdoa. Apakah kau pikir aku akan mencari mereka?
Tidak. Sayangnya. Virus itu telah mengebiri segala keinginan untuk berjuang. Yang ada, hanyalah sisa-sisa kekuatan untuk bertahan. Rumah sakit? Tidak ada yang memedulikan pergi ke rumah sakit. Obat-obat itu harganya selangit. Lagipula, suster dan dokter juga lebih mementingkan kebahagiaan diri mereka sendiri. Jangan tanyakan pemerintah kami.
Tanganku sudah benar-benar tak sanggup menulis. Rasa nyeri seolah akan menghancurkan tulang-tulang dalam tubuhku. Menuliskan ini semua membuatku merasa menipu diri sendiri. Apakah kalian, manusia masa depan, ada atau tidak? Barusan kudengar kaca apartemen sebelah berbunyi nyaring. Tetanggaku mengakhiri perjuangannya untuk mempertahankan kewarasan. Bagaimana denganku? Aku memilih untuk bertahan sedikit lagi saja….
P.S.: Jika saja ilmuwan mampu menemukan mesin waktu, aku bersungguh-sungguh ingin mengirimkan surat ini kepada orang-orang dulu
0 comments