#03 Endorphin
Minggu 3
Kamisan S2 #03 - Endorphin: Cinta untuk Perempuan Pengantong Petrichor
07.29Unknown
Dana masih menatap ujung menara gereja yang menyembul di sela-sela pohon cemara yang tumbuh berjajar rapi di depannya. Dia datang ke sini bukannya dengan sengaja ingin menatap ujung gereja tersebut. Tetapi ia sedang berusaha menekan hormon Nor-Adrenalin yang bisa saja membuat dadanya lesak lalu berlubang untuk selama-lamanya. Sekarang, karna melihat gereja itu, bisa dipastikan hatinya memiliki lubang yang menganga. Sial!
Adalah Elmara Khairi, perempuan yang mengantongi petrichor ke mana-mana. Ia tidak butuh hujan untuk meresonansi pikirannya agar bisa pergi ke masa lalu. Ia bisa, dan hampir selalu melakukannya setiap hari. Ia punya mesin waktu sendiri. Catat ini sebagai kesialanku yang kedua.
“Aku butuh endorfin,” katanya tadi di sambungan telepon.
Di tengah tenggat deadline menentukan headline majalah dwi mingguan tempat dia bekerja yang harus segera naik cetak, Dana bahkan tak bisa berdebat. Ia naik ke rooftop. Menduduki bangku kayu panjang yang cukup menampung lima orang sekaligus, dengan ponsel yang menempel daun telinga. Ke sanalah pikirannya terfokus. Pada suara Mara yang sekarang entah sedang ada di mana hingga mampu menyeret lagi masa lalunya
Namun bukan kenangan yang membuatnya membutuhkan endorfin sebagai penenang. Laki-laki brengsek mantan kekasih Mara itu sendiri yang menghubunginya langsung.
Mengatakan bahwa ia sedang ada di bandara, yang begitu saja mengingatkannya pada Mara. Memang, pada masa mereka berpacaran, Mara pernah menunggui mantannya itu di bandara. Bagaimana secara ajaib mereka bertemu di tengah lalu-lalang orang dengan kesalahan Mara menunggu di tempat yang salah. Serta bagaimana mereka berbagi latte hangat dari gerai penjual donat bergarnis setelah pelukan singkat. Yang benar sajalah!
“Ia masih pria yang sama, Dan, pria yang pernah menyatakan cintanya padaku. Hanya saja bedanya kini dia bersama seseorang.”
Dan kaumasih menunggunya. Hanya karna dia bilang kauperempuan yang paling tabah mencintainya bukan berarti kauharus terus bertahan seperti ini, kataku dalam hati
“Satu-satunya alasan kami tidak bisa bersama adalah perbedaan agama. Andai saja, maka kami sudah bisa bersama.”
Aku benci sekali ketika Mara sudah memakai kosakata perandaian dalam kalimat-kalimatnya. Alasan yang ia buat dengan konyol. Dana merasakan hatinya mendidih. Pria seperti apa yang terus memerangkap mantan pacarnya di masa lalu saat dia sudah bersama seseorang? Dana sangat ingin menghantam, satu atau dua kali wajah si Brengsek itu.
Dana melangkah gontai menuju ruang kerjanya kembali. Ogah-ogahan membuka map-map laporan yang bertumpuk di atas mejanya. Ia masih punya pekerjaan rumah menentukan headline. Baiklah, urusan hati biar menunggu sebentar.
Map pertama yang diambilnya dari desk politik, perkara urusan pemilihan presiden pekan depan. Ini sih berita sudah nyaris basi, pembaca akan bosan kalau disuguhi berita ini lagi sebagai headline.
Map kedua desk kriminalitas, kepala sekolah JIS diduga merupakan pelaku fedofil. Boleh juga, katanya. Dana menyisihkan map tersebut agak ke sudut. Ia meraih lagi map selanjutnya.
Map ketiga dari desk seni dan olahraga masih dan akan bertahan lama, tentang piala dunia. Pilihan kedua, Dana mulai menimbang-nimbang.
Perasaan senang mulai merasukinya. Dana memang sangat menyukai dunia pemberitaan. Menjadi wartawan adalah cita-citanya sejak menjadi mahasiswa. Sekarang, ia, Andana Prasetia adalah redaktur di majalah dwi mingguan sekelas Target. Dana tersenyum. Ia pantas berbangga diri untuk itu. Target termasuk majalah paling berpengaruh di tanah air selain oplahnya yang membludak.
Map ketiga dari desk kesehatan. Dana tertegun membaca judul artikel tersebut.
The Miracle of Endorphin*
Endorfin? Apakah sama dengan endorfin-nya Mara? Sebetulnya, Dana tidak tahu persis apa makna endorfin yang selalu Mara katakan. Ia tidak bertanya. Juga tidak mencari tahu. Ia hanya pada akhirnya maklum ketika Mara mengatakan ia perlu endorfin artinya gadis itu akan bercerita panjang-lebar padanya. Mara hanya berkata bahwa endorfin adalah obat penenang. Dana sudah cukup senang hanya dengan mengetahui itu.
Ia membaca artikel itu dalam hati, dengan cepat tetapi tetap cermat.
Jadi, endorfin diproduksi oleh hormon di dalam tubuh. Merupakan zat alami penghilang rasa sakit. Endorfin menimbulkan perasaan senang dan nyaman terhadap sesuatu misalnya mendengarkan musik atau bahkan ketika sedang jatuh… Cinta?
Jatuh cinta?
Ini informasi baru bagi Dana. Perasaannya terasa ringan. Ia merencanakan sesuatu. Dana keluar dari ruangannya. Berteriak dari depan pintu,
“Headline dari desk kesehatannya. Yuuk semuanya ke ruang rapat. Kita rapat dulu.”
Hampir seluruh wartawan Target di ruangan itu tercengang. Tentunya tidak pernah ada yang menyangka bahwa desk kesehatan akan bisa menjadi headline. Paling umum dari desk politik atau ekonomi.
“Ayooh! Kok pada bengong. Rapat yok! Sudah semakin dekat deadline nih!”
——–
Malam harinya di rumah Mara.
Dana tak sempat mengganti bajunya. Ia masih memakai baju yang sama dari dua hari lalu. Ia tak sempat pulang. Selalu begitu ketika sedang sibuk mengejar deadline. Ia bahkan tak sempat tidur. Dana menguap sekali.
Ia meninggalkan kemejanya di kantor. Saat ini ia hanya memakai kaos hitam berlengan panjang dengan leher berbentuk v yang membuatnya tidak nyaman. Tapi kaos itu hadiah dari Mara. Jadi apa boleh buat.
Ia tadi sudah memencet bel. Mara akan tiba membukakannya pintu dalam,
Satu
Dana memeriksa pita merah yang melingkari kotak kado yg dibawanya. Ia tersenyum lalu menyembunyikannya kebelakang punggung dengan tangan kiri.
Dua.
Dana merapikan rambutnya. Tidak. Bukan rapi seperti pria necis. Sejujurnya, ia lebih suka rambutnya terlihat agak berantakan. Lebih membuatnya percaya diri.
Tiga.
Terdengar suara klik dari dalam. Mara mengenakan pakai santai di rumah. Gadis itu terkejut karna memang Dana sama sekali tak memberi tahunya.
“Tumben,” katanya.
“Baru saja selesai deadline.“ Ia sengaja menggantung kalimatnya.
“Daaaan?” Mara menepi, membuat celah di antara pintu dan dirinya. Gadis itu menyilangkan tangan ke dada,nyaris tertawa. Aku mungkin seperti zombie berjalan, batin Dana.
“Aku mau memberimu endorfin yang sesungguhnya.” Dana menyerobot masuk melewati Mara.
Gadis pengantong petrichor itu menyusul. Ah tidak. Ia akan jadi gadis pemasok endorfinku. “Endorfin?” katanya. Jelas sekali ia bingung.
Dana berbalik menghadap Mara, memasang senyum paling payah yang bisa ia usahakan. Sial! Jangan tumbang sekarang tubuhku!
——–
23:00
Keterangan :
1) The Miracle of Endorphin diambil dari judul buku Dr. Shigeo Haruyama.
2) Target adalah nama majalah yang ada dalam film Dunia Tanpa Koma. Majalah Target dalam cerpen ini juga adalah Target dalam filn tersebut.
Adalah Elmara Khairi, perempuan yang mengantongi petrichor ke mana-mana. Ia tidak butuh hujan untuk meresonansi pikirannya agar bisa pergi ke masa lalu. Ia bisa, dan hampir selalu melakukannya setiap hari. Ia punya mesin waktu sendiri. Catat ini sebagai kesialanku yang kedua.
“Aku butuh endorfin,” katanya tadi di sambungan telepon.
Di tengah tenggat deadline menentukan headline majalah dwi mingguan tempat dia bekerja yang harus segera naik cetak, Dana bahkan tak bisa berdebat. Ia naik ke rooftop. Menduduki bangku kayu panjang yang cukup menampung lima orang sekaligus, dengan ponsel yang menempel daun telinga. Ke sanalah pikirannya terfokus. Pada suara Mara yang sekarang entah sedang ada di mana hingga mampu menyeret lagi masa lalunya
Namun bukan kenangan yang membuatnya membutuhkan endorfin sebagai penenang. Laki-laki brengsek mantan kekasih Mara itu sendiri yang menghubunginya langsung.
Mengatakan bahwa ia sedang ada di bandara, yang begitu saja mengingatkannya pada Mara. Memang, pada masa mereka berpacaran, Mara pernah menunggui mantannya itu di bandara. Bagaimana secara ajaib mereka bertemu di tengah lalu-lalang orang dengan kesalahan Mara menunggu di tempat yang salah. Serta bagaimana mereka berbagi latte hangat dari gerai penjual donat bergarnis setelah pelukan singkat. Yang benar sajalah!
“Ia masih pria yang sama, Dan, pria yang pernah menyatakan cintanya padaku. Hanya saja bedanya kini dia bersama seseorang.”
Dan kaumasih menunggunya. Hanya karna dia bilang kauperempuan yang paling tabah mencintainya bukan berarti kauharus terus bertahan seperti ini, kataku dalam hati
“Satu-satunya alasan kami tidak bisa bersama adalah perbedaan agama. Andai saja, maka kami sudah bisa bersama.”
Aku benci sekali ketika Mara sudah memakai kosakata perandaian dalam kalimat-kalimatnya. Alasan yang ia buat dengan konyol. Dana merasakan hatinya mendidih. Pria seperti apa yang terus memerangkap mantan pacarnya di masa lalu saat dia sudah bersama seseorang? Dana sangat ingin menghantam, satu atau dua kali wajah si Brengsek itu.
Dana melangkah gontai menuju ruang kerjanya kembali. Ogah-ogahan membuka map-map laporan yang bertumpuk di atas mejanya. Ia masih punya pekerjaan rumah menentukan headline. Baiklah, urusan hati biar menunggu sebentar.
Map pertama yang diambilnya dari desk politik, perkara urusan pemilihan presiden pekan depan. Ini sih berita sudah nyaris basi, pembaca akan bosan kalau disuguhi berita ini lagi sebagai headline.
Map kedua desk kriminalitas, kepala sekolah JIS diduga merupakan pelaku fedofil. Boleh juga, katanya. Dana menyisihkan map tersebut agak ke sudut. Ia meraih lagi map selanjutnya.
Map ketiga dari desk seni dan olahraga masih dan akan bertahan lama, tentang piala dunia. Pilihan kedua, Dana mulai menimbang-nimbang.
Perasaan senang mulai merasukinya. Dana memang sangat menyukai dunia pemberitaan. Menjadi wartawan adalah cita-citanya sejak menjadi mahasiswa. Sekarang, ia, Andana Prasetia adalah redaktur di majalah dwi mingguan sekelas Target. Dana tersenyum. Ia pantas berbangga diri untuk itu. Target termasuk majalah paling berpengaruh di tanah air selain oplahnya yang membludak.
Map ketiga dari desk kesehatan. Dana tertegun membaca judul artikel tersebut.
The Miracle of Endorphin*
Endorfin? Apakah sama dengan endorfin-nya Mara? Sebetulnya, Dana tidak tahu persis apa makna endorfin yang selalu Mara katakan. Ia tidak bertanya. Juga tidak mencari tahu. Ia hanya pada akhirnya maklum ketika Mara mengatakan ia perlu endorfin artinya gadis itu akan bercerita panjang-lebar padanya. Mara hanya berkata bahwa endorfin adalah obat penenang. Dana sudah cukup senang hanya dengan mengetahui itu.
Ia membaca artikel itu dalam hati, dengan cepat tetapi tetap cermat.
Jadi, endorfin diproduksi oleh hormon di dalam tubuh. Merupakan zat alami penghilang rasa sakit. Endorfin menimbulkan perasaan senang dan nyaman terhadap sesuatu misalnya mendengarkan musik atau bahkan ketika sedang jatuh… Cinta?
Jatuh cinta?
Ini informasi baru bagi Dana. Perasaannya terasa ringan. Ia merencanakan sesuatu. Dana keluar dari ruangannya. Berteriak dari depan pintu,
“Headline dari desk kesehatannya. Yuuk semuanya ke ruang rapat. Kita rapat dulu.”
Hampir seluruh wartawan Target di ruangan itu tercengang. Tentunya tidak pernah ada yang menyangka bahwa desk kesehatan akan bisa menjadi headline. Paling umum dari desk politik atau ekonomi.
“Ayooh! Kok pada bengong. Rapat yok! Sudah semakin dekat deadline nih!”
——–
Malam harinya di rumah Mara.
Dana tak sempat mengganti bajunya. Ia masih memakai baju yang sama dari dua hari lalu. Ia tak sempat pulang. Selalu begitu ketika sedang sibuk mengejar deadline. Ia bahkan tak sempat tidur. Dana menguap sekali.
Ia meninggalkan kemejanya di kantor. Saat ini ia hanya memakai kaos hitam berlengan panjang dengan leher berbentuk v yang membuatnya tidak nyaman. Tapi kaos itu hadiah dari Mara. Jadi apa boleh buat.
Ia tadi sudah memencet bel. Mara akan tiba membukakannya pintu dalam,
Satu
Dana memeriksa pita merah yang melingkari kotak kado yg dibawanya. Ia tersenyum lalu menyembunyikannya kebelakang punggung dengan tangan kiri.
Dua.
Dana merapikan rambutnya. Tidak. Bukan rapi seperti pria necis. Sejujurnya, ia lebih suka rambutnya terlihat agak berantakan. Lebih membuatnya percaya diri.
Tiga.
Terdengar suara klik dari dalam. Mara mengenakan pakai santai di rumah. Gadis itu terkejut karna memang Dana sama sekali tak memberi tahunya.
“Tumben,” katanya.
“Baru saja selesai deadline.“ Ia sengaja menggantung kalimatnya.
“Daaaan?” Mara menepi, membuat celah di antara pintu dan dirinya. Gadis itu menyilangkan tangan ke dada,nyaris tertawa. Aku mungkin seperti zombie berjalan, batin Dana.
“Aku mau memberimu endorfin yang sesungguhnya.” Dana menyerobot masuk melewati Mara.
Gadis pengantong petrichor itu menyusul. Ah tidak. Ia akan jadi gadis pemasok endorfinku. “Endorfin?” katanya. Jelas sekali ia bingung.
Dana berbalik menghadap Mara, memasang senyum paling payah yang bisa ia usahakan. Sial! Jangan tumbang sekarang tubuhku!
——–
23:00
Keterangan :
1) The Miracle of Endorphin diambil dari judul buku Dr. Shigeo Haruyama.
2) Target adalah nama majalah yang ada dalam film Dunia Tanpa Koma. Majalah Target dalam cerpen ini juga adalah Target dalam filn tersebut.
0 comments