#01 Pernikahan Minggu 1

Kamisan S2 #01 - Pernikahan: Gadis yang takut Pernikahan

13.04Unknown

Ini pertama kalinya aku mengikuti ‘Kamisan’. Seolah takdir kejam ingin mengejekku, tema ‘Pernikahan’-lah yang diangkat untuk program/acara/entah-apa-namanya menulis bersama ini dikali pertama aku mengikutinya. Untuk mereka yang sudah mengenalku, pastilah tak heran dengan antipatiku yang terlalu dengan kata itu. Bukan hanya kata, namun juga konsep kehidupan itu.

Aku pernah duduk dengan seorang rekan penulis. Berbeda denganku yang antipati, dia sangat ingin menikah. Aku ingat kalimat yang diucap (yang membuatku berpikir beberapa kali) olehnya waktu itu: “Aku bisa saja bahagia sendirian Renee, tak ada masalah dengan itu, tapi kalau bisa kubagi kebahagiaan itu dengan pasanganku, bukankah itu lebih tepat dilakukan daripada merasakannya sendiri?”

Untuk sebagian orang, mungkin konsep kehidupan seperti itu memang tepat. Namun entah mengapa, tidak begitu bagiku. Bukan berarti aku selalu seperti ini. Kalau boleh mengaku, dulu—entah berapa abad yang lalu—aku pernah juga menjadi satu dari mereka yang mempunyai keinginan hidup itu. Berandai dan berangan kalau suatu hari nanti aku akan memiliki keluarga kecil harmonis. Suami yang setiap pagi kubuatkan sarapan, kusiapkan pakaian kerjanya, kupasangkan dasi, kusalami punggung tangannya sebelum ia berangkat kerja. Sepasang anak yang kubuatkan bekal untuk sekolah, kupakaikan seragam dan sepatunya, kuperiksa isi tasnya agar tak sampai mereka lupa membawa pekerjaan rumah yang semalam sudah mereka kerjakan, kuantar sampai gerbang sekolah. Aku yang kembali ke rumah untuk melakukan tugas rumah tangga, berbelanja, memasak, membuat kerajinan tangan demi mengisi waktu sampai anak-anakku pulang sekolah, hal-hal seperti itu. Kalau kuingat lagi, semua terasa lucu dan tabu. Hanya senyum dan kekehan miris yang terkembang di wajah karena ketidakpercayaan bahwa hal-hal itu pernah menjadi tujuan hidupku.

Kalau tak salah ingat, usiaku 20 tahun waktu itu. Ketika aku ditampar arti kesendirian yang sendiri. Ada 6 milyar jiwa di bumi dan aku tetap sendiri. Ada ratusan manusia yang kusebut teman dan aku tetap sendiri. Ada puluhan sahabat dan aku tetap sendiri. Ada belasan keluarga dan aku tetap sendiri. Ada dua orang tua dan aku bukan anak. Ada satu Tuhan yang sedang tidak di tempat karena sepertinya saat itu ia lupa kalau ada aku sendiri yang berusaha menghubunginya. Karena itulah aku jadi mengerti: aku bisa bahagia sendiri, lalu, mengapa harus kubagi dengan orang lain dan mengikat diri dalam pernikahan kalau kubisa bahagia sendiri? Ya, aku belajar dari kehidupan. Tak baik menggantungkan harapan pada orang, karena mereka hanya datang dan pergi sesuka hati tanpa peduli rasa pahit yang ditinggalkannya nanti.

Seorang mantan pemilik hati ini pernah berucap: “Mungkin, kamu hanya belum menemukan orang yang ingin kamu jadikan tujuan hidupmu, Renee.” Aku tak bisa mendebatnya. Kurasa, sebagian kecil ia ada benarnya. Kurasa, sebagian besar lagi, aku terlalu takut. Ya, sepertinya ‘takut’ adalah kata yang tepat mengapa aku mengantipati pernikahan.Takut disandiwara, takut dikecewakan dan mengecewakan, takut berhasil dan takut tak berhasil, dan takut-takut lainnya.

Semoga saja, suatu hari nanti—sebelum kiamat tiba—ketakutanku hilang dan pikiranku berubah tentang ini. Semoga saja. Mari berdoa.

Tak disangka, sudah 500 kata aku meracau soal Pernikahan. Mari kita sudahi saja sampai di sini sebelum aku meracau lebih jauh dan melenceng dari tema ‘Kamisan’ minggu ini. :v

Salam kenal,


Renee~


se·men·da n pertalian keluarga karena perkawinan dengan anggota suatu kaum, jika dipandang dari kaum itu; hubungan kekeluargaan karena ikatan perkawinan: adat –, aturan adat bermamak kemenakan (menurut garis ibu).
#kbbi
^ (di Tanah Pertiwi ini, entah mengapa, pernikahan bukan hanya milik dua insan yang saling mencinta, namun milik keluarga dan adatnya.)

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak