Ini pertama kalinya aku mengikuti ‘Kamisan’. Seolah takdir kejam
ingin mengejekku, tema ‘Pernikahan’-lah yang diangkat untuk
program/acara/entah-apa-namanya menulis bersama ini dikali pertama aku
mengikutinya. Untuk mereka yang sudah mengenalku, pastilah tak heran
dengan antipatiku yang terlalu dengan kata itu. Bukan hanya kata, namun
juga konsep kehidupan itu.
Aku pernah duduk dengan seorang rekan penulis. Berbeda denganku yang
antipati, dia sangat ingin menikah. Aku ingat kalimat yang diucap (yang
membuatku berpikir beberapa kali) olehnya waktu itu: “Aku bisa saja
bahagia sendirian Renee, tak ada masalah dengan itu, tapi kalau bisa
kubagi kebahagiaan itu dengan pasanganku, bukankah itu lebih tepat
dilakukan daripada merasakannya sendiri?”
Untuk sebagian orang, mungkin konsep kehidupan seperti itu memang
tepat. Namun entah mengapa, tidak begitu bagiku. Bukan berarti aku
selalu seperti ini. Kalau boleh mengaku, dulu—entah berapa abad yang
lalu—aku pernah juga menjadi satu dari mereka yang mempunyai keinginan
hidup itu. Berandai dan berangan kalau suatu hari nanti aku akan
memiliki keluarga kecil harmonis. Suami yang setiap pagi kubuatkan
sarapan, kusiapkan pakaian kerjanya, kupasangkan dasi, kusalami punggung
tangannya sebelum ia berangkat kerja. Sepasang anak yang kubuatkan
bekal untuk sekolah, kupakaikan seragam dan sepatunya, kuperiksa isi
tasnya agar tak sampai mereka lupa membawa pekerjaan rumah yang semalam
sudah mereka kerjakan, kuantar sampai gerbang sekolah. Aku yang kembali
ke rumah untuk melakukan tugas rumah tangga, berbelanja, memasak,
membuat kerajinan tangan demi mengisi waktu sampai anak-anakku pulang
sekolah, hal-hal seperti itu. Kalau kuingat lagi, semua terasa lucu dan
tabu. Hanya senyum dan kekehan miris yang terkembang di wajah karena
ketidakpercayaan bahwa hal-hal itu pernah menjadi tujuan hidupku.
Kalau tak salah ingat, usiaku 20 tahun waktu itu. Ketika aku ditampar
arti kesendirian yang sendiri. Ada 6 milyar jiwa di bumi dan aku tetap
sendiri. Ada ratusan manusia yang kusebut teman dan aku tetap sendiri.
Ada puluhan sahabat dan aku tetap sendiri. Ada belasan keluarga dan aku
tetap sendiri. Ada dua orang tua dan aku bukan anak. Ada satu Tuhan yang
sedang tidak di tempat karena sepertinya saat itu ia lupa kalau ada aku
sendiri yang berusaha menghubunginya. Karena itulah aku jadi mengerti:
aku bisa bahagia sendiri, lalu, mengapa harus kubagi dengan orang lain
dan mengikat diri dalam pernikahan kalau kubisa bahagia sendiri? Ya, aku
belajar dari kehidupan. Tak baik menggantungkan harapan pada orang,
karena mereka hanya datang dan pergi sesuka hati tanpa peduli rasa pahit
yang ditinggalkannya nanti.
Seorang mantan pemilik hati ini pernah berucap: “Mungkin, kamu hanya
belum menemukan orang yang ingin kamu jadikan tujuan hidupmu, Renee.”
Aku tak bisa mendebatnya. Kurasa, sebagian kecil ia ada benarnya.
Kurasa, sebagian besar lagi, aku terlalu takut. Ya, sepertinya ‘takut’
adalah kata yang tepat mengapa aku mengantipati pernikahan.Takut
disandiwara, takut dikecewakan dan mengecewakan, takut berhasil dan
takut tak berhasil, dan takut-takut lainnya.
Semoga saja, suatu hari nanti—sebelum kiamat tiba—ketakutanku hilang
dan pikiranku berubah tentang ini. Semoga saja. Mari berdoa.
Tak disangka, sudah 500 kata aku meracau soal Pernikahan. Mari kita
sudahi saja sampai di sini sebelum aku meracau lebih jauh dan melenceng
dari tema ‘Kamisan’ minggu ini. :v
Salam kenal,
Renee~
se·men·da n pertalian keluarga karena perkawinan dengan anggota suatu kaum, jika dipandang dari kaum itu; hubungan kekeluargaan karena ikatan perkawinan: adat –, aturan adat bermamak kemenakan (menurut garis ibu).^ (di Tanah Pertiwi ini, entah mengapa, pernikahan bukan hanya milik dua insan yang saling mencinta, namun milik keluarga dan adatnya.)
#kbbi
0 comments