#01 Pernikahan Davidhukom

Kamisan S2 #01 - Pernikahan: Kajian tentang Romantisme Pernikahan dalam Perspektif Masyarakat Indonesia

10.44Unknown


…di dekatnya aku lebih tenang, bersamanya jalan lebih terang.

***

Lagu yang sama masih mengalun di radio butut milik sebuah warung kopi yang sekaligus menjual makanan kecil serupa gorengan dan jajanan lainnya. Warung Bu Prapti itu terletak di ujung kampung. Berukuran delapan kali enam meter, tiga bangku panjang di luar, satu di dalam, ada juga meja panjang tempat meletakkan gorengan dan pesanan pelanggan. Warung yang berdiri sejak 1998 itu jarang sekali sepi kecuali pada saat musim lebaran. Di sana orang biasa sekedar ngopi, cangkrukan, berkumpul, berserikat, mengemukakan pendapatnya atas berbagai macam persoalan dalam dialog ala tukang becak, hansip, kuli, sopir truk dan ojek.

Siang itu, Heru  masih terdiam di bangku pojok warung. Matanya menerawang jauh, entah kemana. Sementara tubuhnya tak beranjak sedikitpun dari tempat ia pertama kali duduk dari sejam yang lalu. Ia kembali menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan tapi pasti, hingga terbatuk-batuk dengan keras menjelang tiupan terakhir. Membuatnya tersadar, itu batang kelima yang sudah dibakarnya dalam seperminuman kopi.

Pak Jarwo yang dari tadi mengamati Heru, terkikik sambil mengambil mendoan yang mulai dingin, “Kamu itu mikirin apa toh Her, kok seperti orang owah begitu” ujar Pak Jar sambil melangkah mendekat lalu duduk di samping Heru.

Heru menggeser bokongnya yang sudah panas, “Endang, masalah Endang itu lho pakdhe”. Tangannya mengambil lagi sebatang rokok, kemudian meminum lagi kopinya yang tinggal setengah, tak lama api mulai membakar kretek kembali.

Dinamakan rokok kretek karena tak memakai filter di bagian pangkalnya dan menimbulkan suara “kretek, kretek” ketika dibakar. Tapi bukan itu yang ada di pikiran Heru sekarang. Endang kekasihnya, menuntut Heru agar mereka segera diresmikan sebagai suami istri, bukan hanya sepasang muda-mudi yang luntang-lantung tak jelas arah tujuannya. Kalau sekali dua kali Heru masih bisa meng-handle tapi ini levelnya sudah sampai taraf mengancam. Itulah yang membuatnya galau belakangan hari ini.

“Kenapa lagi si Endang? Ayannya kambuh? Atau gimana?” jawab Pak Jar sambil tersenyum lebar.

Bu Prapti yang sedari tadi serius menggoreng pisang ikut tersenyum geli, sepertinya mulai tertarik pada percakapan mereka berdua. Ia mengamati sambil tangannya terus menggoreng. Sementara kupingnya bak parabola penangkap sinyal wifi, terus siap mendengar untuk mendapat informasi apapun.

“Duh, Pakdhe ini masih bisa bercanda saja, ini persoalan serius Dhe, masalah hidup matiku, masa depanku!” kata Heru seraya menurunkan kakinya yang daritadi cangkruk.

“Halah raimu Her” kata Pakdhe tergelak. “Masalah serius apa, wong masalahmu yang paling rumit itu mentok di utang kopi sama makanmu di warungnya Bu Prapti ini lho”. Bu Prapti terlihat senyum-senyum mendengar namanya disebut.

“Yo ndak gitu pakdhe, sampean tahu lah, Endang itu terus maksa aku supaya segera melamarnya, lha sedangkan aku ini modal darimana, wong kuliah saja belum lulus-lulus” jelas Heru.

“Sek Tho bentar, kamu itu memangnya sudah yhang-yhangan toh sama Endang?”

“Lhah pakdhe ini kok ketinggalan gosip toh. Sudah resmi pacaran tiga bulan ini pakdhe, nah sekarang bapaknya itu terus nanyain tiap aku ke sana, kapan mau ngelamar si Endang”

“Ealah ya ada yang mau ya sama dapuranmu itu”, pakdhe Jar terbahak-bahak hingga terpejam matanya. “Gini lho Her, nikah itu kan ya ibadah, Tuhan sendiri yang nyuruh, kalau Tuhan yang nyuruh itu ya pasti dikasih juga jalannya, biarpun hidupmu byar pet byar pet kayak lampu 5 watt, kalau Tuhan sudah mengijinkan ya pasti jadi toh”.

“Duh, pakdhe tapi ya mosok kudu nekat gitu, kan ya ndak etis ngelamar anak orang nggak modal, apalagi jaman sekarang, tapi saya itu masih takut mau ketemu Pak Darmanto.”

“Hmm, sepertinya yang diminta Pak Darmanto itu bukan kamu buru-buru nikahin Endang, dia tahu hidupmu sengsaranya bukan main gitu kok masa ya tega. Beliau itu cuma minta kepastian sama kamu, biar kesannya Endang itu nggak kamu gantungkan, kalau misalnya kamu bilang nanti setelah kuliah, mau cari kerja dulu, baru melamar, kok tak kira Pak Darmanto nggak keberatan”.

“Mosok gitu Pakdhe? Andai saya bisa jelaskan seperti itu ke bapaknya Endang.”

“Her, nikah itu nggak gampang, kamu kira tinggal corat-coret buku nikah terus pasang fotomu yang nggak bisa dibedakan yang mana muka, yang mana cap jempol itu terus beres? Nggak gitu. Nikah itu ada trap-trapnya, ada tahapan-tahapannya kamu siapin diri kamu dulu, apalagi kamu itu wong lanang, lelaki, Itu harus bisa memimpin nantinya. Lhah kalau kamu memimpin dirimu sendiri buat nyuci baju yang kotor aja nggak bisa mana bisa memimpin orang lain? Ya tho?” Kalimat Pakdhe Jarwo menusuk tajam di hati dan kepala Heru, ini yang dicarinya beberapa hari terakhir, ceplosan-ceplosan dari Pakdhe Jarwo. Heru hanya mengangguk mengiyakan.

“Menikah itu sakral, biarpun jaman sekarang sudah banyak yang meremehkan dan menjadikan kesakralan itu sebagai tren yang dijual untuk menambah popularitas diri. Artis kawin cerai, biarpun nggak semua, pakdhe ini masih yakin banyak yang percaya bahwa menikah itu bagusnya memang seumur hidup sekali. karena kamu sudah nggak cari pacar, nggak cari yhang-yhangan, tapi cari teman hidup, yang mau menemani biar waktu kamu susah ataupun senang, baik waktu kamu sehat atau sakit, nggak cuma menemani kamu waktu masih muda tapi juga saat tua. Nggak cuma seneng-seneng thok, tapi juga waktu susah itu ya bareng-bareng, itu baru istri ya Her, belum soal anak, intinya itu ya….”

“Sek bentar pakdhe” Heru memotong ucapan pakdhe Jarwo, tangannya kemudian mengambil secanngkir kopi dan meminumnya seteguk, “Saya baru mau nikah pakdhe, belum sejauh itu. Langsung ke pokoknya saja pakdhe, kasihan yang nulis dan yang baca”, katanya kemudian.

Pakdhe Jarwo tertawa, lalu berkata “Gini lho maksud pakdhe, kamu pikirkan dulu, sejauh apa hubunganmu sama Endang, sejauh apa kamu mengenal dia. Baik buruknya, sifat-sifatnya. Kalau dibawa ke situasi terburuk apa kalian bisa bertahan?. Nikah itu kalau bisa ya diusahakan sekali saja seumur hidup. Jangan ngikuti tren yang kawin-cerai itu. Kamu yakinkan Endang tentang cita-citamu, harapanmu, keinginanmu gimana sama dia. Kamu lihat dia mau mengerti apa nggak. Kalau mau ya syukur, kalau nggak ya nasibmu, hehehehe”. Sebatang lagi kretek berpindah dari bungkusnya ke tangan Pakdhe Jarwo.

“Halah, Pakdhe ini kok meremehkan saya. Sudah saya bicarakan itu sama Endang, kalau Endang mau mengerti, dia juga mau menunggu, toh kita juga masih sama-sama muda. Tapi dia masih minta aku ketemu bapaknya.”

“Ya sudah toh tinggal ditemui? Nunggu apa?” Sela Pakdhe, “Tinggal kamu bilang sama bapaknya Endang, bahwa kamu itu masih mau serius kuliah, terus bekerja, menabung, biar nanti nggak bingung kalau sudah nikah, jadi untuk sekarang, kalau menikah tentu belum siap. Tapi kalau sekedar untuk melamar agar ada ikatan, Insya Allah sanggup. Tapi dengan catatan kamu sebagai lelaki juga harus bisa dipercaya, congormu itu harus bisa dipegang, kalau sampai kamu ingkar sendiri sama ucapanmu, pakdhe sendiri yang ngebiri kamu”

“Duh pakdhe, kok ya gitu banget sama saya. Tapi nganu e pakdhe, saya belum siap pakdhe, Pak Darmanto itu..” Jawab Heru menggantung kalimat terakhirnya, membiarkan Pakdhe Jarwo menebak-nebak jalan pikirannya.

“Yasudah, kamu pulang. Mandi, dandan yang rapi, nanti habis maghrib jemput Pakdhe di rumah, kita bareng-bareng ke rumah Pak Darmanto, membicarakan masalahmu ini.” Sela pakdhe Jarwo seolah sudah paham dengan jalan pikiran keponakannya ini.

“ALHAMDULILLAH!! Terima kasih lho Pakdhe!!” Heru kegirangan menjabat dan mencium tangan Pakdhe Jarwo yang sukses membaca pikirannya. “Bu Prapti! Ini kopi saya, sama Pakdhe Jarwo, ditambah rokok dua bungkus punya pakdhe tolong ditotal!” Serunya pada Bu Prapti.

Bu Prapti seraya menyelesaikan menggoreng, bertanya “Mau kamu bayar semua toh Her? Sama utangmu yang bulan lalu??” dengan kegirangan.

“Nggak Buk! Ngutang dulu! Catat saja! Tanggal satu tak bayar!” Jawab Heru sambil berlalu.

“Oalah Her, nurun siapa polahmu le!” Bu Prapti hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala melihat pelanggannya yang satu itu.

***

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku berdua kita hadapi dunia.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak