#01 Pernikahan Cikiewahab

Kamisan S2 #01 - Pernikahan: Nikah Yuk!

10.36Unknown

“Aku membayangkan gaun panjang dengan lilitan bunga di kepala. Ada senyum merekah dan tatapan mesra. Tidak hanya itu. Setelah perjanjian di hadapan Tuhan, aku dan seseorang itu akan saling belajar bagaimana tetap membuat kami tersenyum meski tak bisa dipungkiri akan banyak rintangan yang dihadapi.”

Seseorang menertawai ucapanku. “Kau terlalu klise,” ujarnya. Temanku itu sok tahu. Apa ia tidak melihat bagaimana Ibu dan Ayahku bertahan selama bertahun-tahun dengan pernikahan mereka. Aku belajar pada mereka.

“Kau harusnya memikirkan pernikahan juga!” ajakku padanya.

“Ah,  kenapa dipikirkan. Jalani saja.”

“Huh. Dengan cara menolak beberapa orang yang mendekatimu?”

“Kalau tidak suka bagaimana? Aku tidak mau tidur dan menyentuh dirinya. Menjijikkan.”

Kami tertawa.

“Apa Ibumu tak pernah menangis? Maksudku Ibumu kelihatan bahagia dan tentu hatinya. Tapi Ibuku bilang pernikahan itu seperti bermain catur. Harus pakai strategi. Jika tidak kau akan di makan senjatamu sendiri.”

Aku  menggaruk kepala. Setahuku ibu pernah menangis. Terlebih jika Ayah mulai berkata dengan nada tinggi. Meski tidak memukul, Ayah pernah menggores hati ibu. Lalu kenapa ibuku bisa bertahan setelah tiga puluh tahun pernikahan mereka? Ibu bilang. Ibu membiasakan diri pada Ayah. Dalam mata Ibu hanya ada Ayah. Dalam hati Ibu Tuhan menyuruhnya berbuat seperti itu.

“Well. “ temanku berkata lagi. “Jika kau memutuskan bersama orang itu dan mendapati kekurangan dirinya yang lain setelah kau menikah, akankah kau tinggalkan dia?”

“Hm… Kami bisa mencari solusinya berdua. Kau tahu kalau aku suka mendiskusikan apapun.”

“Itu berbeda, Cantik. Jika kau terlalu membahas permasalahan itu, suamimu akan bosan dan menghirup udara luar tanpa dirimu. Itu bahaya.”

“Benar. Ibuku pernah berkata seperti itu. Jika kelak aku menikah, aku harus jadi perempuan yang meneduhkan mata suamiku. Menjadi pelukan paling hangat dan tidak cerewet.”

“Haha? Benar. Perempuan jika terlalu cerewet akan jadi membosankan. Sangat membosankan.”

Aku mengangguk. Setuju perkataan temanku ini.  Dan ia bertanya lagi, “Lalu sekian tahun kau merencanakan ini, kenapa kau belum menikah?”

Aku menghela napas berat. Jodoh tidak bisa ditebak. Menjalin hubungan dan sempat membicarakan pernikahan belum membuatku menikah dengan seorang pria manapun.  Beberapa hubungan yang kandas, perkenalan singkat, perjodohan tak memikat serta melihat beberapa perceraian dari teman sebaya. Kupikir itu tidak mempengaruhi pikiranku untuk menikah. Aku tersenyum .

“Kau jangan melamun. Kalau mau nikah sana di KUA. Orangnya aja belum ada udah ngomongin nikah.” Sentil temanku itu. Aku mencibir dan mencubitnya.

“Nikah yuk. Barengan gitu.”

“Ah. Emoh. Aku mau kado sendiri.”

Aku tertawa. Percakapan ini membuatku lebih bersemangat, bertekad sambil berharap. “Will u be my hero?” 

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak