Maybe if we think and wish and hope and pray it might come true
Baby then there wouldn’t be a single thing we couldn’t do
We could be married
And then we’d be happy
Wouldn’t it be nice
(Beach Boys-Wouldn’t It Be Nice)
Belakangan ini, saya suka sekali mendengarkan lagu milik Beach Boys
ini. Menyenandungkannya bahkan saat lagu itu tidak benar-benar sedang
saya dengarkan. Tapi liriknya, melodinya, beserta segenap kenangannya
telah terpatri di hati dan ingatan saya. Kenangan? Memangnya lagu ini
pernah ada dalam episode penting dalam hidupmu yang mana? Apalagi bagian
yang paling kamu suka yang kamu petik di atas barusan itu kan, Dev? Ya,
bagian favorit saya: We could be married, and then we’d be happy. Oh,
wouldn’t it be nice?
Ya, memangnya pernah ada orang yang mengatakan hal itu padamu, atau
kamu pernah menyanyikan hal itu untuk orang lain? Ya, kasur dan laptop
kamu juga tau kan Dev, belum ada seorang pria pun yang sudah
menyenandungkan hal itu padamu, atau belum pernah ada satu momen pun,
semisal lamaran, yang mana lagu ini jadi backsound-nya. Tapi
lagu ini memang punya kenangan sendiri. Karena lagu ini sempat jadi
benang merah dalam cerpen kolab yang tadinya saya rencanakan bersama
seseorang, tapi ternyata dengan berat hati harus saya batalkan. Karena
satu dan lain hal, ahem. Cerpennya, atau tepatnya tiga cerpen, itu pun
punya tema yang sama dengan tema Kamisan pertama ini. Kenapa bisa sama
begitu ya?
Pernikahan. Hal yang belakangan sedang benar-benar mengisi hati dan
pikiran saya. Seolah seisi dunia sedang merayakan pernikahan.
Teman-teman saya, dari teman SD sampai teman organisasi secara berurutan
menikah. Lantas tema Kamisan juga menikah. Dan kamu pun sedang
merencanakan pernikahan. Dan saya … ya, saya di sini masih terpaku pada
melodi riang namun entah kenapa masih mengiris hati, jadinya masih manis tapi melankolis
rasanya. Macam Magnum rasa Pome yang tadi saya makan seorang diri di
angkot. Manis, tapi ada asem-asemnya (seger sih). Ah ya, belum lagi
rekan sekantor yang juga teman masa kuliah, yang sama sekali tidak saya
duga, nyaris saja menikah mendahului.
Saya ingat, teman saya lainnya pernah menanyakan hal ini pada saya beberapa bulan yang lalu.
“Dev, kalo dateng ke nikahan temen, bikin lo jadi ngerasa gini enggak sih, ‘duh kapan giliran gue’?”
Dan malam itu, dengan sotoynya, saya bilang, “Nggak. Karena saat ini
gue lagi asik aja sama kegiatan yang gue lakuin. Jadi belum terlalu
kepengen banget deh. Dan biasanya kalo gue kepikiran nikah sih yang
udah-udah gegara gue emang lagi suka sama orang….”
Dan kesotoy-an saya itu ternyata jadi bumerang buat saya. Sudah
beberapa bulan ini, tema yang satu itu kembali menghantui saya. Tapi
kalau boleh jujur, mungkin hal ini karena kamu. Kamu yang
sukses menampar saya, dan benar-benar membangunkan saya dari mimpi saya,
dan memaksa saya menghadapi realita. Orang-orang di sekitar saya, mulai
dari yang seumuran sampai yang lebih muda dari saya, sudah mulai
merencanakannya. Lebih-lebih kamu dan rencanamu itu yang
menyadarkan saya. Semacam orang yang sedang pulas-pulasnya lelap dalam
tidur, tiba-tiba kamu bunyikan alarmnya, nyariing sekali alarm itu
menyakiti telinga saya, lalu saat saya bangun, tidak tahunya kepala saya
terantuk sesuatu keras sekali sampai mata saya berair. Ya, itulah rasa
kaget dan sakit yang ditimbulkan kamu dan rencanamu. Tapi ya,
tidak apa. Karena setelah saya benar-benar membuka mata, saya jadi
sadar, teman-teman saya yang seumuran sudah benar-benar memikirkan soal
pernikahan. Saya … saya takut tertinggal. Dan ketika saya bangun, saya
jadi tersadar, saya belum melakukan persiapan apapun.
Dan saat ini, saya pun akan melakukannya. Merencanakan sebuah
pernikahan. Saya mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan
nikah-nikahan itu. Saya insyaa Allah akan berusaha merencanakannya
sebaik mungkin, meski perlahan. Yah, namanya juga belum lama terbangun
dari mimpi, hehe. Saya pun masih meraba-raba kemana saya sebaiknya mulai
melangkah. Kamu juga masih merencanakan, bukan? Semoga kita
berdua sama-sama sukses ya. Yah, kegalauan itu masih ada. Siapa sosok
yang akan jadi pendamping hidup saya kelak? Kadang pikiran saya liar
melayang kemana-mana. Tapi, yah … lakukan saja apa yang bisa kamu
lakukan. Impian. Hal itu masih ada dalam diri saya. Sebuah impian akan
pernikahan yang indah dan bahagia. Dan untuk mencapainya, doa harus
selalu mengiringi segala usaha, bukan? Saya akan berjuang untuk menata
hati saya, dan menatap masa depan. Asa masih ada. Dan lagu Wouldn’t it be nice masih rajin saya dengarkan, dan saya senandungkan. Meski masih ada jejak kamu di sana, tapi saya berharap ketika sosok pendamping saya hadir kelak, lagu ini akan menjadi miliknya sepenuhnya.
0 comments