#01 Pernikahan Minggu 1

Kamisan S2 #01 - Pernikahan: Beach Boys, Kenangan, dan Asa

13.10Unknown

Maybe if we think and wish and hope and pray it might come true
Baby then there wouldn’t be a single thing we couldn’t do
We could be married
And then we’d be happy
Wouldn’t it be nice
(Beach Boys-Wouldn’t It Be Nice)
Belakangan ini, saya suka sekali mendengarkan lagu milik Beach Boys ini. Menyenandungkannya bahkan saat lagu itu tidak benar-benar sedang  saya dengarkan. Tapi liriknya, melodinya, beserta segenap kenangannya telah terpatri di hati dan ingatan saya. Kenangan? Memangnya lagu ini pernah ada dalam episode penting dalam hidupmu yang mana? Apalagi bagian yang paling kamu suka yang kamu petik di atas barusan itu kan, Dev? Ya, bagian favorit saya: We could be married, and then we’d be happy. Oh, wouldn’t it be nice?

Ya, memangnya pernah ada orang yang mengatakan hal itu padamu, atau kamu pernah menyanyikan hal itu untuk orang lain? Ya, kasur dan laptop kamu juga tau kan Dev, belum ada seorang pria pun yang sudah menyenandungkan hal itu padamu, atau belum pernah ada satu momen pun, semisal lamaran, yang mana lagu ini jadi backsound-nya. Tapi lagu ini memang punya kenangan sendiri. Karena lagu ini sempat jadi benang merah dalam cerpen kolab yang tadinya saya rencanakan bersama seseorang, tapi ternyata dengan berat hati harus saya batalkan. Karena satu dan lain hal, ahem. Cerpennya, atau tepatnya tiga cerpen, itu pun punya tema yang sama dengan tema Kamisan pertama ini. Kenapa bisa sama begitu ya?

Pernikahan. Hal yang belakangan sedang benar-benar mengisi hati dan pikiran saya. Seolah seisi dunia sedang merayakan pernikahan. Teman-teman saya, dari teman SD sampai teman organisasi secara berurutan menikah. Lantas tema Kamisan juga menikah. Dan kamu pun sedang merencanakan pernikahan. Dan saya … ya, saya di sini masih terpaku pada melodi riang namun entah kenapa masih mengiris hati, jadinya masih manis tapi melankolis rasanya. Macam Magnum rasa Pome yang tadi saya makan seorang diri di angkot. Manis, tapi ada asem-asemnya (seger sih). Ah ya, belum lagi rekan sekantor yang juga teman masa kuliah, yang sama sekali tidak saya duga, nyaris saja menikah mendahului.

Saya ingat, teman saya lainnya pernah menanyakan hal ini pada saya beberapa bulan yang lalu.
“Dev, kalo dateng ke nikahan temen, bikin lo jadi ngerasa gini enggak sih, ‘duh kapan giliran gue’?”
Dan malam itu, dengan sotoynya, saya bilang, “Nggak. Karena saat ini gue lagi asik aja sama kegiatan yang gue lakuin. Jadi belum terlalu kepengen banget deh. Dan biasanya kalo gue kepikiran nikah sih yang udah-udah gegara gue emang lagi suka sama orang….”

Dan kesotoy-an saya itu ternyata jadi bumerang buat saya. Sudah beberapa bulan ini, tema yang satu itu kembali menghantui saya. Tapi kalau boleh jujur, mungkin hal ini karena kamu. Kamu yang sukses menampar saya, dan benar-benar membangunkan saya dari mimpi saya, dan memaksa saya menghadapi realita. Orang-orang di sekitar saya, mulai dari yang seumuran sampai yang lebih muda dari saya, sudah mulai merencanakannya. Lebih-lebih kamu dan rencanamu itu yang menyadarkan saya. Semacam orang yang sedang pulas-pulasnya lelap dalam tidur, tiba-tiba kamu bunyikan alarmnya, nyariing sekali alarm itu menyakiti telinga saya, lalu saat saya bangun, tidak tahunya kepala saya terantuk sesuatu keras sekali sampai mata saya berair. Ya, itulah rasa kaget dan sakit yang ditimbulkan kamu dan rencanamu. Tapi ya, tidak apa. Karena setelah saya benar-benar membuka mata, saya jadi sadar, teman-teman saya yang seumuran sudah benar-benar memikirkan soal pernikahan. Saya … saya takut tertinggal. Dan ketika saya bangun, saya jadi tersadar, saya belum melakukan persiapan apapun.

Dan saat ini, saya pun akan melakukannya. Merencanakan sebuah pernikahan. Saya mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan nikah-nikahan itu. Saya insyaa Allah akan berusaha merencanakannya sebaik mungkin, meski perlahan. Yah, namanya juga belum lama terbangun dari mimpi, hehe. Saya pun masih meraba-raba kemana saya sebaiknya mulai melangkah. Kamu juga masih merencanakan, bukan? Semoga kita berdua sama-sama sukses ya. Yah, kegalauan itu masih ada. Siapa sosok yang akan jadi pendamping hidup saya kelak? Kadang pikiran saya liar melayang kemana-mana. Tapi, yah … lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan. Impian. Hal itu masih ada dalam diri saya. Sebuah impian akan pernikahan yang indah dan bahagia. Dan untuk mencapainya, doa harus selalu mengiringi segala usaha, bukan? Saya akan berjuang untuk menata hati saya, dan menatap masa depan. Asa masih ada. Dan lagu Wouldn’t it be nice masih rajin saya dengarkan, dan saya senandungkan. Meski masih ada jejak kamu di sana, tapi saya berharap ketika sosok pendamping saya hadir kelak, lagu ini akan menjadi miliknya sepenuhnya.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak