"Maukah kamu menikah denganku?"
Ku terdiam sejenak, mencerna tiap kata yang baru saja kamu ucapakan.
Seolah tidak mampu mempercayainya, kata-kata yang demikian sulit di
rangkai ternyata melahirkan pertanyaan seperti itu.
Masih teringat kala pagi itu, kamu berbeda dari biasanya.
"Kamu dimana? Bisa antar aku ke Balai Kota nggak ?"
Aku mengirimkan pesan itu pada media sosial penghubung kita, Whats App.
Balasan yang biasanya cepat pun, kini tidak hadir kali ini. "mungkin kamu tengah sibuk" aku berusaha menanamkan kalimat itu.
Aku mencoba menghubungimu, nada panggilan demi panggilan kian menyahut
namun tidak jua ku mendengar suaramu. Beberapa kali aku menghubungimu,
namun suaramu tetep tidak bisa ku dengar.
"Maaf tadi sedang sibuk ada kerjaan. Dan maaf sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. Kamu tidak marah kan?"
Pesan darimu akhirnya tiba, dan aku hanya mampu memandangnya. Dan membiarkannya, tidak membalas satu huruf pun.
Balai kota, adalah satu-satunya tempat aku menikmati hidupku.
Satu-satunya tempat yang mengajariku banyak hal, yaitu salah satunya
dengan cara mengamati. Di sinilah pertama kali kita berjumpa, saling
berbincang, bertukar cerita dan kini menjalin hubungan tanpa salah satu
dari kita mengucap cinta.
"Ibu aku mau es krim itu" rengek anak kecil kepada ibunya yang tengah
sibuk menyuapi anak perempuannya yang mungkin usianya bekisar 2 tahun.
"Iyah, ibu nanti belikan es krimnya, asal makanan mu ini habis ya
sayang". Ucap sang ibu sambil mengedipkan sebelah matanya. Di balas
dengan cengiran dan gerakan kaki sang anak yang mengayun. Mungkin itu
adalah tanda bahwa sang anak menyetujui permintaan sang ibu.
Pemandangan klasik, memberikan penghargaan untuk seseorang setelah
melakukan hal apa yang di mau. Aku tersenyum, membayangkan apakah aku
dulu seperti itu. Aku berusaha mengingat hal semanis itu, namun gagal.
"Sayang, kok pesanku nggak kamu balas. Kamu marah ya?" suara yang pertama kali kamu ucapkan ketika panggilanmu ku jawab
"Nggak kok, aku hanya sedang asik memerhatikan seorang ibu dan anaknya
jadi lupa membalas pesanmu." aku tersenyum, namun sayangnya senyum itu
tidak mampu kamu lihat.
Kamu terdiam cukup lama, setelah mendengar pernyataanku. Dan aku pun enggan mengeluarkan suara untuk memecah kesunyian itu.
"Baik-baik yah di sana". Pesanmu ku terima setelah perbincangam bisu itu usai.
"Maaf sayang, aku tidak bisa menikah denganmu." aku memalingkan wajahku dari tatapannya.
Kamu terdiam cukup lama, kemudian menghela nafas panjang.
*********
Kamu bukanlah satu-satunya gadis cantik yang menarik. Tapi kamu adalah satu-satunya gadis yang mampu membuatku merasa tertarik.
Di taman itu kita bertemu tidak sengaja. Kita berbincang pada hal-hal
selain kabar, kesukaan maupun nama. Matamu selalu berbinar, kala melihat
sepasang ibu dan anak sedang bercanda.
"Andai aku bisa mengalami hal semacam itu." ucapmu kala sore itu sambil
menatap seorang anak tengah berlarian di taman dengan ibunya.
Beberapa waktu kemudian, barulah aku mengetahui bahwa keluargamu tidak
pernah utuh. Kamu wanita yang lahir dari rahim wanita. Kamu di besarkan
bersama pria yang kamu sebut papa, keluarga tanpa pernikahan.
Kamu pernah bertanya padaku, "Pernikahan itu apa? Apakah aku bisa bahagia seperti sepasang ibu dan anak itu?"
Aku hanya terdiam, tidak memberikan jawaban.
"Bukankah kamu ingin bahagia seperti sepasang ibu dan anak yang sering
kamu perhatikan itu?" aku menggenggam jemarinya, meyakinkan janji
kebahagiaan akan tawaran pernikahan ini.
"Sadarlah sayang, kita tidak akan pernah bisa mempunyai anak untuk
melengkapi kebahagiaan kita. Bila menikah pun, pernikahan kita tidak
utuh." kamu mebelai wajahku yang mungkin terlihat lesu.
Beberapa menit kita membisu, hanya tatapan mata kita saling membalas.
Pada menit kesekian, senyum jail memancar dari sudut bibirmu.
"Aku becanda, aku akan merasa bodoh bila mengabaikanmu. Biarlah kelak anak kita mempunyai dua ibu dan tanpa ayah."
05:22 pm 17 Mei 2014
Sekilas tentang kamisan!!
KAMISAN, adalah sebuah sarana untuk belajar menulis. Dimana penulisan
berawal dari hari kamis dan berakhir pada hari kamis pula. Di kamisan
ini pula kita bebas menulis apa saja (termasuk curhat) asal sesuai
dengan tema pada setiap minggunya. Begitulah kira-kira yang di infokan
Tant Ar, sang ketua gank.
Selamat berkomitment x)))))

0 comments