"Sepuluh menit. Cukup?"
Itu syaratnya ketika aku meminta untuk mengintip apa isi USB yang selalu
ia kalungkan di dadanya. Aku mengangguk setuju. Antara antusias dan
berdebar cemas. Mungkin ini adalah kesempatan pertama dan terakhir.
Setelah itu, yang tersisa hanya sesal atau kegembiraan.
***
Kata takjub apa yang bisa kukeluarkan. USB-nya bukan berisi tumpukan folder atau file
yang tercecer. Lebih dari itu, bunyi ombak dan embus angin di pantai
terdengar. Ada seorang laki-laki di dalamnya. Aku merasakan percikan
asin air laut. Pria itu sedang bekerja keras memotong senja dan
menyesakkannya pada sepucuk kartu pos. File ini menyimpan senja. Lengkap dengan balada dan pemain serupa Sukab dan Alina.
***
Kemudian aku berpindah ke file berikutnya. Kalender yang menempel
di suatu dinding nyatanya selalu basah. Apa yang menyebabkannya?
Kuperhatikan dengan lekat. Kalender itu terbuka di lembar Juni. Seorang
pria dengan topi pet di kepalanya menatap kalender itu, kemudian menulis
puisi diiringi rintik hujan. Romansa dan suasana hujan menyentuhku
begitu saja. Entah semerbak petrichor atau bunyi tetes hujan yang jatuh
ke tanah. Rasanya aku ingin memandangi puas-puas punggung pria penyair
itu. Pria yang membuat tabah, bijak dan arif Sang Hujan.
***
Kali ini aku tak bisa menahan rasa penasaran. Dua kali terpercik air dan
menatap bayang senja, rasanya begitu ingin merasakan sensasi lainnya.
Kali ini kupilih file yang nyaris keseluruhan iconnya dipenuhi
tinta hitam yang menetes-netes kepenuhan. Tunggu. Aku salah lihat.
Alih-alih hitam, itu merah kehitaman. Darah. Kubuka file itu dengan penuh debar. Pisau, seorang perempuan, dan anak laki-laki. Apa yang di....
"Namanya Radian" ia menarik pundakku, mengagetkan.
Aku mendongak dan selama beberapa saat baru menyadari bahwa aku tak
pernah benar-benar berada di pantai dengan senja, duduk di dekat pria
penyair, ataupun menatap dari jauh ibu dan anak itu. Rasanya benar-benar
dekat dan nyata. Sesaat, dadaku berdebar marah. Jika ia tak menarik
pundakku, aku tentu masih berada di sana. Bertualang lebih jauh.
"Izinkan aku kembali!" aku memohon.
"Kau yakin? Penyesalan tak diperbolehkan kali ini."
Decak tak sabarku sudah jelas mengindikasikan jawaban apa. Segera, ia
izinkan aku kembali menyelam dalam USB-nya. Aku bersiap menyambut
petualangan baru. Kupilih icon file yang tampak tak utuh,
seperti bekas terbakar di ujungnya. Yang kulihat hanya lorong gelap dan
pintu-pintu yang tertutup. Ia tiba-tiba muncul di hadapanku dengan
senyum, yang herannya, terasa menakutkan.
"Mengapa hanya ada gelap?" aku bertanya sungguh-sungguh.
"Kisah ini terlalu lama menunggu pemeran utama untuk tinggal di dalamnya. Sayang aku sudah memutuskan berbeda."
"Apa keputusanmu?"
"Pemeran itu kita. Dan aku tak akan pernah mengakhiri kisah ini. Anggap saja writer's block."
Seringainya kali ini benar-benar menyeramkan.
***
0 comments