Pintu mahoni yang dicat dengan warna merah-gelap itu membuka dengan
kecepatan yang hanya mampu ditandingi oleh mereka yang sedang terkena
diare. Tiga orang bergegas masuk. Menyusul di belakang mereka, adalah
dua laki-laki berbadan tambun dengan kepala plontos bersetelan rapi yang
berlari terengah-engah.
“Maaf, Tuan. Kami sudah menecoba menghentikan mereka, tetapi—“ kata-kata yang hendak keluar langsung tertelan kembali begitu Jati mengangkat tangan kirinya, sementara wajahnya masih menghadap mangkuk di hadapannya dan mulutnya masih sibuk mengunyah mie yang terus disuapkan tangan kanan. Lelaki itu mundur setengah langkah dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terpaut di depan perut.
Jati menarik serbet di kerah bajunya, dan menyeka mulutnya dengan kain berwarna putih tersebut dan melemparkan sembarang di atas meja. Pelayan perempuan di sebelah kanannya segera menghampiri dan mengambil serbet itu, juga mengangkat mangkuk mie dan gelas, dan menyapukan lap ke bercak yang ditinggalkan mangkuk dan gelas di atas permukaan meja. Segera setelah itu, ia berjalan mundur beberapa langkah, menundukkan kepala, dan berjalan melewati lima orang yang berdiri di depan pintu dan tidak lagi terlihat setelah berbelok ke kanan.
Kedua lelaki yang datang terakhir bergerak-gerak gelisah. Dan tidak satu pun dari keduanya yang mengangkat wajah. Sementara tiga orang yang masuk lebih tersenyum dengan penuh kemenangan. Jati menusukkan pandang ke masing-masing mereka. Kemudian mendorong punggungnya ke punggung kursi.
“Darkum, Sapar, tidak apa-apa. Kembalilah ke tempat jaga masing-masing.”
“Siap!”
Dan kedua lelaki kekar tersebut berbalik dan pergi. Jati mengambil rokok Surya 16 di atas meja dan meloloskannya sebatang, kemudian menyalakannya. Lantas mengembuskan asap putih dari mulutnya dengan kepuasaan yang hanya dipahami oleh mereka yang mengerti. “Ada apa, Bon? Dan, siapa mereka?”
Bono, pria yang berdiri di tengah, tersenyum. “ Pria ini, Ruslan. Aku mengajaknya bergabung karena ia jago mengendarai mobil. Dan perempuan ini, Sutri. Aku mengajaknya karena ia lihai memperdaya lelaki.”
“Hmm … oke. Lalu?”
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain dan kemudian, seperti telah disepakati bersama lewat tatapan-tatapan, Bono maju satu langkah. “Begini, Tuan. Kami berhasil.”
“Ya, kami berhasil mendapatkannya,” sambung Ruslan, kemudian maju satu langkah.
“Ya, USB itu telah berhasil kami dapatkan,” susul Sutri, kemudian maju satu langkah.
Kini, mereka bertiga kembali sejajar.
Dahi Jati berkedut samar ketika mereka berbicara. Ia kembali mengembuskan asap putih itu. “Begitu, ya? Hebat,” katanya, tanpa rasa tertarik sedikitpun. Lantas ia mengarahkan tangan kanannya ke asbak dan menjentikkan batang rokok. “Sekarang, di mana benda itu?”
Mereka bertiga kembali saling pandang. Dan masing-masing dari mereka tersenyum seperti rubah.
“Kita bicarakan soal itu nanti, Tuan.” Bono kembali memulai. “Yang lebih penting, bagaimana dengan bayaran kami.” Sekali lagi, ia tersenyum dan kedua tangannya yang sejak tadi tidak bisa diam itu saling meremas. “Dengar, Tuan. Misi yang Anda berikan ternyata jauh lebih sulit dari dugaan saya. Itulah kenapa saya akhirnya mengajak mereka berdua.”
“Mobilku hampir meledak dihujani tembakan dari tank-tank di tempat itu.”
“Dan aku hampir diperkosa oleh pria yang entah berapa tahun tidak mandi.”
Bono tersenyum kepada kedua temannya. “Jadi, kami berinisiatif untuk sedikit menaikkan harga. Ya, mengingat apa yang sudah kami lakukan dan betapa berharganya benda itu bagi Anda.”
Jati mendengus dan kemudian tertawa samar. Teramat samar dan itu berlangsung teramat singkat.
“Kami ingin masing-masing mendapat satu juta dollar.”
Jati menaikkan satu sisi bibirnya. Memandang lurus ke pria yang baru saja berbicara. “Satu juta dollar untuk masing-masing kalian?”
“Ya.”
“Tidak boleh kurang satu sen pun.”
“Dan kertasnya harus yang baru. Aku suka aroma uang baru. Aromanya seksi.”
Mula-mula samar, kemudian gelak tawa Jati memantul-mantul dinding-dinding ruangan. “Kalian gila! Kalian ingin aku membayar kalian semua tiga juta dollar untuk benda itu?”
Mereka bertiga saling pandang dengan cemas.
“Apa kalian sudah melihat isinya?”
Sekali lagi, mereka saling pandang. Kemudian menggeleng dengan perlahan.
“Sudah kuduga.” Dan Jati kembali tergelak. “Dengar, Bono, dengar!” katanya, di tengah tawanya. “Kau sudah bekerja bersamaku selama tiga tahun ini, dan baru sekarang kau berani memerasku. Katakan, siapa di antara mereka yang mengusulkan ide bodoh itu kepadamu? Biar kuledakkan kepalanya sekarang juga.”
Bono menggeleng ragu-ragu. “Ti-tidak. Tidak ada yang ada yang mengusulkan apa pun.”
“Begitu?”
Jakun Bono bergerak naik-turun. Kemudian ia mengangguk.
Jati mendengus. Rokok di tangannya ia gencet ke asbak. “Baiklah, begini saja,” katanya, lantas menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, “kauberikan benda itu kepadaku dan kulupakan kekurangajaranmu ini. Juga kumaafkan kedua temanmu itu.” Jari-jarinya saling mengait di depan perut. “Bagaimana?”
“Ti-tidak. Kami tetap mau masing-masing mendapat satu juta dollar.”
“Ya. Walaupun kami belum tahu isinya, tetapi kami yakin itu sangat penting. Jika tidak, bagaimana mungkin benda itu dijaga dengan penjagaan level lima.”
“Ya, dia benar. Orang bodoh mana yang mau membuang-buang uang untuk melindungi benda yang tidak berarti.”
Jati mendesah. “Ya, sudah, jika kalian tidak percaya. Benda itu tidak berarti apa pun buatku. Paling, isinya hanya film tentang seorang pria yang bercinta dengan robot, atau pria yang berbicara dengan daun sawi, atau yang semacamnyalah. Itu pun jika benar USB itu ada isinya.”
“Omong kosong. Kau pasti berbohong.”
“Ya, tidak mungkin isinya hal-hal semacam itu. Kami nyaris mati.”
Sementara kedua temannya mendebat, Bono diam dan hanya menatap nanar ke lantai. Tawa Jati samar-samar menyusup ke ingatannya.
“Maaf, Tuan. Kami sudah menecoba menghentikan mereka, tetapi—“ kata-kata yang hendak keluar langsung tertelan kembali begitu Jati mengangkat tangan kirinya, sementara wajahnya masih menghadap mangkuk di hadapannya dan mulutnya masih sibuk mengunyah mie yang terus disuapkan tangan kanan. Lelaki itu mundur setengah langkah dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terpaut di depan perut.
Jati menarik serbet di kerah bajunya, dan menyeka mulutnya dengan kain berwarna putih tersebut dan melemparkan sembarang di atas meja. Pelayan perempuan di sebelah kanannya segera menghampiri dan mengambil serbet itu, juga mengangkat mangkuk mie dan gelas, dan menyapukan lap ke bercak yang ditinggalkan mangkuk dan gelas di atas permukaan meja. Segera setelah itu, ia berjalan mundur beberapa langkah, menundukkan kepala, dan berjalan melewati lima orang yang berdiri di depan pintu dan tidak lagi terlihat setelah berbelok ke kanan.
Kedua lelaki yang datang terakhir bergerak-gerak gelisah. Dan tidak satu pun dari keduanya yang mengangkat wajah. Sementara tiga orang yang masuk lebih tersenyum dengan penuh kemenangan. Jati menusukkan pandang ke masing-masing mereka. Kemudian mendorong punggungnya ke punggung kursi.
“Darkum, Sapar, tidak apa-apa. Kembalilah ke tempat jaga masing-masing.”
“Siap!”
Dan kedua lelaki kekar tersebut berbalik dan pergi. Jati mengambil rokok Surya 16 di atas meja dan meloloskannya sebatang, kemudian menyalakannya. Lantas mengembuskan asap putih dari mulutnya dengan kepuasaan yang hanya dipahami oleh mereka yang mengerti. “Ada apa, Bon? Dan, siapa mereka?”
Bono, pria yang berdiri di tengah, tersenyum. “ Pria ini, Ruslan. Aku mengajaknya bergabung karena ia jago mengendarai mobil. Dan perempuan ini, Sutri. Aku mengajaknya karena ia lihai memperdaya lelaki.”
“Hmm … oke. Lalu?”
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain dan kemudian, seperti telah disepakati bersama lewat tatapan-tatapan, Bono maju satu langkah. “Begini, Tuan. Kami berhasil.”
“Ya, kami berhasil mendapatkannya,” sambung Ruslan, kemudian maju satu langkah.
“Ya, USB itu telah berhasil kami dapatkan,” susul Sutri, kemudian maju satu langkah.
Kini, mereka bertiga kembali sejajar.
Dahi Jati berkedut samar ketika mereka berbicara. Ia kembali mengembuskan asap putih itu. “Begitu, ya? Hebat,” katanya, tanpa rasa tertarik sedikitpun. Lantas ia mengarahkan tangan kanannya ke asbak dan menjentikkan batang rokok. “Sekarang, di mana benda itu?”
Mereka bertiga kembali saling pandang. Dan masing-masing dari mereka tersenyum seperti rubah.
“Kita bicarakan soal itu nanti, Tuan.” Bono kembali memulai. “Yang lebih penting, bagaimana dengan bayaran kami.” Sekali lagi, ia tersenyum dan kedua tangannya yang sejak tadi tidak bisa diam itu saling meremas. “Dengar, Tuan. Misi yang Anda berikan ternyata jauh lebih sulit dari dugaan saya. Itulah kenapa saya akhirnya mengajak mereka berdua.”
“Mobilku hampir meledak dihujani tembakan dari tank-tank di tempat itu.”
“Dan aku hampir diperkosa oleh pria yang entah berapa tahun tidak mandi.”
Bono tersenyum kepada kedua temannya. “Jadi, kami berinisiatif untuk sedikit menaikkan harga. Ya, mengingat apa yang sudah kami lakukan dan betapa berharganya benda itu bagi Anda.”
Jati mendengus dan kemudian tertawa samar. Teramat samar dan itu berlangsung teramat singkat.
“Kami ingin masing-masing mendapat satu juta dollar.”
Jati menaikkan satu sisi bibirnya. Memandang lurus ke pria yang baru saja berbicara. “Satu juta dollar untuk masing-masing kalian?”
“Ya.”
“Tidak boleh kurang satu sen pun.”
“Dan kertasnya harus yang baru. Aku suka aroma uang baru. Aromanya seksi.”
Mula-mula samar, kemudian gelak tawa Jati memantul-mantul dinding-dinding ruangan. “Kalian gila! Kalian ingin aku membayar kalian semua tiga juta dollar untuk benda itu?”
Mereka bertiga saling pandang dengan cemas.
“Apa kalian sudah melihat isinya?”
Sekali lagi, mereka saling pandang. Kemudian menggeleng dengan perlahan.
“Sudah kuduga.” Dan Jati kembali tergelak. “Dengar, Bono, dengar!” katanya, di tengah tawanya. “Kau sudah bekerja bersamaku selama tiga tahun ini, dan baru sekarang kau berani memerasku. Katakan, siapa di antara mereka yang mengusulkan ide bodoh itu kepadamu? Biar kuledakkan kepalanya sekarang juga.”
Bono menggeleng ragu-ragu. “Ti-tidak. Tidak ada yang ada yang mengusulkan apa pun.”
“Begitu?”
Jakun Bono bergerak naik-turun. Kemudian ia mengangguk.
Jati mendengus. Rokok di tangannya ia gencet ke asbak. “Baiklah, begini saja,” katanya, lantas menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, “kauberikan benda itu kepadaku dan kulupakan kekurangajaranmu ini. Juga kumaafkan kedua temanmu itu.” Jari-jarinya saling mengait di depan perut. “Bagaimana?”
“Ti-tidak. Kami tetap mau masing-masing mendapat satu juta dollar.”
“Ya. Walaupun kami belum tahu isinya, tetapi kami yakin itu sangat penting. Jika tidak, bagaimana mungkin benda itu dijaga dengan penjagaan level lima.”
“Ya, dia benar. Orang bodoh mana yang mau membuang-buang uang untuk melindungi benda yang tidak berarti.”
Jati mendesah. “Ya, sudah, jika kalian tidak percaya. Benda itu tidak berarti apa pun buatku. Paling, isinya hanya film tentang seorang pria yang bercinta dengan robot, atau pria yang berbicara dengan daun sawi, atau yang semacamnyalah. Itu pun jika benar USB itu ada isinya.”
“Omong kosong. Kau pasti berbohong.”
“Ya, tidak mungkin isinya hal-hal semacam itu. Kami nyaris mati.”
Sementara kedua temannya mendebat, Bono diam dan hanya menatap nanar ke lantai. Tawa Jati samar-samar menyusup ke ingatannya.
0 comments