Jadi yang ngasi tema pertama itu si ante Capung, OH!!
(apeulah)
Ini potongan dari project yang lagi kutulis, kebetulan aja cocok sama tema gambar yang dikasih. nyahahahahaha. :3
_____________________________________________________________________
Mils menunggu. Di tempat yang sama. Pada waktu yang sama. Mengenakan
pakaian yang sama. Yang berbeda hanya apa yang ada di genggaman
tangannya. Payung berwarna perunggu saat langit kelabu dan hujan turun
malu-malu-mau, atau sebuah buku yang sedang dibaca untuk menemaninya
menunggu.
Ini bukan kali pertama dia menunggu. Bukan juga kali kedua atau
ketiga. Sudah puluhan hari berlalu sejak Mils mendapatkan janji itu.
baginya, janji yang telah diucap pastilah ditepati, walau terlambat.
“Aku pasti kembali, secepat kamu mengedipkan mata. Sesingkat
tarikan napas sesakmu selagi berlari. Selekas pelangi hadir saat
gerimis—.“
“Berhentilah membual, Trim. Mana bisa aku percaya gombalanmu
itu,” potong Mils memukul pelan lengan Trim. Namun, pipi Mils tetap
merona dan dadanya kembang kempis karena debar bahagia.
Ia dan Trim tidak berpacaran. Tak pernah ada komitmen yang jelas
terucap dari keduanya. Walau Trim memang pemilik ciuman pertamanya dan
Mils adalah cinta pertama Trim. Di dunia ini, mereka tak diizinkan untuk
memiliki hubungan apapun melebihi pertemanan. Ia hanyalah seorang
manusia, sedangkan Trim ada Jejadi keturunan domba dari kasta Para
Kapitan.
Sudah sembilan puluh delapan hari Trim mengikuti pelatihan sihir di
Pusat Pengujian Transportasi di luar kota Nikelheim. Waktu yang bagi
Mils seperti selamanya. Mereka tak pernah berpisah lebih dari delapan
hari sebelumnya—perpisahan dulu terjadi ketika ia harus mengikuti ujian
pemimpin dan politikasi di Balai Negara Bagian Nikelheim dan
sekitarnya—dan itu saja sudah sangat menyiksa. Yang membuat Mils
khawatir, Trim tak pernah sekali pun memberi kabar.
Mils sangat kecewa ketika Duran—sahabat mereka—mendapatkan catatan
dari pacarnya. Ia sebenernya ingin menitipkan tanya, bagaimana kabar
Trim di sana, namun urung dilakukan karena dirinya tak enak. Padahal
Mils tahu, Duran tak akan keberatan kalau ia mau meminta.
Pino kesal melihat Mils berdiri terus di depan Pubnya. Beberapa kali
dia menyuruh Mils masuk dan menunggu di dalam karena di luar cuaca tidak
bersahabat, namun Mils selalu menolak tawaran itu. Pino berpendapat
kalau Mils benar-benar tolol menunggu Trim seperti itu setiap hari. Dia
tahu, Trim tidak akan pulang lagi ke Nikelheim. Trim pernah mengatakan
niatnya padanya di malam terakhir dirinya berada di kota.
“Ini adalah tiket keluarku dari kota kecil brengsek ini!” kata
Trim. Segelas cairan seduhan katak liar ditenggaknya habis. Itu
merupakan gelas kedelapan yang Trim pesan dari Pub tempat Pino bekerja.
“Memangnya kau yakin akan lulus pelatihan? Kudengar, pelatihan
itu sulit.” Pino mengambil gelas kosong di depan Trim dan mengisinya
kembali sesuai dengan pesanan.
“Jangan panggil aku Trimmoty Attilburght jika aku gagal!”
“Jadi aku harus memanggilmu apa?”
“Domba ladang,” jawab Trim lalu terbahak. Pino hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya.
Pino memutar-mutar lap di atas meja saji Pub, dalam kepalanya, dia
terheran-heran mengapa Mils masih saja menunggu si Domba ladang itu.
Hari masih teramat sore untuk membuka Pub, namun, setelah membersihkan
debu-debu, Pino berniat untuk membuatkan segelas teh cokelat hangat dan
roti isi madu untuk Mils. Setidaknya, di cuaca dingin seperti hari ini,
Mils tidak akan sakit jika menunggu dengan perut terisi. Pino tahu Mils
sangat susah makan, bukan karena dia takut pada tumpukan lemak, tapi
nafsu makan gadis itu memang sangat mengkhawatirkan. Pernah satu waktu,
Mils lupa makan sampai tiga hari—dan akhirnya harus dilarikan ke balai
penyembuhan—hanya karena ia sibuk menghapal nama-nama jabatan pemerintah
Nikelheim.
Mils menelengkan kepalanya untuk menjempit gagang payung. Kedua
tangannya yang bebas digosok-gosok dan meniupkan napas ke sela-selanya
agar hangat. Dirinya tak tahu mengapa orang berpikir kalau melakukan hal
tersebut mampu menghangatkan tubuh. Padahal, hanya kehangatan semu yang
didapat olehnya.
Menurut informasi yang beredar—walau setiap hari juga ia selalu
mendapatkan informasi yang sama—para Anggota Pelatihan Sihir akan
kembali untuk mendapat izin kedua kalinya sebelum pelatihan akhir
dilaksanakan dari Para Petinggi Bidang di pemerintahan. Itu artinya,
kalau Trim lulus dan melanjutkan ke tingkat akhir, dia akan pulang, dan
Mils bisa bertemu—mungkin memarahi dia—dengannya lagi.
Suara detak jantung Mils mungkin lebih kencang dari pada suara hujan
yang tak lagi turun malu-malu-mau. Mils tak pernah suka rasa grogi yang
timbul karena menunggu.
“Tenanglah jantung,” gumam Mils.
Tetesan air yang menabrak atap-atap seng Pub menimbulkan alunan musik
berisik yang anehnya sangat gadis itu sukai. Ia bergeser satu langkah
ke kiri untuk menghindari derasnya aliran hujan yang mengalir dari
talang. Sepatu, kaus kaki dan ujung roknya sudah basah kuyup. Mungkin
hari ini bukan ide yang bagus untuk menunggu Trim dari seberang tempat
persinggahan sepur.
Suara teriakan Pino berteriak dari depan pintu Pub larut di antara
kegaduhan alunan musik hujan dan atap seng. Mils tak menyadari dirinya
dipanggil-panggil dan itu membuat Pino menggeram, frustasi. Dia tak suka
hujan, tak suka basah, apalagi untuk hal-hal bodoh seperti memanggil
seorang gadis tolol itu agar mau masuk ke dalam. Namun, Pino tetap
menerobos hujan dan menarik tangan Mils.
“Masuk!” perintah Pino dengan kasar.
Mils melonjak kaget. Payung yang ada dalam jepitan leher dan bahunya
terlepas dan jatuh ke bawah. Ia memekik merasakan tetesan air yang
dingin jatuh ke dahinya. “Pino! Dasar tolol! Aku jadi basah!” Mils
menepis tarikan tangan pemuda itu dan cepat-cepat mengambil payungnya.
Pino tak menggubrisnya, dia menarik dan menggiring Mils masuk ke
dalam Pub. Setidaknya kalau gadis itu mau mengamuk, mengamuklah di dalam
lindungan Pub yang hangat.
“Kalau setiap hari cuaca seperti ini dan kau menunggu seperti itu,
lama-lama kau bisa jadi patung beku,” gerutu Pino mengambil lap bersih
dari balik meja saji Pub dan melemparkannya kepada Mils.
Mils menangkap lemparan lap, “Bukankah itu bagus? Ada patung gadis
cantik yang menghiasi Pub, makin banyak tamu yang datang ke sini
nantinya,” jawabnya ketus mengelap tangan dan wajahnya.
“Gadis cantik? Cih! Apanya yang cantik darimu?” Pino memperhatikan
gadis itu. Rambut spiralnya lurus, berantakan dan basah, ada yang
menempel di dahi juga pipinya. Wajahnya yang mungil dengan mata besar
dan pipi tembam. Bagian mana dari Mils yang bisa dibilang cantik?
Bibirnya yang penuh? Hidungnya yang tinggi? Atau mata besar yang kalau
menatap itu terasa seperti sedang mengobrak-abrik jiwamu? Tidak cantik
sama sekali!
“Matamu saja yang buta!” Mils melemparkan kembali lap itu kepada
Pino. Lap itu tak pernah sampai ke tujuan, melainkan jatuh ke lantai.
Gadis itu selalu payah dalam urusan melempar apapun.
“Kau saja yang terlalu mengagumi dirimu sendiri!”
[….. end of teaser …..]
sepurn kereta api
#kbbi
Ini kamisanku, mana kamisanmu? ~~~~(/ ^3^)/

0 comments