Minggu 1 Renee Keefe

Kamisan S3 #1: belum ada judul

15.23Unknown



OH KAMISAN UDAH SISEN 3, OH!!
Jadi yang ngasi tema pertama itu si ante Capung, OH!!
(apeulah)
Ini potongan dari project yang lagi kutulis, kebetulan aja cocok sama tema gambar yang dikasih. nyahahahahaha. :3
_____________________________________________________________________
image
source: google.com

Mils menunggu. Di tempat yang sama. Pada waktu yang sama. Mengenakan pakaian yang sama. Yang berbeda hanya apa yang ada di genggaman tangannya. Payung berwarna perunggu saat langit kelabu dan hujan turun malu-malu-mau, atau sebuah buku yang sedang dibaca untuk menemaninya menunggu.

Ini bukan kali pertama dia menunggu. Bukan juga kali kedua atau ketiga. Sudah puluhan hari berlalu sejak Mils mendapatkan janji itu. baginya, janji yang telah diucap pastilah ditepati, walau terlambat.

“Aku pasti kembali, secepat kamu mengedipkan mata. Sesingkat tarikan napas sesakmu selagi berlari. Selekas pelangi hadir saat gerimis—.“
“Berhentilah membual, Trim. Mana bisa aku percaya gombalanmu itu,” potong Mils memukul pelan lengan Trim. Namun, pipi Mils tetap merona dan dadanya kembang kempis karena debar bahagia.

Ia dan Trim tidak berpacaran. Tak pernah ada komitmen yang jelas terucap dari keduanya. Walau Trim memang pemilik ciuman pertamanya dan Mils adalah cinta pertama Trim. Di dunia ini, mereka tak diizinkan untuk memiliki hubungan apapun melebihi pertemanan. Ia hanyalah seorang manusia, sedangkan Trim ada Jejadi keturunan domba dari kasta Para Kapitan.

Sudah sembilan puluh delapan hari Trim mengikuti pelatihan sihir di Pusat Pengujian Transportasi di luar kota Nikelheim. Waktu yang bagi Mils seperti selamanya. Mereka tak pernah berpisah lebih dari delapan hari sebelumnya—perpisahan dulu terjadi ketika ia harus mengikuti ujian pemimpin dan politikasi di Balai Negara Bagian Nikelheim dan sekitarnya—dan itu saja sudah sangat menyiksa. Yang membuat Mils khawatir, Trim tak pernah sekali pun memberi kabar.

Mils sangat kecewa ketika Duran—sahabat mereka—mendapatkan catatan dari pacarnya. Ia sebenernya ingin menitipkan tanya, bagaimana kabar Trim di sana, namun urung dilakukan karena dirinya tak enak. Padahal Mils tahu, Duran tak akan keberatan kalau ia mau meminta.

Pino kesal melihat Mils berdiri terus di depan Pubnya. Beberapa kali dia menyuruh Mils masuk dan menunggu di dalam karena di luar cuaca tidak bersahabat, namun Mils selalu menolak tawaran itu. Pino berpendapat kalau Mils benar-benar tolol menunggu Trim seperti itu setiap hari. Dia tahu, Trim tidak akan pulang lagi ke Nikelheim. Trim pernah mengatakan niatnya padanya di malam terakhir dirinya berada di kota.

“Ini adalah tiket keluarku dari kota kecil brengsek ini!” kata Trim. Segelas cairan seduhan katak liar ditenggaknya habis. Itu merupakan gelas kedelapan yang Trim pesan dari Pub tempat Pino bekerja.
 “Memangnya kau yakin akan lulus pelatihan? Kudengar, pelatihan itu sulit.” Pino mengambil gelas kosong di depan Trim dan mengisinya kembali sesuai dengan pesanan.
“Jangan panggil aku Trimmoty Attilburght jika aku gagal!”
“Jadi aku harus memanggilmu apa?”
“Domba ladang,” jawab Trim lalu terbahak. Pino hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya. 

Pino memutar-mutar lap di atas meja saji Pub, dalam kepalanya, dia terheran-heran mengapa Mils masih saja menunggu si Domba ladang itu. Hari masih teramat sore untuk membuka Pub, namun, setelah membersihkan debu-debu, Pino berniat untuk membuatkan segelas teh cokelat hangat dan roti isi madu untuk Mils. Setidaknya, di cuaca dingin seperti hari ini, Mils tidak akan sakit jika menunggu dengan perut terisi. Pino tahu Mils sangat susah makan, bukan karena dia takut pada tumpukan lemak, tapi nafsu makan gadis itu memang sangat mengkhawatirkan. Pernah satu waktu, Mils lupa makan sampai tiga hari—dan akhirnya harus dilarikan ke balai penyembuhan—hanya karena ia sibuk menghapal nama-nama jabatan pemerintah Nikelheim.

Mils menelengkan kepalanya untuk menjempit gagang payung. Kedua tangannya yang bebas digosok-gosok dan meniupkan napas ke sela-selanya agar hangat. Dirinya tak tahu mengapa orang berpikir kalau melakukan hal tersebut mampu menghangatkan tubuh. Padahal, hanya kehangatan semu yang didapat olehnya.

Menurut informasi yang beredar—walau setiap hari juga ia selalu mendapatkan informasi yang sama—para Anggota Pelatihan Sihir akan kembali untuk mendapat izin kedua kalinya sebelum pelatihan akhir dilaksanakan dari Para Petinggi Bidang di pemerintahan. Itu artinya, kalau Trim lulus dan melanjutkan ke tingkat akhir, dia akan pulang, dan Mils bisa bertemu—mungkin memarahi dia—dengannya lagi.

Suara detak jantung Mils mungkin lebih kencang dari pada suara hujan yang tak lagi turun malu-malu-mau. Mils tak pernah suka rasa grogi yang timbul karena menunggu.

“Tenanglah jantung,” gumam Mils.

Tetesan air yang menabrak atap-atap seng Pub menimbulkan alunan musik berisik yang anehnya sangat gadis itu sukai. Ia bergeser satu langkah ke kiri untuk menghindari derasnya aliran hujan yang mengalir dari talang. Sepatu, kaus kaki dan ujung roknya sudah basah kuyup. Mungkin hari ini bukan ide yang bagus untuk menunggu Trim dari seberang tempat persinggahan sepur.

Suara teriakan Pino berteriak dari depan pintu Pub larut di antara kegaduhan alunan musik hujan dan atap seng. Mils tak menyadari dirinya dipanggil-panggil dan itu membuat Pino menggeram, frustasi. Dia tak suka hujan, tak suka basah, apalagi untuk hal-hal bodoh seperti memanggil seorang gadis tolol itu agar mau masuk ke dalam. Namun, Pino tetap menerobos hujan dan menarik tangan Mils.

“Masuk!” perintah Pino dengan kasar.

Mils melonjak kaget. Payung yang ada dalam jepitan leher dan bahunya terlepas dan jatuh ke bawah. Ia memekik merasakan tetesan air yang dingin jatuh ke dahinya. “Pino! Dasar tolol! Aku jadi basah!” Mils menepis tarikan tangan pemuda itu dan cepat-cepat mengambil payungnya.

Pino tak menggubrisnya, dia menarik dan menggiring Mils masuk ke dalam Pub. Setidaknya kalau gadis itu mau mengamuk, mengamuklah di dalam lindungan Pub yang hangat.

“Kalau setiap hari cuaca seperti ini dan kau menunggu seperti itu, lama-lama kau bisa jadi patung beku,” gerutu Pino mengambil lap bersih dari balik meja saji Pub dan melemparkannya kepada Mils.

Mils menangkap lemparan lap, “Bukankah itu bagus? Ada patung gadis cantik yang menghiasi Pub, makin banyak tamu yang datang ke sini nantinya,” jawabnya ketus mengelap tangan dan wajahnya.

“Gadis cantik? Cih! Apanya yang cantik darimu?” Pino memperhatikan gadis itu. Rambut spiralnya lurus, berantakan dan basah, ada yang menempel di dahi juga pipinya. Wajahnya yang mungil dengan mata besar dan pipi tembam. Bagian mana dari Mils yang bisa dibilang cantik? Bibirnya yang penuh? Hidungnya yang tinggi? Atau mata besar yang kalau menatap itu terasa seperti sedang mengobrak-abrik jiwamu? Tidak cantik sama sekali!

“Matamu saja yang buta!” Mils melemparkan kembali lap itu kepada Pino. Lap itu tak pernah sampai ke tujuan, melainkan jatuh ke lantai. Gadis itu selalu payah dalam urusan melempar apapun.

“Kau saja yang terlalu mengagumi dirimu sendiri!”


[….. end of teaser …..]
sepurn kereta api
#kbbi
Ini kamisanku, mana kamisanmu? ~~~~(/ ^3^)/

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak