Di Batas Keraguan
Aku bukan bermaksud mengkhianati cintaku. Aku hanya tidak mau mengingkari perasaanku dan menjadi tidak jujur dengan diriku.
Ia
menyuarakannya keras-keras dalam hatinya sambil menatap lekat-lekat
bayangannya di dalam cermin. Sesaat sebelumnya, bayangan itu mencibir
dirinya sebagai perempuan mapan yang egois dan kejam. Ia merasa tidak
perlu berbantah lama-lama dengan bayangannya sendiri. Ia bangkit dari
meja riasnya dan menyambar tasnya. Gemuruh langit menghentikan
langkahnya sesaat, membuat tangannya meraih gagang payung di dekatnya.
Isi
surat elektronik yang ia terima tiga hari lalu masih sangat ia ingat.
Kalimat demi kalimat tertutur dalam benaknya. Menyusun satu pesan yang
utuh yang menemani langkahnya. We look forward to hearing from you soon.
Kalimat penutup dari surat tersebut terus mengiang di telinganya. Ia
mendesah. Kecepatan langkahnya mulai melambat. Rintik yang semula
menitik di atas payung dalam genggamannya, mulai menghantam lebih tajam.
Meredam suara langkah kakinya sendiri.
Ia bergeming di sebuah
persimpangan. Menatap lurus ke arah gedung-gedung yang berdiri pongah di
hadapannya. Dirus hujan mulai menulikannya dari suara-suara di
dekatnya. Tapi tidak dari dalam hatinya sendiri. Deras hujan mulai
membutakannya dari gambaran nyata yang terbentang di hadapannya. Tapi
tidak dari ruang pikirannya.
***
“Aku serius sama kamu.”
Ia mengangkat wajahnya dari majalah fashion populer
di Eropa yang sedang ia baca. Ia menoleh ke arah laki-laki yang
mengucapkan empat kata tersebut. Empat kata yang sangat sederhana tapi
terasa sulit ia cerna. Laki-laki itu menyadari tatapan dari perempuan
yang duduk di sebelahnya. Melepaskan pandangannya dari tab di hadapannya, ia mengamati sepasang bola mata hitam yang sedang menanti penjelasan kata-katanya.
“Menjalin
hubungan denganmu. Aku tidak ingin main-main.” Selesai mengatakan hal
itu, laki-laki itu merengkuh kepalanya dan mengecup keningnya perlahan
dan lembut.
***
“Sibuk sekali?” Ia menyapa laki-laki itu
dengan senyum yang mengangkat kedua ujung bibirnya. Ia meletakkan
cangkir tehnya di sebelah tumpukan portfolio desain baju-bajunya yang ia tunjukkan pada kliennya pagi tadi.
“Ah … ini, lagi browsing tema,” jawab lelaki tersebut sambil memainkan jemarinya di atas layar tablet di tangannya.
“Tema apa?” tanyanya sambil duduk di sebelah lelaki itu. Tangannya meraih gagang cangkir tehnya.
“Wedding theme” jawab lelaki itu santai. Mendengar itu, tangannya terhenti di udara. Ia meletakkan cangkirnya kembali tanpa meminumnya.
Dengan alis bertaut, ia menatap laki-laki di sebelahnya tersebut.
Lelaki tersebut tidak dapat menahan senyum melihat ekspresinya.
“Cuma lihat-lihat, kok,” katanya kemudian menenangkan.
***
Tapi ia tidak dapat tenang. Mulai hari itu hatinya gelisah. Dan surat
elektronik dari salah satu rumah mode di London yang ia terima tiga
hari lalu, menjadi puncak dari kegelisahannya. Surat tawaran untuk
menjadi seorang associate fashion designer dengan kontrak awal satu tahun penuh.
Ini adalah impianku. Sekian lama aku merintis kemampuanku di
bidang ini. Dan sekarang, satu kesempatan besar datang, memberiku jalan
untuk mengembangkan karirku. Aku tidak berdosa dengan pilihan ini.
Dan meninggalkannya? Menyia-nyiakan cinta yang selama ini ia
berikan dengan ketulusan. Mengingkari perasaanmu? Keberhasilanmu
membuatmu buta.
Tidak! Sama seperti yang kukatakan tadi, aku tidak mengkhianati cintaku. Aku ingin jujur dengan diriku sendiri.
Ia mendengar hatinya berkata demikian lantang. Menentang sisi lain
dirinya yang merongrong keteguhannya. Seketika ia mulai mendengar
bunyi-bunyian di sekitarnya. Perlahan ia melihat jelas pemandangan di
hadapannya. Lambat laun ia merasakan kehangatan menyapanya. Ia
menurunkan payung di tangannya dan saat itulah ia menyadari terang di
sekitarnya. Ia menengadah dan mendapati busur langit terbentang di sana.
Membuat matanya berbinar. Ia tahu. Ia tahu apa yang seharusnya ia
lakukan. Dengan satu senyuman yang terlukis di bibirnya, ia kembali
melangkah.
***
Di balik gedung-gedung yang berdiri pongah itu, sebuah bangunan
rendah yang selalu menawarkan kehangatan berdiri. Bangunan yang selalu
melahirkan cita rasa kue-kue dan aroma sedap minuman hangat. Laki-laki
itu duduk di dalamnya bersama satu cangkir kopi susu. Ia memandangi
sebentuk cincin di dalam kotak beledu hitam, dan seulas senyum hadir di
wajahnya.
***
Yola M. Caecenary
Kamisan #1 Session 3 - Deadline: 29 Januari 2015
Foto tema tulisan
Sumber:
shared by Aria
0 comments