Kabut masih basah, kegelapan masih pekat
di luar sana. Di dalam, suara kipas angin yang berputar di langit-langit
mendominasi keheningan yang tercipta di ruang wartawan majalah Target.
Mereka baru saja melewati malam-malam penuh tekanan sebelum deadline. Malam-malam
panjang dan melelahkan memburu berita. Setelah QZ8501 yang menyita
perhatian selama dua pekan ke belakang, konflik berpindah ke babak baru
drama KPK dan Polri. Dana dan rekan-rekan jelas tak diberikan waktu
untuk bersantai dan memang, dunia kewartawanan adalah dunia tanpa koma*.
Dana membuka pintu geser ruang kerjanya,
tangannya menenteng mug putih-bulat pemberian Elmara, perempuan pemasok
endorfinnya, dia perlu kopi tambahan untuk meredam sakit di kepalanya.
Untuk sampai ke pantry, Dana membelah langkah dari depan
kantornya, berjalan lurus ke depan, lalu berbelok ke kiri, memasuki
lorong dan di ujung lorong itulah ia bisa menyeduh cappucino tanpa gula
kesukaannya.
Jarang sekali Dana harus menyiapkan kopi
sendiri, biasanya ada Gina, rekannya sesama wartawan senior, yang selalu
menyuntikan semangat dengan menyiapakan makanan ringan dan kopi untuk
semua wartawan ketika sedang menyunting berita. Saat ini, di dalam
ruangan hanya ada beberapa orang saja. Beberapa yang lain tentu sedang
bergelung di dalam hangat selimut mereka, enggan tidur di atas meja
seperti yang dilakukan Bagas. Dana menepuk punggung lekaki itu pelan
ketika melewatinya. Saat itulah sebuah fax yang masuk memecah kehingan.
Dana terlonjak akibat suara yang
tiba-tiba dari belakanganya itu. Mesin fax tersebut berada persis di
antara ruangan Bos Besar dan ruangannya dengan alasan sederhana, agar
keduanya lebih dulu tahu apa yang terjadi meski masing-masing memiliki
mesin fax sendiri di dalam ruangan pribadi mereka.
Bodoh, ujar Dana pada dirinya sendiri, terkejut oleh suara mesin fax seperti anak-anak.
Dana memutar langkahnya, berbalik kembali ke arah ruangannya sambil
sesekali menguap. Ia meletakan cangkir mugnya di atas meja, lalu meraih
kertas fax yang masuk.
Selembar kertas dengan tulisan
berwarna-warni. Sebuah surat kaleng berupa acaman?, pikirnya. Mata Dana
berkeredap sekali, lalu ia memusatkan perhatian membaca isi fax
tersebut.
∞
Benar saja, kabut basah tadi mengundang
hujan turun di balik jendela ruang kerjanya yang berembun. Tiba-tiba
saja dingin terasa begitu menusuk. Apa boleh buat, bukankah memang sudah jadwalnya untuk bertandang? Lendra mendesah, mengembuskan nafasnya perlahan. Tangannya yang kurus dan panjang memijat pelan pelipisnya.
Sejujurnya, Lendra tidak mengerti apa
yang mendasari para atasannya bertindak demikian. Memulai lagi sebuah
drama seperti mengulang sejarah. Yang sayangnya malah membuat citra
lembaga mereka semakin buruk. Lendra sendiri bukanlah seorang polisi
baik tetapi juga tidak sepenuhnya buruk. Di atas segala tindakannya
dalam menjalankan tugas, ia sepenuhnya memercayai nalurinya. Atas dasar
itulah ia bertindak, yang ia yakini akan membawa permasalahan ke keadaan
yang lebih baik, paling tidak mendekati baik itu sendiri dalam
pemikiran yang relatif.
Soal tindakan para atasannya tadi,
pastilah itu permainan mereka. Bukankah semua orang menyukai konspirasi?
Lendra setuju perkataan Langdon itu maka ia tidak mau pusing. Fokus
pada kasusnya sendiri itu baru penting. Polisi itu memandangi
berkas-berkas yang hampir menenggelamkan mejanya, berniat mengambil satu
yang teratas ketika tiba-tiba mesin fax miliknya berdenting.
Oke, ujar Lendra, selamat datang di kantorku kasus.. Ruangannya adalah sebuah kotak persegi yang cukup menampung dua lemari besar, satu filing cabinet , sebuah meja besar dengan perangkat komputer dan kursi putar, sambungan telepon dan fax. Di atas filing cabinet itulah mesin fax-nya berada. Lendra berdiri dari duduknya, meraih kertas itu.
Bagaimanapun ia sudah terlatih, Lendra
bukan orang baru di dunia yang keras ini. Matanya memandang fax yang
baru masuk tersebut pasat-pasat, membacanya dengan suara yang hanya bisa
ia dengar sendiri.
Sehari penuh dari sekarang? Lendra membaca penunjuk waktu pada kertas fax. Pukul lima pagi?
Dahinya mengernyit. Saat itulah telepon genggamnya berdering. Lendra
menyeret langkahnya kembali ke meja, duduk lalu meraih ponselnya di atas
meja tanpa melihat siapa si Penelpon. Matanya masih awas memanding
kertas tadi.
“Ya?” katanya. Begitu mendengar suara
dari seberang, Lendra tahu siapa yang menelponnya. “Tidak ada berita
terbaru pak Wartawan. Apa kalian tidak pernah tidur?” Selorohnya. Lendra
dan Dana adalah teman baik. Mereka kenal sejak di sekolah menengah lalu
berpisah menuju masa depan masing-masing. Keduanya tak ada yang pernah
menyangka bahwa mereka akan bertemu di lapangan.
Namun Dana menelpon bukan untuk
menanyakan soal berita. Toh majalah dwi mingguan mereka sudah naik
cetak. Perkembangan-perkembangan baru bisa menyusul untuk edisi
berikutnya.
“Sebuah fax masuk ke kantorku beberapa menit yg lalu,” suara Dana dari seberang. Ya, aku juga dapat,
batin Lendra malas. “Awalnya kukira ini surat kaleng seperti biasa,
tapi rasanya surat ini lebih mirip seperti seseorang yang ingin bunuh
diri.”
“Kau yakin?” Kini bahu Lendra duduk tegak tanpa menempel pada sandaran kursi. “Aku juga mendapat fax tadi, aku baru saja berpikir kalau ini adalah ancaman pembunuhan.”
“Benarkah? Lendra, kita harus bertemu! Kita harus tahu apa yang orang ini inginkan dan kenapa ia memberi tahu kita!”
“Ya, kau benar. Di tempat biasa?”
” Di tempat biasa.”
“Kau yakin?” Kini bahu Lendra duduk tegak tanpa menempel pada sandaran kursi. “Aku juga mendapat fax tadi, aku baru saja berpikir kalau ini adalah ancaman pembunuhan.”
“Benarkah? Lendra, kita harus bertemu! Kita harus tahu apa yang orang ini inginkan dan kenapa ia memberi tahu kita!”
“Ya, kau benar. Di tempat biasa?”
” Di tempat biasa.”
Sambungan telepon itu terputus. Lendra
menaruh ponselnya ke dalam saku celana. Ia berdiri lalu menyambar jaket
kulitnya. Sebelum pergi ada satu hal yag perlu dia pastikan dulu.
Polisi itu melangkah keluar dari ruangan dengan bersiul. Adrenalinnya terasa kencang dan memompa ke seluruh tubuhnya.
∞
Araya sudah jauh ketika nanti polisi
berhasil melacak nomor fax yang digunakannya. Memang begitulah
rencananya. Mengirim fax dari lokasi yang berlawanan dengan lokasi
tempat ia akan membalaskan dendamnya. Mengembalikan semua rasa sakit di
jantungnya.
Sebuah bayang-bayang pada hari yang telah
lalu berkelebat di benaknya. Bayangan yang tak pernah mampu ia hapus.
Bayangan yang meremukredamkan harapannya. Tanpa Araya sadari, tangannya
mengepal kuat hingga kuku-kukunya yang lancip terbenam di daging telapak
tangannya. Mari kita lihat, bagaimana ketika cintaku menjadi benci, katanya.
Lalu sebuah kilasan yang lain lagi
muncul. Wajahnya yang kaku perlahan mengendur. Ingatan itu, ia ingat
betul, bahkan selama seminggu pertama setelah hari itu, ingatan itulah
yang mampu mengabadikan senyum di wajahnya.
Araya tengah duduk di dalam sebuah
restoran. Meja perseginya diatur sedemikian rupa hingga membentuk sudut
belah ketupat, dengan dua kursi bersandaran rendah. Ia lalu duduk di
salah satunya. Rinai hujan yang turun malam itu membuat kaca restoran di
depannya berembun. Araya merapatkan cardigannya. Dengan satu tangan
ditopangkan di bawah dagu, Araya sedikit memanjangkan lehernya, melihat
pemandangan yang ditawarkan dinding kaca besar restoran itu. Untuk
alasan itulah Bara mengajakanya ke sini. Pemandangan malam dari balik
kaca restoran, dengan posisi agak jauh ke atas tetapi masih bisa melihat
para tamu yang datang.
Ketika ia melihat Bara datang, senyum
mengembang di wajahnya. Pria itu membawa seikat bunga matahari. Bunga
kesukaan Araya, tentu saja.
Sebuah guntur menggelegar dari atas.
Ingatan tadi lenyap begitu saja. Seakan bingung dengan apa yang akan
dilakukannya, tiba-tiba Araya menangis, meraung sekuat-kuatnya. Hatinya
kembali bimbang, benarkah ini cara satu-satunya? Benarkah?
∞
Dana sampai lebih dulu, ia telah memesan
segelas cappucino tanpa gula sebagai ganti kopinya di kantor tadi. Dana
ingin menyesap minumannya sekali lagi ketika akhirnya Lendra datang.
Mereka hanya saling menganguk tanpa berjabat tangan lalu Lendra segera
mengambil tempat di hadapan Dana.
“Lokasinya nol. Hanya sebuah warung
internet di Selatan. Meski hanya satu pelanggan yang menggunakan fax
tadi pagi, operatornya tidak bisa memastikan ciri-ciri pelaku. Pelaku
menggunakan jas hujan, penutup kepala dan masker. Bersih!”
Dana mengusap bibirnya dengan tangan. Perasaannya menjadi tidak enak. Lalu, “Saat menunggumu tadi, aku sudah mencari secara acak mengenai Lothario dari internet. Kau pasti terkejut,” katanya. Dana lalu membalik layar laptopnya menghadap Lendra, membiarkan polisi itu membaca.
Dana mengusap bibirnya dengan tangan. Perasaannya menjadi tidak enak. Lalu, “Saat menunggumu tadi, aku sudah mencari secara acak mengenai Lothario dari internet. Kau pasti terkejut,” katanya. Dana lalu membalik layar laptopnya menghadap Lendra, membiarkan polisi itu membaca.
Lendra memindai kata-kata di depannya
dengan cepat. Jadi, Lothario adalah tokoh fiksi dari film bertahun 1703
juga muncul di film lain pada 1982. Uniknya, karakter Lothario selalu
sama; tampan, kaya, seorang mata keranjang yang sukses, cassanova. Tipe yang bisa memanfaatkan apapun, dan perempuan adalah yang termudah, batin Lendra.
“Surat ini adalah pembunuhan berencana.” kata Lendra datar. Mata Dana membulat demi mendengar itu,
“Bagaimana bisa? Dan pelakunya?”
“Kau tahu, Dan? Kadang sebuah pembunuhan terjadi karna masalah sepele tetapi cinta, sakit hati adalah motif terbanyak kenapa seseorang membunuh bahkan oleh perempuan sekalipun.” Dana mengeluarkan suara berdegug dari tenggorokannya. Sebagai wartawan ia tahu itu. Dan ia mengucap syukur perlahan sebah Elmara tak menaruh dendam seperti perempuan yang mengiriminya fax pada pagi buta, meski hati perempuanya itu sempat dipatahkan oleh pria sialan–yang jika Dana melihatnya–akan menerima pukulan lebih dulu di wajah tinimbang jabatan di tangan.
“Bagaimana bisa? Dan pelakunya?”
“Kau tahu, Dan? Kadang sebuah pembunuhan terjadi karna masalah sepele tetapi cinta, sakit hati adalah motif terbanyak kenapa seseorang membunuh bahkan oleh perempuan sekalipun.” Dana mengeluarkan suara berdegug dari tenggorokannya. Sebagai wartawan ia tahu itu. Dan ia mengucap syukur perlahan sebah Elmara tak menaruh dendam seperti perempuan yang mengiriminya fax pada pagi buta, meski hati perempuanya itu sempat dipatahkan oleh pria sialan–yang jika Dana melihatnya–akan menerima pukulan lebih dulu di wajah tinimbang jabatan di tangan.
“Menurutmu kenapa orang ini memberi tahu kita? Dia ingin kita mencegahnya? Mengingat kata tolong di pesan tambahannya.”
Lendra mengangkat bahu, “Mungkin saja begitu tetapi sepertinya pelaku kita tak berniat membuat upaya penyelamatan ini mudah.”
“Kau benar.”
Kedua pria itu kembali menekuri kertas
fax mereka. Berusaha menangkap keganjilan dalam barisan kata yang
tercetak di sana yang bisa membawa mereka pada apa pun untuk menemukan
pelaku.
∞
Kamar 207. Araya datang untuk menyiapakan segala sesuatunya. Ia sudah membawa banyak bensin yang ia samarkan dalam tube-tube kecil lalu ia masukan ke dalam ransel. Cara yang bagus untuk membawa bensin-bensin itu sekaligus mengelabui resepsionis hotel.
Ia memesan kamar atas nama Bara.
Berbasa-basi bahwa ransel besar yang dibawanya milik pria malang itu dan
ia diminta untuk memesankan kamar terlebih dahulu. Si Resepsionis hanya
mengangguk. Memang begitulah aturannya, mereka tak pernah mau tahu
urusan pelanggannya. Tak pernah ada pemeriksaan kartu identitas, kau
bisa memesan dengan nama siapa saja. Dan tak akan ada yang pernah tahu
kau pernah ke sini. Dengan alasan yang sama pula kenapa Bara membawanya
ke hotel ini. Dulu.
Sekarang gilirannya membawa pria itu ke
sini. Entah Lendra dan Dana berhasil menemukannya atau tidak, kali ini
Araya telah bertekat, dialah yang harus jadi korban terakhir Bara.
Araya mengambil ponselnya, menekan sederetan angka yang sudah ia hapal di luar kepala
085714675xxx
Calling….
∞
Hampir tengah hari. Lendra memutuskan
untuk kembali ke kantornya sambil memikirkan isi fax tadi. Keduanya
berpisah setelah sama-sama memastikan satu sama lain akan terus memberi
kabar apa pun yang mereka dapatkan terkait surat itu. Ada yang akan
terbunuh, dan Lendra tak bisa diam saja setelah mengetahui itu.
Jika pelaku memberi tahu rencananya,
pasti ada celah untuk mengetahui di mana lokasinya. Pasti! Lendra sangat
yakin dengan itu sebab setiap kejahatan pasti memiliki pola dan Lendra
hanya perlu menemukan pola tersebut.
Baiklah. Pikirkan! Apa yang ingin diberitahu pelaku padannya? Memberi tahu bahwa dia akan membunuh seseorang. Benar. Apa lagi, Lendra? Seorang bajingan dengan karakter don juan. Yang bisa jadi siapa saja dan ada di mana saja. Ada lagi? Pelaku kemungkinan perempuan. Mengingat keraguannya dan permintaan tolongnya untuk mencegah kejahatan ini. Bagus! Dan lokasinya?
Dahi Lendra berkerut dalam. Kata sunyi, murni, keadilan dan sederhana
rasanya pernah ia lihat bersamaan. Sial! Tempat seperti apa yang memuat
kata-kata tadi? Gedung pengadilan? Rasanya tidak mungkin!
∞
“Beri aku waktu dan lokasi penjemputan,
juga tujuan. Selama kau berada di dalam mobil, apa pun yang terjadi aku
yang akan bertanggung jawab. Begitu pula sebaliknya, ketika kau sudah
keluar dari mobil, apa pun yang terjadi kau bukan lagi tanggung jawabku,
Jelas?”*
“Jelas. Ingat, kau harus tepat waktu!”
“Tak perlu khawatirlah.” Pria yang bicara dengannya di telepon itu lalu memutuskan sambungan. Araya membuka aplikasi pesan pada ponselnya. Mengetikan alamat dan waktu yang sesuai untuk pria itu menjemputnya. Segera, setelah balas dendamnya terlaksana.
“Jelas. Ingat, kau harus tepat waktu!”
“Tak perlu khawatirlah.” Pria yang bicara dengannya di telepon itu lalu memutuskan sambungan. Araya membuka aplikasi pesan pada ponselnya. Mengetikan alamat dan waktu yang sesuai untuk pria itu menjemputnya. Segera, setelah balas dendamnya terlaksana.
Ruslan nama pria itu, yang pada pertemuan
pertama mereka menawarkan akan mengantar Araya pulang ke mana pun asal
tak berjalan kaki dengan baju yang kuyup oleh hujan. Pria itu mungkin
hanya merasa kasihan. Begitu saja Araya masuk ke chevy hitam yang
membuka di sampingnya. Sepanjang perjalanan, Ruslan tak bertanya
apa-apa, ia malah mengatakan bahwa jika Araya perlu jasa antar-jemput
Araya bisa menghubunginya kapan pun dan dia seorang profesional. Kali ini gratis, katanya waktu itu.
Maka hari ini, Araya memutuskan
benar-benar memakai jasanya. Araya mematikan telepon genggamnya. Ia
harus bersiap, sebentar lagi Bara datang dan ia tak memerlukan baju
untuk menyambut pria itu.
∞
Dini hari. Dana mendekam di kantornya dan
belum juga menemukan titik terang tentang lokasi pembunuhan itu
sementara waktu mereka tinggal tiga jam lagi. Dana mengintip ke luar
jendelanya. Jalanan di bawah sana masih ramai oleh kerlap lampu
merah-kuning kendaraan. Jalan protokol ibu kota memang tidak pernah
mati.
Suara sirene meraung dari arah barat
membelah jalanan. Suasana yang sunyi tiba-tiba disusupi keramaian.
RupaNya sebuah mobil pemadam kebakaran. Mobil damkar berwarna merah
menyala dan sebuah ambulance beriring menuju timur. Dana keluar dari
ruangannya.
“Kebakaran. Sudah ada yang menuju
lokasi?” katanya kepada seluruh awak Target. Suara Dana jatuh berdebum
sampai ke sudut-sudut ruangan.
“Tara dan Lingga sudah ke lokasi, Mas.”
“Tara dan Lingga sudah ke lokasi, Mas.”
Dana menganggukan kepala lalu kembali masuk ke ruangannya. Sunyi yang tiba-tiba ramai tetapi di kantornya selalu saja ramai, selorohnya.
Sebentar. Sunyi? Ramai? Rasanya kata-kata
itu telah dilihatnya seharian ini. Dana bergegas mengambil kertas fax
tadi, beberapa detik kemudian ia menelpon Lendra.
Ayolah, angkat teleponya!
Ketika suara taktis sambungan telepon terputus kata kebakaran menghabur dari mulut Dana.
Ketika suara taktis sambungan telepon terputus kata kebakaran menghabur dari mulut Dana.
“Hei, sabar dulu. Aku sedang menyetir. Ya! Aku sedang menuju ke tempat kebakaran itu.” Lendra menyela.
“Bukan kebakaran yang sekarang Lendra! Tetapi kebakaran yang akan terjadi pada pukul lima nanti!”
“Apa… maksudmu?”
“Fax itu. Jalan yang sunyi akan jadi ramai maksudnya adalah kebakaran. Pelaku kita akan membakar korbanya!”
“Kita harus segera menemukan pelakunya. Mungkin saja ia berniat bunuh diri di tempat yang sama. Aku akan ada di lokasi kebakaran saat ini. Temui aku di sana!”
“Baiklah.”
∞
Araya mengendap keluar dari balik
selimut. Bara masih tertidur. Pria itu tidak akan terbangun bahkan
ketika tubuhnya telah terkepung api. Perlahan, Araya mengeluarkan bensin
yang tadi ia simpan. Menyiramkan minyak itu ke tempat tidur, lemari
pakaian, meja teve, dan seluruh lantai. Lalu keluar, berjalan dengan
besin yang tercecer ke marmer putih hotel Mutiara seperti pesakitan.
∞
Dana harus menunggu Lendra menyelesaikan
tugasnya lebih dulu sebelum membicarakan kasus mereka. Dan itu memakan
waktu yang tak sedikit mengingat ini di lokasi kebakaran. Satu jam
sebelum waktu kejadian dan mereka masih belum juga tahu di mana lokasi
tersebut! Dana menahan geram. Sial!
“Dan, kemarilah!” Itu suara Lendra, Dana
berjalan dari mobilnya menuju polisi itu. Akhirnya, katanya. Tadinya
Dana pikir mereka akan membahas kasus mereka tetapi ketika mendengar
Lendra menyalakan mesin mobilnya, ia lekas berlari menghampiri. Tepat
ketika Dana masuk, Lendra memundurkan mobilnya lalu berbelok tajam ke
kiri menuju jalanan.
“Aku tahu lokasinya!” katanya.
“Jelaskan!”
“Kau pasti berpikir ini lucu. Ketika tadi aku melihat peta lokasi ke bakaran ini, kau tahu, tempat-tempat di Jakarta memang dinamai dengan nama tanaman atau buah.” Lendra menoleh pada Dana, melihat rekannya itu mengangguk. Ya tentu saja, Kebun Jeruk, Kelapa Gading, Kapuk, Jatinegara. Nama-nama seperti itu umum di Jakarta. Dinamai sesuai lokasi itu pada zaman dulu.
“Jelaskan!”
“Kau pasti berpikir ini lucu. Ketika tadi aku melihat peta lokasi ke bakaran ini, kau tahu, tempat-tempat di Jakarta memang dinamai dengan nama tanaman atau buah.” Lendra menoleh pada Dana, melihat rekannya itu mengangguk. Ya tentu saja, Kebun Jeruk, Kelapa Gading, Kapuk, Jatinegara. Nama-nama seperti itu umum di Jakarta. Dinamai sesuai lokasi itu pada zaman dulu.
“Ada yang berbeda di Barat. Jalan-jalan mereka dinamai dengan kata-kata absurd tanpa wujud yang nyata. Jl. Keselamatan, Keutamaan, Kesejahteraan, Keagungan dan lain-lain. Di antaranya, ada Jl. Kemurnian, Jl. Keadilan dan Jl. Kesederhanaan.” Mata Dana membulat demi mendengar itu. Kata murni, adil dan sederhana dalam fax ternyata merujuk pada nama jalan.
“Dan kita sedang mengarah ke sana?”
“Ya! Tetapi hanya itu yang aku tahu. Masih ada ‘sunyi’, tak ada nama jalan yang bernama itu di sana.”
Itu yang membuat Lendra gelisah. Mereka bisa saja terlambat ketika sampai di sana tetapi masih harus mencari lokasi tepatnya.
“Tempat seperti apa yang kita datangi ini?”
“Maaf?”
“Lokasinya, perumahan penduduk, pertokoan atau apa?”
“Campuran.”
“Maksudmu?”
“Jalan-jalan tadi berbatasan dengan jalan raya Hayam Wuruk. Pertokoan, hotel bintang lima, hotel kelas dua, situs budaya, gedung-gedung tua semacam itulah, dan perumahan penduduk berdiri campur aduk di sana.”
Lothario, Dana menggumam, lalu, “kita harus menyisir hotel. Korban pastilah mudah diajak ke sana.” Lendra setuju, ia memacu mobilnya lebih cepat. Seorang Don Juan pasti mengenal hotel dengan baik.
“Maaf?”
“Lokasinya, perumahan penduduk, pertokoan atau apa?”
“Campuran.”
“Maksudmu?”
“Jalan-jalan tadi berbatasan dengan jalan raya Hayam Wuruk. Pertokoan, hotel bintang lima, hotel kelas dua, situs budaya, gedung-gedung tua semacam itulah, dan perumahan penduduk berdiri campur aduk di sana.”
Lothario, Dana menggumam, lalu, “kita harus menyisir hotel. Korban pastilah mudah diajak ke sana.” Lendra setuju, ia memacu mobilnya lebih cepat. Seorang Don Juan pasti mengenal hotel dengan baik.
∞
Araya menafikan segala perasaan yang
muncul pada detik-detik terakhir. Bau bensin yang mengambang di udara
membuatnya pusing. Araya beranjak ke pintu, membuka daunya lebar-lebar.
Ia siap untuk memantik api. Ia menyalakannya dan melempar pematik itu ke
atas tempat tidur.
“Selamat pagi, Bara.”
Lalu Araya berbalik pergi, meninggalkan kobaran api di belakanganya. Gerimis menyambutnya di luar.
∞
Ketika Lendra dan Dana akhirnya
mengetahui lokasi pembunuhan tersebut, mereka sudah terlambat. Suara
serene pemadam kebakaran sudah dimatikan sejak tadi, hanya lampunya saja
yang masih berkeredap dalam deras hujan mengepung lokasi. Di depan
mereka, sebuah hotel kelas dua ludes terbakar.
Tak jauh dari tempat mereka memarkirkan
mobil, sesosok perempuan berpayung memandang dengan sedih bangunan yang
hangus itu. Hanya sebentar, lalu berbalik pergi.
Dengan intuisinya Lendra mengejar gadis
itu. Tetapi ketika ia berbelok mengikuti arah gadis itu tadi pergi,
sosoknya telah lenyap.
∞
“Sepertinya aku harus selalu membawa payung hitam itu.”
“Kenapa?”
“Karna kita selalu bertemu ketika hujan dan kamu selalu basah, berdiri di bawahnya tanpa menggunakan apa-apa, seperti tadi.”
“Kenapa?”
“Karna kita selalu bertemu ketika hujan dan kamu selalu basah, berdiri di bawahnya tanpa menggunakan apa-apa, seperti tadi.”
Gadis itu hanya diam.
∞
Keterangan tambahan :* Dunia Tanpa Koma adalah judul film televisi tentang dunia kewartawanan. Target adalah nama majalah di film ini.
* Percakapan dr film Drive dengan sedikit perubahan.
Cerpen terkait :
Lendra pernah muncul di Kamisan #12 Lemari : Yang Tersimpan di Dalamnya
Andana Prasetia bersama Elmara Khairy di
1) Kamisan #3 Endorfin : Cinta untuk Perempuan Pengantong Petrichor
2) Kamisan #14 Serendepity : Pleasant Surprise


0 comments