Minggu 1 Nona Capung

Kamisan S3 #1: Permulaan

15.22Unknown

Kabut masih basah, kegelapan masih pekat di luar sana. Di dalam, suara kipas angin yang berputar di langit-langit mendominasi keheningan yang tercipta di ruang wartawan majalah Target. Mereka baru saja melewati malam-malam penuh tekanan sebelum deadline. Malam-malam panjang dan melelahkan memburu berita. Setelah QZ8501 yang menyita perhatian selama dua pekan ke belakang, konflik berpindah ke babak baru drama KPK dan Polri. Dana dan rekan-rekan jelas tak diberikan waktu untuk bersantai dan memang, dunia kewartawanan adalah dunia tanpa koma*.

Dana membuka pintu geser ruang kerjanya, tangannya menenteng mug putih-bulat pemberian Elmara, perempuan pemasok endorfinnya, dia perlu kopi tambahan untuk meredam sakit di kepalanya. Untuk sampai ke pantry, Dana membelah langkah dari depan kantornya, berjalan lurus ke depan, lalu berbelok ke kiri, memasuki lorong dan di ujung lorong itulah ia bisa menyeduh cappucino tanpa gula kesukaannya.

Jarang sekali Dana harus menyiapkan kopi sendiri, biasanya ada Gina, rekannya sesama wartawan senior, yang selalu menyuntikan semangat dengan menyiapakan makanan ringan dan kopi untuk semua wartawan ketika sedang menyunting berita. Saat ini, di dalam ruangan hanya ada beberapa orang saja. Beberapa yang lain tentu sedang bergelung di dalam hangat selimut mereka, enggan tidur di atas meja seperti yang dilakukan Bagas. Dana menepuk punggung lekaki itu pelan ketika melewatinya. Saat itulah sebuah fax yang masuk memecah kehingan.

Dana terlonjak akibat suara yang tiba-tiba dari belakanganya itu. Mesin fax tersebut berada persis di antara ruangan Bos Besar dan ruangannya dengan alasan sederhana, agar keduanya lebih dulu tahu apa yang terjadi meski masing-masing memiliki mesin fax sendiri di dalam ruangan pribadi mereka.

Bodoh, ujar Dana pada dirinya sendiri, terkejut oleh suara mesin fax seperti anak-anak. Dana memutar langkahnya, berbalik kembali ke arah ruangannya sambil sesekali menguap. Ia meletakan cangkir mugnya di atas meja, lalu meraih kertas fax yang masuk.

Selembar kertas dengan tulisan berwarna-warni. Sebuah surat kaleng berupa acaman?, pikirnya. Mata Dana berkeredap sekali, lalu ia memusatkan perhatian membaca isi fax tersebut.


Benar saja, kabut basah tadi mengundang hujan turun di balik jendela ruang kerjanya yang berembun. Tiba-tiba saja dingin terasa begitu menusuk. Apa boleh buat, bukankah memang sudah jadwalnya untuk bertandang? Lendra mendesah, mengembuskan nafasnya perlahan. Tangannya yang kurus dan panjang memijat pelan pelipisnya.

Sejujurnya, Lendra tidak mengerti apa yang mendasari para atasannya bertindak demikian. Memulai lagi sebuah drama seperti mengulang sejarah. Yang sayangnya malah membuat citra lembaga mereka semakin buruk. Lendra sendiri bukanlah seorang polisi baik tetapi juga tidak sepenuhnya buruk. Di atas segala tindakannya dalam menjalankan tugas, ia sepenuhnya memercayai nalurinya. Atas dasar itulah ia bertindak, yang ia yakini akan membawa permasalahan ke keadaan yang lebih baik, paling tidak mendekati baik itu sendiri dalam pemikiran yang relatif.

Soal tindakan para atasannya tadi, pastilah itu permainan mereka. Bukankah semua orang menyukai konspirasi? Lendra setuju perkataan Langdon itu maka ia tidak mau pusing. Fokus pada kasusnya sendiri itu baru penting. Polisi itu memandangi berkas-berkas yang hampir menenggelamkan mejanya, berniat mengambil satu yang teratas ketika tiba-tiba mesin fax miliknya berdenting.

Oke, ujar Lendra, selamat datang di kantorku kasus.. Ruangannya adalah sebuah kotak persegi yang cukup menampung dua lemari besar, satu filing cabinet , sebuah meja besar dengan perangkat komputer dan kursi putar, sambungan telepon dan fax. Di atas filing cabinet itulah mesin fax-nya berada. Lendra berdiri dari duduknya, meraih kertas itu.

Bagaimanapun ia sudah terlatih, Lendra bukan orang baru di dunia yang keras ini. Matanya memandang fax yang baru masuk tersebut pasat-pasat, membacanya dengan suara yang hanya bisa ia dengar sendiri.

wpid-img_20150128_191017.jpg

Sehari penuh dari sekarang? Lendra membaca penunjuk waktu pada kertas fax. Pukul lima pagi? Dahinya mengernyit. Saat itulah telepon genggamnya berdering. Lendra menyeret langkahnya kembali ke meja, duduk lalu meraih ponselnya di atas meja tanpa melihat siapa si Penelpon. Matanya masih awas memanding kertas tadi.

“Ya?” katanya. Begitu mendengar suara dari seberang, Lendra tahu siapa yang menelponnya. “Tidak ada berita terbaru pak Wartawan. Apa kalian tidak pernah tidur?” Selorohnya. Lendra dan Dana adalah teman baik. Mereka kenal sejak di sekolah menengah lalu berpisah menuju masa depan masing-masing. Keduanya tak ada yang pernah menyangka bahwa mereka akan bertemu di lapangan.

Namun Dana menelpon bukan untuk menanyakan soal berita. Toh majalah dwi mingguan mereka sudah naik cetak. Perkembangan-perkembangan baru bisa menyusul untuk edisi berikutnya.

“Sebuah fax masuk ke kantorku beberapa menit yg lalu,” suara Dana dari seberang. Ya, aku juga dapat, batin Lendra malas. “Awalnya kukira ini surat kaleng seperti biasa, tapi rasanya surat ini lebih mirip seperti seseorang yang ingin bunuh diri.”
“Kau yakin?” Kini bahu Lendra duduk tegak tanpa menempel pada sandaran kursi. “Aku juga mendapat fax tadi, aku baru saja berpikir kalau ini adalah ancaman pembunuhan.”
“Benarkah? Lendra, kita harus bertemu! Kita harus tahu apa yang orang ini inginkan dan kenapa ia memberi tahu kita!”
“Ya, kau benar. Di tempat biasa?”
” Di tempat biasa.”

Sambungan telepon itu terputus. Lendra menaruh ponselnya ke dalam saku celana. Ia berdiri lalu menyambar jaket kulitnya. Sebelum pergi ada satu hal yag perlu dia pastikan dulu.

Polisi itu melangkah keluar dari ruangan dengan bersiul. Adrenalinnya terasa kencang dan memompa ke seluruh tubuhnya.


Araya sudah jauh ketika nanti polisi berhasil melacak nomor fax yang digunakannya. Memang begitulah rencananya. Mengirim fax dari lokasi yang berlawanan dengan lokasi tempat ia akan membalaskan dendamnya. Mengembalikan semua rasa sakit di jantungnya.

Sebuah bayang-bayang pada hari yang telah lalu berkelebat di benaknya. Bayangan yang tak pernah mampu ia hapus. Bayangan yang meremukredamkan harapannya. Tanpa Araya sadari, tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya yang lancip terbenam di daging telapak tangannya. Mari kita lihat, bagaimana ketika cintaku menjadi benci, katanya.

Lalu sebuah kilasan yang lain lagi muncul. Wajahnya yang kaku perlahan mengendur. Ingatan itu, ia ingat betul, bahkan selama seminggu pertama setelah hari itu, ingatan itulah yang mampu mengabadikan senyum di wajahnya.

Araya tengah duduk di dalam sebuah restoran. Meja perseginya diatur sedemikian rupa hingga membentuk sudut belah ketupat, dengan dua kursi bersandaran rendah. Ia lalu duduk di salah satunya. Rinai hujan yang turun malam itu membuat kaca restoran di depannya berembun. Araya merapatkan cardigannya. Dengan satu tangan ditopangkan di bawah dagu, Araya sedikit memanjangkan lehernya, melihat pemandangan yang ditawarkan dinding kaca besar restoran itu. Untuk alasan itulah Bara mengajakanya ke sini. Pemandangan malam dari balik kaca restoran, dengan posisi agak jauh ke atas tetapi masih bisa melihat para tamu yang datang.

Ketika ia melihat Bara datang, senyum mengembang di wajahnya. Pria itu membawa seikat bunga matahari. Bunga kesukaan Araya, tentu saja.

Sebuah guntur menggelegar dari atas. Ingatan tadi lenyap begitu saja. Seakan bingung dengan apa yang akan dilakukannya, tiba-tiba Araya menangis, meraung sekuat-kuatnya. Hatinya kembali bimbang, benarkah ini cara satu-satunya? Benarkah?


Dana sampai lebih dulu, ia telah memesan segelas cappucino tanpa gula sebagai ganti kopinya di kantor tadi. Dana ingin menyesap minumannya sekali lagi ketika akhirnya Lendra datang. Mereka hanya saling menganguk tanpa berjabat tangan lalu Lendra segera mengambil tempat di hadapan Dana.

“Lokasinya nol. Hanya sebuah warung internet di Selatan. Meski hanya satu pelanggan yang menggunakan fax tadi pagi, operatornya tidak bisa memastikan ciri-ciri pelaku. Pelaku menggunakan jas hujan, penutup kepala dan masker. Bersih!”
Dana mengusap bibirnya dengan tangan. Perasaannya menjadi tidak enak. Lalu, “Saat menunggumu tadi, aku sudah mencari secara acak mengenai Lothario dari internet. Kau pasti terkejut,” katanya. Dana lalu membalik layar laptopnya menghadap Lendra, membiarkan polisi itu membaca.

Lendra memindai kata-kata di depannya dengan cepat. Jadi, Lothario adalah tokoh fiksi dari film bertahun 1703 juga muncul di film lain pada 1982. Uniknya, karakter Lothario selalu sama; tampan, kaya, seorang mata keranjang yang sukses, cassanova. Tipe yang bisa memanfaatkan apapun, dan perempuan adalah yang termudah, batin Lendra.

“Surat ini adalah pembunuhan berencana.” kata Lendra datar. Mata Dana membulat demi mendengar itu,
“Bagaimana bisa? Dan pelakunya?”
“Kau tahu, Dan? Kadang sebuah pembunuhan terjadi karna masalah sepele tetapi cinta, sakit hati adalah motif terbanyak kenapa seseorang membunuh bahkan oleh perempuan sekalipun.” Dana mengeluarkan suara berdegug dari tenggorokannya. Sebagai wartawan ia tahu itu. Dan ia mengucap syukur perlahan sebah Elmara tak menaruh dendam seperti perempuan yang mengiriminya fax pada pagi buta, meski hati perempuanya itu sempat dipatahkan oleh pria sialan–yang jika Dana melihatnya–akan menerima pukulan lebih dulu di wajah tinimbang jabatan di tangan.

“Menurutmu kenapa orang ini memberi tahu kita? Dia ingin kita mencegahnya? Mengingat kata tolong di pesan tambahannya.”
Lendra mengangkat bahu, “Mungkin saja begitu tetapi sepertinya pelaku kita tak berniat membuat upaya penyelamatan ini mudah.”
“Kau benar.”

Kedua pria itu kembali menekuri kertas fax mereka. Berusaha menangkap keganjilan dalam barisan kata yang tercetak di sana yang bisa membawa mereka pada apa pun untuk menemukan pelaku.


Kamar 207. Araya datang untuk menyiapakan segala sesuatunya. Ia sudah membawa banyak bensin yang ia samarkan dalam tube-tube kecil lalu ia masukan ke dalam ransel. Cara yang  bagus untuk membawa bensin-bensin itu sekaligus mengelabui resepsionis hotel.

Ia memesan kamar atas nama Bara. Berbasa-basi bahwa ransel besar yang dibawanya milik pria malang itu dan ia diminta untuk memesankan kamar terlebih dahulu. Si Resepsionis hanya mengangguk. Memang begitulah aturannya, mereka tak pernah mau tahu urusan pelanggannya. Tak pernah ada pemeriksaan kartu identitas, kau bisa memesan dengan nama siapa saja. Dan tak akan ada yang pernah tahu kau pernah ke sini. Dengan alasan yang sama pula kenapa Bara membawanya ke hotel ini. Dulu.

Sekarang gilirannya membawa pria itu ke sini. Entah Lendra dan Dana berhasil menemukannya atau tidak, kali ini Araya telah bertekat, dialah yang harus jadi korban terakhir Bara.

Araya mengambil ponselnya, menekan sederetan angka yang sudah ia hapal di luar kepala

085714675xxx
Calling….


Hampir tengah hari. Lendra memutuskan untuk kembali ke kantornya sambil memikirkan isi fax tadi. Keduanya berpisah setelah sama-sama memastikan satu sama lain akan terus memberi kabar apa pun yang mereka dapatkan terkait surat itu. Ada yang akan terbunuh, dan Lendra tak bisa diam saja setelah mengetahui itu.

Jika pelaku memberi tahu rencananya, pasti ada celah untuk mengetahui di mana lokasinya. Pasti! Lendra sangat yakin dengan itu sebab setiap kejahatan pasti memiliki pola dan Lendra hanya perlu menemukan pola tersebut.

Baiklah. Pikirkan! Apa yang ingin diberitahu pelaku padannya? Memberi tahu bahwa dia akan membunuh seseorang. Benar. Apa lagi, Lendra? Seorang bajingan dengan karakter don juan. Yang bisa jadi siapa saja dan ada di mana saja. Ada lagi? Pelaku kemungkinan perempuan. Mengingat keraguannya dan permintaan tolongnya untuk mencegah kejahatan ini. Bagus! Dan lokasinya?

Dahi Lendra berkerut dalam. Kata sunyi, murni, keadilan dan sederhana rasanya pernah ia lihat bersamaan. Sial! Tempat seperti apa yang memuat kata-kata tadi? Gedung pengadilan? Rasanya tidak mungkin!

“Beri aku waktu dan lokasi penjemputan, juga tujuan. Selama kau berada di dalam mobil, apa pun yang terjadi aku yang akan bertanggung jawab. Begitu pula sebaliknya, ketika kau sudah keluar dari mobil, apa pun yang terjadi kau bukan lagi tanggung jawabku, Jelas?”*
“Jelas. Ingat, kau harus tepat waktu!”
“Tak perlu khawatirlah.” Pria yang bicara dengannya di telepon itu lalu memutuskan sambungan. Araya membuka aplikasi pesan pada ponselnya. Mengetikan alamat dan waktu yang sesuai untuk pria itu menjemputnya. Segera, setelah balas dendamnya terlaksana.

Ruslan nama pria itu, yang pada pertemuan pertama mereka menawarkan akan mengantar Araya pulang ke mana pun asal tak berjalan kaki dengan baju yang kuyup oleh hujan. Pria itu mungkin hanya merasa kasihan. Begitu saja Araya masuk ke chevy hitam yang membuka di sampingnya. Sepanjang perjalanan, Ruslan tak bertanya apa-apa, ia malah mengatakan bahwa jika Araya perlu jasa antar-jemput Araya bisa menghubunginya kapan pun dan dia seorang profesional. Kali ini gratis, katanya waktu itu.

Maka hari ini, Araya memutuskan benar-benar memakai jasanya. Araya mematikan telepon genggamnya. Ia harus bersiap, sebentar lagi Bara datang dan ia tak memerlukan baju untuk menyambut pria itu.


Dini hari. Dana mendekam di kantornya dan belum juga menemukan titik terang tentang lokasi pembunuhan itu sementara waktu mereka tinggal tiga jam lagi. Dana mengintip ke luar jendelanya. Jalanan di bawah sana masih ramai oleh kerlap lampu merah-kuning kendaraan. Jalan protokol ibu kota memang tidak pernah mati.
Suara sirene meraung dari arah barat membelah jalanan. Suasana yang sunyi tiba-tiba disusupi keramaian. RupaNya sebuah mobil pemadam kebakaran. Mobil damkar berwarna merah menyala dan sebuah ambulance beriring menuju timur. Dana keluar dari ruangannya.

“Kebakaran. Sudah ada yang menuju lokasi?” katanya kepada seluruh awak Target. Suara Dana jatuh berdebum sampai ke sudut-sudut ruangan.
“Tara dan Lingga sudah ke lokasi, Mas.”

Dana menganggukan kepala lalu kembali masuk ke ruangannya. Sunyi yang tiba-tiba ramai tetapi di kantornya selalu saja ramai, selorohnya.

Sebentar. Sunyi? Ramai? Rasanya kata-kata itu telah dilihatnya seharian ini. Dana bergegas mengambil kertas fax tadi, beberapa detik kemudian ia menelpon Lendra.
Ayolah, angkat teleponya!
Ketika suara taktis sambungan telepon terputus kata kebakaran menghabur dari mulut Dana.

“Hei, sabar dulu. Aku sedang menyetir. Ya! Aku sedang menuju ke tempat kebakaran itu.” Lendra menyela.
“Bukan kebakaran yang sekarang Lendra! Tetapi kebakaran yang akan terjadi pada pukul lima nanti!”
“Apa… maksudmu?”
“Fax itu. Jalan yang sunyi akan jadi ramai maksudnya adalah kebakaran. Pelaku kita akan membakar korbanya!”
“Kita harus segera menemukan pelakunya. Mungkin saja ia berniat bunuh diri di tempat yang sama. Aku akan ada di lokasi kebakaran saat ini. Temui aku di sana!”
“Baiklah.”


Araya mengendap keluar dari balik selimut. Bara masih tertidur. Pria itu tidak akan terbangun bahkan ketika tubuhnya telah terkepung api. Perlahan, Araya mengeluarkan bensin yang tadi ia simpan. Menyiramkan minyak itu ke tempat tidur, lemari pakaian, meja teve, dan seluruh lantai. Lalu keluar, berjalan dengan besin yang tercecer ke marmer putih hotel Mutiara seperti pesakitan.


Dana harus menunggu Lendra menyelesaikan tugasnya lebih dulu sebelum membicarakan kasus mereka. Dan itu memakan waktu yang tak sedikit mengingat ini di lokasi kebakaran. Satu jam sebelum waktu kejadian dan mereka masih belum juga tahu di mana lokasi tersebut! Dana menahan geram. Sial!

“Dan, kemarilah!” Itu suara Lendra, Dana berjalan dari mobilnya menuju polisi itu. Akhirnya, katanya. Tadinya Dana pikir mereka akan membahas kasus mereka tetapi ketika mendengar Lendra menyalakan mesin mobilnya, ia lekas berlari menghampiri. Tepat ketika Dana masuk, Lendra memundurkan mobilnya lalu berbelok tajam ke kiri menuju jalanan.

“Aku tahu lokasinya!” katanya.
“Jelaskan!”
“Kau pasti berpikir ini lucu. Ketika tadi aku melihat peta lokasi ke bakaran ini, kau tahu, tempat-tempat di Jakarta memang dinamai dengan nama tanaman atau buah.” Lendra menoleh pada Dana, melihat rekannya itu mengangguk. Ya tentu saja, Kebun Jeruk, Kelapa Gading, Kapuk, Jatinegara. Nama-nama seperti itu umum di Jakarta. Dinamai sesuai lokasi itu pada zaman dulu.

“Ada yang berbeda di Barat. Jalan-jalan mereka dinamai dengan kata-kata absurd tanpa wujud yang nyata. Jl. Keselamatan, Keutamaan, Kesejahteraan, Keagungan dan lain-lain. Di antaranya, ada Jl. Kemurnian, Jl. Keadilan dan Jl. Kesederhanaan.” Mata Dana membulat demi mendengar itu. Kata murni, adil dan sederhana dalam fax ternyata merujuk pada nama jalan.

“Dan kita sedang mengarah ke sana?”
“Ya! Tetapi hanya itu yang aku tahu. Masih ada ‘sunyi’, tak ada nama jalan yang bernama itu di sana.”
Itu yang membuat Lendra gelisah. Mereka bisa saja terlambat ketika sampai di sana tetapi masih harus mencari lokasi tepatnya.

“Tempat seperti apa yang kita datangi ini?”
“Maaf?”
“Lokasinya, perumahan penduduk, pertokoan atau apa?”
“Campuran.”
“Maksudmu?”
“Jalan-jalan tadi berbatasan dengan jalan raya Hayam Wuruk. Pertokoan, hotel bintang lima, hotel kelas dua, situs budaya, gedung-gedung tua semacam itulah, dan perumahan penduduk berdiri campur aduk di sana.”
Lothario, Dana menggumam, lalu, “kita harus menyisir hotel. Korban pastilah mudah diajak ke sana.” Lendra setuju, ia memacu mobilnya lebih cepat. Seorang Don Juan pasti mengenal hotel dengan baik.


Araya menafikan segala perasaan yang muncul pada detik-detik terakhir. Bau bensin yang mengambang di udara membuatnya pusing. Araya beranjak ke pintu, membuka daunya lebar-lebar. Ia siap untuk memantik api. Ia menyalakannya dan melempar pematik itu ke atas tempat tidur.

“Selamat pagi, Bara.”

Lalu Araya berbalik pergi, meninggalkan kobaran api di belakanganya. Gerimis menyambutnya di luar.


Ketika Lendra dan Dana akhirnya mengetahui lokasi pembunuhan tersebut, mereka sudah terlambat. Suara serene pemadam kebakaran sudah dimatikan sejak tadi, hanya lampunya saja yang masih berkeredap dalam deras hujan mengepung lokasi. Di depan mereka, sebuah hotel kelas dua ludes terbakar.

Tak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil, sesosok perempuan berpayung memandang dengan sedih bangunan yang hangus itu. Hanya sebentar, lalu berbalik pergi.

Dengan intuisinya Lendra mengejar gadis itu. Tetapi ketika ia berbelok mengikuti arah gadis itu tadi pergi, sosoknya telah lenyap.


“Sepertinya aku harus selalu membawa payung hitam itu.”
“Kenapa?”
“Karna kita selalu bertemu ketika hujan dan kamu selalu basah, berdiri di bawahnya tanpa menggunakan apa-apa, seperti tadi.”

Gadis itu hanya diam.

image
source google
Keterangan tambahan :
* Dunia Tanpa Koma adalah judul film televisi tentang dunia kewartawanan. Target adalah nama majalah di film ini.
* Percakapan dr film Drive dengan sedikit perubahan.
Cerpen terkait :
Lendra pernah muncul di Kamisan #12 Lemari : Yang Tersimpan di Dalamnya
Andana Prasetia bersama Elmara Khairy di
1) Kamisan #3 Endorfin : Cinta untuk Perempuan Pengantong Petrichor 
2) Kamisan #14 Serendepity : Pleasant Surprise

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak