
Aku membuka mata dan mendapati diriku
sedang berada di antara gedung-gedung tinggi yang berada di salah satu
kawasan niaga terbesar di kota ini. Aku sangat hapal tempat ini karena
aku berkerja di salah satu gedung yang ada di sini.
Sebelum pikiranku sempat menerjemahkan
apa yang sedang terjadi, mendadak hujan turun. Secara reflek aku
mengangkat tangan dan membuka payung yang entah bagaimana bisa ada di
dalam genggaman tanganku. Begitu payung itu terbuka secara sempurna,
trotoar tempatku berpijak menghilang. Membuatku kehilangan keseimbangan
dan terjun bebas ke dalam kegelapan.
Aku membuka
mata dengan perasaan takut. Setelah aku bisa bepikir dengan jernih, aku
melihat langit-langit kamar rawat inap di salah satu rumah sakit tempat
aku menjalani perawatan. Jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari.
Entah karena efek obat bius yang belum sepenuhnya hilang atau karena
efek dari rasa takut akibat mimpi yang baru saja terjadi, aku tidak bisa
menggerakkan badanku. Aku hanya bisa mengerang secara perlahan.
———-
Aku membuka mata dan mendapati diriku
kembali berada di antara gedung-gedung tinggi ini. Kali ini aku bisa
berpikir lebih jernih. Aku berusaha mengumpulkan informasi lebih banyak
tentang apa yang sedang terjadi. Beberapa saat kemudian, aku menyadari
beberapa hal. Aku sendirian di sini. Tidak ada orang lain. Bahkan
jalanan yang ada di depanku kosong.
Hujan kembali turun. Aku reflek
mengangkat tangan dan membuka payung yang sedang aku bawa. Ketika payung
itu terbuka sempurna, aku menyiapkan diri untuk menghadapi hal
selanjutnya. Trotoar yang menghilang dan aku terjatuh ke dalam
kegelapan.
Tapi ternyata hal itu tidak terjadi.
Aku memandangi trotoar yang aku pijak.
Masih seperti biasa. Tidak. Seperti biasa kurang tepat untuk
menggambarkannya. Trotoar tersebut berwarna abu-abu. Berbeda dengan
trotoar biasa yang aku ingat berwarna hitam-putih. Aku terkejut dan
kembali melihat ke sekeliling. Setelah aku perhatikan kembali,
gedung-gedung yang ada di depanku dan lampu lalu-lintas yang berada di
ujung jalan juga berwarna abu-abu. Seluruh dunia ini berwarna abu-abu.
Secara refleks aku bergumam, “ini di …”,
sebelum ucapanku selesai, trotoar tempatku berpijak menghilang dan
membuatku terjun bebas ke dalam kegelapan kembali.
Aku membuka mata dengan perasaan takut
dan mendapati diriku kembali ke kamar rawat inap. Bedanya, saat ini
kamar ini sedang dipenuhi beberapa orang. Aku melihat beberapa orang
yang aku kenal berada di ruangan ini. Setelah aku bisa berpikir jernih,
aku melihat jam dinding dan menyadari kalau saat ini adalah jam jenguk.
Salah satu dari mereka menyadari bahwa aku mulai membuka mata, dan mulai
berjalan mendekat. Ucapan semoga lekas sembuh mulai berdatangan. Aku
hanya bisa tersenyum dan mengangguk perlahan.
———-
Aku membuka mata dan kembali mendapatkan
diriku berada di dunia abu-abu tersebut. Aku memandang sekeliling dan
menyadari bahwa saat itu sedang hujan deras ditambah angin kencang.
Memaksaku mempererat genggaman pada payung yang berada di tanganku saat
itu.
Setelah beberapa saat, hujan deras itu
mereda, dan akhirnya berhenti sama sekali. Aku mencoba memahami lebih
lanjut tentang apa yang sedang terjadi
Secara tiba-tiba, aku mencium wangi kopi
yang baru diseduh dan roti yang baru saja keluar dari oven. Karena rasa
penasaran yang begitu besar, aku berlari menyisiri trotoar mencari asal
dari wangi kopi dan roti tersebut. Entah bagaimana ceritanya, aku
terpeleset sesuatu dan terjatuh. Secara reflek aku memejamkan mata dan
menunggu benturan dengan trotoar tempatku terjatuh.
Tapi ternyata itu tidak terjadi.
Begitu membuka mata, aku telah kembali ke
dunia yang aku kenal. Ruang rawat inap di salah satu rumah sakit
terbesar di kota ini. Aku menoleh ke sebelah dan mendapati Ani sedang
menyiapkan makan siang untukku.
Dia tersenyum ketika sadar bahwa aku sudah membuka mata.
———-
Aku membuka mata dan kembali mendapatkan
diriku berada di dunia abu-abu. Aku melihat sekeliling. Rintik yang
tersisa dan aspal yang masih basah memberikan tanda bahwa hujan baru
saja selesai. Aku kembali mencium wangi kopi dan roti yang membuatku
penasaran. Tapi belajar dari pengalaman yang lalu, aku tetap berdiri
mematung. Memaksa kaki tidak bergerak meski kepalaku penuh dengan rasa
penasaran tentang asal wangi tersebut.
Tidak lama kemudian, wangi tersebut
semakin jelas tercium oleh hidungku. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa
wangi tersebut berasal tepat dari belakangku. Ketika aku memutar badan,
aku mendapati seorang wanita bergaun ungu sedang berdiri di sana. Satu
tangannya memegang payung dan tangan lainnya membawa nampan yang berisi
secangkir kopi dan segelas roti.
Aku tersenyum. Secara refleks, tanganku
meraih cangkir kopi tersebut dan menyeruputnya dalam-dalam. Aku mulai
menyadari apa yang sedang terjadi dan apa arti dari mimpi-mimpi ini.
Secara perlahan, dunia abu-abu yang aku tempati saat ini mulai berubah
menjadi dunia penuh warna.
0 comments