“Sampai kapan, kau akan berdiri di situ dan terluka?”
Anak itu, alih-alih mengalihkan pandangan dari grafiti di dinding
kepadaku ia malah menunduk dan mengepalkan tangan. Ia marah, kukira.
Kutarik tangannya sebelum ia berlalu pergi,
“Kau bukan bantalan jarum, berhenti sedia terluka seperti itu,” kataku
∞
“Perasaan manusia itu aneh ya? Cepat sekali menjadi asing. Terpisah
jarak begitu saja. Terpisah waktu begitu saja. Hati manusia berubah
secepat angin. Perempuan itu, sudah bersama seseorang. Dia bilang aku
terlambat. Dia bilang nggak bisa meninggalkan segalanya sekarang. Benar-benar. Membuatku jadi ingin menangis.”
Udara malam itu bahkan tidak lebih membekukan daripada perkataannya.
Aku ada bersamanya dan dia membicarakan perempuan lain. Bagaimana aku
bisa bernafas jika dia terus begitu? Bukankah dengan begini tidak ada
artinya aku bersamanya?
“Niar? Niar? Niar! Hei, kau mendengarku kan?”
Pria bodoh! “Menangis sajalah kalau mau nangis. Aku masih akan di sini, oke?”
Ya, menangislah. Agar aku tak perlu melakukannya.
Dua jam telah berlalu. Aku masih menepuk-nepuk lengannya ketika ia benar-benar menangis. Tanpa suara. Rasanya pasti lebih sakit.
Kami berada di beranda lantai dua, persisnya di depan kamarku. Dia
selalu melompat naik ketika dadanya terasa pengap. Karena dia selalu
menceritakan hal itu, aku jadi nggak bisa menceritakan
pengap yang mengisi dadaku sendiri. Pria yang sedang menangis ini, yang
paling kuinginkan kebahagiaannya di dunia. Maka aku mendengarkannya
seperti tak akan terjadi apa-apa pada jantungku sendiri.
∞
Seperti dugaanku, anak itu berdiri di sana lagi. Memperhatikan
dinding penuh coretan yang tak berubah sedikit pun sejak terakhir kali
dia datang. Keras kepala sekali sih?
“Kalau kau terus melakukannya, itu akan jadi kebiasaan. Ngerti?”
“Apa kamu nggak punya pekerjaan? Atau kamu seorang penguntit?”
“Kau lupa? Kedai kopiku ada di seberang jalan ini. Kau akan membuat pelangganku takut dengan terus-terusan berdiri di sini. Apa bagusnya sih gambar ini?”
“Apa kamu nggak punya pekerjaan? Atau kamu seorang penguntit?”
“Kau lupa? Kedai kopiku ada di seberang jalan ini. Kau akan membuat pelangganku takut dengan terus-terusan berdiri di sini. Apa bagusnya sih gambar ini?”
Aku mundur beberapa langkah agar bisa menangkap keseluruhan gambar tapi tetap saja aku tak paham.
“Bukan gambarnya, tapi dindingnya.” Lalu anak itu berlalu. Yang tersisa hanya suara sepatunya berkeletuk di aspal.
∞
“Ayoh pergi!”
Aku mestilah menyesali perkataanku itu. Sebab dua kata itulah yang
menjadi mula hubungan kami jadi serumit sekarang. Dia pria keras kepala
tetapi cengeng. Waktu itu, ia sedang patah hati dan aku hanya berniat
menghiburnya. Maka aku mengajaknya berkeliling kota.
“Kutunggu di seberang kedai kopinya Zoe, ya? Mari bertemu di sana lalu kita akan berkeliling kota.”
Hari itu, kami benar-benar pergi berkeliling. Rasanya menyenangkan.
Satu hari penuh dari satu tempat ke tempat lain. Dan sejak hari itu pula
kami kerap berjanji bertemu di sana. Di depan dinding bergrafiti biru.
Di depan Zoe’s Coffe.
Suatu hari, aku menunggunya untuk kencan kedelapan kami. Ia datang
amat terlambat. Zoe berkali-kali menelponku untuk menunggu saja di dalam
kedainya tetapi aku menolak. Biasanya aku adalah pembosan. Tidak
melakukan apa-apa ketika menunggu seperti ini apalagi. Tetapi, jantungku
yang terus menderap di dalam tubuhku justru memaksaku untuk fokus
menenangkannya. Pria itu bilang ia akan sampai dalam sepuluh menit lagi
karena itulah, aku mulai melihat sisi jalan, mengira-ngira dari arah
mana dia akan datang.
Saat itulah pikiran konyol itu terlintas. Aku mengambil pulpen dari
dalam kotak pensil yang selalu kubawa-bawa. Menuliskan sesuatu di
dinding, lalu dengan bodohnya berharap pria itu akan membacanya dan
membalasnya.
Tak satu pun dari hal itu dilakukannya. Dia tidak pernah tahu aku
menulis sesuatu di dinding tempat kami selalu bertemu. Dia tidak pernah
tahu aku menahan nyeri di dadaku setiap dia membicarakan perempuan itu.
Perempuan yang tak kan pernah bisa kugantikan tempatnya meski aku telah
memberikan apa saja.
Seperti yang seharusnya, pria itu akhirnya pergi.
Tapi kenapa dadaku tak berhenti merasa nyeri?
∞
Aku sedang membuat satu pesanan pedati tubruk ketika melihat Niar sudah berdiri di seberang jalan. Kali ini, coba lihatlah baik-baik, Niar. Aku bersiul lalu cepat-cepat menyelesaikan pesanan kopi sebelum menumpuk.
Sudah dua minggu memasuki September. Udara mulai mendingin, jelaslah
musim hujan akan tiba. Bahkan beberapa hari lalu gerimis turun pada sore
berangin seperti ini. Aku mencari sosok Niar, anak itu masih berdiri di
sana. Kau sudah tahu kan?
Tepat ketika gerimis pertama turun, aku sudah berdiri di samping
Niar. Payung berwarna kuning cerah menaungi kami dari serangan hujan.
Dia berbalik menghadapku,
“Sudah kubilang jangan suka memakai rok pendek. Perutmu bisa sakit
karena dingin. Ayoh ke kedaiku. Kutraktir lintong, baru saja kubeli hari
ini.”
Aku tahu Niar ingin protes karena mungkin ia mau bertanya soal
tulisanku di dinding itu. Tetapi aku memaksanya untuk masuk ke kedai.
Toh di masa depan kami akan punya banyak waktu membicarakannya. Aku tak
berniat menjadi bantalan jarum selamanya, Niar. Kau pun begitu kan?
∞
Aku mencintaimu, kau?∞
(Aku mencintaimu juga – Zoe)
140915
00:00
Ketika masih menonton drama I Miss You.

0 comments