Minggu 10

Kamisan S3 #10: Gara-gara Salah Sambung

13.53Unknown

Featured image
“Love is our true destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone. We find it with another.”
–Thomas Merton

“Apaa..?!! Lo mau ketemu dia? Jangan gila deh. Dia itu Cuma cowok yang random mencet nomer lo terus pura-pura salah sambung. Klise!” seruku setengah berteriak di telepon.
“Nggak gila kok. Kan cuma ketemuan. Lagipula setelah dua minggu kenal dia, sepertinya dia lelaki baik-baik. Jadi apa yang perlu dicemaskan sih?” suara sahabatku di ujung sana terdengar acuh. “Lagian gue nggak akan kesana sendirian. Lo temenin gue ya?”
“Hah, kenapa gue?” tanyaku heran. Jika pertemuan dia dengan cowok asing itu dianggap kencan pertama buat apa perlu orang ketiga?
“Kenapa nggak. Daripada lo harap-harap cemas pas gue ketemu dia, mending lo ikut. Oke? Bye!”
Klik.

***

Entah setan apa yang merasuki sahabatku, akhir-akhir ini dia seperti orang yang sedang kasmaran. Selalu menatap telepon genggamnya dan tidak pernah berhenti berbicara tentang Jelang. Ya, mungkin setan Jelang yang merasuki sahabatku. Sama seperti siang ini, aku harus mendengarkan dia mengoceh sepanjang jam makan siang tentang Jelang.

Semua berawal sejak dua minggu lalu, dari telepon salah sambung ke telepon genggam maureen, lalu mereka saling bertukar pesan singkat dan sekarang, mereka mulai bertukar kisah hidup mereka. Soal pekerjaan, keluarga bahkan kegetiran sesama jomblo yang kurang lebih saling mengutuk para pasangan yang memamerkan keromantisan mereka di tempat umum dan mensyukuri kejadian salah sambung yang menjadi awal komunikasi mereka.

“Jadi, kita ketemuan pas acara Pop Market. Lo bisa kan?” tanya Maureen.
“Percuma kalau gue bilang nggak bisa juga, pasti lo maksa gue.” jawabku ketus.
“Ah, makasih yaa Nan. Lo emang sahabat gue yang paling ngehits seantero jagad raya.” Maureen menunjukkan senyum konyolnya seraya meraih salad di depannya yang sedari tadi menunggu untuk dimakan.

***

Hari yang ditunggu Maureen pun tiba. Kami sudah duduk manis di taksi dalam perjalan ke acara Pop Market di bilangan selatan Jakarta. Sepanjang jalan Maureen sibuk dengan telepon genggamnya dan aku sibuk memotret jalanan ibukota yang lumayan sepi di akhir pekan. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, taksi kami tiba di tempat tujuan. Rupanya acara tahunan Jakarta ini mendapat animo yang cukup baik dari masyarakat. Terbukti dengan meruahnya pengunjung yang memadati acara ini. Konsep acaranya pun cukup seru. Ada beberapa food truck berbaris dan sisi jalan dan tenda-tenda penjual makanan dan berbagai macam produk lainnya. Belum lagi ada beberapa dekorasi backdrop dan seni grafiti di beberapa sisi jalan. Aku pasti akan mendapatkan banyak objek foto di sini.

“Telepon dulu gih, tanya dia dimana,” aku menyuruh Maureen untuk menelpon Jelang agar mereka bisa cepat bertemu dan aku bisa segera memisahkan diri dari mereka untuk mendapatkan foto-foto menarik di tempat ini.
“Nggak gitu, Nan. Kita sudah sepakat akan mencoba ketemu tanpa menghubungi satu sama lain.” Aku sempat terkejut mendengar kata-kata Maureen.
“Hah?! Jadi maksud lo kita sudah sampe sini, terus harus nanyain setiap cowo yang ada disini dia Jelang atau bukan? Lo ada fotonya ngga?” ujarku ketus.
“Ya enggak punyalah. Kita sepakat nggak akan tukeran foto atau akun sosial media. Pokoknya harus ketemu langsung dulu terus kita lihat apakah kita nyambung kalau ketemuan langsung atau hanya nyambung di telepon.”
“Terus ini sekarang gimana?” seruku mulai kesal dengan keadaan ini.
“Tenang, kita sudah saling kasih petunjuk kok, supaya bisa saling menemukan. Gue sudah bilang kalau gue akan pakai rok pensil warna merah dan ankle strap,” Maureen mengeluarkan telepon genggamnya. “Nah, ini clue dari Jelang.”

Di bawah langit. Di sisi jalan, dengan grafiti biru. Aku akan mengenakan celana khaki senada dengan warna top-sider. Semoga kita bertemu.

“Astaga Maureen…! Harusnya petunjuknya tuh tinggi dan berat badan, warna kulit, model rambut dan lain-lain. Bukan celana sama sepatu yang jadi petunjuknya!”
“Ah petunjuk fisik terlalu mainstream Nan. Gue sama Jelang nggak mau kalau kita terlalu terpaku sama penampilan fisik.” Jelas Maureen. Sungguh, aku merasa tidak satupun yang dikatakannya masuk akal.

Meski aku merasa tidak satupun yang dikatakan Maureen masuk akal, kami tetap menelusuri sisi jalan yang dihiasi dengan grafiti, yang hampir semuanya ada warna birunya. Maureen masih terlihat semangat mencari Jelang sedangkan aku berfikir kalau ini buang-buang waktu dan tenaga saja. Tapi tidak sedikitpun aku lihat wajah lelah pada Maureen, dia masih saja tersenyum walaupun beberapa kali salan menepuk lelaki yang mengenakan celana khaki, yang dia kira adalah Jelang.

“Mau, gue beli minum dulu yaa. Haus nih. Lo mau?”
“Ngga usah, Nan. Gue sambil nyari lagi yaa, gue jalan pelan deh jadi nanti lo bisa nyusul.” Aku mengangguk dan meninggalkan Maureen.

Jarak penjual minuman dengan sisi jalan yang dipenuhi grafiti itu hanya bersebrangan, jadi sambil menyeruput minumanku aku masih bisa melihat Maureen berjalan menyusuri lukisan grafiti itu. Aku baru saja hendak menyusul Maureen, setelah aku mengembalikan botol minuman ke si penjual, ketika aku melihat dia tengah berdiri di depan seorang lelaki bertubuh kurus, tinggi dengan deskripsi yang sama seperti petunjuk dari Jelang.

Maureen melambaikan tangannya padaku dan tersenyum. Tak lama, lelaki itu juga melambaikan tangannya. Tapi mereka berdua masih tidak bergeming. Masih berdiri di tempat yang sama hanya bertatapan dan sesekali tersenyum. Aku mengambil kameraku dan segera mengabadikan pertemuan mereka. Pertemuan yang diatur dengan cara yang konyol dan menggelikan. Cinta sungguh lucu.

Jika penampilan fisik tidak penting bagi mereka, maka sepertinya aku tidak perlu memotret mereka dari kepala hingga kaki.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak