
“Love is our true destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone. We find it with another.”
–Thomas Merton
“Apaa..?!! Lo mau ketemu dia? Jangan gila deh. Dia itu Cuma cowok yang random mencet nomer lo terus pura-pura salah sambung. Klise!” seruku setengah berteriak di telepon.
“Nggak gila kok. Kan cuma ketemuan. Lagipula setelah dua minggu kenal
dia, sepertinya dia lelaki baik-baik. Jadi apa yang perlu dicemaskan
sih?” suara sahabatku di ujung sana terdengar acuh. “Lagian gue nggak
akan kesana sendirian. Lo temenin gue ya?”
“Hah, kenapa gue?” tanyaku heran. Jika pertemuan dia dengan cowok asing itu dianggap kencan pertama buat apa perlu orang ketiga?
“Kenapa nggak. Daripada lo harap-harap cemas pas gue ketemu dia, mending lo ikut. Oke? Bye!”
Klik.
***
Entah setan apa yang merasuki sahabatku, akhir-akhir ini dia seperti
orang yang sedang kasmaran. Selalu menatap telepon genggamnya dan tidak
pernah berhenti berbicara tentang Jelang. Ya, mungkin setan Jelang yang
merasuki sahabatku. Sama seperti siang ini, aku harus mendengarkan dia
mengoceh sepanjang jam makan siang tentang Jelang.
Semua berawal sejak dua minggu lalu, dari telepon salah sambung ke
telepon genggam maureen, lalu mereka saling bertukar pesan singkat dan
sekarang, mereka mulai bertukar kisah hidup mereka. Soal pekerjaan,
keluarga bahkan kegetiran sesama jomblo yang kurang lebih saling
mengutuk para pasangan yang memamerkan keromantisan mereka di tempat
umum dan mensyukuri kejadian salah sambung yang menjadi awal komunikasi
mereka.
“Jadi, kita ketemuan pas acara Pop Market. Lo bisa kan?” tanya Maureen.
“Percuma kalau gue bilang nggak bisa juga, pasti lo maksa gue.” jawabku ketus.
“Ah, makasih yaa Nan. Lo emang sahabat gue yang paling ngehits
seantero jagad raya.” Maureen menunjukkan senyum konyolnya seraya meraih
salad di depannya yang sedari tadi menunggu untuk dimakan.
***
Hari yang ditunggu Maureen pun tiba. Kami sudah duduk manis di taksi
dalam perjalan ke acara Pop Market di bilangan selatan Jakarta.
Sepanjang jalan Maureen sibuk dengan telepon genggamnya dan aku sibuk
memotret jalanan ibukota yang lumayan sepi di akhir pekan. Sekitar tiga
puluh menit perjalanan, taksi kami tiba di tempat tujuan. Rupanya acara
tahunan Jakarta ini mendapat animo yang cukup baik dari masyarakat.
Terbukti dengan meruahnya pengunjung yang memadati acara ini. Konsep
acaranya pun cukup seru. Ada beberapa food truck berbaris dan sisi jalan
dan tenda-tenda penjual makanan dan berbagai macam produk lainnya.
Belum lagi ada beberapa dekorasi backdrop dan seni grafiti di beberapa
sisi jalan. Aku pasti akan mendapatkan banyak objek foto di sini.
“Telepon dulu gih, tanya dia dimana,” aku menyuruh Maureen untuk
menelpon Jelang agar mereka bisa cepat bertemu dan aku bisa segera
memisahkan diri dari mereka untuk mendapatkan foto-foto menarik di
tempat ini.
“Nggak gitu, Nan. Kita sudah sepakat akan mencoba ketemu tanpa
menghubungi satu sama lain.” Aku sempat terkejut mendengar kata-kata
Maureen.
“Hah?! Jadi maksud lo kita sudah sampe sini, terus harus nanyain
setiap cowo yang ada disini dia Jelang atau bukan? Lo ada fotonya ngga?”
ujarku ketus.
“Ya enggak punyalah. Kita sepakat nggak akan tukeran foto atau akun
sosial media. Pokoknya harus ketemu langsung dulu terus kita lihat
apakah kita nyambung kalau ketemuan langsung atau hanya nyambung di
telepon.”
“Terus ini sekarang gimana?” seruku mulai kesal dengan keadaan ini.
“Tenang, kita sudah saling kasih petunjuk kok, supaya bisa saling
menemukan. Gue sudah bilang kalau gue akan pakai rok pensil warna merah
dan ankle strap,” Maureen mengeluarkan telepon genggamnya. “Nah, ini
clue dari Jelang.”
Di bawah langit. Di sisi jalan, dengan grafiti biru. Aku akan
mengenakan celana khaki senada dengan warna top-sider. Semoga kita
bertemu.
“Astaga Maureen…! Harusnya petunjuknya tuh tinggi dan berat badan,
warna kulit, model rambut dan lain-lain. Bukan celana sama sepatu yang
jadi petunjuknya!”
“Ah petunjuk fisik terlalu mainstream Nan. Gue sama Jelang nggak mau
kalau kita terlalu terpaku sama penampilan fisik.” Jelas Maureen.
Sungguh, aku merasa tidak satupun yang dikatakannya masuk akal.
Meski aku merasa tidak satupun yang dikatakan Maureen masuk akal,
kami tetap menelusuri sisi jalan yang dihiasi dengan grafiti, yang
hampir semuanya ada warna birunya. Maureen masih terlihat semangat
mencari Jelang sedangkan aku berfikir kalau ini buang-buang waktu dan
tenaga saja. Tapi tidak sedikitpun aku lihat wajah lelah pada Maureen,
dia masih saja tersenyum walaupun beberapa kali salan menepuk lelaki
yang mengenakan celana khaki, yang dia kira adalah Jelang.
“Mau, gue beli minum dulu yaa. Haus nih. Lo mau?”
“Ngga usah, Nan. Gue sambil nyari lagi yaa, gue jalan pelan deh jadi
nanti lo bisa nyusul.” Aku mengangguk dan meninggalkan Maureen.
Jarak penjual minuman dengan sisi jalan yang dipenuhi grafiti itu
hanya bersebrangan, jadi sambil menyeruput minumanku aku masih bisa
melihat Maureen berjalan menyusuri lukisan grafiti itu. Aku baru saja
hendak menyusul Maureen, setelah aku mengembalikan botol minuman ke si
penjual, ketika aku melihat dia tengah berdiri di depan seorang lelaki
bertubuh kurus, tinggi dengan deskripsi yang sama seperti petunjuk dari
Jelang.
Maureen melambaikan tangannya padaku dan tersenyum. Tak lama, lelaki
itu juga melambaikan tangannya. Tapi mereka berdua masih tidak
bergeming. Masih berdiri di tempat yang sama hanya bertatapan dan
sesekali tersenyum. Aku mengambil kameraku dan segera mengabadikan
pertemuan mereka. Pertemuan yang diatur dengan cara yang konyol dan
menggelikan. Cinta sungguh lucu.
Jika penampilan fisik tidak penting bagi mereka, maka sepertinya aku tidak perlu memotret mereka dari kepala hingga kaki.
0 comments