***
Ibu tak pernah menyadurkan sesuatu secara berlebihan. Cenderung kisah
yang komplit, tanpa repot-repot dicerna ulang atau disederhanakan.
Katanya, kasihan penulis butuh berdamai dengan jejaring otaknya demi
memilih sebuah kata. Bocah itu hanya mengangguk sembari mengamini, meski
hanya setengah mengerti. Terserah apa katamu, yang penting kisah
berlanjut. Bocah itu telah fasih berpikir egois, rupanya. Sementara
kisah terus berjalan, kepala mungil itu makin nyaman bersandar pada
lengan sang ibu. Sesekali sang ibu membetulkan posisi karena rambut
tajam sang bocah yang menusuk kulitnya.
Monster biru tak pernah datang tanpa diundang. Meski berbulu menakutkan,
mata yang melotot mengerikan, ia bisa saja dengan sopan menawarkan
secangkir susu hangat ketika malam, juga menghadirkan tawa renyah untuk
menyelamatkan kecanggungan.
Ini tentunya bukan monster yang sibuk keluar masuk pintu, monster yang
pemakan kue, atau monster pantai biru mungil dengan telinga lebar.
"Ibu, aku ingin menjadi monster biru."
"Menjadi monster biru tak semenyenangkan itu."
Sang wanita hanya terkekeh kecil. Menggeleng tak percaya ketika bocah laki-lakinya memperlihatkan sinar mata yang sungguhan.
***
Belakangan sang bocah merasa cemburu. Tak ada kisah sebelum tidur yang
dibacakan, atau sekadar ucapan selamat malam. Ibu begitu sibuk. Katanya
ia mesti menyelamatkan pundi-pundi harta karun di ruang bawah tanah.
Sang bocah berkali-kali mencari di mana ruang bawah tanah itu.
Diselidikinya setiap celah di lantai, digesernya tiap perbabotan yang
dianggap mencurigakan. Ia yakin akan menemukan sang ibu sedang menjaga
tumpukan peti emas di bawah tanah. Mengapa ia tak mengajaknya untuk
permainan seseru itu?
Sesaat sang bocah berharap di dalam hatinya. Bisakah ia mendapat bantuan dari monster biru?
Mengapa ibu selalu melarangnya untuk bertemu monster biru?
***
Berpuluh tahun berjalan, bocah itu telah ditarik waktu menjadi dewasa. Tampilan trendy tanpa perlu berlebihan membuatnya begitu saja dihampiri banyak wanita. Sayang, jiwanya tak pernah bisa beranjak dari teka-teki monster biru yang belum juga terpecahkan. Ia begitu saja ditinggalkan mengambang oleh ibu yang sudah tak lagi sama di hari-hari setelahnya. Ia semakin sibuk melanglang, sementara sang bocah ditinggalkan bersama seorang pengasuh bayaran robotik yang bekerja hanya karena uang.
"Membosankan. Dan sepi."
"Maafkan ibu."
Di suatu tempat, mereka berdua berhadapan. Mengejutkan, sang ibu justru semakin menampilkan aura muda. Rok midi di atas lutut dengan wedges nyaris menyentuh tujuh centi. Mereka berhadapan untuk sebuah pertanyaan.
"Di mana monster biru?"
"Ia sudah meninggal empat tahun lalu."
Laki-laki rupawan itu tercekat.
***
Secara filmis kenangan menyembul dari ujung berdebu kepala sang laki-laki. Jauh, jauh sebelum hari dibacakannya dongeng itu, ia ketakutan melihat seorang pria yang melangkah ke rumah dengan lebam kebiruan di sekujur tubuhnya. Meski ia tersenyum, sang bocah tak mau melihatnya lagi. Sang monster biru memutuskan untuk pergi dari rumah setelahnya.
Monster biru terus bertarung di arena pertaruhan, memulung pundi-pundi harta demi sang ibu dan bocah laki-laki yang tak lagi bisa ia temui hingga akhir hayatnya.
Monster biru bahkan rela menjadi sebatas dongeng bagi putra satu-satunya.
***

Ditulis untuk proyek menulis Kamisan
0 comments